Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Rayyan kembali.


__ADS_3

Saat dalam perjalanan, ponsel Arga berdering. Arga pun mengecek siapa yang yang menelponnya, ternyata Mia.


"Hallo.." Arga menjawab.


"Bisakah kita bertemu di belakang rumah ku..?" ajak Mia.


"Ada apa??" tanya Arga.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan" jawab Mia.


"Baiklah, aku ke sana" jawab Arga.


Tidak berapa lama kemudian Arga sampai di tempat pertemuan. Dan tampak di sana Mia sudah menunggu. Arga menghentikan mobilnya, perlahan sambil terus mengawasi sekitar Mia masuk ke dalam mobil Arga.


"Apa kamu yang menculik Rayyan??" tanya Mia hati hati.


"Jika aku menculiknya untuk apa aku datang kemari.. Bahkan di mana dia sekarang aku tidak tau.Kenapa semua orang menjadi menuduhku??" jawab Arga kesal.


"Aku percaya kepadamu.. Berjanjilah jika nanti kamu menemukan Rayyan kabari aku" kata Mia memegang tangan Arga.


"Baik.. Nanti aku akan memberimu kabar jika Rayyan sudah di ketemukan.. Begitu juga kamu, kabari aku jika Miran sudah menemukannya" kata Arag.


Mia hanya mengangguk lalu keluar dari mobil dan kembali ke rumahnya. Setelah Mia tidak terlihat, Arga pun pergi dari sana.


☘☘☘☘☘


Papa Hazar dan papa Bram pergi ke kediaman tuan Bakri. Tuan Bakri memiliki banyak koneksi di berbagai wilayah hingga memungkinkan untuk bisa menemukan Rayyan.


Kebetulan waktu papa Hazar dan papa Bram bertemu di pintu gerbang kediaman tuan Bakri saat hendak pergi.


"Tuan Bakri, bisakah saya berbicara dengan anda sebentar" kata papa Hazar.


"Ada apa pak Hazar..??" kata tuan Bakri keluar dari mobilnya.


"Tuan, saya mohon bantuan anda untuk menolong saya.." kata papa Hazar.


"Ada masalah apa??" tanya tuan Bakri.


"Putri saya telah di culik oleh seseorang, saya tahu anda memiliki banyak koneksi di berbagai wilayah.. Bisakah anda membantu saya untuk menemukan putri saya??" pinta papa Hazar.


"Baiklah, aku akan membantu anda.. Nanti saya akan kerahkan anak buah saya. Nanti akan saya kabari" jawab tuan Bakri.


"Terimakasih tuan.. Bantuan anda sangat menolong saya.. Terimakasih sekali lagi" kata papa Hazar.


"Baiklah.. Saya harus pergi sekarang.. Nanti saya hubungi anda.." jawab tuan Bakri kembali masuk ke dalam mobilnya.


Tidak jauh dari sana Miran mengamati papa Hazar, dia ingin tau apa yang sedang papa Hazar lakukan.


"Kenapa kamu mengikuti paman ku?? Apa yang sedang kamu lakukan hahh??" kata Arga tiba tiba sambil menodongkan pistolnya di kepala Miran.


Bughh...


Miran membuka pintunya keras hingga mendorong Arga. Dan Miran langsung keluar dari mobil. Mereka akhirnya saling menodongkan pistolnya.


"Kamu adalah laki laki pengecut!!! Tak bisa melindungi Rayyan... Aku tidak akan memberikan Rayyan kepadamu" kata Arga emosi.


"Jika kamu tidak memberikan Rayyan padaku.. Maka dia akan mati. Jika aku tidak menculik Rayyan waktu malam lamaran saat itu, kakekmulah yang akan membunuh Rayyan!!" bentak Miran.


Pertengkaran mereka terdengar oleh papa Hazar dan papa Bram. Papa Hazar dan papa Bram langsung berlari mereka. Papa Hazar mencoba melerai mereka.

