Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Gendis ingin menyatukan Rayyan dan Miran


__ADS_3

"Papa, apa ini rencana papa... memaksa Rayyan pergi agar tidak jadi menikah dengan ku iya!!!" bentak Arga di depan wajah papa Bram.


"Atau.... Kakek, sejak awal kakek membenci Rayyan dan berniat untuk membunuhnya. Apa ini juga rencana kakek menggagalkan acara pernikahan ku dengan Rayyan???" Arga berpindah ke arah kakek.


Mama Anna segera berlari kwluar bawa pergi Gendis dari sana. Mama Anna tidak mau Gendis melihat kejadian ini.


"Arga.. Arga tenang sayang." mama Sinta mencoba menenangkan Arga.


"Aaaaaa... Ini pastilah Miran membawa pergi paksa Rayyan" Arga berjalan pergi keluar ruang makan sambil memegang pistolnya.


"Arga... Nak, kamu mau kemana sayang... Arga tunggu"ama Sinta mencoba menahan Arga.


"Aku akan ke rumah Miran. Aku akan mengambil lagi Rayyan kembali kesini!!" Arga terus berjalan tanpa mengindahkan papa dan mamanya yang berusaha mengejar untuk menahannya.


"Arga, tunggu" mama Anna menahan Arga.


"Nak.. Tolong jangan salahkan siapa pun..." kata mama Anna sambil menangis dan Arga tetap ingin ke tempat Miran.


"Tunggu nak... Ini semua ke inginkan Rayyan tidak mau menikah dengan mu Arga... Tante mohon kamu mengerti hikssss" mama Anna terus menangis dan tetap berusaha memberi pengertian ke Arga.


Mendengar kata kata mama Anna, Arga menjadi lemas. Dia tidak menyangka Rayyan akan melakukan ini terhadapnya. Arga berjalan keluar rumah dengan lemas, hatinya pedih dan tidak tau harus bagaimana lagi. Pengorbanannya sia sia.


☘☘☘☘☘


Di kediaman keluarga Alan sedang menikmati sarapan bersama.


"Mumpung kalian sedang berkumpul di sini. Nenek ingin memberitahukan kepada kalian semua" kata nenek tiba tiba.


Miran dan yang lainnya langsung menatap ke arah nenek.


"Mia akan nenek kirim ke luar negeri untuk kuliah di sana" ucap nenek yang membuat Mia terkejut.


"Nenek, apa apaan ini.. Kenapa nenek tudak membahas ini dulu kepada ku?" protes Mia.


"Mia tidak akan kemana nek, dia akan tetap berada di rumah ini." ucap Miran yang tidak setuju dengan rencana neneknya.


"Miran, apa kamu mau Mia bernasib sama dengan Rayyan?? Keluarga Sadli mengincar nyawa Rayyan. Jika mereka tau siapa Mia, mereka akan balas dendam dan melakukan hal buruk kepada Mia seperti mereka melakukannya ke Rayyan mungkin bisa lebih buruk lagi" ucp nenek memberi alasan.


"Nenek, selama lebih dari 27 tahun nenek menanamkan kebencian kepada ku. Nenek mengajarkan ku untuk balas dendam. Tapi nenek, aku akan membalas dendam kepada orang yang bersalah. Nenek telah menyerang orang yang tidak bersalah untuk membayar dosanya dan neneklah yang menyakiti Rayyan!!" kata Miran dengan wajah dinginnya menahan emosi dan memilih meninggalkan sarapannya.


"Cukup... Cukup!!! Aku sudah tidak tahan dengan semua aturan aturan yang nenek ciptakan" teriak Mia dan berjalan pergi menuju kamarnya.


Mia pun pergi dari rumah itu, sang penjaga pintu tidak dapat menahan Mia. Salah satu penjaga memilih melapor ke nenek dan itu membuat nenek menjadi panik langsung menyuruh beberapa pengawalnya untuk segera mencari Mia.


