
"uhuk... Uhukk...uhukk.." papa Hazar sadar.
Papa Hazar mencoba membuka matanya, dan menyesuaikan penglihatannya. Papa Hazar berpikir kini dia telah mati dan entah berada di mana. Namun setelah penglihatannya kembali normal, yang pertama kali lihat adalah wajah nenek.
Nenek yang melihat sang putra terbangun tersenyum lega.
"Putraku.." kata nenek lirih.
"Mengapa anda di sini?? Dan papa??" tanya papa Hazar memandang mereka berdua bergantian.
"Hazar, papa bisa jelaskan ini" kata kakek.
"Jelaskan apa?? Uhuk uhuk.." jawab papa Hazar.
"Aisah adalah ibu kandungmu nak.." jawab kakek.
Papa Hazar terkejut, dan langsung menatap nenek.
"Ibu macam apa yang tega menyelakai bahkan memfitnah putranya sendiri??!! Ibuku sudah meninggal sejak lama, dia bukan ibuku!!" papa Hazar marah tidak percaya.
"Aku tidak tau kamu putraku awalnya. Tapi, papamu telah menceritakan semuanya kepada ku. Maafkan aku Hazar, maafkan aku" tangis nenek.
Papa Hazar berusaha bangun, meski masih lemah. Papa Hazar mencoba berjalan pergi dari sana.
"Hazar.. Maafkan aku Hazar.. Maafkan aku" teriak nenek berusaha mengejar putranya.
Kakek mencegah nenek mengejar papa Hazar, kakek membiarkan papa Hazar mencerna semua yang terjadi.
Saat papa Hazar berjalan kembali ke arah mobilnya tiba tiba.
Ciiiiitttttt
Mobil Miran berhenti tepa di depan mobil papa Hazar. Papa Hazar menatap Miran.
"Apakah anda bisa menjelaskan ini??" tanya Miran menyerahkan surat itu.
Papa Hazar menatap surat itu, dan tau apa itu.
"Kamu tanyakan saja kepada nenekmu. Karena dia yang tau cerita yang sesungguhnya, dan dia juga yang hampir menyelakai aku" kata oaoa Hazar sinis.
Papa Hazar hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Mama Anna masuk rumah sakit" kata Miran.
Papa Hazar terdiam, lalu menatap Miran.
"Antarkan aku kesana" kata papa Hazar berjalan ke arah Miran.
__ADS_1
Mereka berduapun menuju ke rumah sakit. Mereka saling diam, menyelami pikiran mereka masing masing. Sesekali Miran menatap papa Hazar, dia berfikir sejenak dan ingat akan sesuatu.
Dia menjadi yakin jika papa Hazar memang ayahnya, salah satu bukti soal donor darah. Terlebih golongan darah mereka termasuk golongan darah yang langka, tidak bisa sembarangan bisa mendapatkan donor meski dengan golongan yang sama.
Lalu Miran membuka pembicaraan soal papa Hazar bukan ayah kandung Rayyan. Awalnya papa Hazar terkejut, sang istri nekat membuka rahasia mereka terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Miran menelfon Rayyan dan menanyakan kamar rawat mama Anna.
Hari ini mama Anna melahirkan meski lebih awal seminggu dari prediksi lahir. Papa masuk ke dalam kamar di ikuti Miran.
Papa Hazar mengecup kening mama Anna, dan mama Anna menangis. Diam doam, Rayyan memilih keluar dari sana.
Entah mengapa dia merasa kecewa, hingga dia berfikir. Pantas saja sang kakek dari dulu tidak merasa senang dengan keberadaan dirinya hingga berusaha menyingkirkannya.
Rayyan menangis, Miran yang melihat itupun memeluknya.
"Mengapa kamu menangis?" tanya Miran.
"Aku kecewa kepada mereka, mengapa mereka menutupi kenyataan ini selama bertahun tahun" kata Rayyan.
"Apa lagi aku, nenekku tega membuat fitnah untuk putranya sendiri. Bahkan memisahkan putranya sendiri dengan calon istrinya" kata Miran.
"Maksud kamu??" tanya Rayyan.
Miranpun menceritakan semua yang papa Hazar ceritakan ketika di mobil.
"Dan Rayyan, jangan marah kepada mereka. Aku yakin mereka hanya takut kamu tidak bisa menerima kenyataan ini seperti sekaranga ini. Tapi nyatanya selama ini papa Hazar sangat menyayangimu" kata Miran.