__ADS_1


"Sudah cukup.. Cukup.. Apa yang kalian berdua lakukan hahhh!!!" bentak papa Hazar.


"Arga, papa mohon jangan menambah masalah nak..." kata papa Bram.


Arga langsung pergi meninggalkan tempat itu dan menemui sang kakek.


"Kakek, apa benar kakek akan mmnbunuh Rayyan saat malam lamaran ku saat itu... Miran yang mengatakannya padaku" kata Arga to the point.


"Apa yang kamu katakan hahhh!! Kamu percaya kepadanya hah!!! Kamu telah bersengkokol dengannya seperti Hazar iya!!!" bentak kakek menutupi ke salahannya.


Arga masih merasa kecewa terhadap kakeknya. Dia memilih pergi karena akan percumah untuk meladeni sang kakek karena tidak akan mengakuinya.


☘☘☘☘☘


Miran tengah melamun di dalam mobilnya tidak jauh dari rumahnya. Tiba tiba dia melihat neneknya akan pergi bersama orang kepercayaannya.


Diam diam Miran mengikuti neneknya dari belakang hingga berhenti di sebuah rumah kecil. Miran melihat neneknya masuk ke dalam rumah tersebut.


"Samsul, berjagalah di sini" kata nenek.


Nenekpun memasuki rumah tersebut, dan di dalam sudah menunggu Tutik adik nenek Aisah.


"Di mana Rayyan.. Beri aku informasi.." tanya nenek.


"Bukan keluarga Sadli yang melakukannya.. Aku pikir kakak yang melakukannya.


"Aku tidak terlibat dalam penculikan Rayyan, tapi penembakan mobil Miran dan rumah Miran memang aku yang melakukannya." jawab nenek.


Tiba tiba Miran masuk ke dalam rumah itu. Nenek dan Tutik terkejut melihat kedatangan Miran. Nenek takut Miran mendengar pembicaraan mereka.


"Sedang apa nenek di sini, rahasia apa yang sedang nenek bicarakan.." tanya Miran curiga..


"Dia adalah orang yang ku bayar untuk mencari informasi di rumah kediaman Sadli" kata nenek menjelaskan.


Setelah itu merekapun kembali ke kediaman Aslan.


"Aku ingin berjalan jalan sebentar nek" kata Miran.


Miran pun berjalan gontai menyisir gang di sekitar rumahnya.. Pikirannya sedang bingung, dia sangat sedih. Dia terus teringat kenangannya saat bersama Rayyan.


Saat tiba di ujung jalan dekat rumahnya tiba tiba terdengar sebuah tembkan. Miran terkejut, terlihat dari kejauhan ada sebuah mobil yang menurunkan Rayyan tergeletak di tengah jalan. Miran langsung berlari di ikuti oleh Riyan dan beberapa anak buahnya yang juga terkejut dengan suara tembakan tersebut.


"Rayyan..." teriak Miran yang melihat Rayyan tergeletak.


Lalu Rayyan di bantu Miran mengangkat tubuh Rayyan. Di dalam rumah, semua keluar karena mendengar keributan di luar.


Miran membopong Rayyan yang tidak sadarkan diri ke dalam kamarnya. Miran meletakkan Rayyan di kasurnya perlahan. Miran berusaha membuat Rayyan sadarkan diri, perlahan Rayyan membuka matanya.


"Rayyan..." panggil lirih Miran.


Rayyan hanya menatap Miran.


"Apa mereka menyakitimu??" tanya Miran.


"Tidak... Aku baik baik saja.. Saat aku diculik, mereka tidak menyakitiku" jawab Rayyan menangis.


"Miran, bolehkah aku bertemu dengan keluarag ku.. Aku mohon.. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.. Aku juga ingin bertemu dengan Gendis." kata Rayyan memohon.


Lalu Miran bangkit berdiri dan menelpon mama Anna.

__ADS_1


"Hallo" suara mama Anna.


