Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
penyerangan


__ADS_3

Rayyan tiba kembali di rumahnya. Belum sempat masuk, mama Sinta menyambut Rayyan dengan harapan Rayyan menuruti permintaan tuan Hasmet.


"Bagaimana Rayyan.. Apa kamu mau mengikuti saran tuan Hasmet. Bibi tidak mau Arga menjadi korbannya. Ini waktunya untuk kamu menunjukkan rasa pedulimu kepada Arga, kepada kami" bujuk mama Sinta.


Rayyan tidak menjawab, hanya senyuman yang dipaksakan yang Rayyan berikan. Rayyan meninggalkan mama Sinta dan masuk ke dalam rumah.


"Apa yang nyonya Sinta inginkan??" tanya Ike.


"Bibi menginginkan aku berkorban untuk menghindari pertumpahan darah itu" jawab Rayyan dengan wajah sedih.


Di ruang makan papa Bram dan Arga sedang berdebat.


"Arga, kamu harus pergi nak.. Papa ga mau kami menjadi korbannya.. Kamu bersembunyilah dulu" perintah papa Bram.


"Aku akan tetap di sini, aku tidak akan bersembunyi dari apapun dari siapapun" jawab Arga.


"Arga!!! Kamu satu satunya penerus keluarga ini. Kami tidak ingin kehilangan mu!" papa Bram ngotot.


"Tidak pa... Aku tidak akan ke mana mana" Arga tetap pada pendiriannya.


Papa Bram langsung meninggalkan ruang makan dalam kondisi emosi. Saat akan keluar dari ruang makan, papa Bran bertemu dengan Rayyan yang tidak sengaja mendengar pembicaraan itu.


"Kak.." panggil Rayyan.


"Rayyan.." Arga menoleh.


"Kak.. Aku mohon, pergilah.. Hidup mu dalam bahaya.. Orang tuamu sangat menghawatirkanmu kak.. Demi kebaikan keluarga kita.. Demi ketenangan keluarga kita.. Aku mohon.. Ini hanya sementara waktu kak.. Demi hidupmu juga" bujuk Rayyan.


"Baiklah Rayyan jika ini memang kemauanmu" jawab Arga.


Arga menuruti kata kata Rayyan. Dia lalu pergi meninggalkan Rayyan menuju ke kamarnya untuk mempersiapkan dirinya.


☘☘☘☘☘

__ADS_1


Riyan sedang berbincang dengan Miran di kamar Miran. Mereka sedikit bersitegang mengenai penyitaan rumah keluarga Sadli.


"Riyan.. Segeralah tarik kembali penyitaan kediaman keluarga Sadli. Aku tidak mau Rayyan berfikir aku yang melakukan itu" kata Miran.


"Maaf Miran, aku tidak bisa melakukan apapun.. Ini perintah nenek aku tidak berani membantahnya." jawab Riyan menolak.


"Miran.. Kami sidah terlalu jauh menyimpang. Kamu merendahkan dirimu sendiri di hadapan mereka demi Rayyan" kata Riyan kemudian.


"Aku tidak peduli dengan apapun sekarang.. Yang aku mau hanya tarik kembali penyitaan itu." jawab Miran kukuh.


Di bawah, nenek tengah berbicara dengan Mei.


"Mei.. Mana surat perceraian itu" tagih nenek.


Mei pun memberikan surat tersebut. Nenei menerimanya dan menngecek surat tersebut. Tampak di sana Mei sudah menandatangani surat itu.


"Miran, mau ke mana kamu??" tanya nenek melihat Miran yang akan pergi keluar.


"Miran.. Di luar sana sedang berbahaya untuk mu.. Untuk sementara waktu jangan ke mana mana dahulu" kata nenek tegas.


"Aku tidak takut dengan siapapun nek.. Bahkan aku tidak takut jika bertemu langsung dengan Sadli. Minta maaf sekalipun atas fitnah yang Mei buat akan aku lakukan agar suasana lebih baik. Aku tidak malu untuk mengakuinya jika Mei memang bersalah. Ini demi nama baik keluarga Aslan." kata Miran tegas.


