
Rayyan dan Arga pergi menuju ke sebuah caffe, mereka berdua tampak ngobrol meski cenderung banyak saling diam..
"Rayyan, kamu tidak apa apa?" tanya Arga
"Aku tidak apa kak, hanya saja yahh kamu tau sendiri lahh" Rayyan sambil memainkan cangkirnya.
"Rayyan aku harap kamu bersabar, aku yakin kamu perempuan yang kuat. Aku akan selalu ada untukmu Rayyan. Jika butuh bantuan, atau mau pergi kemana, bilang sama aku. Aku pasti akan ada untuk mu" Arga sambil memegang dua tangan Rayyan dengan tatapan intenss..
"Kak.." Rayyan melepas tangannya pelan sambil menunduk.
"Rayyan, tidak pernahkah merasa akan perasaan ku selama ini ke kamu?" kata Arga lembut.
"Maksud kakak?" Rayyan langsung menatap Arga.
"Aku sayang sama kamu Rayyan, dari dulu semnjak kita kecil" Arga mulai mengutarakan isi hatinya.
"Aku tau kak, karna kamu kakak ku wajar lah kalau kamu sayang kepada ku" kata Rayyan polos
"Rayyan, sayang ku padamu itu selayaknya seorang pria yang sayang kepada wanita" kata Arga serius.
"Tidak kak, tidak mungkin.. Kita saudara dan aku tidak bisa karena kamu kakak ku" jawab Rayyan sedikit terkejut.
"Aku itu bukan...." kata Arga terpotong akan ingat sesuatu.
"Jika aku mengatakan bahwa dia bukan anak kandung paman, dia pasti akan sangat sedih hancur.. Aku tidak boleh mengatakannya sekarang, aku yakin Rayyan belum.mengetahui hal ini" batin Arga sambil menatap Rayyan sangat intens.
"Bukan apa kak?" tanya Rayyan menunggu lanjutan kata kata Arga.
"Ahh tidak, lebih baik kita pulang" ajak Arga berdiri dan berjalan menuju mobilnya setelah meletakkan beberapa lembar uang di meja untuk membayar.
Diwaktu bersamaan, Miran melintasi caffe di mana ada Rayyan dan Arga. Tanpa sengaja Miran melihat mereka berdua. Ada rasa panas, sakit dan emosi bercampur melihat Rayyan duduk berdua dengan Arga..
"Arghhhh, sial kenapa aku ini.." Miran memukul setir lalu memegang cincin yang dijadikannya kalung dengan nafas memburu menahan emosi.
"Tidak akan lama lagi, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepada mu atas perbuatan ayahmu sendiri" batin Miran sambil melakukan mobilnya pergi.
☘☘☘☘☘
Hari ini Miran akan mulai menjalankan semua rencananya.
Drttt..drttt..drrttt..
"Ya hallo nek" Miran menerima panggilan telefonnya.
"Miran, apa kamu sudah siap?" suara neneknya d seberang telefon..
"Sudah nek, sebentar lagi aku akan kesana menjemput Mei dan tante mei..
"Hati hati di jalan, dan ingat Miran kamu jangan sampai lemah, demi nenek" nenek mewanti wanti Miran.
"Tenang nenek tidak ada belas kasihan lagi" kata Miran mengingat sesuatu.
Flasback on.
Di malam hari, di sebuah kamar dimana Miran kecil berada sedang berbaring di tempat tidurnya..
Nenek masuk kedalam kamar tersebut dan duduk di tepian tempat tidur Miran..
Sang nenek terus menanamkan kebencian kepada Miran kecil.
"Miran, kamu harus mengingat ini bahwa keluarga Sadli jahat kepadamu dan nenek, mereka melenyapkan kedua orang tua mu" kata nenek kepada Miran kecil.
"Aku akan memusnahkan mereka nenek, keluarga Sadli mereka musuhku" kata Miran kecil..
"Mereka menyiksa orang tua mu Miran hingga merek meninggalkanmu selamanya, nenek sedih Miran nenek sakit hati kepada mereka. Mereka melenyapkan anak dan menantu nenek" kata nenek terisak dan terus mempengaruhi Miran kecil.
"Aku akan membalasnya untuk nenek" jawab Miran dengan polosnya.
Flshback off
Miran berjalan keluar menuju mobilnya di mana Riyan sudah menunggunya.
"Kau tidak apa apa Miran?" tanya Riyan saat menatap diamnya Miran.
Miran hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara sedikit pun.
Riyan menjalankan mobilnya menuju ke kediaman keluarga Alan, di mana neneknya berada..
Pintu utama terbuka, terlihat lah Mei dan mama Eni sudah menunggu.
"Miran.. Aku sangat merindukanmu" Mei tersenyum dan berjalan ke Miran lalu memeluknya sesaat.
"Mari kita berangkat, sudah mulai siang" kata Miran tanpa menggubris mei..
Mereka beriringan keluar menuju mobil dan menuju ke kediaman Sadli.
☘☘☘☘☘
__ADS_1
"Rosa, kau sudah siap?"tanya mama Sinta.
