
Kini Veronika yang bermain dengan Gavin sedang-kan para pria itu kini tengah duduk di sofa seraya membicarakan pekerjaan yang Veronika sendiri tidak paham dan memilih untuk tidak ikut campur.
Namun Veronika mendadak salah fokus kala melihat tanda merah di paha Gavin yang cukup besar, Veronika mengerutkan kening nya menatap tanda merah itu, itu bukan tanda lahir lantaran Gavin tidak memiliki tanda lahir.
Dan itu juga bukan gigitan nyamuk atau semut, Veronika pun menekan lembut pada tanda merah itu seketika Gavin menangis dengan kencang membuat Veronika sadar jika tanda itu mungkin saja terasa menyakitkan bagi bayi kecil itu.
“Seila, tanda apa ini? Kenapa bisa merah seperti ini?” tanya Veronika pada Seila, Seila pun segera menghampiri Veronika lalu menatap tanda merah yang Veronika tanyakan, mendadak wajah nya memucat kala melihat tanda itu.
Gadis itu tak menjawab ia hanya menatap paha Gavin yang terlihat kemerahan, apa yang harus ia katakan tidak mungkin ia mengatakan jika di gigit serangga karena jelas sekali bekas nya sangat berbeda.
“Jawab Seila! Kenapa paha Gavin jadi begini?” bentak Veronika jujur saja jika menyangkut soal Gavin ia akan sangat tegas, ia benar benar tidak suka jika Gavin terluka karena kelalaian seseorang sekalipun itu Kenzo.
Mendengar suara Veronika yang meninggi jelas saja para pria itu menoleh, mencari tahu apa yang sedang terjadi hingga Veronika terlihat sangat marah pada Seila, Kenzo pun menghampiri istri nya yang terlihat sangat marah pada pengasuh bayi mereka.
“Kenapa sayang? Kenapa kau marah?” tanya Kenzo pada Veronika, wanita itu tak menjawab, ia hanya melayangkan tatapan tajam pada Seila yang tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
“Jika kau tidak menjawab nya maka kau akan ku pecat!” ancam Veronika pada Seila hingga membuat gadis itu kini menatap Veronika penuh iba, ia masih membutuhkan pekerjaan itu untuk kelangsungan hidup nya di kota ini.
“Jangan pecat saya nyonya, saya masih butuh pekerjaan.”
Seila menggelengkan kepala nya cepat kala mendengar penuturan Veronika, berharap agar majikan nya itu memaafkan nya, namun Veronika tak peduli lantaran Seila yang tidak bisa memberikan alasan untuk apa yang terjadi pada Gavin.
“Sayang, memang apa yang dia lakukan?” tanya Kenzo pada Veronika, ia masih tak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada kedua wanita itu, namun yang jelas kesalahan yang Seila lakukan mungkin sangat besar hingga membuat Veronika sangat marah.
Veronika lantas memperlihatkan paha Gavin yang memerah pada Kenzo, ia juga mengusap nya sedikit namun bayi itu menangis seperti kesakitan, kini Kenzo tahu alasan kemarahan Veronika pada Seila.
“Kenapa paha Gavin bisa seperti ini?”
__ADS_1
Kini giliran Kenzo yang bertanya, namun lagi lagi Seila hanya menunduk seraya menggelengkan kepala, ia tak tahu apa yang terjadi pada bayi itu ia bahkan tak menyadari jika ada tanda merah di paha Gavin.
“Saya tidak tahu tuan, saya benar benar tidak tahu, tadi malam tidak ada yang terjadi pada Gavin.” jelas Seila.
Namun mendadak Kenzo teringat saat Seila membawa Gavin yang sedang menangis ke kamar nya, apa mungkin alasan bayi itu menangis lantaran merasakan sakit di paha nya? Tapi kenapa paha nya bisa menjadi seperti itu? Bahkan Seila juga tidak tahu alasan nya.
“Nyonya tolong jangan pecat saya nyonya, kasihan keluarga saya di kampung.” ucap Seila memelas pada Veronika, wanita itu masih diam namun ia juga tidak tega mendengar keluhan Seila.
Veronika akhir nya mengangguk, memaafkan kesalahan gadis itu dan menjadikan ini kesalahan pertama dan terakhir nya, ia tak ingin lagi jika Gavin kembali terluka dan Seila tidak tahu apapun padahal ia di bayar untuk menjaga bayi itu.
