
Miran berada di sana hingga pagi. Kepalanya terasa mendidih, hatinya sangat panas meski udara di sana sangat dingin dipagi hari.
"R..A..Y..Y..AAAAAAAAAA..N!!!" teriak Miran sekuat kuatnya.
"Arghhhhh!!!" Miran merusak ayunan yang dia buat untuk Rayyan.
"Miran..Mirann.. Cukup Miran cukup!!" Riyan datang dan langsung menahan Miran dengan memeluk Miran dari belakang.
"Cukup Miran, cukup.. Jangan siksa dirimu sendiri" Riyan mencoba menahan tubuh Miran.
"Me..mereka bergandengan tangan di depan mataku Riyan!... Aku merasa menjadi gila.. Hidupku seperti tidak tau arah!" kata Miran terlihat sangat frustasi.
"Aku harus melakukan sesuatu aku tidak mau Rayyan menikah dengan Arga" kata Miran yang masih terlihat emosi..
"Ok..ok.. Nanti kita cari cara, tapi kita pergi dulu dari sini..." Riyan mencoba membujuk Miran.
☘☘☘☘☘
Di kediaman keluarga Alan, Mei keluar kamar dengan wajah yang begitu berseri. Dia merasa sudah membaik, terlebih dia mendengar kabar yang membuat hatinya berbunga bunga.
"Selamat pagi semua" Mei terlihat sangat bahagia.
"Selamat pagi" jawab Ira tersenyum, sedangkan nenek hanya bersikap acuh.
"Haaahhh akhirnya, Rayyan akan menikah dengan Arga.. Itu artinya Miran akan kembali bersama ku... Aku yakin Miran perlahan akan bisa menerimaku kembali" kata Mei dengan wajah yang berseri seri.
"Kamu jangan senang dulu Mei. Nenek tidak yakin Miran akan menyerah begitu saja." jawab nenek dingin tidak peduli dengan perasaan Mei.
"Nenek, aku sangat yakin Miran akan tetap bersamaku dan dia akan sangat mencintaiku" senyum sumringah Mei lalu pergi meninggalkan nenek yang sedang duduk menum teh hangat.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti Mei" jawab lirih nenek yang masih bisa didengar oleh Ira.
☘☘☘☘☘
Arga dan Rayyan baru saja sampai di kediaman keluarga Sadli. Orang orang terkejut melihat Rayyan kembali bersama Arga.
"Segeralah bersiap untuk acara pernikahan. Aku memutuskan hari pernikahan ku akan dilaksanakan besok!" teriak Arga.
"Kakak, kenapa kakak menikah dengan kak Arga??? Kita saudara kak.. Jadi kakak ga boleh menikah dengan kak Arga" kata Gendis mendekati Rayyan.
Rayyan tercenung mendengar ucapan polos sang adik, Rayyan tidak mampu menjawab perkataan adiknya itu dan dia memilih pergi dari sana disusul oleh Arga.
"Pa.. Aku tidak sudi Arga menikah dengan Rayyan. Lakukanlah sesuatu pa" kata mama Sinta yang sengaja saat mama Anna berjalan akan melewatinya. Mama Anna hanya melirik mama Sinta, dan dia hanya diam malas meladeni orang seperti mama Sinta.
Papa Hazar bingung, dia tidak tau harus bagaimana dan dia memilih pergi meninggalkan rumah.
Papa Hazar pergi menuju ke sebuah pemakaman, kini papa Hazar bersimpuh di dapan makam yang bertulisan Darnia.
Melihat papa Hazar berada di makam orang tuanya, Miran murka. Miran menarik papa Hazar dan menodongkan pistolnya ke arah papa Hazar.
