
Gendis menanyakan kemana saja sang kakak dan mengapa tidak menemui dirinya. Dan Rayyanpun menjelaskan jika dirinya sedang ada urusan yang harus dia selesaikan.
Setelah itu, kakek mengajak Gendis untuk kembali pulang dan diikuti oleh yang lain meninggalkan Rayyan.
#####
"Hatiku tak tenang, aku merasa sangat bersalah ketika melihat wajahnya.. Aku merasa sangat bersalah telah membohonginya" kata papa Hazar.
"Kamu memang harus melakukannya pa.. Demi melindungi Rayyan" kata mama Anna tegas.
Flashback On
Sebenarnya mama Anna dan papa Hazar memang sudah merencanakannya ketika papa Hazar masih berada di ruang ICU. Papa Hazar telah menceritakan apa isi surat itu.
"Pa.. Lalu siapa yang mendorongmu?" tanya mama Anna waktu itu.
"Mia" jawab papa Hazar.
Mama Anna pun terkejut mendengar pengakuan papa Hazar.
"Tapi aku yakin, dia tidak berniat melakukan itu. Aku melihatnya seperti sangat ketakutan karena aku membawa pistol. Dia gadis yang baik.. Aku sangat yakin doa hanya ketakutan dan tanpa sengaja mendorongku" kata papa Hazar.
"Pa.. Jangan mengatakan jika Mia yang mendorongmu.. Katakan jika Miranlah yang mendorongmu.. Dengan cara ini bisa membuat Rayyan berpisah dengan Rayyan. Cara ini satu satunya untuk bisa menjaganya.." kata mama Anna.
"Kita tidak bisa memaksakan Rayyan untuk berpisah dengan Miran. Meski Miran menjadikanku musuh bahkan selalu mengancamku, tapi aku tidak tega jika harus memfitnahnya." tolak papa Hazar.
"Ok.. Jika papa tidak mau mengikuti saran aku, aku pastikan akan membawa pergi anak anak dari kamu." ancam mama Anna.
Otomatis papa Hazar sangat terkejut mendengarkan ancaman mama Anna. Hingga mau tidak mau papa Hazar mengikuti saran mama Anna.
"Maafkan aku pa.. Aku terpaksa melakukan ini.. Demi menyelamatkan Rayyan" batin mama Anna.
Waktu itu mama Anna mengetahui nenek diam diam masuk ke dalam ICU di mana papa Hazar waktu itu belum sepenuhnya sadar. Dan waktu itu nenek sempat mengancam mama Anna tidak akan segan segan untuk melenyapkan Rayyan.
Flashback Off
Setelah mengatakan itu, mama Anna meninggalkan papa Hazar dan menuju ke halaman rumah sakit. Di sana, mama Anna bertemu dengan Rayyan dan Arga.
"Mama.." panggil Rayyan.
Mama Anna berjalan mendekati Rayyan dan memeluknya.
"Nak, temuilah papamu.. Dia ingin bertemu denganmu" kata mama Anna.
"Baiklah.. Kak aku tinggal dulu ya" pamit Rayyan.
__ADS_1
Arga hanya mengangguk untuk menanggapi Rayyan. Rayyanpun menuju ke ruang perawatan papa Hazar.
Di kamar papa Hazar, Rayyan langsung memeluk sang papa.
"Pa.. Apa alasan papa malam malam datang ke rumah Miran" tanya Rayyan melonggarkan pelukannya dan menatap sang papa.
"Papa ingin menunjukkan sebuah surat yang ditulis oleh Darnia. Surat itu bisa menjadi sebuah bukti untuk Miran agar tidak percaya lagi dengan kata kata nenek Aisah." jawab papa Hazar.
"Ada seseorang yang begitu dekat dengan Darnia dan papa" jawab papa Hazar tidak mau memberitahukan jika sirat itu dari bu Ira.
Papa Hazar akan merahasiakan persahabatannya dengan bu Ira untuk melindungi posisi bu Ira.
"Pa.. Maafkan aku, maafkan aku yang terlalu percaya dengan Miran" kata Rayyan menggenggam tangan papa Hazar.
Rayyan merasa sangat bersalah karena selama ini tidak pernah mendengarkan kata kata sang papa. Papa Hazar menoleh tanpa mau melihat Rayyan, takut Rayyan dapat membaca rasa bersalahnya karena memfitnah Miran. Takut papa Hazar tak mampu berbohong jika terus menatap Rayyan.
#####
Tiba dirumah, Miran langsung marah marah. Dia terus berteriak tidak terima. Mendengar ada keributan, nenek dan yang lain langsung menghampiri Miran.
"Hazar tidak terjatuh tapi ada yang mendorongnya dan dia menuduh aku pelakunya" kata Miran.
"Itulah watak keluarga Sadli. Mereka suka berbohong" kata nenek.
Mia mendengar itu pun syok, dia tidak tau harus melakukan apa. Haruskah dia mengakuinya namun dia ketakutan, tapi jika dia tidak mengakuinya Miranlah yang akan menjadi korbannya.
"Siapapun yang mendorong Hazar, segera mengakulah dihadpaan semuanya. Dan akulah yang menjadi korban. Gara gata kejadian ini, Rayyan bahkan ikut membenci ku tidak mempercayaiku, dia pergi meninggalkan aku" teriak Miran.