"Siap dong ma, lihat aku sudah cantikan.. Bagaimana bajunya cocok ga?" kata Rosa sambil berputar putat bak peragawati.
"Perfect sayang, ayo kamu tunggu di bawah" kata mama Sinta.
Saat Rosa berjalan menuju ke teras, Riyyan muncul dengan anggunnya.
"Waw..waw..waw, kau tanpak sangat cantik Rayyan" kata IKe memuji Rayyan saat dia sedang mempersiapkan segalanya untuk tamu yang akan datang.
Rosa langsung menatap ke Rayyan dengan tatapan iri. Rosa mengambil sebuah kopi di meja lalu dengan sengaja menumpahkan kopi itu ke gaun milik Rayyan.
"Upssss...sepertinya kamu harus ganti Rayyan, maaf ya" kata Rosa dengan senyum sinisnya.
"Kamu apa apaan Rosa lihat apa yang kamu lakukan, duuhhh bagaiman Rayyan" kata Ike membantu Rayyan membersihkan baju nya dengan tissu.
"Tidak apa apa Ike, aku bisa ganti kok" Rayyan beranjak dari sana sambil melirik Rosa yang senyum senyum tanpa merasa berdosa.
Tidak lama kemudian, terdengar sebuah mobil berhenti di depan pintu utama.
Rosa berlari menuju pintu utama di mana sudah dibuka oleh Ike.
Rosa dan yang lain menyambut kedatangan Miran dengan keluarganya kecuali Rayyan yang hanya menatap Miran dari lantai 2..
Miran pun melihat keberadaan Rayyan, menatap Rayyan dengan intens, Rosa menyadari itu dan mengikuti arah pandangan Miran yang ternyata sedang menatap Rayyan.
"Awas kamu Rayyan, akan ku pastikan kamu akan menderita. Terlebih Miran akan menjadi miliku sebentar lagi" tatapan tak suka Rosa ke Rayyan.
"Ku harap kamu tidak melanggar janjimu kepada ku Miran" batin Mei menahan kesedihannya harus mengorbankan perasaannya.
Rayyan pergi hingga tak terlihat oleh Miran, lalu Miran tersadar dan memcoba tersenyum kepada anggota keluarga Sadli yang menyambutnya..
Mereka menuju ruang keluarga yang sudah di siapkan untuk pertemuan tersebut.
Tidak lama kemudia muncul Rosa membawakan minuman dan membagikan kepada semua orang di sana.
Saat hendak memberikan kopi kepada Miran, dia terus tersenyum dengan manisnya namun Miran sama sekali tidak meresponnya menatap pun tidak.
Mei yang melihat itu terus berusah menahan emosinya, mama Eni yang menyadari itu mencoba menenangkan Mei dengan memegang tangan Mei.
"Eghmmm, terimakasih atas sambutannya kepada kami tuan Sadli" mama Eni mengawali pembicaraan
Kakek Sadli hanya menganggukan kepalanya.
"Seperti kata Miran kemarin lusa, saya mewakili Miran sebagai orang tua Miran karena suami saya sudah lama meninggalkan" kata mama Eni.
"Niat tujuan kami kemari untuk Miran meminta anak gadis keluarga Sadli..... (terdiam sejenak) Rayyan" kata mama Eni.
Klontanggg, baki ditangan Rosa terjatuh kaget ternyata bukan untuk dia melainkan untuk Rayyan, malu dan emosi yang dia rasakan dia langsung berjalan keluar yang di ikuti mama Sinta.
Semua yang di sana langsung menatap ke arah Rosa.
Kakek Sadli pun kaget..
"Ridwan apa kamu tidak menyampaikan pesanku kepada mereka!!!" kakek emosi.
"Sa..sa..saya sudah menyampaikannya secara langsung kepada Miran tuan" kata Ridwan menundukan kepala..
"Sejak awal saya sudah mengatakan
Saya menginginkan Rayyan, bukan yang lain" jawab Miran pelan namun tegas.
Kakek melonggarkan dasinya, terasa sesak di dadanya lalu kembali duduk.
"Pangggil Rayyan cepat!!!" bentak kakek yang merasa emosi kenapa harus Rayyan.
Tidak lama kemudian Rayyan muncul dengan tatapan bingung.
"Rayyan, nak Miran menginginkanmu" kata papa Hazar megamg pundak Rayyan.
Rayyan kaget dan menatap semua orang di sana.
"Bukankah dia menginginkan Rosa?" tanya Rayyan polos.
"Sejak dari awal saya meminta kamu bukan yang lain apakah bersedia" jawab Miran
Rayyan menatap papa dan mamanya lalu sang kakek.
Mama dan papanya hanya mengangguk sedangkan sang kakek hanya melirik dengan wajah ketidak sukaannya.
"Apakah ini kesempatan ku untuk keluar dari rumah ini" batin Rayyan sambil berfikir.
Lama Rayyan terdiam dengan pikiran sendiri.
"Bagaiman Rayyan, kami menunggu jawabnamu" tanya mama Eni lembut
Rayyan hanya mengangguk.
