
Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah berada di depan kediaman keluarga Alan...
Riyan turun dari mobilnya, dan membantu Miran turun dari mobil diikuti oleh Rayyan yang tangannya terus dipegang erat Miran..
Penjaga membukakan pintu mereka, terlihat di dalam Mei dan mama Eni sedang duduk santai..
Melihat kedatangan Miran, terlebih dalam ke adaan terluka Mei langsung bangkit berdiri menghampiri Miran di ikuti mama Anna.
"Miran?? Kamu tidak apa apa??" Mei merasa khawatir dengan ke adaan Miran.
Miran hanya menggelengkan kepala dan menyingkirkan tangan Mei dari badannya pelan..
"Dia akan tinggal di sini dan tidak ada yang boleh mengusik dia..." ucap Miran tegas dan dingin..
"Kenapa Miran??? Kenapa kamu membawa musuh ke dalam rumah ini?? biarkan saja dia pergi!! Bukankah semua sudah selesai??" tanya Mei menahan cemburunya.
"Saya tidak mau mendengar bantahan" jawab Miran.
"Biarkan saja Mei... dan selamat datang di kediaman Alan nona Rayyan!!!" nenek tiba tiba datang..
Rayyan mengamati wanita paruh baya itu, seketika dia teringat siapa dia.
"Anda!!!" Rayyan terkejut...
"Kita berjumpa lagi nona.." senyum sinis nenek.
"Ya anda lah yang membuang saya di tengah tengah ramainya masyarakat di pusat perbelanjaan sana!!!" kata Rayyan.
Miran terkejut mendengar ucapan Rayyan.
"Nenek?? Benarkah itu?" tanya Miran menatap neneknya lekat.
"Ya memang dia yang membuang saya disana, yang menyelamatkan saya dari kematian tapi malah memasukan kembali saya ke dalam kematian yang lain.. Anda perempuan yang tidak punya perasaan Nyonya hiksss" Rayyan menangis lalu pergi meninggalkan rumah itu...
"Nenek saya akan menemui nenek nanti" Miran keluar mengejar Rayyan...
Rayyan berlari keluar rumah itu, dan diikuti oleh Miran.
"Rayyan tunggu!!! Rayyan" Miran meraih tangan Rayyan..
"Lepaskan saya, lepaskan hiksss hiksss... Saya tidak mau berada di sana hiksss saya tidak mau!!" tangis Rayyan menjadi.
"Jika kamu tidak ikut saya, lalu kamu akan kemana?? sekarang kamu tanggung jawab ku.. Ayolah Rayyan nanti kakekmu melihatmu" rayu Miran.
"Biarkan saja Miran, saya keluar dari neraka dan saya akan masuk ke neraka lain jika berada di sana, dia jahat Miran.. Dia jahat mempermalukan aku di depan banyak orang membuang ku bagai sampah yang menjijikan.. Biarkan aku pergi Mi...ra...n" Rayyan jatuh pingsan terlalu banyak beban dan tekanan di tambah lelah fisik yang dia rasakan..
Miran menangkap tubuh Rayyan, meski dia juga merasakan sakit di dada kirinya Miran tetap berusaha mengangkat tubuh Rayyan untuk kembali ke rumah..
Saat melewati pintu utama Riyan, Mei, mama Eni dan nenek masih setia menunggu di sana..
Melihat Miran menggendong Rayyan, semakin termakan cemburu hati Mei dan mengikuti langkah Miran membawa Rayyan menuju ke kamar Miran yang berada di lantai dua..
"Riyan, tolong panggilkan dokter keluarga untuk memeriksa saya nanti.. Dan bu Ira tolong nanti siapkan makanan untuk Rayyan" perintah Miran sambil berlalu menuju kamarnya.
Riyan dan Ira langsung melaksanakan perintah Miran..
__ADS_1
Nenek hanya menatap Miran hingga hilang di balik tembok...
"Ternyata kamu sudah menggunakan hatimu Miran, kita lihat nanti apa yang akan aku lakukan" batin nenek lalu berlalu pergi..
"Lihat apa yang telah anda lakukan nyonya Aisah, lihat lah hasil rencanamu??" ucap mama Eni saat nenek hendak melangkah pergi.
"Bukankah ini rencanamu Eni??? Bukan kah kamu yang membocorkan keberadaan Miran ke keluarga Sadli???" kata nenek pelan sambil memandang mama Eni tajam..
"Aa..aaapa.., saya tidak melakukan apapun" gagap mama Eni..
"Jangan pernah main main terhadap saya Eni, saya tau semua gerak gerikmu.. Dan karena ulahmu ini semua jadi berantakan paham!!!!" kata nenek penuh penekanan lalu beranjak pergi meninggalakan mama Eni yang terdiam.
Mama Eni pun beranjak menyusul putrinya..
☘☘☘☘☘
Miran meletakkan tubuh Rayyan di tempat tidurnya, setelah menyelimuti tubuh Rayyan, Miran beranjak keluar kamar dan menguncinya dari luar...
"Miran... Apa yang kamu lakukan Miran??? Kenapa kamu membawanya ke kamar kamu... Sedangkan aku yang istri sah mu tidak pernah kau perbolehkan masuk hikss" kata Mei terisak..
"Diamlah Mei, jangan kamu merusak rencana ku" ucap Miran pelan..
"Tidak Miran, tidak... Pernahkah kamu sedikit saja menghargai perasaan ku menghargai ku sebagai istrimu hiksss" tangis Mei sambil memukul pelan dada bidang Miran..
"Tenang Mei, tenanglah" Miran meringis menahan sakitnya dan mencoba memeluk Mei agar tenang.