"Untuk apa anda di sini haah!!! Tidak punyakah rasa malu setelah apa yang anda perbuat kepada mereka!!" teriak Miran
"Demi Tuhan, aku tidak membunuh orang tuamu.. Saat itu aku hanya ingin melindungi ibumu, aku sangat mencintainya. Aku tidak tau siapa yang menembak ayah dan ibumu karena waktu itu akupun tertembak hingga aku tidak sadarkan diri" kata papa Hazar menjelaskan dengan lantang.
"Aku tidak percaya!! Aku lebih percaya perkataan nenek ku!" jawab Miran emosi.
"Aisah telah berbohong terhadap mu Miran. Aisah benar benar membesarkan kan mu dengan kebohongan yang sangat besar. Cerita yang dia buat tidaklah benar, dia benar benar sudah meracunimu" jawab Papa Hazar penuh penekanan dan Miran hanya terdiam menangis dengan tangan bergetar yang masih menodongkan pistolnya.
"Jangan lagi kamu menganggu Rayyan, aku tidak mau Rayyan terlibat dalam masalah dan terus tersakiti.. Jauhi dia!" kata papa Hazar lalu pergi meninggalkan Miran.
__ADS_1
Setelah kepergian papa Hazar, Miran langsung terduduk lemas di dekat pusaran kedua orang tuanya.
"Mama... Hatiku merasa kosong... Semakin hari aku semakin terasa tersiksa ma.. Sebenarnya apa yang terjadi ma.. Aku membutuhkanmu ma.. Aku sangat merindukanmu.. Bantu aku ma.." Miran menangis mengutarakan semua yang dia rasakan..
☘☘☘☘☘
Setelah makan malam, Rayyan kembali ke kamarnya. Dia duduk merenung di pinggiran tempat tidurnya.
Rosa datang menghampiri Rayyan dengan membawa sebuah kotak besar.
"Rayyan, aku bawakan gaun yang akan membawamu ke alam siksa. Ini akan sangat cocok saat kamu mengenakannya. Ahhh iya satu lagi, aku berikan ini sebagai kenang kenangan, hahahaha" Rosa memberikan sebuah amplop lalu pergi meninggalkan Rayyan dengan penuh kegembiraan melihat Rayyan tidak senang.
Rayyan hanya terdiam, malas rasanya untuk meladeni Rosa. Rayyan membuka isi amplop itu, dan isinya beberapa lembar foto pernikahannya dengan Miran. Rayyan langsung menyobek nyobeknya dengan menangis.. Hatinya begitu pedih, sangat sakit mengingat semuanya yang telah terjadi.
Diam diam Gendis masuk ke dalam kamar kakaknya, namun saat melihat sang kakak menangis diurungnya untuk menghampiri sang kakak.
☘☘☘☘☘
Di lain tempat, Miran memegang cincin peninggalan sang mama. Dia terus mengamati cincin itu. Hati Miran semakin bimbang mengingat perkataan papa Hazar waktu di pemakaman dengan perkataan sang nenek yang sangat berlawanan.
"Riyan, saat aku berada di makam mama aku bertemu dengan pak Hazar. Dan kau tau apa yang dia katakan kepadaku?" kata Miran saat Riyan tiba dan duduk di sampingnya.
"Apa?" tanya Riyan.
"Dia mengatakan bahwa dia tidak membunuh orang tua ku, apa yang dikatakan dia berbanding terbalik dengan cerita nenek. Dan dia mengatakan nenek berbohong soal kematian orang tua ku, aku tidak tau siapa yang dapat aku percaya." kata Miran menceritakan semuanya.
"Miran, mungkin pak Hazar ingin membuatmu bingung. Lebih baik kita percaya dengan kata kata nenek." kata Riyan memberi saran.
Namun hati Miran benar benar bingung, hatinya telah bimbang. Dan akhirnya dia memilih untuk meninggalakan tempat itu bersama Riyan.
__ADS_1
**semoga tetap masih suka ya.
dan author sangat sangat berterimakasih sekali atas suport kalian semua yang sudah memberikan komen yang membuat author semakin semangat menulis. 🙏🙏😊😊😊😊**