
Bu Ira melihat mama Anna tengah bermain dengan Gendis dihalaman rumah, ia bergegas menghampiri mama Anna.
"Anna.." panggil bu Ira.
Mama Anna pun menoleh ke sumber suara dan mengamati bu Ira yang berjalan ke arahnya.
"Nak, kamu masuk lah dahulu. Nanti mama menyusul" kata mama Anna ke Gendis.
Gendispun menuruti perintah sang mama.
"Anna, ada yang perlu aku bicarakan" kata bu Ira.
"Ada apa? Bukankah anda?" tanya mama Anna menggantung.
"Ya, saya salah satu asisten rumah tangga di keluarga Alan" jawab bu Ira.
"Untuk apa anda mencari saya?" ketus mama Anna.
Bu Ira pun mengeluarkan sebuah surat lusuh dari kantong celananya.
"Terima ini, ini adalah salah bukti. Berikan ini kepada Hazar. Ini akan membantunya. Aku permisi" kata bu Ira.
"Tunggu dulu ini apa?" tanya mama Anna mencegah bu Ira.
Namun bu Ira tetap melangkah pergi, takut keberadaannya diketahui oleh seseorang.
Mama Anna mengamati kertas lusuh itu, perlahan membuka dan membacanya.
Mama Anna sektika terdiam, dia memegang dadanya. Antara percaya dan tidak percaya tapi itulah yang dia baca.
Mama Anna bergegas menuju ke kamarnya, namun langkahnya berhenti. Dia ragu akan menunjukkan surat ini ke sang suami.
"Haruskah aku memberikan ini?? Jika tidak, suamiku akan terus di salahkan." batin mama Anna.
Tekat mama Anna bulat, dia ingin memberikan surat ini ke papa Hazar.
"Pa.." panggil mama Anna.
Papa Hazar menoleh. Mama Anna duduk disamping papa Hazar dan memberikan surat itu ke papa Hazar. Papa Hazar menerimanya.
"Apa ini??" tanya papa Hazar.
"Bacalah" perintah mama Anna.
Papa Hazarpun membuka surat itu dan membacanya. Seketika raut mukanya berubah.
"I..ini?? Dari mana kamu mendapatkannya ma??" tanya papa Hazar antara senang dan bingung.
"Ira.. Ira yang mengantarnya." jawab mama Anna.
"Sebelum aku memberikan ini ke Miran, aku akan memastikannya dulu" kata papa Hazar.
"Apa lagi yang kamu ragukan pa?? Aku mendengar informasi, jika miranlah yang mendonorkan darahmu. Ini sudah semakin menegaskan jika Miran memang putramu" kata mama Anna.
"Apa??!! Ja.. Jadi yang mendonorkan darah adalah Miran??" tanya papa Hazar terkejut.
Mama Anna mengangguk.
"Aku akan tetap mencari tahu dahulu" kata papa Hazar.
"Paman Hazar!!! Paman Hazar!!" suara perempuan memanggil papa Hazar.
"Siapa itu??" tanya mama Anna.
"Bantu aku keluar" pinta papa Hazar.
__ADS_1
Mama Anna pun membantu papa Hazar keluar dari kamarnya. Terlihat semua orang berkumpul di ruang tamu dan mengadapi Mei.
"Mei apa yang kamu lakukan??" tanya Arga.
"Aku ingin bertemu dengan paman Hazar" jawab Mia.
"Ya ada apa?" jawab papa Hazar
"Paman?? Mengapa anda menuduh kakakku yang mendorong anda?? Padahal anda tahu jika aku lah yang mendorong anda?" teriak Mia.
Semuapun terkejut dengan pengakuan Mia.
"Maafkan aku paman, waktu itu aku terkejut dengan kedatangan anda. Hingga reflek aku mendorong anda." kata Mia menangis.
"Kami harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!!" kata papa Bram.
"Apapun, apapun aku akan bertanggung jawab. Asal kakaku lepas dari tuduhan itu" jawab Mia.
"Menikahlah dengan Arga." kata papa Bram selanjutnya.
"Pa!!" bentak Arga.
"Baik.. Aku akan menerimanya" jawab Mia.
#####
Rayyanpun tiba dikediaman keluarga Alan. Rayyan terus memanggil nama Miran. Dan panggilannya itu membuat semua anggota keluarga di sana.
"Rayyan.." gumam Miran.
Miran bergegas turun dan menemui Rayyan. Rayyan langsung memberikan surat itu ke Miran.
"Apa ini?, tanya Miran." tanya Miran.
"Lakukan saja. Jika kamu tidak ingin kehilangan aku. Datang ke pengadilan.. Ikuti rencana ku" bisik Rayyan.
"A..apa maksudnya Rayyan??" tanya Miran bingung.
Rayyanpun pergi meninggalkan rumah Miran.
