CINTA TAK TERDUGA

CINTA TAK TERDUGA
Rencana Tomioka Shoto


__ADS_3

"Karena bukti tentang pembullyan yang dilakukan oleh orang yang pernah dijodohkan denganku ada di Jepang." Jawab Tomioka Shoto sambil menitikkan air mata.


"Maksudmu Suzuki Shi.." Ucap Jesselyn yang terpotong. oleh ucapan Tomioka Shoto.


"Shut!! Jangan pernah menyebut nama orang itu dihadapan ku!" Perintah Tomioka Shoto sambil menegakkan jari telunjuknya ke bibir Jesselyn.


Jesselyn pun menganggukkan kepalanya.


"Aku janji aku pasti bakal menghubungi kamu tiap hari." Ucap Tomioka Shoto sambil tersenyum paksa dan menatap Jesselyn.


Jesselyn hanya terdiam.


Tomioka Shoto pun menunjukkan jari kelingkingnya. Jesselyn pun menangis sambil mengaitkan jari kelingkingnya. Tomioka Shoto pun tersenyum dan menghapus air mata Jesselyn. Bukannya semakin reda, Jesselyn malah semakin menangis.


"Udahlah, jangan nangis. Aku usahain buat cepat balik ke sini lagi kok." Ucap Tomioka Shoto sambil tersenyum dan menatap Jesselyn.


Jesselyn pun berhenti menangis.


"Aku jadi pengen makan lagi." Ucap Jesselyn sambil menghapus air matanya.


"Hah?" Ucap Tomioka Shoto yang terkejut sambil menatap Jesselyn.


"Dia ingin ku suapi lagi kah?" Tanya Tomioka Shoto dalam hati sambil menatap Jesselyn.


"Atau pelarian dia saat sedih adalah makanan?" Tanya Tomioka Shoto dalam hati sambil menatap Jesselyn dengan tatapan bingung.


"Balik makan lagi yuk!" Ajak Jesselyn sambil menatap Tomioka Shoto.


"Gak baik makan terlalu banyak." Jawab Tomioka Shoto sambil tersenyum dan menatap Jesselyn.


"Kau mau aku mati kelaparan?" Tanya Jesselyn sambil menatap sinis Tomioka Shoto.


"Bukan gitu, kita kan baru selesai makan. Gak baik makan terus." Jelas Tomioka Shoto sambil menatap Jesselyn dengan penuh kekhawatiran.


"Y." Ucap Jesselyn yang kesal sambil meninggalkan Tomioka Shoto.


"Jes!!" Teriak Tomioka Shoto sambil mengejar Jesselyn.


Tomioka Shoto pun berhasil mengejar Jesselyn.


"Jangan marah dong." Ucap Tomioka Shoto yang berusaha membujuk sambil memegang tangan Jesselyn.


"Aku tak punya tenaga, gendong!" Perintah Jesselyn yang berhenti sambil menatap Tomioka Shoto.


Tomioka Shoto pun menggendong Jesselyn. Jesselyn pun menangis lagi. Tomioka Shoto yang melihat warung pun mendekatinya. Tomioka Shoto pun mengambil 1 air minum dingin.


"Bu, air minum 1 yang dingin." Pesan Tomioka Shoto sambil menatap penjual.

__ADS_1


"5 ribu." Ucap Penjual sambil menatap Tomioka Shoto.


Tomioka Shoto pun memberikan uang 5 ribu. Tomioka Shoto pun mendudukkan Jesselyn ke kursi. Tomioka Shoto pun jongkok di depan Jesselyn.


"Jangan nangis lagi dong." Ucap Tomioka Shoto yang masih berusaha untuk membujuk Jesselyn.


Jesselyn hanya membiarkan Tomioka Shoto dan terus menangis. Tomioka Shoto pun membuka segel minuman.


"Nih, minum dulu." Ucap Tomioka Shoto yang memberikan minuman yang dia beli.


Jesselyn pun minum dan lanjut menangis.


"Jes, jangan nangis lagi ya. Aku janji aku bakal dateng pas kamu wisuda." Ucap Tomioka Shoto sambil tersenyum dan menatap Jesselyn.


Jesselyn pun berhenti menangis.


"Janji ya?" Tanya Jesselyn sambil menatap Tomioka Shoto dan menunjukkan jari kelingkingnya.


"Janji dong." Jawab Tomioka Shoto yang mengaitkan jari kelingkingnya.


Jesselyn pun tersenyum.


"Nah, gitu dong." Ucap Tomioka Shoto sambil tersenyum.


"Pulang yuk!" Ajak Jesselyn sambil menatap Tomioka Shoto.


"Yuk!" Jawab Tomioka Shoto sambil berdiri.


"Hello." Sapa Gagak yang berada di bahu Ayah Shoto.