Mei terus sesenggukan menangis, hatinya sangat sakit melihat Miran terus berasama Rayyan.. Sedangkan dia sebagai istri sahnya tidak pernah sedikitpun dipedulikan oleh Miran..
Mama Eni menenangkan Mei dan membawanya turun menuju kamar Mei...
Sedangkan di kamar Miran, Rayyan siuman karena mendengar suara berisik di luar kamar..
Rayyan menuju ke arah pintu mencoba untuk membukanya dan ternyata di kunci dari luar..
Rayyan mpun berjalan menuju ke jendela kamar itu dan melihat Miran..
"Miraannn!!! Lepaskan aku Miran!!! Biarkan saya pergi dari sini" kata Rayyan memanggil Miran yang akan turun..
Miran tidak merespon teriakan Rayyan, dia terus berlalu menuju ke kamar lain untuk dia beristirahat sejenak..
"Lepaskann aku!!! Kalian tidak punya hati.. Kalian akan menerima balasannya nanti!! Mirannnn!!! Lepaskan aku Miran!!! Biarkan aku pergi!! Miraaannn!!!" Rayyan terus berteriak teriak tiada hentinya..
Di kamar Mei, Mei terus menangis dan uring uringan sendiri sedangkan mama Mei terus berusaha menenangkan Mei..
"Mama!!! suruh perempuan itu diam ma!! Telinga ku sakit mendengarkan teriakan dia terus tanpa henti" Mei mencoba menutup kupingnya tidak tahan mendengar teriakan Rayyan..
Di ruang tamu, Mia adik sepupu Miran yang lain tidak tega mendengar teriakan Rayyan yang begitu memilukan itu..
Sudah cukup dia diam karena kekacauan selama ini.
"Nenek!! Tidak punya hatikah nenek mendengar teriakan seorang gadis di sana dan nenek hanya diam saja???" kata Mia.
"Diamlah Mia, kau tidak tau apa apa... Ini memang pantas dia dapatkan" ucap nenek...
"Nenek, aku tidak tega mendengarnya nenek... Aku juga butuh ketenangan.." ucap Mia lagi lalu pergi meninggalkan neneknya..
__ADS_1
Lalu Mia menghampiri kamar Miran, dan mengetok kaca jendela kamar...
Rayyan yang mendengar ada yang mengetuk kaca jendela kamar langsung menghampiri dan melihat ada sosok gadis di sana dan membuka jendelanya.
"Aku tau kamu tidak bersalah dan seharusnya bukan kamu yang membayar semua ini.. Aku merasa kasihan terhadapmu, kamu hanyalah korban dari balas dendam yang bagi ku sangat konyol" ucap Mia lirih dan sesekali celingak celinguk.
"Maksud kamu??? Balas dendam apa??" Rayyan mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud perkataan gadis itu...
"Haaah..jaa..jaadi kamu...ahhh bukan apa apa" Mia langsung beranjak pergi..
"Hehhh nona tunggu, jelaskan yang kamu maksud dengan balas dendam?" Rayyan berusaha minta penjelasan namun gadis itu kabur begitu saja..
☘☘☘☘☘
Di kamar tamu, Miran telah selesai di periksa..
"Bagaimana dok" tanya Riyan.
"Untung lukanya tidak terlalu dalam, ini saya berikan resep tolong segera berikan ke bapak Miran" jelas dokter.
"Baik dok, mari saya antar" kata Riyan..
"Riyan.." panggil Miran
Riyan hanya menoleh...
"Tolong belikan beberapa pakaian untuk Rayyan...ahhhh satu lagi belikan dia sepatu" ucap Miran..
Riyan hanya mengangguk dan beranjak keluar meninggalkan Miran..
"Ukuran 36 Riyan, jangan lupa" ucap Miran sebelum Riyan benar benar keluar dari kamarnya..
"Bahkan kau sudah hafal ukurannya Miran" lirih Riyan dan menggelengkan kepalanya..
Miran kembali mengenakan kaosnya dan menuju ke dapur..
"Bu Ira.. makanan untuk Rayyan sudah siap bu?? tolong nanti antar sekalian ya dan ini kuncinya jangan berikan kunci ini kepada siapapun" ucap Miran lembut..
"Baiklah nak" ucap Ira tersenyum..
"Kak, tidak kah kamu merasa kasihan terhadap gadis itu?" ucap Mia tiba tiba..
Miran hanya diam dan hanya menatap Mia lekat..
"Semenjak saya di sini, saya menjadi tidak mengenali orang orang yang berada di sini.. Tak habis pikir di mana hati nurani kalian... Dan ingat kak, teriakan pilunya akan menjadi doanya untuk membawa karma bagi rumah ini" ucap tajam Mia yang sudah benar benar muak dengan balas dendam yang sering di ucapkan oleh neneknya itu...
Mia langsung pergi meninggalkan dapur dan menuju ke kamarnya..
Miran hanya menghela nafasnya, sebenarnya dia memang tidak tega.. Tapi dia juga ingin melindunginya dari keluargnya itu..
Akhirnya Miran pun ikut meninggalkan dapur dan menuju ke kamar neneknya....
Sedangkan Ira, tidak tau harus berbuat apa.. Mendengar gadis itu berteriak seperti tadi pun sesungguhnya tidak tega, namun dia tidak bisa berbuat apa apa..
semoga suka...
__ADS_1
dan terima kasih ya yang sudah tinggalkan jejak...
jadi membuat author tambah semangat untuk terus menulis 😊😊😊🙏🙏🙏🙏