
Pagi harinya, di kediaman keluarga Sadli semua orang mulai sibuk mempersiapkan untuk acara pernikahan. Arga membuka lebar lebar pintu utama, dan berteriak dengan lantang.
"Pintu ini akan terbuka lebar lebar agar seluruh warga kota ini dapat menyaksikan hari bahagiaku" kata Arga merasa bangga dengan hari yang sudah di tunggu tunggu nya.
Mama Sinta dan papa Bram merasa tidak senang, mereka terus cemberut. Mama Sinta tidak suka melihat kesibukan hari ini, ini membuatnya merasakan sakit di kepalanya. Begitupun papa Hazar, duduk terdiam sambil memegangi kepalanya. Waktu sudah sangat dekat, tapi paap Hazar masih terus memikirkan masa depan Rayyan. Dia tidak mau melihat putrinya merenggut kebahagiaannya sendiri menyiksa dirinya sendiri.
"Jika Rayyan tidak bahagia, maka akupun juga tidak bahagia" kata papa Hazar menangis di depan istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Papa mau kemana?" tanya mama Anna.
"Aku ingin memastikan lagi, ingin menanyakan lagi kepada Rayyan" kata pala Hazar sambil mengusap air matanya.
Mama Anna dan papa Hazar menuju ke kamar Rayyan. Saat papa Hazar ingin mengetuk pintu Rayyan, tiba tiba Arga datang.
"Paman, bolehkah aku berbicara sebentar?" kata Arga.
Papa Hazar mengangguk, lalu mengikuti Arga.
"Paman, aku tau paman tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi aku mohon paman, jangan batalkan pernikahan ini paman. Hanya dengan ini Rayyan akan tetap berada di sini dan tetap berkumpul dengan kalian. Aku janji paman akan membahagiakan Rayyan. Aku juga sudah berjanji dengan Rayyan, setelah menikah aku tidak akan menyentuhnya sama sekali." kata Arga dengan mata berkaca kaca.
Mendengar ucapan Arga, papa Hazar seketika itu menangis.
"Bahkan kamu mengorbankan dirimu sendiri nak??" kata papa Hazar langsung memeluk Arga.
Kini Arga merasa lega setelah berbicara dengan pamannya. Suasana hatinya kembali cerah. Kebahagiaannya tidak terkira. Berbanding terbalik dengan Miran yang bahkan semalaman dia tidak bisa beristirahat.
"Miran, jangan kamu menyiksa dirimu sendiri.. Istirahatlah dulu, ganti bajumu aku sudah membawakan baju ganti untukmu" kata Riyan mencoba membuat Miran tidak terus tegang..
"Aku harus melakukan sesuatu untuk menggagalkannya.. Aku tidak bisa tinggal diam" kata Miran dingin.
☘☘☘☘☘
Di kediaman keluarga Sadli sudah semakin ramai, para kerabat saudara satu persatu mulai berdatangan.
Rosa yang melihat suasana ini sangat bahagia, karena dia merasa rencananya berhasil menyatukan Rayyan dengan sang kakak. Apa lagi melihat Arga sangat bahagia. Bahkan Arga dengan senang hati menyapa para tamu.
Arga menghampiri kakeknya ynag tengah duduk sendirian.
"Kakek, terimakasih telah merestui pernikahan ini.. Aku sangat bahagia.." kata Arga.
__ADS_1
Kakek hanya diam saja, di dalam hantinya sebenarnya sama sekali tidak ingin merestui pernikahan ini.
Arga pergi meninggalkan kakeknya. Melihat Arga pergi papa Bram mengahmpiri kakek
"Papa, mana mungkin bisa pernikahan ini akan di gagalkan" kata papa Bram.
"Kamu bersabarlah Bram.. Biar papa yang mengurusnya.. Malam ini rencana itu akan di lakukan" kata kakek berbisik.
Waktu sudah mendekati, acara lamaran akan segera dimulai. Rayyan masih merenung di depan cermin, melihat pantulan bayangan dirinya mengenakan gaun yang dipilihkan Arga untuknya
Dia merasa, hatinya masih bimbang. Berbeda saat dulu dia bersama Miran yang merasa sangat bahagia..
Di lain tempat, Miran menunggangi kudanya mengarah ke kediaman Sadli. Dia berniat untuk menculik Rayyan malam itu. Setelah sampai, Miran mengikat kudanya lalu bersembunyi.