"Hai." Jawab Jesselyn sambil tersenyum.


"Tidur yuk!" Ajak Ibunya Jesselyn sambil menatap Jesselyn.


Jesselyn pun menganggukkan kepalanya. Beberapa dari mereka memutuskan untuk tidur lebih awal.


"Ayah sudah tau kabar terbaru?" Tanya Tomioka Shoto sambil menatap Ayahnya.


"Sudah, Jesselyn benar-benar korban pelecehan?" Tanya Ayah Shoto sambil menatap Tomioka Shoto.


"Iya." Jawab Tomioka Shoto sambil menatap ayahnya.


Ayah Shoto pun menghela nafas dengan kasar.


"Trus kamu mau bicara apa sama aku? Kau mau meninggalkan Jesselyn?" Tanya Ayah Shoto yang bingung sambil menatap Tomioka Shoto.


"Aku ingin kembali ke Jepang secepat mungkin." Jawab Tomioka Shoto sambil menatap Ayahnya.

__ADS_1


"Untuk apa?" Tanya Ayah Shoto yang bingung sambil menatap Tomioka Shoto.


"Aku ingin memberikan bukti bahwa dia adalah pembully." Jawab Tomioka Shoto sambil menatap ayahnya dengan penuh harapan.


"Tidak bisakah kau melupakan masa lalu?" Tanya Ayah Shoto yang keberatan sambil menatap Tomioka Shoto.


"Tidak bisa dan tidak akan pernah ku lupakan." Jawab Tomioka Shoto sambil menahan tangis.


"Tapi tanpa mereka kita tidak akan hidup sebahagia ini." Jelas Ayah Shoto yang masih keberatan sambil menatap Tomioka Shoto.


"Aku gak pernah bahagia kecuali saat bersama Jesselyn." Ucap Tomioka Shoto yang menangis sambil menatap ayahnya.


"Tanpa uangmu, Jesselyn mau sama kamu?" Tanya Ayah Shoto sambil tersenyum licik dan menatap Tomioka Shoto.


"Mau, saya bisa bekerja sendiri. Lagipula, Jesselyn bersedia membayar makanannya sendiri. " Jawab Tomioka Shoto sambil menatap ayahnya dengan penuh harapan.


"Terserah kamu saja, ayah capek sama kamu, dasar keras kepala!" Ucap Ayah Shoto yang langsung berbaring untuk tidur.


Tomioka Shoto pun menghapus air matanya dan memutuskan untuk tidur. Keesokan harinya, mereka pun bangun dan mulai bersiap-siap.


"Mama, nenek ikut aku sebentar. Karena Ayah sudah tau hal ini." Ucap Tomioka Shoto sambil berjalan ke lahan kosong di samping rumah Tantenya Jesselyn.


Beberapa menit kemudian, terlihat bahwa mereka kembali masuk rumah dengan wajah yang sedikit sedih. Beberapa menit kemudian, mereka pun pulang ke rumah masing-masing sambil membawa barang mereka kecuali Tomioka Shoto. Tomioka Shoto langsung pergi menuju bandara menggunakan taksi. Di dalam taksi, Tomioka Shoto terus mengingat kenangan saat berlibur bersama Jesselyn. Dia pun akhirnya sampai di bandara.


"Hello." Sapa Gagak yang berada di dalam kandang sambil melihat sekeliling bandara.


Tomioka Shoto langsung bergerak cepat melakukan hal yang seharusnya dia lakukan di bandara. Beberapa jam kemudian, dia pun telah duduk di kursi penumpang.


"いじめっ子の破壊を見るのが待ちきれません。" Translate "Aku tidak sabar melihat kehancuran pembully." Ucap Tomioka Shoto dalam hati.


Di sisi lain.


"Pasti si Shoto lagi di rumahnya." Ucap Suzuki Shinobu yang tengah melihat dirinya di kaca.


"Apakah kali ini Shoto akan terpesona?" Tanya Suzuki Shinobu yang masih berkaca.


"Tentu saja nyonya." Jawab sang sekretaris sambil tersenyum.


Suzuki Shinobu pun tersenyum dan pergi ke hotel tempat keluarga Tomioka menginap. Sesampainya di hotel, mereka pun mengetuk pintu. Ibunya Shoto pun membuka pintu.


"Halo Tante, senang bertemu denganmu." Ucap Suzuki Shinobu sambil tersenyum.


"Maaf, kami tidak menerima tamu." Ucap ibunya Shoto yang langsung menutup pintu.


"Jangan begitu dong tante." Ucap Suzuki Shinobu yang berusaha membujuk.


"Kami tidak akan pernah membukakan pintu untuk pembully lagi." Jelas Ibunya Shoto yang langsung pergi.

__ADS_1


Bersambung...


Update setiap hari, hanya di Noveltoon.


__ADS_2