☘☘☘☘☘


Di kediaman keluarga Sadli, semua menjadi kacau. Gendis yang di temani oleh Neni pun merasa sedih melihat kekacauan itu.


"Bi... Aku mau ke papa ya" pamit Gendis murung.


"Baik nona kecil" Neni pun meninggalkan Gendis sendirian.

__ADS_1


Gendis berjalan keluar rumah sendirian tanpa ada yang memperhatikannya.


Arga yang tengah bersedih, merasakan hancur di hatinya berjalan tak tentu arah dengan tangan memegang cincin kawinnya. Lalu dia berhenti sesaat memandangi cincin tersebut lalu membuangnya begitu saja dan meninggalkannya. Cincin itu menggelinding terus hingga terbentur di kaki seseorang dan tergeletak. Ternyata orang itu ada Mia yang tengah berjalan.


"Tunggu... Apa kamu sengaja membuangnya?? Apa kamu tidak menyesal telah membuangnya?" kata Mia sambil memegang cincin tersebut.


"Tidak usah ikut campur dengan urusanku. Aku bahkan tidak mengenalimu." jawab Arga sinis.


Di saat waktu yang bersamaan, Miran dan Riyan melewati jalan tersebut dan melihat Arga bersama Mia. Miran langsung emosi dan turun dari mobilnya.


Bughh...bugh...


Miran memuluki Arga begitu saja hingga terpojok disebuah pohon.


"Apa yang kamu lakukan hah!!! Aku peringatkan kamu, jangan pernah ganggu dia" bentak Miran penuh emosi.


Lalu Miran menyeret Mia untuk masuk ke dalam mobilnya. Mereka bertiga diam untuk sesaat. Miran mengatur emosinya.


"Kak, memang dia siapa? Kenapa kakak memukuli dia?" tanya Mia.


"Dia musuh kita, dari keluarga Sadli." jawab Miran.


☘☘☘☘☘


Kini Rayyan dan Ike berada di dalam kendaraan umum. Mereka menuju ke desa tempat tinggal nenek Ike. Selama dalam perjalanan, Rayyan terus murung, memikirkan kenyataan bahwa Mei adalah istri Miran. Melihat Rayyan yang murung, Ike berusaha terus menghibur.


"Rayyan, tau ga.. Nanti di sana kita bisa bersenang senang. Udaranya hmmmm sangaat sejuk. Dan yang paling aku suka saat di sana, nenekku selalu membuatkan ku pie apel yang wuihhhh enak banget" Ike terus mencoba menghibur Rayyan namun tidak ada tanggapan dari Rayyan.


Ike dan Rayyan sejak kecil sudah selalu bersama meski Ike hanya seorang ART di rumahnya. Tapi Rayyan tidak pernah memandang itu, jadi mereka sangat akrab dan bersahabatan, selalu ada satu sama lain.


Rayyan menoleh ke Ike, dan Ike memeluk Rayyan hanya untuk sekedar ikut merasakan kesedihan yang Rayyan rasakan.


Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di desa nenek Ike. Mereka berdua turun dari angkutan umum dan berjalan menyisiri pematang sawah yang hijau dan lahan kosong yang di tumbuhi rumput hijau di mana ada beberapa domba berada di sana.


Sesampainya di depan rumah nenek Ike, mereka di sambut dengan penuh suka cita. Mereka di ajak duduk dahulu bersantai di gazebo yang berada di depan rumah nenek Ike. Benar kata Ike, neneknya telah membuatkan kue pie apel yang sangat nikmat. Keceriaan nenek dan kakek Ike mampu membuat Rayyan melupakan sejenak kesedihannya.


☘☘☘☘☘


Gendis berjalan seorang diri tanpa ada satupun yang menyadari kepergian Gendis. Di tengah jalan Gendis bertemu dengan Rudi anak buah kakek Sadli.


"Nona kecil, kamu mau kemana?" tanya Rudi lembut.


"Aku ingin mencari Miran, tapi aku tidak tau di mana rumahnya.. Bisakah kamu mengantarku ke sana?" kata Gendis dengan wajah yang menggemaskan.


