
Miran membawa Rayyan kesuatu tempat, di sana terlihat sebuah mobil sudah menunggunya di sana.
Miran mengikat kudanya di pohon.. Melihat Miran sedang sibuk mengikat, Rayyan berusaha kabur.. Tapi sayang, karena gaun yang iya kenakan ditambah higheals yang dia kenakan, Rayyan menjadi sulit untuk berlari.
"Rayyan.. Rayyan..." Miran menangkap Rayyan.
"Kamu sungguh laki laki gila Miran. Kamu seperti preman.. Ingat Miran, kamu bukan siapa siapaku lagi.. Tapi kamu memaksaku pergi" kata Rayyan penuh emosi.
"Aku memang gila Rayyan, aku gila karena kamu.. Aku tidak peduli kamu memandangku seperti preman.. Yang terpenting aku bisa bersama mu.
Miran membawa Rayyan untuk menaiki mobilnya.. Rayyan sempat menolaknya, namun Miran terus memaksakan.
Selama perjalanan, mereka berdua hanya terdiam.. Entah akan di bawa kemana Rayyan oleh Miran.
☘☘☘☘☘
Papa Hazar terus mencari Miran, dengan mobilnya papa Hazar terus menyisiri jalan jalan.
Saat tiba di pertigaan jalan, papa Hazar melihat mobil Miran. Papa Hazar hafal betul mobil Miran.
"Rayyan!!!" panggil papa Hazar namun Rayyan tidak dapat mendengarnya.
Papa Hazar mengejar Miran, dan terjadilah kejar kejaran mereka berdua..
Miran berusaha menghindari papa Hazar yang masih saja terus mengajarnya.
Saat berada di jalan sepi, papa Hazar mencoba memotong jalan Miran.
Cciiiiiitttttt...
Suara decitan ren kedua mobil itu.
Papa Hazar turun dari mobilnya, dan mendekati mobil Miran.
"Apa apan ini??" kata papa Hazar terkejut.
Riyan turun dari mobil itu. Ternyata Riyan bertukar mobil dengan Miran agar tidak mudah untuk di lacak.
"Di mana Miran membawa Rayyan??" tanya papa Hazar emosi.
"Saya tidak tahu" jawab Riyan singkat.
"Jangan berbohong kamu.. Di mana Miran membawa Rayyan!!" bentak papa Hazar lagi.
"Saya benar benar tidak tau pak Hazar.. Seharian saya tidak bersamanya.." jawab Riyan menutupi.
Bughhhhh...
"Sekali lagi saya bertanya kepadamu, di mana Miran??!" papa Hazar memukul Riyan.
"Saya tidak akan mengatakannya karena saya benar benar tidak tau" jawab Riyan lagi berusaha terus menutupi meski mulutnya mengeluarkan sedikit darah.
"Jangan bohong kamu, atau saya tembak kepalamu!!!" papa Hazar benar benar emosi..
Papa Bram dan kakek tiba dan langsung berusaha menenangkan papa Hazar.
"Kak... Kak.. Jangan ceroboh kak.." kata papa Bram berusaha menenangkan.
"Hazar.. Jangan lakukan itu.. Hazar singkirkan pistol itu.." teriak kakek.
__ADS_1
"Silahkan tembak kepala saya!!" Riyan malah menantang papa Hazar.
Papa Hazar kembali memukul Riyan hingga mulutnya benar benar mengeluarkan darah segar.
"Telfon Miran dengan ponselmu.. Cepaat!!!" kata papa Hazar yang tadi sempat mengambil ponsel Riyan yang terjatuh.
Riyan pun menuruti permintaan papa Hazar. Papa Hazar langsung merebut ponsel Riyan lalu menunggu sambungan teleponnya di terima Miran.
☘☘☘☘☘
Drttt..drrrtttt.ddrrrttttt
Ponsel Miran bergetar, dan terpampang di layar monitor yang ada di mobilnya muncul nama Riyan.
"Halo Riyan.." jawab Miran.
"Kembalikan putri saya.. Mau di bawa kemana putri saya!! Beri tau di mana posisimu atau temanmu akan saya tembak.." jawab papa Hazar dengan penuh emosi setelah panggilan teleponnya di jawab.
"Aku tidak akan memberitahukan di mana saya dan Rayyan.. Karena saya akan membawa pergi Rayyan jauh.." kata Miran santai.
"Papa.. Papa.. Rayyan mohon jangan tembak Riyan.. Aku tidak mau papa menjadi seorang pembunuh" kata Rayyan sambil melirik Miran.
Dengan sepihak Miran memutuskan sambungan teleponnya..
"Kamu sengaja agar papaku menembak Riyan hahh!!! Apa ini rencanamu??? Dengan kamu membawa pergi aku, agar papaku panik dan terpancing untuk membunuh seseorang iya?? Apa ini yang kamu mau haah!!" bentak Rayyan.
"Papamu tidak akan membunuh Riyan.. Karena papamu hanya ingin membunuhku" jawab Miran santai.
"Kenapa kamu begitu yakin?? Bagaiman jika papa ku benar benar membunuh Riyan?" tanya Rayyan.
"Tidak.. Aku yakin papamu tidak akan melakukan itu" jawab Miran yang fokus menyopir.
