
Mei tengah menangis di dalam kamarnya. Terus iya pandangi gaun pengantinnya, dia merasa sedih harus bercerai dengan Miran. Tidak bisa dibohongi, hatinya kini hancur. Cintanya kandas begitu saja, di depan matanya Miran membawa gadis lain dan mengakuinya sebagai istri barunya pasca bercerai dengannya.
Mei merasa iri bagaimana perjuangan Miran agar bisa memiliki Rayyan. Ingin rasanya dia berada diposisi itu. Namun apa daya, Miran hanya menganggapnya sebagai saudara sepupu selama pernikahan mereka. Bahkan menyentuhnya layaknya suami istri pun tidak pernah Miran lakukan kepadanya.
Tok...tok...tok...
"Mei..." panggil Miran.
"Masuk..." Mei langsung menghapus air matanya seolah olah tidak terjadi sesuatu.
Miran membuka pintu kamar Mei dan masuk lalu menutupnya kembali.
"Mei.. Terimakasih kamu sudah bersedia menandatangani surat itu. Maafkan aku tidak pernah bisa mencintai mu Mei." kata Miran.
Setitik air mata mengalir di pipi Mei, dan Miran melihat itu. Sangat jelas terlihat di wajah Mei segurat kekecewaan dan kesedihan.
"Mei, aku berjanji akan tetap menyayangimu sebagai saudaraku.. Aku tidak mau hubungan saudara kita rusak karena hal ini.. Sampai kapanpun kamu tetap saudaraku dan aku menyayangimu" kata Miran mengenggam erat tangan Mei.
Miran meninggalkan Mei yang terus menatapnya hingga hilang di balik pintu kamar Mei. Mei kembali terisak, begitu sesak dna nyeri yang dia rasakan. Namun dia tidak bisa berbuat apa apa demi janji nenek.
Miran kembali ke kamarnya. Sedari tadi nenek menunggunya di tempat duduk santai di dekat kamarnya.
"Miran... Nenek mau berbicara" panggil nenek.
Miran merubah langkahnya menuju ke nenek.
"Ada apa nek.." jawab Miran berdiri di depan neneknya.
"Aku tetap tidak setuju kamu pindah rumah hanya untuk hidup bersama dengan Rayyan hingga rela meninggalkan keluarga ini. Mama papamu pasti menangis melihatmu menikahi putri musuhnya. Kamu harus ingat Hazar pembunuh kedua orang tuamu" kata nenek dengan mata yang mulai berkaca kaca.
"Rayyan harus menjadi istriku. Aku ingin hidup tenang. Kami akan memulainya kembali dari awal di rumah kami. Jika nenek melarangnya, aku akan pergi dari kehidupan nenek." kata Miran menahan emosinya mendengar ucapan neneknya.
"Terserah kepadamu Miran, semua keputusan ada kepadamu.. Nenek hanya mencoba memperingatkanmu saja" kata nenek pasrah.
Miran kembali ke kamarnya. Nenek mengusap air matanya kasar, wajahnya berubah menjadi sinis. Nenek merubah kembali rencananya, dia akan tetap menjalankan balas dendamnya kepada kakek Sadli.
☘☘☘☘☘
"Aku tidak mengerti kenapa kamu masih saja berhubungan dengan Miran. Padahal dia pernah menyakitimu, dia juga sangat membenciku bahkan menuduhku telah membunuh orang tuanya. Apa yang ada dalam pikiran kamu, aoa kamu tidak memikirkan perasaan kami. Selama ini aku terus membelamu, mengapa kamu tidak menghargai pengorbananku." paoa Hazar memarahi Rayyan di kamarnya.
"Maafkan aku pa.." kata Rayyan lirih sambil menangis.
Papa Hazar tak lagi memperdulikan Rayyan, dia sudah cukup kecewa. Papa Hazar meninggalkan kamar Rayyan. Kini tinggallah Rayyan bersama mama Anna.
☘☘☘☘☘
Di rooftop, Mei menemui neneknya untuk menagih janji.
Flashback on
Mei di ajak jalan jalan sore bersama neneknya setelah siangnya dia mendapatkan surat cerai dari Miran.mei menceritakan perihal surat itu kepada neneknya.
__ADS_1
Di dekat bukit, nenek berhenti dan memandangi matahari sore yang memancarkan sinar orange'nya.
"Tandangani surat itu" jawab nenek.
"Apa!!! Nenek mendukung Miran?" tanya Mei tidak percaya.
"Mei..." nenek memutar badannya menghadap ke Mei.
"Tidak nek, aku tidak mau kehilngan Mirab." jawab Mei.
"Mei, aku akan memberitahukanmu satu hal kepadamu. Tapi kamu harus menanda tangani surat itu" kata nenek.
"Maksud nenek?" tanya Mei bingung.
"Sebenarnya kamu memiliki saudara kandung laki laki. Tapi saat ini keberadaanya nenek tidak akan memberitahukanmu." kata nenek.
"Nenek pasti berbohong" kata Mei dengan mata yang masih di penuhi air mata.
"Nenek akan memberitahukan keberadaannya jika kamu mau menanda tangani surat itu" nenek memberikan pilihan.
"Pegang janji nenek.." bujuk nenek..
Flashback off.
Mei kecewa, hingga saat ini nenek masih terus saja mengulur waktu untuk menepati janjinya itu.
