
Di kediaman Alan, ketika Ira sedang menyiapkan meja makan dibantu oleh Marni. Nenek menghampiri Ira.
"Ira, kenapa dari siang Mia tidak terlihat?" tanya nenek setelah memasuki ruang makan.
"Setahu saya, Mia berada di kamarnya bu" jawab Ira.
"Tidak nyonya, sedari siang saya lihat Mia pergi keluar" Mirna menyambung.
"Apa!!! kenapa kau tidak bilang kalau Mia pergi keluar sendirian.. Dia tidak biasa pergi keluar sendirian!!!" nenek terkejut.
Setelah mendengar Mia kekuar rumah, nenek mengumpulkan beberapa anak buah nya.
"Kalian semua cepat cari Mia sampai ketemu!!!" perintah nenek mulai panik..
☘☘☘☘☘
Di taman Mia duduk sendirian. Dengan suasana yang remang remang Mia melamun sambil mendekap tubuhnya yang mulai terasa dingin. Tiba tiba datang dua pemuda menghampiri Mia.
"Hai... Kenapa kau di sini sendirian? Apa perlu kami temani? Sedang menunggu siapa?" tanya salah satu pemuda berniat ingin menolong karena merasa kasihan melihat keadaan Mia seperti melamun sendirian di tempat gelap.
"Ja..jangan mendekat" Mia langsung berlari menjauh menerobos kedua pemuda itu.
"Aneh sekali gadis itu, ayok kita pergi" kata pemuda itu lagi.
Mia terus berlari menjauh dari kedua pemuda itu karena ketakukan.
Karena terlalu takut, Mia berlari tanpa memperhatikan langkahnya hingga tersandung paving yang sedikit mencuat hingga dia terjatuh.
pada saat yang bersamaan papa Bram melewati jalan tersebut dan melihat anak gadis terjatuh langsung menghentikan mobilnya dan berniat untuk menolong.
"Kenapa kamu berlari nak?" tanya papa Bram.
Mia berdiri dan terus berusaha berlari karena dia tidak terbiasa berbicara dengan orang asing.
"Tunggu..tunggu, jangan takut aku tidak akan melukai mu.." kata papa Bram dan Mia mulai tenang.
"Kenapa kamu berlari, apakah ada yang mengejarmu. Mari saya antar kamu pulang, di mana alamatmu?" papa Bram perlahan mendekati Mia di lihat Mia mulai tenang papa Bram menggiring Mia masuk ke dalam mobil.
"Siapa nama mu nak?" tanya papa Bram sambil menjalankan mobilnya perlahan..
"Sa..saya Mia om" jawab Mia lirih.
"Aaaa Mia... saya Bram dari keluarga Sadli.. Di mana alamatmu?" tanya papa Bram lagi sambil sesekali menoleh ke Mia yang masih terlihat takut.
Mia mengarahkan papa Bram ke kediaman keluarga Alan.
Setelah sampai di persimpangan dekat rumahnya, Mia segera turun dari mobil dan mengucapkan terimakasih.
Mia langsung berlari memasuki rumah tersebut.
Papa Bram terkejut melihat rumah itu.
"Ini kediaman Alan, siapa gadis itu?" gumam papa Bram terus mengamati.
Setelah memastikan Mia masuk ke dalam rumah itu, papa Bram pergi meninggalkan tempat itu.
☘☘☘☘☘
Nenek semakin panik mendengar kabar bahwa anak buahnya belum dapat menemukan Mia.
Nenek langsung pergi ke rumah keluarga Sadli di temani Riyan dan beberapa pengawalnya.
Tiba di kediaman Sadli, nenek langsung melesak masuk tanpa permisi.
"Sadli!!! Keluar kau!" teriak nenek.
Kakek yang mendengar namanya dipanggil, langsung berjalan keluar.
__ADS_1
"Tidak punyakah sopan santun saat berkunjung ke rumah orang hah..." kata kakek Sadli marah.
"Tidak perlu basa basi, di mana kau sembunyikan Mia" bentak nenek.
Mama Eni, mama Anna, Ike dan yang lainnya tampak bingung mendengar ucapan nenek.
"Mia?? Siapa Mia?" kakek bingung..
"Jangan pura pura tidak tau Sadli!!! Di mana kau sembunyikan dia atau aku bakar rumah ini!!!" kata nenek lagi.
"Silahkan saja kau cari siapa? Si Mia Mia ini jika ketemu.." kata kakek santai karena memang dia tidak melakukan apapun.
"Jika memang terbukti salah satu anggota keluargamu membawa kabur Mia, kau tau apa akibatnya Sadli!" ancam nenek lalu meninggalkan kediaman keluarga Sadli.
Dalam perjalanan, ponsel Riyan berdering dan langsung menerimanya.
"Hallo Miran.." kata Riyan setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Riyan.., aku sedang menuju ke rumah sakit. Mei terluka" kata Miran dari seberang telepon.
"Apa!! Baiklah Miran aku akan menyusul kirim alamat rumah sakitnya." kata Riyan panik dan menutup sambungan telepon.
"Ada apa Riyan?" tanya nenek yang duduk di bangku belakang.
"Miran memberin kabar bahwa Mei terkena luka tusukan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit" jawab Riyan.
"Heeehhh... Sudah ku duga aku tau apa yang direncanakan anak itu, kamu saja yang menyusul Miran. Aku sudah tau apa yang akan terjadi" jawab nenek acuh.
Riyan hanya menganggukkan kepalanya.
Tidak lama berselang ponsel nenek berdering..
"Hallo Ira, ada kabar??" tanya nenek.
"Mia sudah pulang bu, baru saja memasuki rumah dengan selamat dan tidak terjadi apa apa" Ira memberi kabar.