__ADS_1
Melihat itu ada perasaan lega daro kedua orang tua Rayyan tidak dengan kakek.
Miran pun berdiri mendekati Rayyan lalu memasangkan sebuah cincin di jari manis kiri Rayyan.
Miran dan Rayyan hanya tersenyum sesaat.
Waktu terus berjalan, akhirnya keluarga Miran berpamitan dan meninggalkan rumah keluarga Sadli.
"Tidaaakkkk, tidaaakkkk!!! kenapa begini aku dipermalukan di depan Miran. Ini semua gara gara Rayyan" emosi Rosa dengan mata sembabnya.
"Tenang Rosa tenang, kamu jangan seperti ini" mama Sinta mencoba menenangkan putrinya.
"Tidak...ini semua ulah Rayyan, minggir!!!" kata Rosa emosi dan keluar dari kamar.
Saat akan masuk ke kamarnya, tiba tiba rambut Rayyan dijambak dan di seret oleh Rosa.
"Dengarkan aku Rayyan, akan ada saatnya kamu akan hancur sehancurnya, dipermalukan melebihi kamu memalukan aku di depan keluarga Miran. Ingat kata kata ku ini" kata Rosa dengan penuh emosi lalu pergi meninggalkan Rayyan yang masih menyeringai kesakitan...
☘☘☘☘☘
"Paman, kenapa paman membiarkan Rayyan menerima lamaran dari pria itu?" kata Arga
"Itu sudah pilihan Rayyan, Arga... Paman tidak busa mencegahnya" kata papa Hazar.
"Tapi paman, mereka ada maksud terselubung terhadap Rayyan paman.. Tolong gagalkan pernikahan mereka" Arga terus merayu pamannya.
"Kenapa kamu bicara seperti itu Arga" tanya papa Hazar bingung.
"Perasaan aku tidak enak paman, dan...dan akuu mencintai Rayyan paman" jawab Arga sambil tertunduk.
Plakkk sebuah tamparan mendarat di pipi Arga.
"Apa yang kamu katakan Arga, Rayyan saudara mu tidak sepantasnya kamu memiliki perasaan itu!!!" papa Hazar mulai emosi.
"Paman, sudah sejak aku masih kecil menyukai Rayyan. Dann aku tau Rayyan bukan anak kandung paman" Arga menatap papa Hazar sambil memegangi pipinya yang ditampar.
Bagai disambar petir papa Hazar mendengar ucapan Arga..
Perlahan papa Hazar menarik lengan Arga menuju ketempat yang lebih sepi sambil menengok ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang.
"Tau dari mana kamu Arga?" papa Hazar setengah berbisik.
"Aku mendengarnya secara langsung saat aku tidak sengaja melewati paman sedang berbicara dengan bibi" jelas Arga.
"Apa Rayyan susah mengetahuinya?"tanya papa Hazar.
Arga hanya menggelengkan kepala..
"Tolong untuk sementara simpan rahasia ini, jangan sampai Rayyan tau. Biar paman yang mengatakannya sendiri" kata papa Hazar menatap Arga tanpa berkedip.
"Tapi paman...."kata Arga terpotong saat papa Hazar meletakkan telunjuknya di depan mulutnya lalu meninggalkan Arga sendirian.
"Tidak akan ku biarkan Miran menikahi Rayyan" batin Arga berjalan keluar.
Arga langsung pergi keluar menuju ke mobilnya dan langsung tancap gas sekencang mungkin untuk meluapkan emosinya..
Di dalam kamar Rayyan, Rayyan masih belum percaya dengan semua yang terjadi.
Tiba tiba pintu kamarnya terbuka dan muncul mama Anna dengan tersenyum.
"Mama..." panggil Rayyan.
"Sayang..." mama Anna memeluk Rayyan.
"Aku tidak mengerti mama dengan semua ini" kata Rayyan merenggangkan pelukannya.
"Maafkan kami nak" papa Hazar tiba tiba masuk ke dalam kamar.
"Maksudnya pa?" Rayyan bingung.
"Maafkan kami menutupi semuanya dari awal" jelas mama Anna.
"Jadi...kalian semua tau siapa yang Miran inginkan dan kalian menutupinya dari ku?"Rayyan kecewa.
"Maafkan kami Rayyan, kami tidak bisa mencegah kakekmu" mama Anna mulai terisak.
"Kenapa kalian jahat sama aku, apa salah ku?" Rayyan mulai menangis dipelukan mamanya.
"Kakak...kakak..., apakah kaka akan menikah??" teriak Gendis tiba tiba.
Papa Hazar, mama Anna dan Rayyan pu terkejut lalu menghapus air mata mereka.
"Iya cantik" kata Rayyan tersenyun dan berjongkok mensejajarkan tinggi adiknya.
"Kakak, boleh kah aku juga memakai gaun pengantin yang sama seperti mu?" kata Gendis dengan raut wajah yang imut.
"Hahahahaz tentu saja boleh adik ku sayang apapun untukmu" jawab Rayyan sambil menoel pipi tembem Gendis.
__ADS_1
Mereka pun tertawa dengan ulah Gendis yang sangat menggemaskan..