
Mei dan yang lainnya kembali ke rumah mereka dengan perasaan terkejut dan sedikit lega melihat Miran baik baik saja tidak ada luka sedikitpun.
"Inilah akibatnya kamu tidak mendengarkan perkataan nenek. Ini pasti ulah keluarga Sadli yang sudah merencanakannya. Bagaimana kalau kamu sampai meninggal.?" kata nenek marah.
"Jika memang mereka yang melakukannya aku akan meminta pertanggung jawaban dari mereka. Aku akan menyelidikinya." jawab Miran.
Lalu nenek pergi meninggalkan Miran dan Riyan.. Nenek sudah tidak tau lagi bagaimana caranya memperingatkan Miran. Miran sudah sangat sulit dikendalikan lagi.
"Miran, mulai sekarang kamu harus lebih berhati hati.. Mereka sudah memulai perperangan ini. Kamu dalam bahaya Miran" kata Riyan.
"Jika memang ini ulah mereka, aku akan memberitahu Rayyan agar dia tau bagaimana sebenarnya keluarganya itu" jawab Miran.
Lalu Miran meninggalkan Riyan dan memilih kembali ke kamarnya. Mei dan Mia masih terlihat syok setelah melihat kondisi mobil Miran. Namun mereka sudah sedikit lega melihat Miran baik baik saja meski mereka tetap merasa was was.
☘☘☘☘☘
Rayyan masih terus menangisi keadaan Miran yang berfikir Miran tidak selamat. Tidak jauh dari posisi Rayyan duduk, Ike berusaha menghubungi ponsel Riyan. Tidak lama kemudian, panggilan itu diterima oleh Rian.
"Hallo Riyan.. Bagaimana keadaan Miran?" kata Ike sembari meloadspeaker.
"Kalian tidak perlu khawatir keadaan Miran baik baik saja, bahkan tanpa luka sedikitpun" suara Riyan di ponsel.
Mendengar itu Rayyan merasa lega.
"Ya Tuhan terimakasih Kau telah melindunginya" kata Rayyan menangis lega.
"Ini semua karena balas dendam nenek Miran hingga semua menjadi menderita. Aku akan menghentikan perbuatan nenek Miran. Aku tidak ingin siapapun menjadi korban. Aku akan melakukan permintaan tuan Hasmet, aku akan menerima lamaran Miran." lanjut Rayyan yang masih menangis hingga wajahnya sembab.
Ike pun terkejut dengan kata kata Rayyan, namun dia juga tidak bisa mencegah keinginan Rayyan itu.
☘☘☘☘☘
Miran kini berada di dalam kamarnya, dia tengah beristirahat dan juga memikirkan siapa pelakunya.
Drrrtttt.... Ddrrrrtttttt
Ponsel Miran bergetar ada pesan masuk di ponselnya.
"Aku menunggumu di ayunan" isi pesan itu.
Miran pun bergegas menuju ke ayunan untuk menemui Rayyan. Di depan tampak Riyan sedang berdiri yang juga sedang memikirkan sesuatu.
"Miran.. Tunggu mau kemana?" tanya Riyan melihat Miran keluar dari kamarnya dengan tergesa gesa.
__ADS_1
"Aku ingin keluar sebentar, aku akan menemui Rayyan" jawab Miran tanpa menoleh.
"Miran.. Miran.. Jangan sekarang.. Nyawamu dalam bahaya Miran" cegah Riyan mengingat apa yang baru saja terjadi.
"Aku tidak peduli, aku akan tetap menemuinya. aku tidka takut dengan kematian" jawab Miran melenggang pergi.
Riyan tidak mampu mencegah Miran yang sangat keras kepala itu.
Miran pun langsung menuju ke ayunan untuk menemui Miran. Sampai di sana, Rayyan sudah menunggunya.
Miran keluar dari mobil. Mendengar suara pintu mobil ditutup, Rayyan menoleh lalu berlari mendekati Miran. Mereka saling berpelukan. Rayyan sangat lega kembali melihat Miran dalam kondisi baik baik saja. Begitu pula Miran yang sangat bahagia dapat melihat lagi Rayyan.
"Miran, apa kamu masih ingin menikahiku? Apa lamaranmu masih berlaku??" tanya Rayyan mengendurkan pelukannya menatap Miran lekat.
Mendengar kata kata Rayyan, Miran menangis bahagia.. Dia tidak menyangka Rayyan akan membahas hal ini.
"Rayyan, sampai matipun aku akan tetap menunggumu" kata Miran memeluk kembali Rayyan.
"Rayyan, kenapa kamu tiba tiba berubah pikiran untuk menerima lamaranku" tanya Miran sambil memegangi kedua pipi Rayyan.
"Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri Miran, saat mendengar penembakan itu. Hatiku rasanya hancur, separuh jiwaku terasa hilang saat membayangkan apa yang terjadi, aku tidak sanggup kehilanganmu" jawab Rayyan menutupi alasannya menerima lamaran itu selain karena hatinya.
Mendengar jawaban Rayyan, Miran sangat bahagia. Miran mengambil kalungnya, dan melepas cincin dari mamanya Darnia. Miran memasangkan cincin itu di jari manis Rayyan dan dia memasang cincinya sendiri di jari tangannya.
"Mari kita pulang" ajak Miran menyodorkan tangannya agar digandeng oleh Rayyan.
Rayyan mengangguk dengan bibir tersenyum, Rayyan menggandeng tangan Miran lalu menuju ke mobil Miran untuk kembali ke rumah Miran.
Tidak lama kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Aslan. Miran terus menggenggam tangan Rayyan, sesampainya di dalam rumah Miran berteriak.
"Nenek...." teriak Miran lantang.
Nenek dan yang lainnya pun terkejut mendengar panggilan Miran. Dan mereka semakin terheran heran melihat Rayyan bersama Miran, apalagi Mei yang berusaha menahan rasa cemburunya.
"Nenek, aku membawa pulang menantu keluarga Aslan.. Mulai hari ini, mulai detik ini Rayyan adalah istriku." kata Miran dengan lantang agar yang lain dapat mendengarnya.
Mendengar pernyataan itu, Mei dan mama Eni merasa tidak senang. Lalu mereka memilih masuk ke dalam kamarnya.
"Aku akan merestui kalian tapi dengan syarat. Setelah Rayyan menjadi menantu dalam keluarga ini, dia tidak boleh bertemu lagi dengan keluarganya. Termasuk papa dan mamanya.. Apa kamu siap??" kata nenek menatap Rayyan.
"Aku akan menerima permintaan anda" jawab Rayyan yakin.
"Baiklah, kalian akan segera menikah." jawab nenek kemudian.
__ADS_1
"Setelah menikah, kami akan mencari rumah baru.. Kami tidak akan tinggal di sini." kata Miran.
"Aku tidak mengijinkan kalian untuk keluar dari rumah ini!" perintah nenek lalu melangkah pergi meninggalkan Miran dan Rayyan.
"Aku akan tetap membawa Rayyan di rumah kami" kata Miran lagi.
Nenek menoleh dengan wajah menahan emosinya. Nenek hanya diam, merasa percumah jika terus dipaksakan. Nenek memilih meninggalkan mereka berdua menuju ke kamarnya.
Lalu Miran mengantar Rayyan untuk kembali ke rumah peternakan. Miran tidak mengantarnya sampai di depan rumah agar tidak ketahuan.
"Terimakasih Miran.." kata Rayyan.
"Hati hati sayang.." kata Miran dengan tersenyum.
Rayyan berjalan menuju ke rumahnya. Dia memilih duduk di halaman samping rumah. Rayyan melepas cincin dari Miran lalu menyimpannya di saku bajunya.
Mama Anna melihat Rayyan duduk melamun di halaman samping rumah lalu menghampirinya.
"Kamu baru saja menemui Miran kan?? Rayyan, jauhi dia jangan temui dia lagi.. Mama khawatir suasana akan menjadi semakin buruk. Jika keluarga kita mengetahuinya, mereka pasti akan memarahimu" kata mama Anna.
Rayyan menangis lalu memeluk mamanya.
Tanpa mereka sadari Rosa mendengar percakapan itu dan langsung masuk ke dalam rumah untuk melaporkannya ke kakek.
"Kakek... Kakek...!" panggil Rosa.
"Ada apa Rosa?" tanya kakek tengah duduk di ruang keluarga.
"Lihatlah kakek, dalam situasi seperti ini Rayyan masih saja menemui Miran" adu Rosa.
"Dia mana dia sekarang!!" kakek murka.
"Dia ada di halaman samping rumah bersama mamanya" kata Rosa.
Tidak lama kemudian kakek keluar dan menghampiri Rayyan.
"Kamu benar benar tidak berfikir haahhh dalam situasi seperti ini kamu masih saja menemui anak musuh!!! Untuk apa lagi!" tanya kakek, Rayyan hanya terdiam.
"Semalam aku juga melihat mereka bertemu secara diam diam di halaman samping rumah" adu papa Bram.
"Lihat putrimu Hazar!!! Dia selalu saja membuat masalah!! sekarang cepat kamu kurung dia, papa tidak mau dia bertemu lagi dengan Miran." kata kakek.
"Tidak, aku tidak akan mengurungnya." papa Hazar menolak.
__ADS_1
Kakek marah, dalam diam kakek memilih pergi dari sana.