Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
cari masalah.


__ADS_3

Mereka bertiga tiba di sebuah alun alun kota. Nenek terkejut melihat apa yang Miran lakukan. Dengan berat hati nenek turun dari mobil, di susul oleh Miran dan Rayyan.


Mereka berjalan mendekati pesta yang dibuat Miran, ada beberapa orang yang menyambut kedatangan mereka. Miran meminta nenek untuk duduk disalah satu bangku yang sudah dia sediakan, begitu juga Rayyan dan dirinya.


Miran mempersilahkan para warga untuk menikmati hidangan hidangan yang sudah ada.


"Ini lah cara ku untuk membersihkan nama keluarga kita" kata Miran.


"Kamu bisa saja membersihkan nama keluargamu. Tapi ada satu hal yang harus kamu tau. Rayyan mau menikahi mu karena dia tidak benar benar mencintaimu tapi karena ingin menolong Arga." kata nenek yang merasa puas menjatuhkan Rayyan di depan Miran.


Miran hanya terdiam, dia tidak tau haris menjawab apa karena dia tidak tau harus mempercayai siapa.


"Bagimana anda akan menjelaskan nyonya Aisah tentang surat ancaman yang dikirimkan oleh orang orang yang telah menculikku??" tanya Rayyan membalas perkataan nenek Aisah dengan tenang.


Nenek hanya terdiam, dia baru ingat akan hal itu. Untuk menutupi rasa kesalnya nenek meninggalkan tempat itu. Sedangkan Rayyan hanya tersenyum melihat raut wajah nenek yang jelas tampak kesal.


Setibanya di rumah, Miran mencoba menanyakan mengenai surat tersebut.


"Siapa musuh keluarga kita nek?? Mengapa mereka mengirimkan pesan ancaman untuk nenek??" tanya Miran.


"Musuh kita hanya keluarga Sadli. Bahkan penculikan Rayyanpun didalangi oleh mereka." jawab nenek.


"Tidak nek.. Ini bukan mereka. Aku akan mencari tau sendiri siapa dalang yang mengirim surat ancaman itu" jawab Miran.


Miran menggandeng tangan Rayyan dan membawanya kembali ke dalam kamar.


"Miran..." panggil Rayyan saat di dalam kamar.


Miran hanya menoleh dan menatap lekat Rayyan.


"Jujur, aku memang menikah dengan mu untuk menyelamatkan nyawa Arga. Tapi aku juga mencintaimu.. Aku harap kamu tidak marah dengan ku" kata Rayyan dengan menundukkan kepalanya.


Rayyan tidak berani menatap mata Miran. Dia takut Miran marah terhadapnya.


"Rayyan, aku tidak memikirkan tentang hal itu. Aku percaya kepadamu" kata Miran memeluk Rayyan.


☘☘☘☘☘

__ADS_1


Di rumah peternakan, Gendis terlihat sibuk di dapurnya. Dia tengah membuat sebuah kue untuk sang kaka. Ike hanya melihat heran dengan Gendis, di mana dia sedang membuat kue tapi Gendis mencampurkan lada hitam juga wortel ke dalam adonannya.


Setelah selesai membuat adonan kuenya, Gendis memasukkannya ke dalam oven. Karena terlalu lama menunggu, Gendispun tertidur.


Saat melihat Gendis yang tertidur, diam diam Ike dan Tutik mengganti kue yang dibuat Gendis dengan kue yang lainnya.


Ike membangunkan Gendis dengan mendekatkan kue yang masih panas itu ke arah Gendis agat Gendis mencium aroma wangi yang keluar dari kue tersebut. Gendis pun terbangun.


"Waaahhh wangi sekali kuenya. Aku akan menunjukkannya ke mama" kata Gendis mengambil alih kue yang ditangan Ike.


Gendispun berjalan keluar dapur menuju ke mamanya. Saat sedang berjalan, tiba tiba Rosa datang dan tidak sengaja Rosa menabrak Gendis hingga roti yang di pegang Gendis jatuh dan hancur.


"Ini kue buatan ku untuk kak Rayyan. Mengapa kamu malah merusaknya" tangis Gendis mendorong Rosa.


"Dengarkan aku.. Kakakmu sudah pergi dan kau tau, dia tidak akan kembali lagi kerumah ini" kata Rosa.


Gendis yang mendengar itupun menangis sejadi jadinya dan jatuh pinsan.


"Aduuhhh kenapa malah jadi pinsan.. Aduhhh gimana ini.. Gendis.. Bangun... Ndiss.. Bangun.." Rosa menepuk nepuk pipi Gendis pelan.