"Jangan pernah sekalipun kamu merendahkan dirimu..!!! Lebih baik aku mati dari pada harus meminta maaf kepada mereka" jawab nenek emosi.


Miran tidak menghiraukan perkataan neneknya, dia langsung saja pergi meninggalkan rumah begitu saja.


Miran mengendarai mobilnya sendirian, saat tiba di persimpangan tiba tiba dia di cegah oleh sebuah mobil yang berisi beberapa orang pria yang memegang senjata.


Dor.. Dor.. Dor... Dor... Dor...dor..


Rentetan peluru terus menghujam mobil Miran bagian depan, hingga kaca mobil pecah dan beberapa bagian bodi mobil penyok tertembus peluru. Setelah puas, mereka pun pergi meninggalkan Miran yang entah bagaimana. Rupa mobil yang kini sudah tidak lagi berbentuk, hancur.


Suara tembakan itu terdengar hingga di kediaman keluarga Aslan. Semua orang di sana terkejut dan berhamburan keluar. Riyan dengan tangan memegang pistol segera keluar dari kamarnya dan mencoba mengecek apa yang terjadi. Saat akan pergi keluar, salah satu penjaga mengatakan mobil Miran di serang oleh beberapa pria bersenjata.

__ADS_1


Mendengar itu semua panik langsung menuju lokasi di mana kejadian itu.


Melihat kondisi mobil Miran, Mia dan Mei seketika itu histeris khawatir Miran tidak selamat. Riyan mencoba mengecek, dia berjalan ke arah bagian sopir. Saat di buka, ternyata Miran selamat. Dia bersembunyi di bagian bawah.


☘☘☘☘☘


Toba tiba perasaan Rayyan menjadi tidak enak. Tanpa sengaja dia menjatuhkan teko kaca yang dia pegang. Hatinya tiba tiba memikirkan Miran, takut terjadi sesuatu kepada Miran.


Kakek sedang di kebun bersama Yusuf dan Gendis merawat beberapa tanaman yang baru saja Yusuf tanam. Gendis sangat berantusias saat membantu Yusuf merawat. Beberapa kali dia melontarkan pertanyaan mengenai berkebun.


Tiba tiba, ponsel kakek berdering. Salah satu anak buahnya memberikan informasi bahwa Miran telah di serang oleh pria bersenjata.


Mendengar itu kakek langsung berlari dna mencari papa Bram.


"Braamm... Braammm!!" teriak kakek.


Papa Bram berlari menghampiri kakek.


Plak...


Kakek menampar papa Bram. Semua orang yang berada di sana pun terkejut melihat kakek yang tiba tiba menampar papa Bram.


"Apa yang kamu lakukan haahh!!! Kamu kan yang mereka untuk menyerang Miran!!" bentak kakek menuduh papa Bram.


"Aku tidak melakukan apa pun!!! Mengirim siapa dan untuk siapa aku tidak tau.. Aku tidak menyewa orang untuk menyerang Miran!!" papa Bram menyangkalnya.


"Cukup!!! " bentak kakek tidak percaya lalu pergi dari sana.


Mendengar itu, seketika kaki Rayyan lemas. Dia takut terjadi sesuatu kepada Miran. Rayyan berjalan mundur bersandar ketembok agar tetap bisa berdiri.


Rayyan mencoba menghubungi ponsel Miran, Rayyan tampak panik. Dia benar benar tidak tenang ingin segera mendengar kabar Miran.


Tapi sayang, beberapa kali mencoba menelpon tidak berhasil juga. Rayyan semakin panik, dia berfikir bahwa terjadi sesuatu kepada Miran. Rayyan langsung merosot duduk, kakinya benar benar lemas. Dia menangis sejadi jadinya. Ike yang berada di sana mencoba menenangkan Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2