
Pagi mulai menyingsing, Rayyan terbangun dari tidurnya..
Dia membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian yang sudah di belikan oleh Miran beberapa waktu yang lalu..
Setelah selesai, Rayyan keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga..
"Selamat pagi Bu Ira" sapa Rayyan saat bertemu dengan Ira..
"Ahhh selamat pagi nak Rayyan" balas Ira dengan senyuman.
"Bu, kamar Miran sebelah mana ya?" tanya Rayyan.
"Kamar Miran dekat dapur nak?" senyum ramah Ira.
"Ok, terimakasih ya bu" jawab Rayyan ramah.
Ira hanya tersenyum dan mengangguk. Entah kenapa Ira setiap melihat Rayyan hatinya selalu bergetar, dia begitu menyayangi gadis itu meski bukan siapa siapa bagi dia. Dia merasa kasihan akan nasibnya, dia tahu bahwa gadis itu sebenarnya gadis yang baik dan memiliki hati yang tulus nan lembut.
Dia hanya bisa berharap suatu saat nanti Rayyan menemukan kebahagiaan segera..
Rayyan berjalan ke arah dapur, dan langsung saja masuk ke sebuah kamar.
"Miran.." panggil Rayyan langsung terdiam ternyata dia salah kamar..
"Ahhh maaf, aku salah masuk kamar" Rayyan langsung berbalik badan setelah dia terkejut melihat Mei yang ada di kamar itu.
"Tunggu Rayyan!" kata Mei sambil meletakkan lipstik yang baru saja dia pakai.
Rayyan berhenti dan berbalik badan menatap Mei.
Mei berjalan mendekati Rayyan..
"Rayyan, aku ingin sekali menunjukkan sesuatu kepada mu" kata Mei sedikit menahan nada bicaranya.
Mei berjalan mendekati sebuah kotak di sudut kamarnya, sedangkan Rayyan hanya menatap setiap pergerakan Mei.
"Lihat ini, kau tau ini apa?" Mei menunjukkan sebuah gaun pengantin, Rayyan hanya diam.
"Ini gaun impian ku saat itu berharap untuk pertama dan terakhir dalam hidupku, aku khusus memesan baju ini untuk acara pernikahan kami kau tau apa yang aku rasakan saat mengenakannya?? Bahagia Rayyan sanngat bahagia. Ta...tapi nyatanya pernikahan itu terusik!!! dan aku di abaikan begitu saja!!!" Mei meluapkan segala emosinya lalu melempar gaun itu.
"Dan ini" Mei menunjukan baju bayi rajutan.
"Aku merajutnya dengan sepenuh hati ku, hampir setiap hari aku mengerjakannya hingga tangan ku terluka bahkan aku bergadang duduk merajutnya, dengan membayangkan menggendong bayi kecil mungil nan imut mengenakan baju ini dalam pelukan ku hikssss... Aku ingin memberikan keturunan kepadanya dan menua bersama, hidup bahagia dengan keluarga kecil kami, tapi lagi lagi aku harus menguburnya!!!" Mei menatap Rayyan sinis, matanya penuh dengan air mata dia terus meluapkan rasa cemburu sakit hatinya kepada Rayyan..
"Dan satu lagi Rayyan" Mei menuju ke nakas yang berada di dekat tempat tidurnya dan mengambil sesuatu..
"Rayyan, kenapa kamu di sini?" tanya Miran tiba tiba.
Kedatangan Miran bertepatan saat Mei akan menunjukan foto pernikahannya dengan Miran, namun sayang saat Mei sudah akan menunjukkannya perhatian Rayyan beralih ke Miran yang datang tiba tiba.
Miran pun melihat niat Mei yang ingin sekali menunjukkan foto pernikahan Mei.
"Ayo Rayyan, lebih baik kamu tidak berada di sini" kata Miran dingin sambil menatap Mei.
Rayyan bingung, seperti ada sesuatu yang ditutup tutupi Miran.
Mei kembali menaruh fotonya dan pergi keluar kamar mengikuti Miran.
"Miran tunggu" panggil Rayyan.
Miran hanya membalikkan badannya.
"Siapa Mei sebenarnya,?" tanya Rayyan.
__ADS_1
"Dia adalah anak dari paman ku.. Kenapa?" Miran berbalik bertanya.
"Dia mengatakan bahwa dia sudah menikah dan berharap ingin memeiliki seorang anak" tanya Rayyan lagi.
"Jangan hiraukan dia, maaf aku harus segera ke kantor. Bersantai santai lah, akan aku jelaskan nanti" jawab Miran lalu meninggalkan Rayyan.
"Mirannn.." panggil Rayyan namun tidak ditanggapi.
Merasa tidak ditanggapi, Rayyan memilih kembali ke kamarnya.
Mei yang mendengar obrolan Miran dan Rayyan seketika itu langsung menangis dan masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Mei menyambar segala sesuatunya yang berada di dekatnya..
Die menangis sekencang kencang nya..
"Kamu jahat Miran, kamu jahat.." tangis Mei sambil melempari barang barang.
Mama Eni berjalan ke kamar Mei dan melihatnya menangis histeris dia berlari dan terkejut melihat kondisi putrinya dengan kamar yang seperti kapal pecah.
"Ada apa ini Mei, kamu kenapa??" tanya mama Eni sambil berjalan mendekati putrinya.
"Miran mahhh, Miran... Dia sedikitpun tidak memikirkan perasaan ku. Sakit ma" kata Mei saat sudah di dalam pelukan sang mama.
"Sssttt sssttt, sayang lihat mama.. Dia melakukan itu untuk nenek, tenangkan dirimu sayang. Bersabar lah" mama Eni mencoba menenangkan Mei.