#####
Waktupun terus berlalu, Arga dengan terpaksa menikahi Mia. Sedangkan papa Hazar terus mencari salah satu teman akrab Darnia.
Atas bantuan rekan sekaligus orang kepercayaannya, papa Hazar pun berhasil menemukan orang tersebut.
Tok..tok..tok..
Tak membutuhkan waktu yang lama, pintu itupun terbuka.
"Hazar.." kata orang tersebut.
"Bolehkah aku masuk??" tanya papa Hazar.
"Aaahh ya silahkan.." jawab orang tersebut.
"Silahkan duduk" papa Hazar dipersilahkan masuk.
"Maria.. Aku ingin menanyakan sesuatu.." kata papa Hazar tanpa basa basi.
"Silahkan.." jawab Maria.
"Apa kamu mengetahui tentang kehamilan Darnia?" tanya papa Hazar.
"Ya.. Waktu itu dia memang tangah mengandung saat kamu meninggalkannya untuk pendidikan." jawab Maria.
__ADS_1
"Jadi.. Memang benar Miran adalah putraku??" tanya papa Hazar.
"Aku tidak tau siapa namanya, namun yang aku tau Darnia melahirkan seorang putra darimu" jawab Maria.
Seketika itu papa Hazar langsung menangis. Tanpa dia ketahui, Miran benar benar putranya. Lalu untuk apa Aisah membuat Miran membencinya?? Itu yang tengah papa Hazar pikirkan.
"Jika begitu, aku mengucapkan terimakasih. Informasi ini sangat penting bagiku. Aku permisi" pamit papa Hazar.
Maria hanya mengangguk. Setelah kepergian papa Hazar, muncuk seorah laki laki dari dalam rumahnya.
"Termakasih bu Maria.. Anda sudah mau mengatakan yang sejujurnya kepada paman Hazar." katanya.
"Apa tujuanmu?" tanya Maria.
"Hanya ingin membalas perbuatan nenekku" jawab Aslan.
Aslahn pun pergi tanpa permisi. Dia pergi meninggalkan rumah Maria. Ternyata selama ini, aslanlah yang membantu papa Hazar untuk menemukan rumah Maria.
Papa Hazar masuk ke dalam mobilnya. Sebelum masuk, dia melihat sebuah kaset tergeletak di atas kap mobilnya. Papa Hazar segera mengambilnya dan melihat di sekitarnya dan ternayat sepi.
Papa Hazar memutuskan untuk mencari sebuah tipe model lama yang masih menggunakan kaset pita. Setelah mendapatkannya, papa Hazar langsung memutarnya.
Pada awalnya, isi dari kaset itu hanya sebuah lagu. Lama dia menutar hanya sebuah lagu yang terputar hingga akhirnya, papa Hazar akan mematikan namun tangannya terhenti ketika mendengar suara seorang perempuan.
Ya, suara itu adalaha suara milik Darnia. Lama papa Hazar mendengarkannya. Dan papa Hazar benar benar menangis kali ini. Keyakinannyapun semakin terang jika Miran benar benar darah dagingnya.
Papa Hazarpun memilih kembali pulang. Hanya tinggal mencari tahu apa alasan nenek Aisah membuat Miran membencinya.
#####
Hari persidanganpun sudah tiba, Miran sudah menunggu kedatangan Rayyan.
Hari ini Rayyan datang bersama sang papa. Perasaan Rayyan campur aduk saat itu.
"Rayyan ada apa?? Kenapa berhenti??" tanya papa Hazar.
"Mmm pa.. Apakah orang hamil boleh bercerai??" tanya Rayyan gugup.
Rayyan dan papa Hazar tengah berdiri di pintu masuk gedung pengadilan.
"Maksud kamu??" tanya papa Hazar.
"A.. Aku hamil pa.." kata Rayyan ragu sekaligus takut.
Ada rasa lega di hati papa Hazar, sejujurnya memang dia tidak menginginkan Rayyan berpisah dengan Miran. Terlebih sekarang dia telah mengetahui Miran adalah putranya.
"Hamil??" ulang papa Hazar.
Rayyan hanya mengangguk.
"Baiklah, kita akan batalkan perceraian ini" jawab papa Hazar.
Rayyan langsung mendongak menatap sang papa.
Setelah urusan selesai, papa Hazar meninggalkan Rayyan dengan Miran.
"Jelaskan padaku.. Mana mungkin bisa??" tanya Miran bingung.
"Aku terpaksa berbohong" jawab Rayyan.
"Aku tidak bisa berpisah denganmu" sambung Rayyan.
Miran langsung memeluk Rayyan senang.
"Mari kita cari bukti bersama sama. Jika benar papaku yang bersalah aku siap menerima apa yang akan kamu lakukan. Tapi jika nenekmu yang berbohong, kamu harus mengakuinya" pinta Rayyan.
__ADS_1
"Baiklah.. Aku tidak akan menyia nyiakan pengorbananmu kali ini" jawab Miran.