Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
kritis


__ADS_3

Miran pergi ke makam orang tuanya. Dia sana dia menumpahkan segala kesedihannya. Miran duduk di batu nisan sang mama. Dia mencurahkan segala isi hatinya sambil terus memegang cincin yang dia berikan ke Rayyan.


"Ma.. Aku tidak mendorong pak Hazar, tapi semua orang tidak percaya padaku. Mereka menuduhku pelakunya. Ma.. Aku sangat membencinya, karena dia telah membunuhmu. Tapi aku sangat mencintainya putrinya, ma.. Posisiku sangat sulit saat ini. Jika pak Hazar meninggal, maka fakta akan hilang bersamanya. Dan semua orang akan tetap menuduhku.. Apa yang harus aku lakukan ma.." keluh Miran.,


#####


Di rumah sakit, dokter menemui keluarga Sadli untuk memberikan informasi tentang pasien.


"Dokter.." panggil kakek.


"Saat ini pasien masih di operasi. Keadaannya sempat menurun, bahkan detak jantungnya sempat berhenti sesaat. Namun keadaan sekarang lebih baik" kata dokter.


Kakek syok, dia menangis sejadi jadinya. Kakek sangat takut kehilangan putranya. Papa Bram dan Rosa mencoba menenangkan kakek.


"Pa.. Kita ke kantin rumah sakit dulu ya.. Kita beli teh hangat ya.. Kita bicara di sana" ajak papa Bram.


Papa Bram dan Rosa membawa kakek ke kantin RS. Di kantin mama Anna, Rayyan dan Arga tengah membeli air hangat.


Tiba tiba rambut Rayyan di jambak oleh kakek, kakek sangat emosi saat melihat Rayyan. Kakek menganggap Rayyan lah penyebab insiden itu.


Kakek menarik kasar Rayyan, situasipun menjadi ricuh. Rayyan terus di seret kakek.


"Lepaskan!!!" hentak Rayyan melepas rambutnya dari genggaman kakek.


"Pergi dari sini!!! Kamu lah penyebabnya dan kamulah pembawa sial untuk keluarga kami" bentak kakek.


"Silahkan kamu pergi bersama Miran yang ingin membunuh papamu" imbuh papa Bram.


"Tidak, dia tidak akan kemana mana.. Dia akan tetap disini bersamaku. Sebentar lagi dia akan menceraikan Miran." bentak mama Anna di depan papa Bram.


Rayyan hanya diam, namun jauh di dalam hatinya dia tidak ingin bercerai. Namun dia tidak mungkin mengatakannya sekarang mengingat situasi saat ini.


#####


Tengah malam, nenej Aisah tiba di rumah keluarga Aslan. Nenek langsung menuju ke kamar Ira.


"Apa yang sebenarnya terjadi... Mengapa Hazar malam malam datang kemari??" tanya nenek setelah tiba di kamar Ira.


Ira yang melihat nenek tiba tiba muncul dan langsung memberinya pertanyaan terkejut. Dia terlihat ketakutan bingung mau menjawab apa.


"Ma.. Maaf bu.. Saya tidak tau aoa tujuannya datang kemari. Tapi kondisi Mia sangat menghawatirkan setelah melihat Hazar tergeletak bersimba darah" jawab Ira.


Nenek terkejut mendengar kondisi Mia. Nenek langsung menuju ke kamar Mia. Sesampainya di kamar Mia, nenek perlahan membuka pintu kamar Mia.


"Mia.." panggil lirih nenek.

__ADS_1


"Nenek" jawab Mia menoleh dan bangun dari tidurnya.


Nenek sangat menyayangi Mia. Bahkan nenek memperlakukan Mia seoperti anak kecil.. Nenek mengusap lembut pipi Mia lalu mencium kedua tangan Mia. Nenek begitu lembut di hadapan Mia.


"Aoa yang terjadi denganmu nak?? Apa kami melihat Hazar terjatuh?? Jangan takut, katakan kepadaku.." tanya nenek lembut.


"Nenek..." Mia menangis dan memeluk neneknya.


Mia tidak banyak berbicara, dia hanya menangis di pelukan sang nenek.


#####


Di rumah sakit, dokter kembali memberikan perkembangan papa Hazar.


"Operasi telah selesai.. Beruntung pasien segera mendapatkan pendonor darah dengan tepat waktu. Jika terlambat sedikit saja, kondisinya akan semakin memburuk" kata dokter menjelaskan.


mama Anna dan yang lainnya merasa lega jika papa Hazar masih selamat.