"Tapi nona, apa orang rumah tau nona berada di sini sendirian?" tanya Rudi khawatir dan di jawab dengan gelengan kepala oleh Gendis, Rudi hanya mengehela nafasnya.


"Baiklah nona, akan aku antar.." kata Rudi seraya menggandeng tangan Gendis.


Rudi pun mengantar Gendis menuju ke rumah Miran. Melihat depan pintu utama di jaga, Rudi bingung harus bagaimana karena tidak mungkin dia mendekat ke sana itu akan menimbulkan ke ributan.


"Nona, itu rumah Miran.. Nona kesanalah, aku akan menunggu nona di sini..ok.." kata Rudi.

__ADS_1


"Ok.. Terima kasih paman" jawab Gendis.


Gendis pun berjalan mendekati sang penjaga. Dan di waktu yang bersamaan mobil Miran datang, melihat itu Gendis tersenyum.


Miran terkejut melihat Gendis berada di sana seorang diri, dia turun dari mobilnya dan menghampiri Gendis. Digendongnya Gendis dan di dudukan di bagian kap mobil.


"Kakak, kakakku pergi dari rumah.. Dia menitipkan surat untuk kak Arga, bahwa dia tidak mau menikah dengan kak Arga. Lalu kak Arga sedih dan terlihat murung di halaman rumah." kata Gendis dengan wajah yang di tekuk namun malah menjadi sangat menggemaskan.


"Lali ke mana kakakmu pergi?" tanya Miran yang merasa senang mendapatkan kabar itu.


"Kakak pergi ke rumah nenek Ike di desa. Saat pergi kakakku sangat sedih dan terus menangis. Aku mohon kak, jemput kakakku. Hanya kakaklah yang bisa membuat kakakku tersenyum lagi." kata Gendis lagi yang memegang pipi Miran.


Setelah berbincang, Miran menyurih Riyan untuk mengantar Gendis kembali ke rumahnya.


"Ridak kakak, aku bersama paman Rudi. Dia sedang menungguku di sana" tunjuk Gendis dan di ikuti oleh Miran..


Sebelum pergi pulang, Gendis memeluk Miran dan di balas oleh Miran. Miran tampak sangay menyayangi Gendis, layaknya adiknya sendiri.


Setelah kepergian Gendis, Miran tidak jadi masuk ke rumah di memilih langsung pergi.


"Riyan, aku harus pergi sekarang." kata Moran kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Hati hati Miran" kata Riyan.


Setelah kepergian Miran, Riyan memilih pergi ke dapur dan melihat ibunya Ira berada di sana.


"Bu..." panggil Riyan seraya duduk di bangku.


"Riyan, mau ibu buatkan teh atau kopi?" tanya Ira.


"Kopi.. Bu, aku ingin menanyakan sesuatu" kata Riyan lagi.


"Tanyakanlah" jawab Ira sambil membuatkan kopi putranya.


"Waktu kejadian naas orang tua Miran, apa ibu sudah berada di sini? Apa benar pak Hazar yang telah membunuhnya??" tanya Riyan yang merasa sangat penasaran dengan cerita Miran tentang papa Hazar.


"Emmmm, ibu tidak tau nak.. Ke..kejadian itu sebelum ibu bekerja di sini" kata Ira yang terkejut mendengar pertanyaan sang putra.


Ira sebenarnya mengetahui cerita sesungguhnya. Namun karena dia takut terhadap nenek Aisah, Ira memilih menutupi kebohongan nenek karena nenek juga menutupi sebiah rahasia siapa Ira sesungguhnya.


**maaf upnya akhir akhir ini lelet 😔😔


author usahakan setiap hari tetal up terus ya.


dan terimakasih banget yang sudah mau koment..


itu membuat author sangat termotivasi.


terus like dan komentnya ya..


semoga tetep suka..

__ADS_1


terima kasiiihhh 🙏🙏🙏😊😊😊**


__ADS_2