
Papa Hazar menemui kakek yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Pa..." panggil papa Hazar.
"Hmmmm.. Duduklah" jawab kakek.
"Aku ingin menanyakan sesuatu pa" kata papa Hazar.
"Soal apa?" jawab kakek.
"Soal kejadian waktu aku bersama Darnia" jawab papa Hazar menatap kakek tajam.
"Untuk apa lagi kamu menanyakan hal ini Hazar. Papa sudah tidak mau membahas persoalan ini" nada kakek mulai meninggi.
"Papa, aku hanya ingin tau siapa yang membunuh Darnia pa. Miran terus menuduhku yang telah membunuh Darnia, dan dia akan balas dendam kepadaku sedangkan aku saja waktu itu tertembak dan tidak sadarkan diri. Hazar mohon pa ceritakanlah yang sejujurnya, aku hanya ingin membuktikannya bahwa bukan aku pelakunya" kata papa Hazar yang mendesak kakek agar bercerita yang sesungguhnya.
"Papa tidak tau Hazar, waktu papa tiba di sana kamu, Darnia dan Aslan sudah tidak sadarkan diri.. Hanya itu yang papa tau, dan jangan tanyakan lagi soal ini" kata kakek langsung meninggalkan papa Hazar.
Di balik pintu ternyata papa Bram menguping pembicaraan papa Hazar dengan kakek. Mendengar kakek keluar, papa Bram berpura pura membuka pintu seolah olah tidak mendengar apa pun.
"Kak, aku tidak menyetujui pernikahan ini" kata papa Bram mendekati papa Hazar.
"Aku tau, kakak juga tidak menyetujui pernikahan ini.. Aku mohon kepada mu kak lakukan lah sesuatu untuk membatalkannya" kata papa Bram lagi.
"Aku akan membawa pergi keluargaku dari rumah ini.. Tenang saja" kata papa Hazar dengan raut wajah yang masih tegang.
"Tidak kak, bawa pergi dulu Rayyan. Sudah tidak ada waktu lagi karena besok pernikahan mereka" papa Bram mendesak papa Hazar.
Sedangakan di ruang tamu, mama Sinta dan Arga duduk bersama sambil membahas soal pernikahan itu.
"Arga, mama tidak akan pernah menyetujui rencana kamu nak.. Jika kamu nekat meneruskan rencana ini, mama tidak mau lagi menganggapmu sebagai anak mama" ancam mama sinta.
"Kenapa si ma kalian tidak menyetujui rencana pernikahan ini.. Sedangkan mama sudah tau bahwa Arga sangat mencintai Rayyan. Dan satu lagi kenapa mama malah sengaja membawa Rayyan ke ayunan untuk bertemu Miran" kata Arga.
Dan tidak sengaja, saat Rayyan sedang menuruni tangga dia mendengar semuanya dan kini dia tau bahwa mama Sinta lah yang mengirimnya untuk bertemu dengan Miran. Rayyan mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur dan memilih kembali ke dalam kamarnya. Hatinya kini kembali ragu dengan keputusan yang dia ambil, dan Rayyan memilih merebahkan dirinya dan menatap kelangit langit kamarnya.
☘☘☘☘☘
Di kediaman keluarga Alan, Miran menemui sang nenek yang sedang berada di kamarnya.
"Nenek, apakah semua yang nenek ceritakan soal kematian mama benar apa adanya nek" kata Miran menatap lekat neneknya.
"Kenapa kamu tiba tiba menanyakan hal itu Miran??" tanya nenek.
"Sore tadi aku bertemu dengan pak Hazar, dan dia mengatakan yang sebaliknya dari yang nenek ceritakan pada ku" kata Miran jujur dengan wajah yang semakin frustasi.
"Miran... Jangan percaya dengan kata katanya.. Dia musuh kita, pembunuh mama mu jadi dia hanya ingin membuat hatimu bingung.. Jangan percaya dengan semua yang dia katakan Miran, percayalah dengan nenek" ucap nenek sambil memegang lengan Miran dan menatap wajah Miran lekat.
Miran menatap kembali sang nenek, hatinya masih merasa bimbang. Ingin sekali dia berteriak saat itu juga untuk melepaskan semua penat yang terus bersarang di dalam kepalanya. Miran memilih pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah Miran meninggalkan nenek, nenek langsung terduduk lemas dengan nafas yang sesak. Nenek takut Miran akan mencari tau fakta yang sesungguhnya secara diam diam.
☘☘☘☘☘
Arga menemui Rayyan di dalam kamarnya. Saat Arga akan masuk kedalam kamar Rayyan, Rayyan sedang berbaring sambil mengamati foto pernikahannya dengan Miran yang sudah dia robek
Tok..tok..tok..
"Rayyan.." panggil Rayyan.
"Ya kak" Rayyan menyembunyikan foto tersebut.
"Rayyan, tidak bisakah kamu mengubah panggilan mu terhadap ku?? Besok kita akan menikah Rayyan, aku tidak ingin kamu menganggapku sebagai saudara lagi dengan panggilan itu" kata Arga protes soal panggilan dan duduk di samping Rayyan.
"Tapi kak.." jawab Rayyan ragu.
"Rayyan, kamu sudah memberikan syarat agar aku membawa mu kembali ke rumah ini dan setelah kita menikah aku tidak menyentuhmu aku sudah menyetujuinya. Tapi, dengan kamu memanggilku seperti itu, aku merasa kamu masih memikirkan Miran dan kamu tidak menganggapku. Rayyan..., tidak bisakah kamu melihat ku??" kata Arga berjongkok di depan Rayyan dengan raut wajah sedih.