“Terima kasih nyonya.” ucap Seila pada Veronika, beruntung majikan nya itu masih mau memaafkan kesalahan nya, jika tidak mungt dia akan kembali merasa kesulitan mencari pekerjaan di kota besar ini.
Kenzo kemudian meminta Seila untuk membawa Gavin ke dalam kamar nya dan mengobati bayi itu, Seila pun menurut lalu membawa Gavin ke dalam kamar untuk mengobati paha bayi itu.
“Kau masih marah?” tanya Kenzo.
Veronika mengangguk, jelas ia masih marah pada Seila karena hal ini menyangkut Gavin, saat diri nya yang merawat Gavin ia tak pernah membiarkan seekor semut pun menyentuh Gavin, tapi sekaeangt lihat lah entah apa yang mengigit Gavin hingga memerah seperti itu.
Kenzo pun hanya tersenyum seraya menarik Veronika ke dalam pelukan nya, menenangkan istri nya itu agar tidak lagi marah, ia mengangkat wajah Veronika lalu mengecup bibir Veronika dengan lembut.
“Ya tuhan Ken! Liat sekeliling dulu dong kalau mau romantisan!” sentak Daniel kala tanpa sengaja melihat ke mesraan kedua pasangan suami istri itu, jujur saja jiwa jiwa iri dengki di hati nya kini meronta ronta ingin mendapat hal yang sama seperti Kenzo.
Veronika pun mendorong tubuh Kenzo kala menyadari masih ada Daniel dan Genta di sana, ia juga menepuk pelan lengan Kenzo lantaran lagi lagi berhasil mencuri kecupan nya dengan cara curang.
“Sirik aja Lo!” ucap Kenzo pada Daniel.
.
__ADS_1
.
.
Sedangkan di dalam kamar Gavin, Seila kini menatap bayi itu yang tengah berada di atas kasur, ia menatap paha Gavin yang memang sangat merah bahkan hampir membiru, Seila mengigit bibir nya takut ia benar benar tak menyangka jika kulit Gavin benar benar sangat sensitif.
“Kenapa bisa sampai seperti ini? Padahal aku hanya mencubit nya sedikit saja.”
Ya memang Seila yang menyebabkan paha Gavin memar seperti itu lantaran bayi itu yang tak kunjung tidur padahal jam menunjukkan sudah malam, ia kesal hingga mencubit paha Gavin namun ia tak menyangka jika cubitan nya akan berdampak seperti itu pada Gavin.
Namun ia juga merasa beruntung lantaran mencubit bayi itu sehingga ia bisa melihat pemandangan yang sangat jarang ia lihat di kampung nya, tentu perut kotak kotak yang di miliki Kenzo, yang sempat ia lihat kemarin malam.
Seila yang geram lantaran hampir di pecat pun menekan memar di paha Gavin hingga membuat bayi itu menjerit lantaran merasa sakit, namun Seila tak merasa bersalah sedikit pun lantaran ia menganggap jika itu memang kesalahan bayi kecil itu.
“Lain kali kalau sudah waktu nya tidur ya tidur, jangan ngajak main terus!” ucap Seila pada Gavin yang mungkin belum mengerti apa yang sedang ia katakan.
Gavin terus saja menangis namun Seila justru memaksa nya untuk minum susu agar bayi itu terdiam, entah memang karena haus atau lelah menangis namun Gavin saat ini lebih tenang dan meminum susu yang Seila berikan pada nya.
“Kalau begini aku harus lebih hati hati, jangan sampai si Vero itu memecat ku, kemana lagi aku bisa mendapatkan pekerjaan dan majikan yang tampan seperti tuan Kenzo.” ucap seila membatin menatap Gavin yang tengah menyedot susu di botol.
“Seperti nya jika bisa menggantikan posisi nyonya Vero hidup ku akan sangat berubah 100 persen, apa aku coba menggoda tuan Kenzo saja? tidak mungkin dia tidak tertarik pada tubuh ku yang menggoda ini bukan?”
Lagi lagi Seila memimpikan ingin memiliki Kenzo, ia tak tahu saja jika Kenzo bukan tipe pria yang akan tertarik dengan wanita lain dengan sangat mudah, karena hal itu hanya bisa di lakukan oleh Daniel saja.
.
.
__ADS_1
.
Halo Author up lagi nihh, jangan lupa dukungan nya buat Author ya yang udah rajin up demi pembaca setia VENZO🥺🥰🤣