
Kini Miran sudah berada di kamar, dia duduk di sofa sedangkan Rayyan duduk di tempat tidurnya. Mereka saling diam, tidak ada satu pun kata kata yang keluar dari mulut mereka.
Lama mereka saling terdiam, semakin lama Rayyanpun semakin jenuh.
"Mau sampai kapan kita akan saling diam??" kata Rayyan menghampiri Miran dan duduk di sampingnya.
"Jika kita saling berbicara, maka kita akan kembali bertengkar. Aku tidak ingin melukai hatimu" jawab Miran tanpa menoleh ke arah Rayyan.
"Miraann!!! Miraaannn!!!" suara papa Hazar berteriak memanggil Miran.
Rayyan terkejut mendengar suara papanya.
"Papa.." lirih Rayyan.
Miran segera keluar dari kamar. Begitu juga yang lainnya.
"Ada apa anda memanggil saya??" seru Miran dari lantai dua.
"Miran, aku membawakan seorang saksi untukmu" teriak papa Hazar.
Miran langsung turun, diikuti oleh Rayyan dan sang nenek.
"Lihat, dia adalah orang suruhan nenekmu untuk mengambil mobilmu di gudang. Nenekmu memintanya untuk menghilangkan semua bukti" kata papa hazar di hadapan Miran.
Nenek tampak bingung, dia memang benar yang menyuruh seseorang untuk membawa pergi mobil itu. Tapi bukan pria yang di bawa papa Hazar.
"Aku mohon, katakan kepadanya seperti apa yang kamu katakan tadi kepadaku.. Tidak usah takut, aku yang akan menjamin keselamatanmu" kata papa Hazar.
"A..aku tidak mengenali nyonya Aisah.." kata pria itu.
Papa Hazar terkejut dengan kata kata pria tersebut. Dia mengatakan hal yang berbeda saat papa Hazar menyekapnya.
"Nyonya.. Nyonya.. Maafkan saya.. Saya mohon selamatkan saya.. Pak Hazar telah menyekap saya dan memaksa saya untuk berbicara" kata pria tersebut bertekuk lutut di hadapan nenek sambil memegangi kedua tangan nenek..
Papa Hazar tampak emosi mendengar kata kata pria tersebut. Lagi lagi dia difitnah. Niat hati ingin membersihkan namanya, lagi lagi dia terjebak.
Nenekpun tampak bingung, apa yang harus dia lakukan. Diam diam, pria itu memberikan secarik kertas kepada nenek tanpa seorang pun yang tau.
Papa Hazar emosi, langsung menarik pria tersebut hendak memukulnya karena tidak terima dipermalukan.. Miran berusaha melindungi pria tersebut.
__ADS_1
Sedangkan nenek hanya terdiam sambil menyembunyikan kertas tersebut.
"Inilah sifat asli papamu Rayyan. Memaksa orang lain untuk berbicara. Dia juga suka berbohong!!!" teriak Miran.
"Tidak!!! Papaku bukan orang yang kamu pikirkan.. Aku yakin pria itu telah berbohong karena takut dengan nenekmu!!" kata Rayyan tidak terima sambil menatap nenek Aisah tanpa berkedip sedikitpun.
"Lebih baik anda pergi dari sini.. Semua sudah jelas, tidak ada lagi yang harus dibicarakan" kata Miran mengusir papa Hazar.
"Satu lagi pak Hazar, aku bersumpah akan membunuhmu" kata Miran lirih namun dingin.
Papa Hazarpun memilih pergi meninggalakan rumah itu. Saat di jalan papa Hazar sungguh tidak dapat mengerti, mengapa orang itu bisa mengatakan hal yang berbeda.
"Jangan jangan orang itu suruhan nyinya Aisah untuk menjebak ku untuk mempermalukanku di depan Miran." kata papa Hazar berhenti berjalan dan menatap Ali.
☘☘☘☘☘
Dikediaman keluarga Aslan, nenek yang sedang berada di kamarnya tampak berpikir keras.. Nenek berpikir, ini semua pasti sebuah permainan dari seseorang.
Nenekpun segera membuka surat itu. Saat membacanya, nenek terlihat gusar karena isi surat tersebut lagi lagi sebauh ancaman.
Nenek teringat dengan surat dari penculik Rayyan, dia lalu melangkah menuju ke lemarinya dan membuka laci. Lalu nenek membandingkan surat pertama dengan surat yang kedua. Nenek pun terkejut, karena tulisan dan isinya sama.
"Samsul, datang temui aku di kamar" panggil nenek.
Tidak membutuhkan lama, Samsul pun tiba di kamar nenek. Setelah dipersilahkan masuk, Samsulpun berdiri di depan nenek.
"Samsul, tangkap pria yang tadi di bawa Hazar. Segera bawa temui saya" perintah nenek.
