
Ike membuka pintunya dan setelah melihat siapa yang datang Ike langsung terdiam begitu saja. Rayyan yang merasa Ike terlalu lama membuka pintunya dia jadi penasaran siapa yang datang. Dan Rayyan pun terkejut melihat Miran sampai di sana. Rayan dan Ike pun saling pandang, mereka memikirkan hal yang sama, bagaiman bisa Miran sampai di sana.
"Kenapa kalian hanya diam saja ada tamu.. Halo anak muda.. Anda sedang mencari siapa?" tanya kakek yang tiba tiba muncul.
"Selamat malam kakek, maaf saya menganggu kalian semua. Perkenalkan saya Miran.. Saya suami Rayyan, saya ingin bertemu dengan istri saya" jawab Miran sopan dan tersenyum.
Kakek menatap Rayyan dengan wajah terkejut, begitu juga dengan nenek yang berdiri di belakang mereka bertiga.
"Rayyan, kenapa kamu biarkan suamimu terus berada di luar? ajaklah masuk di luar mulai dingin" ucap kakek.
"Biarkan saja kakek, saya akan berbicara dengannya di luar" kata Rayyan yang mulai memasang wajah sebalnya sambil keluar dan menutup pintunya.
Miran dan Rayyan berjalan menuju halaman rumah kakeknya Ike.
"Untuk apa lagi kamu mencari ku?" kata Rayyan sinis...
"Aku tau kamu tidak mencintai Arga dan memilih pergi meninggalkannya karena tidak bisa menikah dengan Arga." kata Miran dengan wajah semringahnya.
"Kamu jangan sok tau Miran, aku bukan menghindari pernikahan itu." kilah Rayyan.
"Jangan kamu menutupi Rayyan aku sudah mengetahui semuanya" kata Miran.
"Aku..." kata kata Rayyan terpotong saa nenek Ike memanggil mereka berdua.
"Rayyan cepatlah masuk, ajak suamimu. Di luar semakin dingin" kata nenek yang sudah berdiri di depan pintu.
Miran dan Rayyan akhirnya masuk ke dalam rumah. Miran diajak untuk bergabung makan malam bersama, namun Rayyan menolaknya.
"Saya sudah kenyang" ucap ketus Rayyan memilih duduk di pojokan.
"Ayolah Rayyan, layani suami mu ini" ucap nenek.
"Biarkan saja dia mengambil sendiri, dia sudah dewasa bisa mengambilnya sendiri" jawab Rayyan ketus.
"Biarkan saya ambil sendiri nek, terimakasih" ucap Miran lembut.
"Kamu tidak pantas menerima pelayanan kusus dari keluarga ini setelah apa yang kamu lakukan kepada ku" ucap Rayyan lagi.
Nenek dan kakek sudah paham sekarang jika Rayyan dan Miran tengah mengalami masalah.
"Memiliki rumah tangga itu tidak mudah. Tidak hanya menyatukan hati, tapi juga menyatukan dua sifat yang berbeda. Dan dalam setiap rumah tangga itu susah pasti akan mengalami yang namanya masalah. Masalah itulah penyatu sifat yang berbeda itu yaitu bagaiman cara dua orang ini untuk mengatasi segala masalah yang tengah mereka hadapi. Bagaimana caranya, ya kita harus bicarakan, bukan dengan cara kabur, lalu saling mendiamkan." kata kakek akhirnya mencoba memberi wejangan kepada kedua anak muda yang sedang mengalami pertikaian.
Rayyan memilih berjalan keluar rumah dan di ikuti oleh Miran.
"Rayyan... Rayyan.. Tunggu.." panggil Miran mengejar Rayyan.
"Jangan ikuti saya!!!" kata Rayyan terus berjalan.
"Rayyan tunggu, kita harus bicara" Miran meraih tangan Rayyan.
__ADS_1
"Lepaskaan!!! Tidak ada lagi yang perlu kita bicarkan Miran. Kita sudah berakhir sejak di pondok itu ingat" Rayyan menghempaskan tangan Miran dengan kasar.
"Rayyan, dengarkan aku" kata Miran memegang pundak Rayyan.
"Cukup!!! Aku..." kata Rayyan terpotong saat Miran mendekatkan jari telunjuknya ke depan mulut Rayyan dan menatap manik Rayyan dengan intens.
Rayyan terdiam di tempatnya. Dengan jarak yang sangat dekat, Rayyan bisa merasakan hembusan nafas Miran dan sangat jelas melihat manik mata Miran yang sedang terus menatapnya.
"Awwwwww!!" teriak Rayyan tiba tiba.
"Kenapa Rayyan" Miran terkejut.
"Kaki ku.. Awwwww" Rayyan memegang kakinya yang di sengat kalajengking.
Melihat ada kalajengking di sana dan menyengat Rayyan, Miran langsung panik. Miran langsung membopong tubuh Rayyan. Mendengar teriakan Rayyan, kakek, nenek, dan Ike keluar berlari dan terkejut.
"Bawa dia masuk, cepat!" perintah kakek.
"Tidak.. Aku akan bawa dia ke rumah sakit." kata Miran yang sangat panik melihat kondisi Rayyan mulai lemas.
"Tidak ada waktu untuk ke rumah sakit. Rumah sakit di sini lumayan jauh. Kakek ada obat tradisional untuk mengobati sengatan kalajengking. Cepat bawa masuk!" perintah kakek.
"Tapi..." Miran ragu.
"Susah ayoo" Ike memberi kode Miran akan menuruti kakeknya.
