
Keesokan hari nya di kediaman Kenzo, kini pria itu tengah menikmati sarapan pagi nya di temani Veronika dan juga baby Gavin, entah setan apa yang merasuki Kenzo hingga meminta Veronika menemani nya makan.
Meskipun merasa aneh namun Veronika tetap menuruti permintaan Kenzo, Gavin juga terlihat sangat ceria pagi ini, tak ada terdengar suara tangisan dari bayi itu, mungkin ia merasa bahagia lantaran bisa menemani sang Daddy sarapan.
“Mbak, mau antar makanan buat kak Sagara ya?” tanya Veronika kala melihat Ratmi yang melewati mereka dengan sebuah nampan yang berisi makanan di tangan nya.
Ratmi mengangguk tersenyum menanggapi ucapan majikan nya itu, lalu kembali melanjutkan langkah nya menuju kamar yang tamu majikan nya tempati, Sedangkan Kenzo kini menatap tak suka pada Veronika lantaran merasa jika wanita itu memperhatikan teman nya.
“Kenapa memperhatikan Sagara?” tanya Kenzo membuat Veronika mengerutkan kening nya
Memperhatikan apa nya? Wanita itu hanya bertanya dan tidak berniat untuk mengantar kan atau bahkan menyuapi Sagara makan.
“Tapi aku hanya bertanya.” ucap Veronika sedikit kesal pada Kenzo yang terlalu berlebihan menurut nya.
“Aku tidak suka, mulai sekarang jangan tanya apapun tentang Sagara.”
Ya Tuhan rasa nya saat ini Veronika ingin sekali melempar sendok di wajah tampan Kenzo, sikap nya benar benar membuat Veronika merasa jengah, jika saja tidak sedang menggendong Gavin, mungkin Veronika sudah membantah keras sejak tadi.
Setelah menyelesaikan sarapan nya, Kenzo pun pamit ke kantor dengan Veronika yang mengantar kepergian nya hingga di depan pintu, namun sebelum pergi pria itu kembali mengingatkan Veronika untuk tidak mendekati Sagara.
“Ingat ucapan ku, jangan dekat dekat dengan pria itu.”
Veronika hanya memutar bola mata malas, terserah apa kata pria ini, toh ia sudah terbiasa mendapat tuduhan yang tidak tidak dari nya, jadi jika ia kembali di tuduh rasanya tidak begitu sakit.
Setelah keberangkatan Kenzo, Veronika pun membawa baby Gavin berjemur di halaman belakang seperti biasa nya, kali ini tak begitu lama lantaran hari yang hampir siang, namun saat akan memasuki rumah Veronika mendengar teriakan dari kamar yang Sagara tempati.
Sontak wanita itu bergegas menuju kamar pria itu dan melihat jika Sagara kini tengah terduduk di lantai seraya meringis kesakitan, Veronika yang terkejut pun meletakkan Baby Gavin di tempat tidur dan membantu Sagara untuk kembali ke tempat tidur.
“Kakak baik baik saja?” tanya Veronika setelah Sagara kembali ke tempat tidur nya, Sagara mengangguk pelan masih dengan raut wajah kesakitan.
Veronika yang tak percaya pun memeriksa lengan Sagara yang berdarah, kemungkinan luka nya kembali robek akibat terjatuh, Veronika pun mengambil kotak obat dan membalut luka Sagara dengan perban baru.
Sedangkan Sagara hanya menatap Veronika yang tengah mengobati luka nya, cantik, baik hati pantas saja banyak yang jatuh hati pada nya, pikir Sagara. Tanpa di sadar sudut bibir nya melengkung membentuk senyuman.
“Terima kasih.” ucap Sagara setelah Veronika selesai mengobati luka nya, Veronika hanya mengangguk lalu tersenyum tipis menatap Sagara, bagaimana pun ia juga ingat ucapan Kenzo sebelum berangkat kerja.
__ADS_1
Veronika pun kembali menggendong baby Gavin dan membawa nya keluar dari kamar itu namun segera di tahan oleh Sagara.
“Veronika.” ucap Sagara, Veronika pun menghentikan langkah nya lalu berbalik menatap Sagara.