Rayyan keluar dari kamarnya bersama dengan Gendis.. Di depan kamarnya, dia berpapasan dengan Arga.. Arga tampak terpesona dengan Rayyan malam ini.
"Kakak, aku ingin balon... Ayo temenin" kata Gendis.
"Tapi Gendis, kaka ga bisa kemana mana.." kata Rayyan menolak secara halus.
"Kakak ayo hanya sebentar.." Gendia berusaha menyeret Rayyan.
"Ok ayo ayo.." kata Rayyan akhirnya.
"Gendis.. Apa ini rencana kamu?" tanya Rayyan yang melihat Gendis tersenyum senyum sendiri.
"Kakak, berbaliklah ke belakang" kata Gendis sambil tersenyum.
Rayyan membalikkan badannya, dan terkejut melihat Miran ada di sana. Gendis diam diam kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka berdua.
"Untuk apa lagi kamu ke sini Miran" tanya Rayyan dengan wajah dinginnya.
"Kamu tidak boleh mengenakan cincin lain selain cincin dari ku" kata Miran memegang tangan Rayyan.
"Lepaskan.. Pergi lah dari sini.. Atau aku akan berteriak" kata Rayyan.
"Aku tidak akan kemana mana kecuali kamu ikut dengan ku" kata Miran memegang erat pergelangan tangan Rayyan.
"Lepaskan!! To....mmmm..mmm" mulut Rayyan dibekap Miran dan terdorong hingga tersudut ke tembok..
__ADS_1
"Jangan berteriak.. Jika kamu berteriak maka akan terjadi pertumpahan darah di depan mata mu. Aku yang tertembak atau justru Arga yang akan tertembak.. Jadi kamu diam dan ikut dengan ku" ancam Miran dengan wajahnya yang berubah dingin.
"Tidak, aku tidak peduli lagi.." kata Rayyan setela bekapan mulutnya di lepaskan Miran.
Miran langsung mengangkat tubuh Rayyan selayaknya karung beras.. Miran mebawa pergi Rayyan menggunakan kudanya. Jika dia membawa mobilnya maka rencananya akan gagal.
Di dalam kediaman Sadli, mama Anna mencari cari Rayyan karena acara akan segera di mulai.
"Ike.. Tolong kamu bantu aku mencari Rayyan, acara akab segera di mulai" tanya mama Anna.
"Mama.. Papa..." suara teriakan Rayyan.
Mendengar teriakan itu, Arga terkejut lalu langsung berjalan keluar. Semua berlarian keluar rumah.
Gendis melihat Miran membawa Rayyan, dan Ike juga sempat melihat itu.
"Mereka ke arah sana" kata Ike.
Arga mencoba mengejarnya namun gagal. Dia hanya menemukan kain dari gaun yang tadi di kenakan Rayyan.
"Tadi kak Miran menjemput kak Rayyan, lalu kak Miran membawa kak Rayyan menggunakan kudanya" kata Gendis polos.
"Arghhhh sial... Miran Miran Miran.. Kenap selalu saja kamu!" kata Arga geram sambil meremas kain dari gaun Rayyan.
Papa Hazar dan papa Bram berlari menyusul Arga. Sedangkan kakek tampak emosi karena rencananya di gagalkan oleh Miran.
"Papa.. Rayyan pa... Miran telah menculik Rayyan pa" kata mama Anna menangis..
"Tenang ma... Papa akan mencoba mengejar Rayyan.." kaa apa Hazar panik.
Papa Hazar langsung berlari mencoba mengekar Rayyan.
"Papa.. Kenapa Miran yang menculik Rayyan pa? Katanya papa sudah menyuruh seseorang" tanya papa Bram setelah melihat semua orang pergi.
"Miran benar benarkurang ajar, dia telah menggagalkan semua rencanaku.. Dia merusak semuanya." kata kakek dengan sangat emosi.
Sedangakan di dalam rumah, Arga terus berteriak tidak terima dengan apa yang di lakukan oleh Miran. Semua orang yang berada di sana mencoba menenangkan Arga.
"Aku akan mendatanginya.. Aku akan membawa kembali Rayyan" kata Arga sambil memegang pistolnya.
__ADS_1
"Arga... Arga... Mama mohon jangan nak.. Nyawamu akan dalam bahaya jika kamu ke sana nak.. Mama mohon" kata mama Sinta berusaha menahan Arga.
Namun Arga tetap dalam pendiriannya, Arga terus berjalan menuju ke kediaman Aslan yang di ikuti oleh Ihsan yang khawatir dengan Arga.