
Situasi di rumah keluarga Sadli masih tegang.. Mereka menunggu papa Hazar di halaman rumah.
Papa Bram mencoba menelfon papa Hazar, namun tidak juga di terima.. Kakek hanya mondar mandir gelisah. Mama Anna duduk dengan air mata yang masih berlinangan karena sangat mengkhawatirkan suami dan putrinya.
Papa Hazar tiba, dia turun dari mobil dan berjalan dengan lemas. Wajahnya kusam, sseperti orang yang tengah patah hati.. Patah hati dengan keputusan sang putri. Sangat jelas raut keputus asaan.
Mama Anna menghampiri papa Hazar dengan wajah penuh pertanyaan.
"Aku tidak berhasil membawa pulang Rayyan.. Mereka telah menikah. Rayyan mengatakan bahwa dia mencintai Miran. Dan akan tinggal bersamanya." kata papa Hazar lemas.
"Tidak... Tidak... Kenapa Rayyan melakukan ini kenapa??? Ini tidak mungkin.." mama Anna menangis sedih tidak bisa nenerimanya.
"A..apa..??? Me..mereka benar benar menikah??" kata Rosa yang mendengar obrolan papa Hazar dan mama Anna.
Rosa sangat bersedih dan menangis mendengar pernikahan Miran dan Rayyan. Selama ini dia masih berharap untuk menjadi istri Miran.
"Putrimu memang tidak tau diri.. Dia sudah dibesarkan di sini, tapi kini dia menghianati kita. Mulai saat ini Rayyan bukan lagi anggota keluarga ku.. Dia menjadi musuh kita sekarang!!!" bentak kakek.
Papa Hazar hanya diam seribu bahasa. Wajahnya tampak kacau. Dia memilih masuk kedalam rumah agar tidak terpancing emosi.
Berbeda dengan papa Bram dan mama Sinta yang merasa lega mendengar pernikahan Miran dan Rayyan. Mereka tampak senang karena Arga tidak bisa mengejar Rayyan lagi.
☘☘☘☘☘
Rayyan kini duduk, dia terus memandangi foto foto yang sempat Ike berikan untuknya. Rayyan masih memikirkan perasaan papanya. Rayyan sadar, sangat besar kasih sayang papanya untuk dirinya.
Miran berdiri di depan pintu dan melihat Rayyan tengah melamun.
"Rayyan..." panggil Miran lirih.
Rayyan mengisap air matanya. Miran berjongkok di depan Rayyan.
"kamu tidak apa apa??" tanya Miran, Rayyan hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku masih terpikirkan perasaan papa.. Aku takut kehilangan merek" kata Rayyan.
"Bersabarlah Rayyan.. Aku akan selalu bersamamu" kata Rayyan.
Drrrttt....ddrrtttt...drrrtttt
Ponsel Rayyan bergetar, diambilnya ponsel Rayyan. Tertera nama Arga di sana.
Mengetahui Arga yang menelfon, Miran marah lalu merebut ponsel Rayyan.
"Miran.. Miran..." Rayyan mencoba mencegah.
Miran pin membanting ponsel Rayyan di atas meja dan mengenai baju Rayyan. Rayyan tampak sebal melihat ulah Miran.
Rayyan mencabut beberapa lembar tissu yang berada di atas meja lalu duduk. Dengan wajah sebal, Rayyan mengelap bagian bajunya yang basah.
"Ma..maaf Rayyan.. Aku tidak suka melihat Arga masih menghubungimu.. Sekarang kamu istriku" kata Miran.
"Tapi dia juga saudaraku" jawab Rayyan sinis.
"Tapi dia menyukaimu Rayyan" jawab Moran tidak mau kalah.
__ADS_1
Rayyan hanya diam, namun dari bahasa tubuhnya dia masih sebal dengan ulah Miran.
Melihat baju Rayyan basah, Miran baru menyadari Rayyan tidak memiliki baju ganti. Lalu Miran keluar kamar untuk mencari baju ganti Rayyan.
"Bu Ira, tolong pinjamkan baju Mia untuk Rayyan" kata Miran saat Ira bertepatan melintas di depan kamarnya.
Saat Ire akan mengambilkan baju Mia, nenek memanggilnya.
"Mirna, tolong ambilkan baju nona Mia untuk nona Rayyan" pinta Ira pada Mirna.
"Baik.." jawab Mirna..
Mirna bukannya menuju ke kamar Mia, tapi malah dia justru ke kamar Mei untuk memprovokasi Mei..
Mei yang mendapat info dari Mirna merasa mendapat angin segar untuk mempermalukan Rayyan.
"Ambil saja bajuku. Berikan padanya" kata Mei dengan tersenyum.
Setelah Mei mengambilkan baju miliknya, Mirna pun membawa baju itu ke kamar Miran.
Tok..tok...tok...
Miran membukakan pintu kamarnya.
"Tuan.. Ini bajunya" kata Mirna.
Miran pun menerima baju itu, dan memberikannya kepada Rayyan. Rayyan dan Miran tidak mengetahui jika baju itu milik Mei.
Waktu makan malam pun tiba. Rayyan keluar kamar, mama Eni terkejut melihat Rayyan mengenakan baju Mei.
Mendengar kata kata mama Eni, Miran tampak emosi.