"Sampai kapan ma?hikssss" ucap Mei sesenggukan.
"Bersabarlah Mei, beri waktu mama untuk membantumu" jawab mama Eni.
Mei hanya menatap mamanya dan kembali memeluk mamanya kembali.
☘☘☘☘☘
"Riyan, ada jadwal apa untuk hari ini?" tanya Miran.
"Hmmm untuk meeting si hari ini siang nanti bertemu dengan tuan Sadli, hanya itu saja"
"Ok, sebelum bertemu mereka lebih baik kamu panggil Rosa untuk kemari" kata Miran..
"Baik, akan aku hubungi.." jawab Riyan sumringah.
Tidak beberapa lama kemudian, Riyan sudah membawa Rosa untuk menemui Miran.
"Ada apa kamu ingin menemui ku" kata dingin Miran.
"Miran terima kasih kamu sudah berkenan untuk menemui ku. Aku ingin bertemu dengan mu untuk meminta ijinmu agar kamu mengijinkan Rayyan kembali pulang" Rosa memasang wajah sedihnya yang di buat buat.
"Bukankah keluargamu tidak menginginkan dia? Kenapa kamu menginginkan dia pulang?" Miran mengerutkan dahinya.
"Aku hanya kasihan dengan Gendis Miran, dia mogok makan jika tidak bertemu dengan kakanya. Aku tidak tega melihatnya hikssss, dia masih kecil akibat dari kejadian tersebut dokter menyarankannya agar tidak terlalu tertekan. Sedangkan dia saat ini ingin bertemu dengan kakaknya dan terus menangis" Rosa berpura pura menangis.
"Aku mohon Miran" Rosa menggenggam tangan Miran.
"Aku tidak mungkin membawanya kerumah itu" jawab Miran.
"Kalian tidak harus datang siang atau sore.. Tapi datanglah ketika semua orang sudah tertidur, akhir akhir ini Gendis memilih tidur sendiri di kamar kakaknya. Nanti akan aku bantu mengawasi situasinya" Rosa memancing Miran agar mau membawa Rayyan kembali pulang.
"Akan akuu pikirkan, dan segerahlah pergi" kata Miran..
Rosa pun pergi meninggalakan kantor Miran, dia yakin Miran akan menyetujui rencananya itu..
Setelah mengantar Rosa pergi, Riyan kembali menemui Miran.
__ADS_1
"Miran sudah waktunya" kata Riyan.
Miran bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah map kerja samanya dengan keluarga Sadli dan beberapa dokumen lainnya..
Siang itu mereka sudah membuat janji melalui pengacara masing masing untuk berjumpa di tempat makan yang tidak jauh dari kantor..
Saat miran datang, kakek Sadli, papa Bram, papa Hazar dan Arga sudah menunggu di sana.
Miran langsung duduk di bangku yang sudah di siapkan.
"Apa yang ingin kalian bicarakan" suara dingin kakek.
"Maaf tuan, kami sedang menunggu seseorang." jawab Miran.
Dan tidak lama kemudian nenek Aisah muncul dan berjalan duduk di samping Miran.
"Hahaha, kenapa dia kesini? Ini urusan lelaki perempuan tahu apa?" kata kakek meremehkan.
"Maaf tuan Sadli, untuk hal ini nyonya Aisah adalah ketua direksi jadi beliau memiliki hak untuk bergabung di sini" jawab Riyan.
"Baiklah! Cepat katakan ada apa?" jawab kakek kembali dingin..
"Kami ingin membatalkan kerja sama kita" jawab Miran tiba tiba yang membuat kaget mereka.
"Apa!! Tidak bisa, kamu tidak bisa seperti itu!" jawab kakek gusar.
"Maaf tuan Sadli, dalam perjanji pihak satu berhak memutuskan sistem kerjasama kita," jawab Miran.
"Tapi kami sudah mengeluarkan banyak modal untuk kerja sama itu!!!" bentak papa Hazar..
"Itu bukan urusan kami" jawab Miran santai.
"Ini memang rencana kalian kan?? Membuat kami meminjam uang di bank!!" jawab kakek..
"Hahahaha Sadli Sadli, jika kau berkenan.. Berikan rumah yang kau tinggali dan aku anggap lunas" nenek Aisah..
"Miran, pada draft di sini, rumah tuan Sadli tidak menjadi jaminan, kenapa nenek memintanya?" bisik Riyan mendekatkan dirinya mepet ke Miran.
"Aku juga tidak mengerti" bisik Miran juga.
"Jangan pernah berharap Aisah, aku tidak akan memberikan rumah itu ke siapapun" jawab kakek.
"Hahahaha, apa kau yakin??" tantang nenek
"Cuiiih, kamu pikir kami tidak bisa membayar hutang hutang kami hah!!!" kakek mulai emosi dan langsung pergi ke kantornya.
Di ikuti oleh papa Bram dan papa Hazar.. Saat Arga hendak pergi, dia menyempatkan diri berbisik.
"Jangan pernah menyakitinya, jika sampai kau menyakitinya. Dia akan aku rebut dari mu paham!!!" kata Arga mendekati kuping Miran
Miran hanya diam dengan tatapan membunuhnya, dia merasa kesal dengan ucapan Arga.
Sore hari Miran kembali ke rumahnya, setelah membersihkan badannya, Miran pergi keluar untuk menemui Rayyan..
Sebelum menuju ke kamar Rayyan, Miran sempet terduduk di anak tangga.
Miran mengingat ingat kata kata Mei yang sangat meyakinkan itu.
maaf ya temen temen author upnya kemaleman.. 🙏🙏🙏😔
semoga masih tetep suka ya..
jangan lupa di like dan komen yah temen temen ku hehehe.
__ADS_1
terimakasih 🙏🙏😊😊😊