Wajah Mia berubah begitu pucat, dia sangat terlihat sangat ketakutan. Dia tertekan dengan pikirannya sendiri. Kisah masa lalunya lah yang membuat dirinya menjadi seperti ini. Kedatangan papa Hazar malam itu membuat dirinya mengingat kejadian itu.
"Tidak ada yang mendorong Hazar, dia sengaja menjatuhkan dirinya agar dapat menuduh kamulah pelakunya. Dengan cara inilah dia dapat memisahkan kamu dengan Rayyan, dan ternyata ini berhasil, Rayyan lebih percaya papanya dan meninggalkanmu." kata nenek memprovokasi.
Tiba tiba tubuh Mia limbung hampir terjatuh, dia merasa tubuhnya begitu lemas tak berdaya. Mungkin ini efek dia merasa ketakutan secara berlebihan hingga alkhirnya dia jatuh pinsan.
Miran yang melihat Mia pinsan, langsung berlari mendekati Mia dan segera mengangkat tubuh Mia.
#####
Dikediaman keluarga Sadli, kakek mengumpulkan papa Bram dan istri beserta anak anaknya. Kakek ingin pernikahan Mia dan Arga agar segera dilaksanakan.
"Tidak, aku tidak setuju.. Gadis itu tidak pantas dikorbankan hanya untuk balas dendam kepada Aisah.. Aku tidak mau" kata Arga menolak.
Argapun pergi meninggalkan tempat itu, dia benar benar tidak mau ada lagi korban dalam balas dendam tantang hal yang menurutnya tidak di masuk akal.
#####
__ADS_1
Sedangkan di keluarga Alan, mereka masih diliputi rasa kekhawatiran tentang jatuh pinsannya Mia. Mereka sangat memikirkan keadaan Mia saat ini. Mereka masih berkumpul di dalam kamar Mia untuk melihat kondisinya.
Tidak lama kemudian, Mia siuman dari pinsannya. Miranpun segera memegang tangan Mia.
"Mia, kamu tidak apa apa? Apa ada yang kamu rasa, bagian mana yang sakit" tanya Miaran khawatir dengan adik sepupunya itu.
"Kak, aku tidak apa apa.. Aku hanya mengalami darah rendah dan tidak boleh terlalu capek" jawab Mia lemas.
"Kalau begitu kamu banyak beristirahatlah" kata nenek.
Saat semua beranjak pergi meninggalkan kamar Mia, spontan Mia menahan tangan Miran.
"Jangan kemana mana kak. Aku mohon" bisik Mia.
"Ada apa?" tanya Miran bingung.
Mia teringat kejadian malam itu.
Flashback On.
Malam malam, Mia ingin pergi kedapur untuk mengambil segerlas air putih. Namun, saat dia hendak menutup pintu, dia melihat papa Hazar mengendap endap masuk ke dalam rumah melalui balkon dengan memegang sebuah pistol.
Perlahan, Mia mendekati papa Hazar yang tengah berdiri di paling ujung atas anak tangga. Namun karena dia merasa panik karena papa Hazar tiba tiba menoleh ke arahnya, reflek Mia mendorong tubuh papa Hazar hingga terjatuh ke lantai dasar dan naas kepaka papa Hazar terbentur dengan lantai cukup keras.
Mia semakin ketakutan melihat kejadian itu, dia spontan langsung berlari kembali ke dalam kamarnya.
Flashback off.
"Kak, aku tau, kamu bukanlah pelakunya" kata Mia gugup.
Mia masih takut untuk mengakui jika dirinyalah pelaku yang mendorong papa Hazar.
"Sudah.. Kamu beristirahatlah.. Jangan pikirkan hal ini lagi ok" kata Miran memotong perkataan Mia.
Mia menuruti kata kata Miran dan dia kembali merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
Tidak lama kemudian, tiba tiba mama masuk kedalam kamar Mia dan hal itu membuat Mia terkejut.
"Bibi.." gumam Mia.
"Mia.. Bibi tau, kamu adalah gadis yang baik dan tidak mungkin ajan menyakiti orang lain. Sebaiknya kamu berceritalah kepada bibi agar kamu tidak menanggung beban iti sendirian. Bibi tau, pasti kamulah yang tanpa sengaja mendorong Hazar kan?? Percayalah kepada bibi, bibi akan menyimpan rahasia ini." kata mama Sinta.
"Bibi... A.. Aku tidak sengaja mendorongnya.. A..aki melihat pak Hazar membawa sebuah pistol. A..aku takut bibi, dan tanpa sengaja aku malah mendorongnya hingga terjatuh.. Aku akan menemui pak Hazar untuk memohon maaf." kata Mia terisak menangis.
"Aku sangta tersiksa bi.. Aku tersiksa dengan rasa bersalah ini. Apa lagi kak Miran menjadi korbannya.. Aku sangat bersalah" lanjut Mia semakin terisak.
__ADS_1
"Tidak.. Jangan Mia.. Jangan pernah kamu mencoba untuk menemuinya.. Ini sangat berbahaya untuk kamu" cegah mama Sinta.
Miapun menatap mama Sinta bingung, mengapa tidak diperbolehkan. Dia hanya ingin meminta maaf dan membebaskan Miran dari segala tuduhan yang di berikan untuknya.