Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
kekecewaan Gendis


__ADS_3

Setelah kepergian Rayyan dan Miran, mama duduk di kursi tunggu dekat kamar rawat papa Hazar.


Mama Anna merasa ada yang aneh, saat mama Anna melihat sekelilingnya. Mama Anna tersadar jika Gendis kembali hilang.


Sontak mama Anna panik dan langsung menanyakan putrinya itu ke papa Bram dan yang lainnya berada di sana.


"Bram. Kamu lihat Gendis??" tanya mama Anna dengan wajah khawatir.


"Gendis tidak.." jawab papa Bram melihat kesekitarnya.


"Ohh Tuhann... Gendis hilang" panik mama Anna langsung berjalan cepat mencari Gendis.


"Hilang??" papa Bram kaget juga yang lainnya.


Merekapun mencari menyusuri setiap lorong di rumah sakit tersebut. Tidak lupa mereka pula menanyakan pada setiap pengunjung bahkan para karyawan rumah sakit di sana.


"Pak, apakah anda melihat gadis usia 5 tahun yang mengenakan jaket pink dan berkepang dia??" tanya mama Anna kepada satpam.


"Maaf nyonya, saya tidak melihatnya.." jawab satpam itu.


"Ya Tuhan Gendis.. Kamu di mana nak??" tangis mama Anna semakin panik.


Saat mama Anna merasa panik dan hampir saja putus asa, tanpa disengaja mama Anna melihat ke arah bangku yang berada di ujung rumah sakit.


"Gendis!!" teriak mama Anna.


Ike kebetulan yang sudah berada di rumah sakitpun mengikuti mama Anna berlari.


Di sana, terlihat Gendis tengah duduk dengan wajah yang sedih. Dia terus menangis melihat kejadian seperti tadi.


"Gendis... Ya ampun Tuhan.. Kamu membuat mama khawatir nak" mama Anna berjongkok di depan Gendis dan memeluk putrinya itu.


"Nak.. Kenapa kamu pergi tanpa memberitahukan mama Sayang.. Semua orang kebingungan mencarimu nak.." kata mama Anna menurunkan Gendis dan menggenggam tangan Gendis.


Gendis menghempaskan tangan sang mama.


"Gendis kecewa sama mama.. Kenapa mama memarahi kak Rayyan.. Mengapa mama menamparnya!!! Aku kecewa sama mama. Aku ga mau ikut bersama mama lagi" kata Gendis menangis dan memeluk kaki Ike.


"Maafkan mama sayang.. Mama minta maaf.. Mama berjanji tidak akan melakukan itu lagi" jawab mama Anna sedih.


Tidak lama kemudian papa Bram dan kakek juga Arga mendekati mereka.


"Aku juga kecewa sama kakek. Papaku sedang sakit, kenapa kakek marah marah!! Kakek bukan kakekku lagi" kata Gendis marah dalam tangisnya.


"Kak, ayo kita pulang" ajak Gendis.


Ike pun menuruti ajakan Gendis, Gendis terus menarik tangan Ike agar berjalan lebih cepat untuk meninggalkan tempat itu.


Mama Anna hanya duduk lemas melihat kepergian putri kecilnya itu. Ia merasa bersalah kenapa tidak bisa mengontrol emosinya ketika di depan Gendis. Begitupun yang lain, hanya bisa diam setelah mendengar kata kata Gendis kecewa terhadap kakeknya.


#####

__ADS_1


Rayyan dan Miran tiba di rumah.


"Ayo masuk.." ajak Miran ketika melihat Rayyan tidak juga melepas sabuk pengamannya.


"Aku belum sanggup melihat tempat di mana papaku terjatuh.. Bayangan itu terasa masih sangat nyata" kata Rayyan sedih.


Miranpun menghela nafasnya dalam.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mengajakmu di suatu tempat" kata Miran.


Miranpun kembali menjalankan mobilnya. Miran mengajak Rayyan pergi kesuatu tempat yang mungkin bisa membuatnya lebih senang.


Miran menuju ke kandang kudanya yang letaknya tidam jauh dari rumahnya.


"Mengapa kita kesini??" tanya Rayyan.


"Aku akan mengajakmu untuk berkuda" jawab Miran.


Miran ingin menghibur Rayyan, mungkin dengan mengajak Rayyan berkuda bisa membuat Rayyan sedikit melupakan kesedihannya.


Mereka berduapun berkuda di tempat favorit mereka. Mereka terus berkeliling saling beriringan memacu kuda mereka agar terus berlari.


#####


Nenek Aisah tengah berdiri di balkon kamarnya. Tiba tiba ponselnya berdering, dan dia melihat adiknya Tutik menghubunginya.


"Ya hallo.." jawab nenek.


"Baiklah.. Terimakasih" jawab nenek yang sesungguhnya audah mengetahui kabar tersebut.


