
"Hah?" Tanya Suzuki Shinobu yang bingung sambil melotot.
"Bagaimana dia bisa tau?" Tanya Suzuki Shinobu dalam hati karena merasa sangat bingung.
Suzuki Shinobu pun melihat hpnya. Dia segera mencari akun sosial media milik Tomioka Shoto.
"Kenapa dia sekarang sangat berani sekarang?" Tanya Suzuki Shinobu dalam hati yang merasa sangat kesal dan marah.
"Pulang!!!" Perintah Nenek Shoto sambil berteriak dari dalam rumah.
Suzuki Shinobu pun pulang dengan perasaan kecewa dan marah diikuti sekretarisnya.
"Ayo pergi ke rumah selingkuhannya itu!" Perintah Suzuki Shinobu yang merasa sangat marah.
"Baiklah." Jawab sekretaris yang langsung menelepon seseorang.
"Lacak rumah selingkuhan itu!" Perintah sekretaris yang ikut kesal.
"Baiklah." Jawab orang di telepon itu.
Orang itupun langsung melacak keberadaan dan informasi pribadi Jesselyn. Beberapa menit kemudian.
"Kenapa sangat lama?" Tanya Suzuki Shinobu yang marah karena merasa sangat lama sambil menatap sekretarisnya dengan tatapan mengancam.
"Mohon tunggu sebentar lagi nyonya." Ucap Sekretaris yang merasa takut sambil menatap Suzuki Shinobu.
Suzuki Shinobu pun menghela nafas kasar.
"Sudah." Ucap Sekretaris yang langsung masuk ke dalam mobil.
Mobil pun dijalankan menuju rumah Jesselyn. Di sisi hotel kediaman Tomioka.
"Kenapa aku baru tau bahwa Shoto pernah di-bully?" Tanya Ibu Shoto yang merasa sangat kecewa dan sedih.
Flash back
"Mama, nenek ikut aku sebentar. Ayah sudah tau hal ini, jadi dia tidak perlu ikut mendengarkan." Ucap Tomioka Shoto sambil berjalan ke lahan kosong di samping rumah tantenya Jesselyn.
Ibu dan Nenek Shoto pun mengikuti Tomioka Shoto ke lahan kosong di samping rumah Tantenya Jesselyn.
"Ada apa?" Tanya Ibu Shoto yang bingung sambil menatap Tomioka Shoto.
"Mama, nenek. Aku izin pergi ke Jepang dulu ya." Ucap Tomioka Shoto sambil menghadap ke arah mereka.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Ibu Shoto yang bingung sambil menatap Tomioka Shoto dengan tatapan tak percaya.
"Ada hal penting yang harus ku urus di sana." Ucap Tomioka Shoto dengan wajah serius sambil menatap Nenek dan Ibunya.
"Kau memutuskan untuk menikahi Suzuki Shinobu?" Tanya Nenek Shoto sambil tersenyum bahagia.
"Jangan pernah menyebut namanya di hadapanku!" Perintah Tomioka Shoto sambil menatap tajam neneknya.
"Kau lebih baik menikah dengannya. Dia masih suci sedangkan Jesselyn hanyalah barang bekas." Ucap Nenek Shoto sambil menganggukkan kepalanya dan menatap Tomioka Shoto dengan tatapan meremehkan.
"Ibu, jangan seperti itu!" Perintah Ibu Shoto yang merasa kaget sambil menatap ibunya.
"Itu kenyataan, Suzuki Shinobu pasti perawan. Sedangkan Jesselyn? Pasti dia memalsukan keperawanannya." Ucap Nenek Shoto sambil menatap sinis Tomioka Shoto.
Tomioka Shoto pun marah, tapi dia berusaha untuk mengontrol emosinya. Dia hanya mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya. Wajahnya juga tampak sangat merah, banyak sekali urat yang terlihat dari lehernya.
"Ibu, berhentilah!" Perintah Ibu Shoto yang merasa khawatir dengan Tomioka Shoto sambil menatap ibunya.
"Turuti aku atau aku akan marah!" Perintah Nenek Shoto sambil melipat kedua tangannya dan membalik badannya.
"Nenek mau aku mati?" Tanya Tomioka Shoto dengan lemas sambil menitikkan air mata.
"Aku tidak menyuruhmu mati! Aku menyuruhmu menikahi Suzuki Shinobu! Itu adalah hal yang sangat mudah, tapi tidak bisa kau lakukan!" Perintah Nenek Shoto sambil berteriak dan menghela nafas dengan kasar.
"Apakah kau sudah tidak bisa Berbahasa Jepang? Kau terlalu banyak bergaul dengan Orang Indonesia hingga lupa bahasa negaramu sendiri!" Tanya Nenek Shoto yang merasa sangat kesal.