"Bu Ira.. Saya meminta baju Mia.. Kenapa anda memberikan baju milik Mei!!" bentak Miran.
Bu Ira hanya diam, dia bingung harus menjawab apa.
Rayyan kembali masuk ke dalam kamar sambil menangis. Lalu dia melepas baju milik Mei dan menggantinya dengan baju kotornya.
Miran masuk ke dalam kamar menyusul Rayyan..
"Rayyan, jangan menangis.. Mari kita pergi keluar" ajak Miran menggandeng tangan Rayyan.
Mereka berdua pun pergi keluar meninggalkan mereka yang susah duduk di meja makan.
"Kamu sengajakan Mei melakukan itu untuk mempermalukan Rayyan" tebak sang nenek setelah kepergian Miran dan Rayyan.
"Apa itu benar kak??? Aku tidak menyangka kaka melakukan hal yang memalukan seperti ini" kata Mia yang tidak senang dengan kelakuan Mei.
"Kenapa kamu membela dia hahh!!! Memangnya siapa dia??? Dan nenek.. Semua rencana nenek telah membuatku kehilangan Miran.. Ini semua gara gara nenek!!" Mei emosi lalu menyeret taplak meja makan yang penuh dengan makanan.
Prannngg...
Semua makanan di meja tumpah tidka bersisa. Lalu Mei pergi meninggalkan ruang makan kembali ke kamarnya.
Mirna menyusul Mei di kamar Mei. Terlihat Mei tengah duduk dalam keremangan dengan tangan yang terus memijit keningnya.
__ADS_1
Melihat kedatangan Mirna, Mei mengambil dompetnya dan menarik berapa lembar uang lalu di berikan ke Mirna.
Tanpa sengaja, mama Eni melihat itu dan merasa kecewa dengan perbuatan Mei.
"Mama kecewa dengan mu Mei.. Apa yang kamu lakukan akan membuat Miran semakin menjauhi mu.." kata mama Eni.
☘☘☘☘☘
Di kediaman keluarga Sadli, mereka juga akan menikmati makan malam mereka.
Semua tampak terdiam larut dalam emosi mereka masing masing.
Brak...
Papa Bram menggebrak meja makan.
Mama Anna memberi kode Ike yang masih di sana untuk membawa Gendis ke dapur.
"Ini semua gara gara kamu kak, yang tidak dapat mengontrol Rayyan. Rayyan penyebab segala permasalahan di keluarga ini. Dia yang menyebabkan nyawa Arga dalam bahaya hingga terpaksa harus bersembunyi ke rumah kakeknya. Aku berharap Miran lah yang akan menjadi korbannya" ucap papa Bram tanpa bisa mengontrol emosinya.
"Jangan jangan memang kamu yang melakukan itu... Jika Miran sampai mati, keadaan akan semakin buruk. Apalagi Rayyan sekarang berada di tangan mereka. Nyawa Rayyan bisa terancam" jawab papa Hazar curiga.
Mendengar ada keributan di ruang makan, kakek kembali marah.
"Apa benar kamu pelakunya Bram!" kata kakek tiba tiba.
"Bukan aku pelukannya pa... Kenapa papa tidak pernah bisa mempercayaiku!!!" papa Bram menyangkalnya.
Setelah pertengkaran itu, papa Hazar pergi ke kebun samping rumah. Papa Hazar belum merasa tenang sebelum mengetahui siapa dalang dari penembakan itu.
Papa Hazar mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo Ali.." kata papa Hazar setelah panggilannya di terima.
"Ada yang bisa saya pak Hazar." jawab Ali orang kepercayaan papa Hazar.
"Aku minta tolong, selidiki siapa dalang penembakan iyu dan juga cari di mana mobil bekas Miran yang tertembak itu disimpan" perintah papa Hazar.
☘☘☘☘☘
Miran mengajak Rayyan menuju ke rumah baru merek. Miran ingin sedikit menghibur Rayyan dengan membawanya ke rumah baru mereka.
Rayyan terus melamun selama perjalanan. Wajahnya tampak sesih. Sesekali Miran menoleh ke arah Rayyan.
"Ayolahh Rayyan jangan bersedih lagi ya.. Aku akan membawamu ke rumah baru kita.. Kamu lihat, apa kamu menyukai atau tidak.. Jika kamu tidak menyukainya, nanti aku akan mencari gantinya." bujuk Miran dan Rayyan hanya tersenyum yang dipaksakan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah mewah yang cukup elegan. Halaman yang luas dan terdapat kolam kecil taidak jauh dari pintu gerbang.
Miran menggandeng Rayyan dan berjakan mendekati rumah tersebut.
Sebelum masuk ke dalam rumah, Miran berhenti dan berdiri di depan Rayyan.
"Rayyan aku berjanji, kejadian seperti tadi tidak akan lagi terulang. Di rumah baru kita ini hanya akan ada kita berdua. Kita akan memulainya lagi dari awal.. Hanya kota berdua dan tidak akan ada siapapun yang mengganggu kita akan hidup tenang." kata Miran.
Mendengar ucapan Miran, hati Rayyan sedikit senang.. Dia merasa lega Miran sudah memiliki niat untuk berubah meski belum sepenuhnya karena masih ada nenek Aisah yang tweua membayangi Miran.
__ADS_1