"Samsul cepat kembali pulang, Mia sudah berada di rumah" perintah nenek.
Riyan yang mendengar Mia sudah kembali merasa sedikit lega, tinggal sekarang dia segera menyusul Miran.
Sesampainya di kediaman keluarga Alan, nenek masuk ke dalam rumah.
"Di mana Mia Ira?, apa dia baik baik saja?" tanya nenek.
"Bu, Mia berada di kamarnya.. Kata nya dia merasa lelah. Saya sudah mengantar makanan ke kamarnya." jelas Ira.
"Baiklah, terimakasih Ira." kata nenek sambil berjalan ingin menemui Mia.
Nenek membuka pintu kamar Mia, di lihatnya Mia sedang tiduran di balik selimut tebalnya. Perlahan nenek mendekati Mia.
"Mia..." panggil nenek lirih duduk di pinggir tempat tidur.
Mia membuka matanya dan bangkit duduk.
"Kamu tidak apa apa nak?" tanya nenek mengelus pipi Mia.
"Tidak apa apa nek, Mia baik baik saja. Tadi ada yang menolong Mia. Dia sangat baik nek mau mengantar Mia pulang" kata Mia.
"Ohh ya... Kau sangat beruntung sayang. Nenek panik saat mengetahui mu tidak berada di rumah" kata nenek sambil tersenyum.
"Jika tidak ada om itu, entah apa yang terjadi sama Mia nek" kata Mia lagi.
"Baik sekali dia, kau tahu siapa dia nak?" tanya nenek.
"Namanya Bram katanya om itu dari keluarga Sadli" Mia menjawab.
"A..apa, Bram apakah dia tau kamu cucu nenek?" tanya nenek panik bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Entah nek, beliau nganter Mia hanya sampai persimpangan dekat rumah" jawab Mia bingung.
Nenek langsung pergi keluar tanpa berkata apapun..
☘☘☘☘☘
Di kediaman Sadli papa Bram baru saja tiba dan langsung menuju ke kamarnya. Di dalam kamarnya sang istri sudah menunggu sedari tadi.
"Papa, kenapa baru pulang?" tanya sang istri..
"Papa barusan nolongin anak gadis ma, kasihan dia terlihat sangat ketakutan. Tapi tadi dia minta diantarin ke kediaman Alan" jelas papa Bram..
"Haahhh, tadi bu Aisah juga datang kemari, nyari seorang anak gadis namanya siapa ya tadi emmmmmm siapa ya tadi duuhhh kenapa mama lupa ya.. Pokoknya bu Aisah datang kemari marah besar berfikir salah satu dari kita menyembunyikan anak gadis iti" kata mama Eni.
"Ohh yaa, kalau gitu papa perlu cari tau siapa gadis itu. Papa juga merasa asing dengan dia baru kali ini melihatnya. Jika memang dia anggota keluarga Alan, kenapa waktu pernikahan Miran dan Rayyan papa tidak melihatnya" kata papa Bram semakin penasaran..
Karena hari semakin larut papa Bram memilih untuk beristirahat terlebih dahulu.
☘☘☘☘☘
Di lain tempat, Miran mondar mandir di depan kamar rawat Mei di rumah sakit. Riyan melihat Miran sedang mondar mondar langsung mendekatinya.
"Miran!!!" Panggil Riyan.
Miran hanya menoleh saja, Riyan melihat wajah Miran yang menahan emosi..
"Kenapa Miran?" tanya Riyan khawatir.
"Aarrgghhhhhhhh" Miran hanya berteriak dan membanting ponselnya.
Riyan terkejut lalu menarik Miran keluar dari rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi Miran?" tanya Riyan.
"Rayyan pergi meninggalakan rumah bersama saat aku pergi membeli bahan makanan, saat aku kembali Mia sudah dalam kondisi berlumuran darah" kata Miran lagi.
"Yang sedang saya pikirkan, kenapa mereka berdua bisa tau keberadaan ku dan Rayyan" kata Miran lagi terduduk sambil memegang kepalanya.
Riyan yang mendengar itu langsung terdiam dia langsung berfikir saat dia menerima pesan dari Miran sedang bersama Rosa, apakah Rosa sudah membaca isin pesannya pikir Riyan.
"Siapa yang memberi tahu keberadaan kami arghhhh, gara gara ini Rayyan pergi meninggalakan aku" Miran semakin emosi.
"Miran..Miran temang lah dulu.." Riyan menenangkan Miran.
"Kemana aku harus mencarinya, aku harus mencari Rayyan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak mungkin Rayyan yang melukai Mei" kata Miran lagi yang sedikit tenang..
Saat Riyan sedang mencoba menenangkan Miran, datang ambulance yang membawa Rayyan.
Namun sayang Miran dan Riyan tidak menyadari keberadaan Rayyan.
Rayyan masuk ke UGD di susul Arga, Arga tidak mengalami luka serius entah dengan Rayyan yang pinsan saat mengalami kecelakaan itu.
Tidak butuh waktu lama, dokter yang memeriksa Rayyan keluar dari UGD.
"Bagiamana dok?" tanya Arga khawatir.
"Tidak terjadi apa apa, pasien hanya mengalami syok berat. Untuk sementara beristirahat di ruang rawat besok boleh pulang" ucap dokter.
"Sukurlah, terima kasih dok" Arga merasa lega.
Lalu Arga menuju ke kamar rawat Rayyan setelah menanyakan ke suster dan segera menyusul Rayyan.
**semoga masih suka ya..
maaf jika belum memuaskan..
mohon like dan komentnya untuk kritik dan sarannya biar author bisa membenahi yang masih kurang..
__ADS_1
terimakasihhh 🙏🙏🙏😊😊😊**