"Aku tau Rayyan, kamu belum membuka hatimu untuk mencintai ku.. Aku tidak akan menyerah Rayyan, aku akan selalu menunggumu hingga kamu bisa menerimaku" kata Arga lagi lalu bangkit berdiri dan meninggalkan Rayyan yang hanya terdiam.
Setelah kergian Arga, dada Rayyan menjadi sesak dia tidak tau lagi harus bagaimana. Rayyan memilih berjalan menuju ke balkon kamarnya.
Rayyan duduk termenung di sana, melihat langit yang sudah gelap tanpa bintang.
"Rayyan..." panggil papa Hazar mendekati Rayyan ke balkon.
"Rayyan, papa tidak setuju dengan rencana pernikahan ini nak" kata papa Hazar menatap Rayyan dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Papa dan mama sudah memutuskan untuk membawa mu pergi" kata papa Hazar lagi dan Rayyan terkejut mendengar kata kata papanya.
"Besok pagi, sebelum semua orang bangun papa mau kamu harus pergi meninggalkan rumah ini" kata papa Hazar memegang tangan Rayyan, wajah Rayyan menjadi sedih.
☘☘☘☘☘
Malam semakin larut, Miran tidak dapat memejamkan matanya. Hatinya sangat gelisah mengingat Rayyan akan menikah dengan Arga. Miran benar benar tidak bisa mengontrol emosinya. Dia berjalan keluar rumah dan ingin menuju ke rumah Rayyan.
Sedangkan di rumah keluarga Sadli, papa Hazar ingin memastikan Rayyan sudah bersiap siap untuk besok. Namun saat memasuki kamar Rayyan, di sana kosong seketika itu papa Hazar panik.
Ternyata Rayyan tengah duduk di pinggir kolam ikan di taman belakang rumah, saat Rayyan asik melihat ikan yang sedang berenang tiba tiba Miran muncul. Melihat Rayyan akan berteriak Miran langsung membekap Rayyan.
"Ssstt jangan berteriak" bisik Miran.
"Untuk apa kamu kesini?" kata Rayyan sambil melepas bekapan Miran kasar.
"Aku ingin melihatmu, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Arga kamu harus kembali kepadaku Rayyan." kata Miran.
"Jangan lagi urusi urusanku Miran, urus saja istrimu" kata Rayyan yang masih teringat dengan kata kata Mei.
Rayyan lalu beranjak pergi meninggalakan Miran, tapi Miran langsung menarik tangan Rayyan hingga tubuh Rayyan menabrak tubuh Miran..
__ADS_1
Plaakkkk...
" Cukupp Miran, lepaskan...!!! Jangan lagi menemuiku, aku sudah muak dengan mu" spontan Rayyan menampar pipi Miran.
"Rayaannnn..." panggil papa Hazar.
"Iya pa?" jawab Rayyan berusaha menutupi ke gugupannya.
"Kamu ngapain di sini nak?" kata papa Hazar.
"Em... Rayyan hanya ingin jalan jalan aja pa" Rayyan mencoba memberi alasan.
"Rayyan, segeralah berkemas. Besok pagi buta kamu harus sudah siap." kata papa Hazar dan Rayyan hanya mengangguk.
Sedangkan Miran, mendengar suara papa Hazar memanggil Rayyan langsung bersembunyi di balik pepohonan yang gelap. Miran hanya mendengar samar samar percakapan Rayyan dengan papa Hazar. Merasa yakin Rayyan dan papa Hazar sudah kembali masuk, Miran memilih pergi meninggalkan tempat itu.
☘☘☘☘☘
Pagi harinya, Arga sedang membaca surat yang tergeletak di bawah pintu kamarnya.
"Kak Arga, orang tuaku dan orang tuamu tidak menyetujui pernikahan kita. Aku sudah memikirkannya lagi dan aku kembali memutuskan, aku tidak mau kamu bertengkar dengan mereka.
Kak Arga, maafkan aku harus pergi.. Maafkan aku tidak bisa menikah denganmu.
Maafkan aku kak.
*Rayyan* "
Membaca surat itu Arga menangis, dia tidak habis pikir Rayyan akan melakukan ini di saat hari pernikahannya.
Di ruang makan, semua berkumpul untuk menyantap sarapan mereka. Papa Hazar dan mama Anna merasa lega Rayyan berhasil pergi dari rumah ini.
"Mama, kakak Rayyan di mana? Aku mencarinya di kamar sudah tidak ada" kata Gendis yang tiba tiba masuk berlari dan menghampiri mamanya
Semua hanya diam, papa Hazar, mama Anna dan papa Bram berpura pura kaget mendengar kata kata Gendis.
"Siapa yang membawa pergi Rayyan dari rumah ini" kata Arga yang tiba tiba datang.
"Siapa!!!" teriak Arga penuh emosi karena tidak ada yang menjawab.
Pranggg!!!!
Arga sangat emosi karena tidak ada yang kunjung menjawabnya dengan menggeret taplak meja makan yang masih penuh dengan makanan hingga semua terjatuh kelantai tanpa tersisa. Semua yang berada di sana sontak kaget berdiri menghindar dengan perbuatan Arga yang menyebabkan ruang makan jadi kacau balau. Mama Anna spontan memeluk Gendis takut terkena piring yang ikut terseret.
**terimakasih yang sudah mau mampir dan sudah meninggalkan jejaknya 🙏🙏☺☺☺☺
semoga masih suka ya.
tetap, jangan lupa like dan komentnya ya 🙏🙏🙏☺☺☺😘😘😘**
__ADS_1