Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
terbelenggu dalam masalah


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Rayyan dan Arga telah tiba di kediaman keluarga Sadli. Rayyan langsung masuk ke dalam rumah tanpa kata. Arga yang melihatnya pun merasa bingung dengan sikap Rayyan. Namun Arga tidak mau ambil pusing.


Rayyan berjalan menuju balkon rumah, dia duduk menyendiri di sana. Rayyan menangis sambil memegangi sebuat pot bunga mawar yang hampir mati.


Diam diam mama Anna mengamati Rayyan yang duduk dengan posisi membelakanginya.


Dalam tangisnya Rayyan berkata "aku sangat mencintaimu, sangat sulit bagiku untuk berpisah denganmu. Namun orang tua ku tak mengijinkan kita untuk bersama"


Air mata Rayyan tumpah ruah keluar dari matanya tanpa bisa dia bendung lago. Hatinya begitu sakit, sangat sakit. Sebesar apapun rasa kekecewaannya terhadap Miran, namun dia tidak dapat membohongi ada nama Miran yang audah terpatri dalam hatinya.


Rayyan mengambil surat perceraian itu, dia membacanya dengan air mata terus mengalir.


Mendengar kata kata Rayyan, mama Anna langsung menangis. Mama Anna tidak tega melihat luka dalam diri Rayyan. Namun dia terpaksa memaksa Rayyan bercerai dengan Miran, mama Anna ingin melindungi Rayyan dari kejahatan nenek Aisah.


#####


Dilain tempat, Miran berjalan seorang diri. Wajah tampan dinginnya berubah menjadi sedih. Sungguh berat yang dia rasakan berpisah dengan Rayyan.


Riyan yang sejak sore mencari keberadaan Miran. Tanpa sengaja melihat Miran seperti orang hilang. Berjalan seorang diri di pinggiran jalan.


Riyan langsung memarkirkan mobilnya dan mendekati Miran. Terlihatjelas wajah sedih Miran. Bahkan Miran berjalan dengan tatapan kosong.


"Miran.. Ayo kita pulang. Hari sudah sangat larut malam" kata Riyan.


Miran menoleh, merasa namanya di panggil. Tanpa suara Miran mengikuti langkah Riyan menuju kembali ke mobilnya dan Riyan pun membawa Miran kembali pulang.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Miran dan Riyan sudah tiba di rumah. Miran merasa enggan masuk kedalam rumah, wajahnya terlihat sangat lesu. Tidak ada aura dingin lagi yang dulu sangat melekat pada dirinya, kini entah pergi kemana.


"Dengan kebohongan, pak Hazar telah membuat Rayyan pergi meninggalkan diriku" kata Miran lesu.


"Percayalah, suatu saat nanti Rayyan akan kembali lagi kepadamu. Suatu saat nanti dia akan tau jika kamu tak bersalah" kata Riyan memberi semangat Miran.

__ADS_1


"Mana mungkin, dia sangat mempercayai papanya. Bahkan dia tidak mau sedikitpun mendengar penjelasan dariku" kata Miran pesimis.


"Aku ingin sendiri. Jangan ikuti aku" kata Miran berjalan menjauhi rumahnya.


Riyan bergegas menuju ke kamar sang ibu setelah mendapat peringatan dari Miran agar tidak mengikutinya.


"Bu.. Aku benar benar sudah muak dengan balas dendam ini. Sewaktu waktu kita bisa saja terbunuh karena balas dendam ini. Kemarin saja Miran hampir saja terbunuh di tangan tuan Sadli karena dendam" kata Riyan yang tiba tiba masuk ke dalam kamar ibunya.


Bu Ira sempat terlonjak kaget dengan putranya yang tiba tiba begitu saja masuk ke dalam kamarnya.


"Ibu juga menginginkan hal sama Riyan. Nak, mari kita pergi dari sini. Serahkan semua harta keluarga Aamslan ke tangan Miran dan Mei. Kita pergi dari sini" kata bu Ira.


"Bu.. Aku tidak mau meninggalkan keluarga ini. Bukan karena harta yang telah dipercayakan kepadaku. Tapi lebih dari rasa tanggung jawab serta rasa kebersamaan ku. Aku besar dalam lingkungan keluarga ini. Aku sudah menganggap mereka seperti Miran, Mei adalah saudaraku" tolak Riyan.


Esok harinya, mama Eni meminta Marni untuk mengikutinya menuju ke kamar Miran.