☘☘☘☘☘
Malam harinya, semua orang telah tertidur. Rayyan tidur bersama adiknya. Rayyan tidak dapat memejamkan matanya, dia merasa sedih. Dengan erat dia memeluk adiknya karena dia merasa sebentar lagi dia tidak dapat kembali bertemu dengan Gendis.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah Miran. Miran sedang duduk di tengah tengah tangga rumahnya, dia juga terus menatap cincin yang melingkar di jari manis kanannya dengan senyum yang terus tersinggung di bibirnya..
Miran merasa senang karena sebentar lagi Rayyan akan menjadi istrinya. Riyan yang kebetulan berada di sana melihat Miran yang terus tersenyum pun ikut merasakan kebahagiaan yang sedang Miran.
☘☘☘☘☘
Hari berganti pagi.. Rayyan mengajak Gendis ke kebun belakang rumah. Rayyan memiliki kejutan untuk Gendis.
"Gendis, ikut kakak yuukk" ajak Rayyan.
"Kemana kak?" tanya Gendis.
"Kita bermain di kebun belakang rumah.. Kakak punya kejutan untuk mu" jawab Rayyan.
"Ohhh yaaaa" Gendis girang.
Rayyan menggiring Gendis ke kebun belakang dnegan menutupi matanya.
"Trallalalalala..." seru Rayyan membuka mata Gendis.
"Gambar sepeda??" Gendis bingung.
__ADS_1
"Kakak belum bisa membelikanmu sepeda sungguhan, sekarang mari kita membayangkan seolah olah gambar ini sepeda sungguhan" jawab Rayyan.
"Waaahhhh asiiikkk, ayo kak naikkan aku.." antusias Gendis.
Rayyan mengangkat Gendis ke tembok oagara yang tidak terlalu tinggi. Rayyan mendudukan Gendis tepat di atas gambar sepeda itu. Begitupun Rayyan yang juga menaiki tembok tersebut duduk di atas gambar sepeda di belakang Gendis.
"Kakak bagaimana caranya" teriak Gendis.
"Bayangkan Gendis sudah mahir menaiki sepeda itu, Gendis kayuh sepeda itu" Rayyan menuntun Gendis.
Gendispun melakukannya, Gendis menggerakkan kakinya seolah olah sedang mengayuh sepeda.
"Terus Gendis, bayangkan sepeda itu berjalan nikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahmu" kata Rayyan.
Gendis pun terbawa suasana oleh ucapan Rayyan, Gendis memejamkan matanya seolah olah tengah menaiki sepeda sungguhan. Dia merentangkan kedua tangannya yang seolah olah tengah menikmati sejuknya angin yang berhembus.
Melihat itu, mata Rayyan berkaca kaca. Betapa dia akan merindukan hal seperti ini nantinya. Setelah cukup puas, kini mereka berdua bermain air. Ike menyemprotkan air ke Rayyan dan Gendis. Rayyan memegangi kedua tangan Gendis, mereka berputar putar di bawah guyuran air. Mereka sangat menikmati kebersamaan mereka hari itu.
☘☘☘☘☘
Di kediaman keluarga Aslan, Miran tengah bersiap siap untuk acara pernikahannya hari ini. Miran mengenakan kemeja putih dan jas terbaiknya. Miran ingin terlihat berbeda di hadapan Rayyan untuk hari ini.
Miran telah menyiapkan gaun pengantin untu Rayyan. Gaun itu tekah dia gantung dekat kemari bajunya.
Sedangakn di bawah, orang orang tampak sibuk dengan persiapan pernikahan Miran.
"I..ini apa apaan??? Kenapa semua dekornya berwarna hitam?" tanya Miran terkejut saat mengecek persiapan untuk hari ini.
"Mengapa nenek memasang serba hitam di acara pernikahanku nek? Ini bukan rumah duka, tapi ini pernikahanku nek" tanya Miran lagi.
"Bu Ria!!! Tolong ganti semua menjadi warna putih!!" perintah Miran dari lantai atas.
"Miran... Mengapa tiba tiba Rayyan berubah pikiran. Padahal baru beberapa hari yang lalu ini dia menolakmu. Apa kamu tidak curiga dengan keputusan Rayyan yang begitu cepat." tanya Riyan.
"Aku tidak peduli apapun dengan alasan Rayyan, aku melakukan pernikahan ini dengan sebuah keyakinan." jawab Miran yakin.
☘☘☘☘☘
Di rumah pertenakan, Rayyan masih merasa berat meninggalkan keluarganya. Di tambah saat dia menatap kedua orang tuanya yang tengah mengobrol di halaman. Tapi dia harus menikah hari ini untuk menghindari pertumpahan darah di antara kedua keluarga itu.
Lalu Rayyan menghampiri kedua orang tuanya bersama Gendis yang tengah duduk di gazebo.
"Papa..." Gendis berlari dan memeluk papanya.
"Ahhhh putri cantik papa" jawab Papa Hazar yang terkejut dengan pelukan Gendis secara tiba tiba.
"Papa, coba cium rambutku. Kakak sudah mencuci rambutku. Apa baunya wangi seperti surga" kata Gendis manja.
Lalu papa Hazar memangku Gendis, dan mencium rambut Gendis.
"Rayyan kemarilah, duduk di samping papa" kata papa Hazar.
__ADS_1
Rayyanpun mendekat dan duduk di samping papanya. Papa Hazar lalu memeluk kedua putrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Papa, maafkan aku.. Sebentar lagi aku akan kembali melukaimu.. Sebentar lagi aku akan meninggalkan kalian." batin Rayyan sambil menatap adik dan kedua orang tuanya secara pergantian.