Di rooftop, Rayyan duduk termenung sendirian.. Miran pun menyusul Rayyan di rooftop dan berjalan mendekatinya.
"Aku tau, kamu sangat menyayanginya. Tapi kamu juga harus bisa menerima jika papamu adalah orang jahat" kata Miran duduk di samping Rayyan.
"Papaku orang yang baik. Dia tidak seperti nenekmu. Baru kemarin kamu membongkar kebohongan nenekmu. Tapi kamu sulit mengakui jika nenekmu bersalah. Aku ingin kita bersama sama mencari sebuah fakta.. Karena selama ini kamu hanya mendengar cerita dari nenekmu, tanpa mencari fakta ataupun sebiah bukti. Bahkan kamu langsung saja mempercayainya jika papaku lah pembunuhnya." kata Rayyan bangun dari duduknya dan berdiri ditepian tembok pembatas di ikuti oleh Miran.
"Mari kita mencari semua fakta fakta itu bersama sama. Aku siap dengan semua fakta apapun nanti jika terbukti. Apapun itu, aku akan tetap mencintaimu meski tuduhanmu ke papaku tidak terbukti." kata Rayyan menatap Miran.
Rayyanpun memeluk Miran, saling merasakan kegusaran hati mereka masing masing. Berbagi kesulitan yang tengah mereka hadapi.
Di tengah malam hari, ketika semua sudah terlelap. Miran masih betah membuka matanya. Dalam gelap di dalam kamarnya, di duduk menghadap ke jendela menatap ke luar.
__ADS_1
Miran melihat neneknya pergi keluar malam malam. Miran pun penasaran, terlihat nenek masuk kedalam mobilnya.
Miran akhirnya memilih mengikuti mereka. Karena penasaran, Miranpun menelpon Samsul.
Merasa ponselnya berdering, Samsul menerima panggilan teleponnya.
"Hallo Samsul, nenek akan pergi kemana malam malam seperti ini??" tanya Miran.
Samsulpun akhirnya meloadspiker panggilannya tersebut agar nenek mendengarnya.
"Aku mengikuti kalian dari belakang" kata Miran lagi.
"Maaf tuan, saya hanya di minta mengantar nyonya, namun nyonya hanya memberikan arahan ke saya tidak menyebutkan akan kemana" jawab Samsul.
"Baiklah kalau begitu" jawab Miran menutup panggilannya.
"Antar ke makam" perintah nenek mengambil kesempatan itu.
Sesampainya di pemakaman, nenek menuju ke makam Satria dan Darnia. Nenek menyadari kedatangan Miran. Lalu nenek melancarkan aktingnya.
"Maafkan aku Satria, maafkan aku Darnia.. Aku telah melakukan kesalahan dengan membohongi putra kalian. Seumur hidupku baru kali ini aku membuat sebuah fitnahan. Miran marah kepadaku.. Aku takut Miran pergi, dan melupakan balas dendam kita kepada Hazar." isak tangis nenek dalam berakting.
Melihat akting nenek yang berpura pura menangis menyesali perbuatannya, membuat Miran kembali percaya dengan kata kata neneknya. Dia merasa bersedih mendengar kata kata nenek. Miran tak menyadari jika neneknya itu hanya bersandiwara untuk memulihkan nama baiknya karena mengetahui kedatangannya. Miran pun memilih pergi meninggalkan neneknya di sana.
☘☘☘☘☘
Dikediaman keluarga Aslan, Ira kembali membuka surat tersebut. Ira akan menyerahkan salah satu surat tersebut ke Hazar. Ira akan menyerahkan surat yang berisikan jika Darnia tidak merasa nyaman di rumah keluarga Aslan.
Ira lalu meraih ponselnya, dan segera menghubungi Hazar meminta untuk bertemu.
Mereka pun bertemu di tempat biasa, Irapun memberikan surat itu kepada papa Hazar.
"Hazar, ini surat dari Darnia.. Dulu dia menuliskan surat ini dan menitipkan surat ini kepadaku.. Namun belum sempat aku menghantarkannya kepadamu kejadian itu terjadi. Karena kami harus segera pindah dari kota ini. Aku tidak ada kesempatan untuk menyerahkan ini kepadamu, tapi aku tetap menyimpannya" kata Ira menyodorkan surat itu.
Papa Hazar menangis, ternayata ada sebuah surat untuk dirinya. Papa Hazar lalu membacanya.. Hatinya bergetar, air matanya langsung meluncur deras dari pelupuk matanya karena merasa bersalah tidak dapat membantunya. Dia kembali teringat dengan perempuan yang dulu sangat dia cintai, Darnia.
"Hazar, berikan surat ini kepada Miran.. Aku yakin surat ini akan membantumu untuk meyakinkan Miran jika kamu tidak membunuh kedua orang tuanya." kata Ira.
Setelah itu, Ira pergi dan segera kembali menuju ke kediaman keluarga Aslan.
__ADS_1