"Marni, bereskan baju baju ini. Singkirkan baju baju ini dari kamar ini. Buang semua" perintah mama Eni.


"Tapi nyonya, baju baju ini milik nona Rayyan. Sa.. Saya tidak berani. Takut tuan Miran marah" kata Marni takut.


Dengan ragu ragu, Marni mengambil baju baju Rayyan dari dalam lemari. Tak ada sisa satupun baju Rayyan yang tertinggal. Setelah dirasa cukup, Marni langsung membawa baju baju itu keliar dari kamar Miran.


Miran tiba di rumah, dia langsung masuk kedalam rumah dan menuju ke kamarnya. Miran terkejut melihat Marni membawa koper dan baju milik Rayyan.


"Apa yang kamu lakukan?? Atas ijin siapa kamu berani membawa keluar bahu baju Rayyan!!!" bentak Miran.


Marnipun terkejut melihat kedatangan Miran.


"Ma... Maaf tuan.. Sa.. saya hanya menjalankan perintah dari nyonya Eni" kata Marni gelagapan.


Miran langsung menghampiri mama Eni yang dengan santainya duduk di balkon.

__ADS_1


"Kenapa bibi begitu lancang, ada tidak pantas mengeluarkan semua baju baju milik Rayyan!!! Dia akan segera kembali ke rumah ini!!! Jika bibi tidak suka, silahkan bibi pergi meninggalkan rumah ini!!!" bentak Miran penuh emosi.


"Tidak, aku tidak akan pernah angkat kaki dari rumah ini" jawab mama Eni lantang.


Miran hanya menatap tajam ke arah maam Eni dan neneknya yang juga berada di sana. Miran segera mengambil baju baju milik Rayyan dan membawa kembali masuk ke dlaam kamarnya.


Miran lalu menyendiri di atas balkon. Wajahnya terus murung, dan dia terus berusaha mencari cara agar Rayyan bisa kembali keadaan dirinya.


Mia yang melihat Miran menyendiri di balkon, Mia pun berinisiatif mendekati Miran.


"Kak.." panggil Mia.


Miran menoleh ke arah Mia.


"Rayyan telah pergi meninggalkan aku. Tapi aku akan terus mengejarnya. Aku akan buktikan jika aku bukan pelakunya." kata Miran.


Mia menangis. Dia sedih dengan masalah yang sedang dinhadapi Miran.


"Aku hanya bisa mendoakan, semoga kak Rayyan kembali bersama kakak" kata Mia.


Miranpun memeluk Mia dan mengucapkan terimakasih. Mia melonggarkan pelukannya, sebentar Mia menatap Miran. Di dalam hatinya dia merasa bersalah, dia yang mendorongnya nyapu Miran yang dituduh. Miapun pergi meninggalkan Miran sendirian di balkon.


######


Papa Hazar dan mama Anna tengah berbincang di dalam kamar mereka.


"Miran menurutmu berbagai pembunuh orang tuanya. Padahal aku tidak melakukannya. Aku hanya terpikirkan dengan nasib anak anakku nanti. Jika mereka sampai tau masalah ini, aku takut mereka malu memiliki seorang ayah yang cap sebagai pembunuh" kata papa Hazar sedih.


Diam diam, Rayyan mendengar obrolan itu. Hati Rayyan sedih mendengarnya. Dia bertekat akan membuktikan jika papanya bukanlah seorang pembunuh.


Rayyanpun bergegas pergi menuju kediaman keluarga Alan dengan membawa surat perceraian yang telah dia tanda tangani.

__ADS_1


Disisi lain, bu Ira berjalan cepat untuk menuju ke kediaman keluarga Sadli. Dia sungguh tak sanggup lagi melihat balas dendam yang sudah banyak memakan korban yang tidak bersalah. Dengan tergesa gesa dia berjalan hingga nafasnya tersengal sengal. Dia memgangi dadanya yang merasa sesak. Sepanjang jalan, kata kata Riyan terus terngiang ngiang di dalam otaknya. Hal itulah yang memacu bu Ira untuk segera membongkar balas dendam ini, dia tidak ingin ada korban lagi.


Di sisi lain, Mia berjalan dengan gontai, dia berencana akan menuju ke kediaman keluarga Sadli, dia ingin mengakui perbuatannya dengan meminta maaf ke papa Hazar. Dia ingin Miran lepas dari tuduhan sebagai tersangka yang telah mendorong papa Hazar hingga Rayyan pergi meninggalkan Miran.


__ADS_2