"Paman!!! Bibi!!!" panggil Rosa membopong tubuh kecil Gendis.


"Gendia pinsan bi di depan dapur" jawab Rosa.


Mama Anna mengambil alih tubuh Gendis. Kini Gendis sudah berada di dalam kamarnya, mama Anna tampak khawatir melihat putri kecilnya jatuh pinsan. Papa Hazar mencoba menghubungi dokter yang menangani Gendis selama ini.


Saat dokter datang, Gendis siuman dari pinsannya. Dokter segera memeriksa keadaan Gendis.


"Pak Hazar.. Dalam kepala nona Gendis masih ada serpihan peluru. Saya sangat menyarankan jika nona Gendis jangan sampai mendapatkan tekanan. Tolong berhati hatilah dalam menjaga nona Gendis jangan sampai hal ini terulang kembali. Ini sangat berbahaya." pesan dokter dan papa Hazar mengantar dokter keluar.


Mendengar Gendis jatuh pinsan, kakek menemui Gendis di dalam kamarnya. Pelan kakek membuka pintu kamar..


"Cucu kakek.. Kenapa kamu bersedih nak??" tanya kakek.


"Aku bersedih karena memikirkan kata kata kak Rosa kek. Aku merasa takut tidak bisa bertemu kak Rayyan lagi" kata Gendis polos.


Mendengar kata kata Gendis, kakek tampak marah dengan Rosa.

__ADS_1


"Baiklah, cucu kakek beristirahatlah" kata kakek mencium kening Gendis lalu segera keluar dari kamar Gendis.


Kakek pergi mencari Rosa. Kakek melihat Rosa sedang bersama orang tuanya di gazebo.


"Rosa!!!" teriak kakek.


Rosa terkejut mendengar teriakan kakek. Dia sudah memiliki firasat tidak enak.


"Apa yang kamu lakukan haahh!!! Kenapa kamu tidak bisa menjaga ucapanmu di depan anak sekecil itu hahh??? Apa yang kamu lakukan sangat membahayakan Gendis!!" bentak kakek.


"Memang apa yang kamu katakan ke padanya??" tanya papa Bram.


"Ro.. Rosa hanya mengatakan jika Rayyan tida akn kembali lagi ke rumah ini" kata Rosa menundukkan kepalanya.


"Apa yang kamu lakukan Rosa??!!! Anak sekecil itupun kamu sakiti?? Tidak tau malu?? Papa tidak habis pikir, apa yang ada di otakmu itu?? Kamu selalu aaja menambah masalah!!" papa Bram geram.


"Kamu bisanya hanya menambah maslaah saja. Jika terjadi sesuatu kepada Gendis, siapa yang akan bertanggung jawab hah??" bisik mama Sinta.


Rosa hanya menangis di serang oleh kakek dan kedua orang tuanya. Lalu Rosa berjalan menuju ke halaman belakang.


"Gendis hidup dengan peluru di kepalanya.. Kenapa kamu sebegitu teganya menyakiti gadis kecil itu?? Apa kamu sudah tidak memiliki perasaan lagi??" kata Arga.


"Kak, peluru itu bisa bersarang di kepalanya juga karena ulahmu" kata Rosa membela diri.


"Coba katakan sekali lagi??" bentak Arga ingin menampar Rosa.


"Sekali lagi kamu katakan itu, lihat apa yang akan aku lakukan kepadamu. Tidak peduli kamu adikku sekalipun." ancam Arga lalu pergi meninggalkan Rosa.


☘☘☘☘☘


Di lain tempat, Miran tengah bercengkerama dengan Riyan. Sesaat mereka pun terdiam.


"Riyan.." panggil Miran.


"Aku akan bekerja sama dengan Hazar untuk mencari tau siapa dalang yang menculik Rayyan" kata Miran.


"Apa aku tidak salah dengar Miran?? Selama ini kalian selalu bertengkar, bahkan kamu menaruh dendam terhadapnya. Miran berhati hatilah dalam bertindak. Pikirkan dahulu matang matang." kata Riyan.

__ADS_1


"Aku sudah memikirkannya. Ini salah satu caranya dapat mengetahui siapa dalang sebenarnya. Terkadang kita harus menjadi kawan nya terlebih dahulu agar tau siapa musuhmu sebenarnya" kata Miran.


Lalu Miran merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi papa Hazar untuk mengajaknya bertemu.


__ADS_2