"Dok.. Bolehkan saya mihat kondisi suami saya" tanya mama Anna.


"Boleh, tapi hanya satu orang dan jangan terlalu lama." kata dokter.


"Terimakasih dokter." jawab mama Anna.


Mama Anna pun bergegas menuju sebuah ruangan untuk memakai APD lengkap.


Banyak selang yang menempel pada tubuhnya. Mama Anna yang melihat itu seketika menangis, tidak tega melihat kondisi sang suami.


Mama Anna mengelus kepala papa Hazar sambil berdoa untuk kesembuhan papa Hazar.


"Maaf nyonya, waktu kunjungan anda sudah habis.. Biarkan pasien beristirahat" kata seorang perawat tiba tiba.


mama Anna masih merasa enggan untuk meninggalkan papa Hazar di sana sendirian. Namun mama Anna tidak dapat membantah aturan, dengan terpaksa mama Anna berjalan keluar di ikuti oleh perawat tersebut.


#####


Di rumah peternakan, Gendis terus saja menangis mencari kedua orang tuanya.


"Kemana mama dan papa, kenapa tidak pulang pulang" tangis Gendis.


Mama Sinta dan yang lain terus berusaha menenangkan Gendis.


"Mereka kemana bibi.. Kenapa mereka tidak mengajakku.." tangis Gendis.


Mama Sinta memeluk Gendis, dia merasa iba dengan gadis kecil itu.. Mama Sinta memeluk Gendis erat.

__ADS_1


"Gendis, malam ini bibi ya yang menemanimu.. Jangan menangis ya.." bujuk mama Sinta.


#####


Di rumah sakit, Miran diam diam menemui dokter yang menangani papa Hazar.


"Dom, bagaimana keadaan pasien bernama Hazar??" tanya Miran.


"Kondisinya saat ini belum bisa saya katakan aman. Sewaktu waktu hal buruk bisa saja terjadi" kata dokter.


Dokterpun menjelaskan secara rinci bagaimana keadaan papa Hazar sebenarnya dan Miran mendengarkannya secara seksama.


Setelah dokter selesai menjelaskan, Miran pun pergi keluar dari ruangan sang dokter.


Saat Miran keluar dan menutup pintu ternyata Rayyan menunggunya di luar.


"Untuk apa kamu menemui dokter.. Apa lagi yang kami rencanakan haahh!!" tanya Rayyan sinis.


"Rayyan.." panggil Miran terkejut.


"Tuan.. Apakah ada keluhan setelah pendonoran tadi untuk mendonorkannya ke pasien yang bernama pak Hazar??" kata perawat tiba tiba.


"Saya baik baik saja sus. Terimakasih" jawab Miran.


"Miran.. Apa benar??" tanya Rayyan kaget.


"Ssstttt benar, akulah mendonorkan darahku untuk papamu. Aku ingin dia tetap hidup.. Tapi aku mohon jangan katakan hal ini kepada siapapun" kata Miran.


Rayyan bingung, karena selama ini Miran sangat menginginkan papanya meninggal. Tapi mengapa kali ini dia malah menyelamatkan papanya.


Saat melihat dokter keluar dari ruangannya Rayyan langsung menemui sang dokter.


"Dokter apakah saya bisa menemui papa saya??" tanya Rayyan.


"Maaf nona, untuk saat ini saya tidak bisa memberikan ijin karena kondisi pasien masih sangat lemah." kata dokter.


Rayyanpun murung, dia ingin sekali melinemui sang papa.. Miranpun mencari cara untuk membantu Rayyan.


Miranpun berjalan menjauh dari Rayyan dan mengambil ponselnya untuk menelpon pemilik dari rumah sakit untuk minta ijin agar memperbolehkan Rayyan masuk menemui papanya.


Tidak lama dari itu, Rayyan di panggil oleh seorang perawat dan memintanya untuk menggunakan APD lengkap. Rayyan di ijinkan masuk, namun tidak di ijinkan untuk mendekati pasien.


Rayyan berjalan menuju dimana papanya berada. Air matanya seketika jatuh melihat kondisi papanya. Matanya yang salalu memancarkan kasih sayang kini masih tertutup bahkan masih enggan untuk terbuka.


Tangannya yang dahulu selalu memeluknya dengan kasih sayang kini terpasang selang infus.

__ADS_1


Rayyan hanya dapat mendoakan untuk kesembuhan sang papa. Sebelum keluar, Rayyan melambaikan tangannya. Andai bisa, ingin rasanya Rayyan memeluk sang papa.


__ADS_2