"Ya.. Tapi yang lain tidak.." jawab Rayyan.
Papa Hazar keluar dari kamar, dan mendekati Rayyan.
"Aku harus bertemu dengan nenek" pamit Miran.
Miranpun pergi meninggalkan Rayyan berdua dengan papa Hazar. Miran sengaja memberikan waktu untuk mereka berdua.
"Rayyan.. Maafkan kami.." kata papa Hazar duduk di samping Rayyan.
Rayyan bergeming, entah mengapa hatinya begitu sakit.
"Maafkan papa nak.. Papa memang berencana ingin mengatakan ini. Tapi papa takut, papa takut kehilanganmu nak" kata papa lagi.
Rayyan langsung memeluk papa Hazar.
"Rayyan tidak marah pa, meski kecewa. Tapi Rayyan tau, papa dan mama yang paling menyayangi Rayyan" kata Rayyan menangis.
#####.
__ADS_1
Miran tiba di rumahnya, dia langsung mencari sang nenek. Miran langsung menuju ke kamar sang nenek.
Di sana, Miran melihat jika bu Ira tengah mengobati luka bakar di tangan sang nenek. Dan Miran mampu melihat jika sang nenek menangis.
Setelah bu Ira selesa, Miran duduk bersimpuh di depan sang nenek.
"Apa itu benar nek??" tanya Miran setelah menceritakan cerita yang dia dengar dari papa Hazar.
"Maafkan nenek" hanya kata kata itu yang keluar dari mulut nenek.
"Mengapa nenek tega melakukan ini nek??" tanya Miran bangun dari duduknya.
"Nenek jahat, sangat jahat.. Mengapa nenek tega!!" bentak Miran emosi.
"Bertahun tahun nek.. Berahun tahun nenek menceritakan sebuah kebohongan itu kepada Miran!!" bentak Miran lai.
Nenek hanya terdiam sambil tergugu menangis. Doa menerima semua resikonya saat ini, dia menyadari senua kesalahannya sekarang. Dia merasa pantas jika dibenconoleh orang orang yang telah di bohongi.
Dia kecewa, selama ini dia sangat mempercayai semua cerita nenek, hingga mengikuti rencana balas dendam itu.
Miran langsung pergi meninggalkan sang nenek begitu saja dengan rasa emosi yang neluap. Dia kecewa sangat kecewa terhadap sang nenek. Dia tak habis pikir, wanita macam apa yang sanagt tega melakukan hal itu. Dan bodohnya, dia melakuakn semua yang neneknya pinta.
#####
Setelah kejadian itu, tidak ada lagi rencana balas dendam. Semua berjalan saling beriringan.
Meski masih ada rasa kecewa dihati papa Hazar dan Miran. Namun, mereka tidak berniat untuk membalas semua perbuatan nenek. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk bisa memaafkan.
Hingga satu tahun kemudian, Rayyan di nyatakn hamil. Namun dinsayangkan kondisinya lemah, dokter sebenarnya meminta Rayyan untuk mengugurkannya. Namun Rayyan bersikukuh unyuk mempertahankannya.
Nenek mendengar berita itu, hingga dia berusaha merawat Rayyan sebaik mungkin, meski Miran masih enggan untuk berbicara dengannya.
Ini permulaan yang baik, hingga waktu persalinan tiba. Semua dinyatakan sehat dan baik. Semua itu berkat nenek yang merawat Rayyan sepenuh hati. Papa Hazar dan Miran kini benar benar bisa menerima nenek dan mereka kini bahagia dalam satu keluarga.
Melihat itu, kakek tidak menyia nyiakan waktu dan mengungkapkan perasaannya.
"Anak anakku sekalian, aku berniatnuntuk meminang Aisah.. Apakah kalian menyetujuinya." Uangkap kakek.
Semua teryawa mendengar ungakapn kakek namun mereka menyetujuinya.
Miran dan Rayyan tampak bahagia, terutama bagi Rayyan mimpinya untuk mengumpulkan dua keluargapun berhasil.
Semenjak melahirkan, Miran memutuskan untuk membeli salah satu rumah yang tidak jauh dari rumah keluarga Sadli. Hanya di batasi dengan 1 tembok.
Kini keluarga mereka benar benar lengkap, kakek yang sudah menikah dan memiliki 2 cucu bayi dan 1 cicit, benar benar luar biasa.
Badai telah berlalu, menyisakan pelangi yang indah untuk mereka semua.
__ADS_1
......…SELESAI…......