Miran hanya terdiam mendengar kata kata Rayyan, Miran tidak berusaha untuk menjawab ataupun menyangkalnya.
☘☘☘☘☘
"Hallo... Hallo Rayyan.." teriak papa Hazar.
Papa Hazar melempar ponsel itu ke arah Riyan lalu pergi begitu saja.
Melihat papa Hazar pergi, papa Bram dan kakek mengejar papa Hazar.
Riyan pun bangkit berdiri dan memungut ponselnya yang tergeletak.
Riyan memegangi sudit bibirnya, terasa perih saat dia pegang dan di jarinya ada bercak darah. Perlahan Riyan kembali ke dalam mobilnya dan meneruskan perjalanannya.
☘☘☘☘☘
Arga tiba di kediaman keluarga Aslan. Dia memasuki rumah begitu saja dengan tangan masih memegangi pistol.
"Miraannn.... Keluar kamu!! Jangan bersembunyi!!m" teriak Arga
Senua orang terkejut dan satu persatu keluar dari tempat mereka masing masing.
"Dimana Miran??? Jangan sembunyikan dia!" teriak Arga lagi menatap satu persatu orang orang yang ada di hadapannya.
"Miran belum kembali ke rumah" jawab mama Eni singkat.
"Dia telah menculik Rayyan, tunjukan kepada ku di mana dia menyembunyikan Rayyan??" kata Arga masih dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Kamu jangan menyebarkan fitnah Arga.. Miran tidak akan melakukan itu" kata Mei mendekati Arga..
Melihat Mei mendekatinya, Arga memgambil kesempatan itu dan merangkul Mei dari belakang sambil menodongkan pistol di kepala Mei.
"Jangan mendekat!! Jika Miran tidak mengembalikan Rayyan.. Saya juga tidak akan melepaskan dia.. Minggir jangan mendekat!!!" teriak Arga berjalan mundur untuk keluar dari rumah itu.
"Mama tolongg... Mama!!!" teriak Mei mulai menangis.
"Mei... Mei... Jangan bawa anakku.. Mei!!m" mama Eni panik melihat putrinya dalan bahaya..
"Jangan gegabah, nanti dapat mencelakai Mei.." teriak nenek Aisah yang masih bisa mengontrol emosinya.
Arga membawa pergi Mei dan menaiki mobilnya, dari jauh Ihsan terus mengawasi Arga.
Mama Eni mengejar Mei hingga terjatuh, dan nenek mendekati mama Eni.
"Ini semua gara gara anda!!! Dengan balas dendam anda ini Mei jadi korban!! Ini semua salah anda!!!" kata mama Eni menangis dan emosi bercampur dengan rasa khawatirnya dengan kondisi putrinya.
"Aku berjanji akan membawa kembali cucuku.. Aku janji" kata nenek yang mulai menangis.
Arga membawa Mei, di dalam mobil dia terus meluapkan emosinya.. Mei yang melihat itu hanya bisa menangis, dia sangat takut, terlebih saat ini dia menjadi tawanan Arga.
☘☘☘☘☘
Tidak lama kemudian, Riyan tiba di kediaman Aslan.
"Riyan, kenapa wajahmu? Apa ini ulah keluarga Sadli??" tanya nenek yang melihat ada lebam di wajah Riyan.
"Ridak nenek, ini bukan karena apa apa" jawab Riyan menutupi.
"Kak, kamu tau.. Tadi Arga datang kemari mencari kak Miran dia berkata kak Miran menculik Rayyan dam sekarang giliran Mei yang di bawa pergi oleh Arga." kata Mia.
"Apa??" Riyan terkejut.
"Riyan.. Apa benar Miran menculik Rayyan.. Dam kamu membantunya??" bidik nenek yang membuat Riyan kelagepan.
"Kini kamu kumpulkan seluruh anak buahmu dan cari Miran selamatkan Mei.. Sekarang juga!" perintah nenek.
Riyan hanya diam dan memilih pergi meninggalkan rumah.
☘☘☘☘☘
Di lain tempat kakek, papa Bram dan papa Hazar sedang berada di kantor polisi untuk melaporkan kasus penculikan.
"Bram temani kakakmu.. Papa nunggu di luar." kata kakek.
"Baik pa" jawab papa Bram lalu berjalan masuk ke dalam kantor polisi.
"Hallo... Kamu sekarang cepat cari Rayyan dan langsung bunuh dia. Dia sekarang sedang bersama Miran. Buat ini seolah olah Miran lah yang membunuh Rayyan.. Cepat lakukan!!!" kata kakek yang menelpon seseorang yang dia perintahkan untuk membunuh Rayyan.
Setelah selesai menelpon kakek masih menunggu di luar kantor.
Beberapa saat kemudian papa Bram dan papa Hazar keluar dari kantor. Papa Hazar langsung pergi meninggalkan tempat itu di ikuti oleh kakek dan papa Bram.
**terimakasih yang sudah meninggalkan jejaknya di salah satu karya ku ini.
semoga masih suka ya.
jangan ketinggalan sama like dan komentnya ya..
__ADS_1
terimakasih.. ☺☺☺🙏🙏🙏🙏🙏**