Tidak lama kemudian, Riyan masuk ke dalam rumah dan nenek melihat itu.


"Riyan... Dimana Miran??" tanya nenek melangkah mendekati Riyan.


"Maaf nek, saya sejak pagi tidak bersamanya dan dia tidak bisa saya hubungi. Dan yang saya ketahui hanya dia pergi bersama Rayyan untuk berkuda." jawab Riyan.


"Lihatlah nyonya Aisah.. Anda kini susah tidak dapat lagi mengendalikan cucu tersayangmu tersebut." ledek mama Eni mendengar penuturan Riyan.


"Eni.. Kamu tidak usah meledeku. Aku sidah memberikan tiga putra untuk keluarga ini. Sedangkan kamu??" kata nenek membalas mama Eni.


"Aku dulu hamil seorang anak laki laki, tapi Anda telah melenyapkannya" bentak mama Eni di depan wajah nenek.


Mei yang mendengar itupun menangis, ia tidak rela sang ibu disakiti oleh neneknya. Melihat mamanya kembali ke dalam kamar dengan wajah marah juga sedih, dan nenek kembali ke kamarnya Mei pun menyusul sang nenek. Sedangkan Riyan hanya menyaksikan keributan itu.


"Nek.. Dimanakah nenek menyembunyikan saudaraku nek.. Apakah Riyanlah saudaraku, karena selama ini nenek selalu menganggap Riyan putra dari keluarga ini, bahkan nenek menyerahkan seluruh harta keluarga ini dalam namanya.


"Aku menyembunyikan saudaramu agar keluarga Sadli tidak mengincarnya juga. Kamu jangan terus memaksa nenek untuk membongkar rahasia ini, bersabarlah tunggu hingga waktunya tiba." jawab nenek di depan wajah Mei.


Merasa kesal, Mei pun pergi tanpa menjawab apa apa. Mei kesal, neneknya terus membohongi dirinya.. Mengikari semua janjinya.


#####

__ADS_1


Kini Miran dan Rayyan tengah duduk di sebuah batu besar. Miran tahu, hati Rayyan tengah hancur karena sang mama merasa kecewa terhadap dirinya hingga dia terpaksa mengambil sebuah keputusan yang berat untuk dirinya.


Miran memeluk Rayyan, dan Rayyan menyandarkan kepalanya di pindak Rayyan. Hatinya rapuh, masalahnya terus bertubi tubi menghampiri dirinya.


#####


Di rumah sakit, kakek mendekati papa Bram yang tengah duduk berdua dengan mama Sinta di taman rumah sakit.


"Bram, pulanglah.. Kalian beristirahat, biar papa yang menjaga kakakmu." kata kakek.


"Baiklah pa" jawab papa Bram beranjak dari duduknya.


"Bram.." panggil kakek.


"Iya pa" jawab papa Bram menoleh.


"Jika Gendis masih terus menangis, panggil Rayyan. Dia akan merasa senang jika bersama kakaknya. Tapi jangan ijinkan Miran untuk masuk kedalam rumah" pesan kakek.


"Baiklah pa.. Kami pulang dulu" jawab papa Bram.


Kakek hanya mengangguk dan menatap kepergian papa Bram beserta anak dan istrinya.


Kakekpun duduk di bangku taman tersebut, merenungi semua kata kata Gendis.


#####


Hingga larut malam, Rayyan dan Miran belum juga beranjak dari tempat itu. Tiba tiba cuaca memburuk, Miranpun segera membawa Rayyan pergi ke sana untuk mencari tempat berteduh.


Rintik hujan mulai turun disertai petir yang terus menggelegar. Mereka berdua terus berlari hingga menemukan sebuah goa. Badan mereka cukup basah karena tertimpa air hujan.


"Bagaimana dengan kuda kuda kita" kata Rayyan khawatir dengan kudanya yang mereka tinggalkan.


"Tenang saja, mereka bisa kembali ke kandang mereka. Tidak perlu khawatir Rayyan.. Mereka sudah terlatih untuk kembali sendiri ke dalam kandang." jawab Miran menenangkan.


#####


Tok..tok...tok...


"Masuk..." jawab nenek.


Riyan membuka pintu kamar nenek.


"Nek, kuda yang Miran dan Rayyan bawa sudah kembali ke dalam kandang. Tapi mereka belum ada kabar hingga sekarang" lapor Riyan.


"Kemana mereka pergi?? Cuaca di luar sedang buruk" kata nenek khawatir.


"Saya akan mencari tau nek." kawab Riyan.


#####


Di dalam goa, Miran menyalakan api unggun. Meski awalnya susah, namun lama kelamaan api dapat menyala.

__ADS_1


Udara di dalam goa itu terasa sangat dingin ditambah dengan baju mereka yang basah.


__ADS_2