Di dalam rumah Rayyan di berikan jamu untuk mengatasi racun dari kalajengking. Karena hal itu sering terjadi di desa itu. Jadi kakek sudah menyiapkan jauh jauh hari jika sewaktu waktu tersengat kalajengking.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit, saya tidak bisa membiarkannya demgam kondisi seperti itu" Miran benar benar khawatir.
"Tidak perlu, Rayyan besok pasti sudah pulih. Ini karena efek obatnya bekerja. Jadi bersabarlah" ucap kakek yang melihat Miran sangat menghawatirkan Rayyan.
"Lebih baik kita istirahat dulu, biarkan Rayyan beristirahat" ucap kakek lagi berjalan memasuki kamarnya di ikuti nenek dan Ike pun masuk kedalam kamarnya.
Miran lebih memilih menemani Rayyan, semalaman Miran tidak dapat memejamkan matanya. Dia terus mengawasi Rayyan yang tengah terpejam dengan suhu badan yang tinggi. Beberapa kali Miran mengompres Rayyan. Miran benar benar merawat Rayyan, dia sangat menghawatirkan Rayyan.
☘☘☘☘☘
Papa Bram menyeret Rosa ke kamarnya. Melihat sang putri di seret oleh suaminya, mama Sinta berlari dan mengikuti sang suami.
"Papa tidak menyangka, ternyata ini rencana kamu bekerja sama dengan musuh keluargamu sendiri untuk menyatukan Arga dengan Rayyan. Apa yang kamu pikirkan hah!!! Dasar anak tidak tau diri.... Plakkk!!!" papa Bram menampar Rosa dan mama Sinta terkejut mendengar kata kata sang suami.
"Ada apa ini" suara berat kakek yang terusik karena teriakan pala Bram.
"Kakek, papa menamparku" adu Rosa mencari perlindungan.
"Kenapa kamu menampar cucuku hah!!" kata kakek.
"Dia bekerja sama dengan Mei dari keluarga Alan untuk menyatukan Arga dengan Rayyan, pa" ucap papa Bram.
__ADS_1
"Apa?!!" kakek berbalik menatap Rosa.
"Apa yang kamu lakukan hahh! Kakek tidak menyangka kamu berbuat seperti ini" ucap kakek yang semakin di buat pusing dengan segala masalah yang muncul.
Arga sedang duduk di rooftop rumahnya bersama Ihsan anak Neni salah satu ART di rumah itu sekaligus sahabatnya. Ihsan baru saja pulang dari militernya dan kini sedang bersama Arga.
"Ada masalah apa, kamu terlihat sangat murung. Sepertinya banyak kejadian yang terjadi di rumah ini." kata Ihsan yang melihat Arga begitu murung.
"Kau tau kan sejak dulu aku sangat mencintai Rayyan" kata Arga.
"Ya aku tau itu" jawab Ihsan.
"Aku berencana menikahinya, namun dia memilih pergi meninggalkan ku Ihsan karena banyak yang menentangnya" curhat Arga.
"Kejarlah Arga, jangan putus asa" kata Ihsan memberi dukungan.
"Aku tidak tau kini dia berada di mana" ucap Arga lemas.
"Dia berada di desa, di rumah nenek Ikex ucap Ihsan membocorkan posisi Rayyan sekarang.
"Kamu yakin?" Arga terkejut.
"Ya aku yakin, ibu ku yang memberitahukannya" ucap Ihsan.
"Ayo kita kesana" Arga tidak sabar lagi untuk menunggu.
"Besok saja Arga, ini sudah malam. Tidak enak dengan nenek dan kakek Ike. Pagi buta kita akan berangkat kesana." saran Ihsan.
☘☘☘☘☘
Hingga pagi menjelang Miran masih setia menunggu Rayyan. Ike yang melihat itu sedikit tersentuh.
"Miran lebih baik kamu pergi dari sini" ucap Ike.
"Tidak, aku akan memastikan dia baik baik saja. Aku akan tetap di sini menunggunya hingga sembuh ucap Miran yang terus menatap Rayyan.
Ike memilih pergi dari ruangan itu. Dan kini tinggalah Miran yang terus merawat Rayyan.
"Rayyan, maafkan aku selama ini menyia nyiakan mu. Kamu selalu saja baik terhadapku. Aku berjanji Rayyan setelah ini aku akan berusaha untuk bersikap lebih baik lagi terhadapmu. Aku akan berubah" ucap Miran lirih.
"Eeee Miran... Miran... Jangan tinggalkan aku" Rayyan mengigau.
Miran tersenyum mendengar itu. Dia tau Rayyan mencintainya, namun keadaan yang membuat Rayyan marah terhadapnya. Lalu Miran memasangkan sebuah cincin yang dulu dibuang oleh Rayyan waktu di pondok.
"Tidak ada yang boleh memilikimu Rayyan. Kamu hanya miliku" kata Miran lirih.
Ike yang melihat itu tersenyum, dia sangat yakin jika keduanya sebenarnya saling mencintai, dan dia juga yakin Miran tulus terhadap Rayyan.
Kakek Ike menghampiri Miran, dan duduk di depan Miran.
__ADS_1
"Aku bisa melihat kamu sangat mencintai Rayyan. Tapi banyak laki laki yang malu untuk mengakuinya, jadi kamu ungkapkanlah kepada dia jika kamu benar benar mencintainya." kata kakek Ike.
Setelah kepergian kakek, Miran berpindah posisi untuk merebahkan kepalanya di samping kepala Rayyan dengan tangan menggenggam erat tangan Rayyan.