"Dia, orang yang kau jodohkan denganku adalah pembully ku sendiri!!!!!" Ucap Tomioka Shoto sambil berteriak dan menangis.
"Mana mungkin dia melakukan hal kotor seperti itu!" Tegas Nenek Shoto yang marah dan langsung menghadap untuk menatap Tomioka Shoto dengan penuh ancaman.
"Kenapa nenek membela dia? Aku korbannya loh." Tanya Tomioka Shoto sambil melotot dan menatap neneknya.
"Karena.." Jawab Nenek Shoto yang belum selesai berbicara tapi dipotong oleh Tomioka Shoto.
"Karena dia memiliki jasa besar kepada keluarga kita? Yang memberikan jasa besar kepada keluarga kita hanya kakek dan ayahnya. Berhentilah untuk membuat mereka seolah mereka adalah orang yang paling suci di muka bumi ini!" Tegas Tomioka Shoto sambil berteriak dan menitikkan air matanya.
"Tapi sifat itu menurun secara genetik, tidak mungkin Suzuki Shinobu bisa berbeda sifatnya dengan leluhurnya!" Tegas Nenek Shoto sambil menatap Tomioka Shoto dengan penuh amarah.
"Jadi maksud nenek, sifat mereka sama semua?" Tanya Tomioka Shoto sambil menatap neneknya dengan penuh kekecewaan.
"Tidak, tapi ada kemungkinan besar untuk sifatnya sama." Jawab Nenek Shoto sambil mengangkat salah satu alisnya dan menatap Tomioka Shoto.
"Keluarga kita tidak ada yang bunuh diri kan?" Tanya Tomioka Shoto tersenyum pahit menatap neneknya.
__ADS_1
"Tidak." Jawab Nenek Shoto sambil menatap Tomioka Shoto.
"Aku tidak keberatan untuk menjadi yang pertama di keluarga kita." Ucap Tomioka Shoto sambil tersenyum dan menatap neneknya.
"Tidak boleh!" Perintah Nenek Shoto sambil menatap Tomioka Shoto dengan tajam.
"Jangan seperti itu, nanti Jesselyn gak ada pasangannya loh." Ucap Ibu Shoto yang berusaha membujuk Tomioka Shoto.
Tomioka Shoto hanya tersenyum tipis sambil menatap ibunya.
"Kalian sudah mempercayai ucapanku?" Tanya Tomioka Shoto sambil tersenyum tipis dan menatap nenek dan ibunya.
"Tidak, mana mungkin Suzuki Shinobu melakukan hal kotor seperti itu!" Tegas Nenek Shoto yang masih keras kepala.
"Ibu, percayalah." Ucap Ibu Shoto sambil menatap ibunya.
"Mana mungkin Suzuki Shinobu melakukan hal kotor itu, gunakan logika mu!" Tegas Nenek Shoto yang masih keras kepala sambil menatap anaknya.
Tomioka Shoto pun langsung membalikkan badannya dan membuka baju yang menutupi punggungnya.
"Lihat?" Tanya Tomioka Shoto sambil mengangkat bajunya yang menutupi punggungnya.
"Shoto, bekas luka apa ini? Sangat besar sekali." Tanya Ibu Shoto yang kaget.
"Bekas luka bakar dari air panas. Ini terjadi saat aku masih bersama pengasuhku setahun sebelum dia mengundurkan dirinya. Aku menyuruh pengasuhku untuk diam saja karena takut menganggu kerja sama kalian." Jawab Tomioka Shoto sambil menangis.
"Paling dia kena dari rumah." Ucap Nenek Shoto yang masih tak percaya.
"Ibu, aku tidak pernah meletakkan teko yang berisi air panas di meja, aku selalu meletakkannya di rak tinggi." Ucap Ibu Shoto sambil memegang bekas luka bakar tersebut.
Nenek Shoto pun tertegun.
"Aku punya bukti, tapi itu di Jepang." Ucap Tomioka Shoto sambil menurunkan bajunya.
"Bagaimana ayah bisa tau hal ini tapi tidak memberitahuku?" Tanya Ibu Shoto sambil menahan tangis dan menatap Tomioka Shoto.
"Aku menyuruh ayah untuk tutup mulut saat pengasuhku mengaku dan mengundurkan diri." Jawab Tomioka Shoto sambil menatap ibunya.
"Jadi, tolong izinkan aku ke Jepang sekarang." Ucap Tomioka Shoto sambil tersenyum.
"Baiklah." Ucap Ibu dan Nenek Shoto sambil menatap Tomioka Shoto.
End flashback
__ADS_1
Update setiap hari, pukul 20.00 WIB