"Rayyan sudah di temukan.. Saat ini dia sudah bersama saya. Bu katakan kepada pak Haza, Rayyan ingin bertemu dengan kalian juga adiknya. Aku akan mengantar kalian, kita bertemu di kafe hotel saya" kata Miran.


#####


Tidak lama kemudian, papa Hazar dan mama Anna tiba di kafe hotel. Tampak Gendis yang susah tidak sabaran untuk bertemu dengan kakaknya.


"Papa... Mana kak Rayyan" rengek Gendis.


"Sebentar lagi ya sayang.." jawab papa Hazar.


"Rayyan..." panggil mama Anna.


"Kakak..." Gendis berlari mendekati Rayyan.


Rayyan memeluk adiknya erat.. Melepas rindunya terhadap sang adik.


"Kakak, di mana kak Miran. Kenapa dia tidak ikut..?" tanya Gendis.


Rayyan tidak menjawab, dia hanya terus memeluk adiknya. Lalu Rayyan beralih memeluk sang mama erat, dia merasa bahagia bisa berjumpa kembali dengan mamanya, tidak lupa Rayyan memeluk sang papa..


Setelah itu Rayyan den orang tuanya duduk bersama, mereka menikmati kebersamaan itu. Sedangkan Miran hanya mengamati Rayyan dan orang tuanya dari luar jendela. Miran membayangkan andai saja kedua orang tuanya masih hidup, pasti saat ini Miran bisa merasakan apa yang Rayyan rasakan saat ini.


Miran merasa iri melihat Rayyan begitu sangat dicintai oleg orang tuanya. Dia juga ingin memiliki seorang adik seperti Gendis yang sangat mencintai Rayyan.


Melihat itu emosi Miran memuncak, Miran semakin dendam dengan papa Hazar.


"Ini semua gara gara kamu pak Hazar. Kamu telah membuatku menjadi anak yatim piatu dan merampas kebahagiaanku... Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, aku akan balas dendam kepadamu." kata Miran.


"Nak, ikutlah bersama kami pulang.. Kami sangat mengkhawatirkanmu.." kata papa Hazar.


"Tidak pa.. Aku tidak akan meninggalkan Miran.. Dia sangat mencintaiku, dia sangat melindungiku" jawab Rayyan.


"Baiklah Rayyan. Jika sauatu saat nanti dia menyakitimu, kau tau akan berlari kemana, dan kami akan selalu terbuka untukmu" kata papa Hazar.


Papa Hazar meninggalkan mama Anna bersama Rayyan untuk menemui Miran yang sedang menunggu di luar.


"Miran... Kamu dan putriku salaing mencintai.. Berhentilah untuk balas dendam. Aku tidak membencimu dan aku tak menganggapmu musuhku., aku bersedia menjadi ayah untukmu." kata papa Hazar lembut.


"Sampai kapanpun anda tetap akan menjadi musuhku. Karena anda yang membunuh kedua orang tuaku" jawab Miran dingin.


Saat mereka masih bersitegang di depan hotel, tiba tiba terdengar suara Gendis.


"Kakak Miran..." panggil Gendis.


"Hallo nona cantik.." kata Miran tersenyum.


"Aku sangat senang bertemu dengan mu kak aku sangat merindukanmu.. Aku ingin sekali bermain bersamamu" kata Gendis.


"Kakak juga sangat merindukanmu nona cantik.. Kapan kapan kita bermain bersama ya.. Sekarang suah malam, susah waktunya nona cantik untuk pulang dan tidur.." kata Miran lembut dengan berjongkok untuk mengimbangi tinggi Gendis.


"Janji..." kata Gendis mengacungkan jari kelingkingnya.


"Janji..." balas Miran.


"Hmmm ok.. Kaka pamit ya.." kata Miran.


Lalu mereka pun berpisah. Miran dan Rayyan bergandengan tangan, Miran membukakan pintu mobil lalu Miran masuk ke dalam mobil, mereka kembali ke rumah Miran.

__ADS_1


__ADS_2