“Apa aku boleh melihat nya?” tanya Sagara membuat Veronika mengernyitkan dahi, melihat? Melihat apa maksud nya? Pikir Veronika.
Sadar jika Veronika merasa kebingungan, Sagara pun kembali melanjutkan ucapan nya.
“Gavin.” sambung Sagara.
Veronika menatap Gavin lalu menatap Sagara kemudian mengangguk, ia pun kembali berjalan menuju ranjang dan meletakkan Gavin di samping Sagara.
“Terima kasih.” ucap Sagara lagi.
“Tidak masalah.”
“Tapi aku benar benar ingin berterima kasih.” ucap Sagara dan tentu hal itu membuat Veronika kembali bingung, namun ia tak ingin terlalu memikirkan nya dan hanya mengangguk saja.
.
.
.
Pria itu kini menelpon ke telepon rumah nya, tak butuh waktu lama panggilan nya pun tersambung dan di angkat oleh asisten rumah nya, Kenzo pun segera menanyai keberadaan Veronika lantaran wanita itu tak mengangkat telepon nya.
“Sebentar tuan saya cek di kamar nyonya dulu.” ucap Asih lalu berjalan menuju kamar Veronika namun keberadaan majikan nya itu tak di temukan, Asih bahkan mencari keseluruh lantai atas itu namun tetap tak menemukan majikan nya.
“Ma- maaf tuan, nyonya tidak ada di kamar nya, saya bahkan mencari nya ke seluruh lantai atas tapi tidak ada.” ucap Asih sedikit takut lantaran ia tahu bagaimana majikan nya itu.
Mendadak perasaan nya tidak enak, pria itu pun memilih untuk pulang dan mencari keberadaan Veronika sendiri, tak terpikirkan oleh nya jika Veronika berada di kamar Sagara lantaran ia juga lupa jika Sagara kini berada di rumah nya.
“Kemana dia pergi? Kenapa tidak izin?” gumam nya selama di perjalanan.
Dengan kecepatan kilat, tak butuh waktu lama untuk mobil yang ia tumpangi sampai di kediaman nya, pria itu bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Veronika namun yang ia temukan hanya ponsel wanita itu.
__ADS_1
Kenzo kembali turun ke lantai bawah hendak mencari istri nya di halaman belakang namun saat akan melewati dapur ia melihat Veronika yang keluar dari salah satu kamar di sana dengan pakaian yang sedikit basah tepat di bagian dada nya.
“Veronika!!” sentak Kenzo membuat wanita itu terkejut.
“Kak, kau pulang? kenapa cepat sekali?” tanya Veronika yang merasa aneh lantaran Kenzo pulang sangat awal, apa karena ada yang ketinggalan? pikir Veronika.
Kenzo segera menghampiri istri nya itu, tatapan nya tertuju pada pakaian Veronika.
“Sedang apa kau di dalam sana?” tanya Kenzo.
“Ah, tadi aku mendengar suara kak Sagara, dan aku..”
“Sagara?” timpal Kenzo dan di balas anggukan oleh Veronika, melihat tatapan Kenzo seperti nya pria itu akan marah besar pada nya lantaran melanggar perintah Kenzo.
Kenzo segera menarik tangan Veronika dengan kasar dan membawa wanita itu ke dalam kamar nya, ini kali ke dua pria itu membawa Veronika ke dalam kamar nya dan dengan perasaan yang sama, tentu saja emosi.
Kenzo menghempas tubuh Veronika dengan kasar ke ranjang nya, tangan nya kembali mencengkeram pergelangan tangan Veronika dengan kasar membuat wanita itu meringis kesakitan.
“Bukan kah sudah ku katakan untuk tidak mendekati nya?!” sentak Kenzo.
Veronika hanya bisa memejamkan mata mendengar suara keras yang keluar dari mulut Kenzo, tatapan pria itu memerah seolah olah ingin menerkam nya saat ini juga.
“A-aku hanya membantu nya kak.” ucap Veronika jujur.
“Dimana dia menyentuh mu? di sini? atau di sini?” ucap Kenzo seraya menyentuh tubuh Veronika.
“Kak, apa yang kau katakan? menyentuh apa?!” Sentak Veronika tak terima.
Kenzo yang tersulut emosi pun membungkam mulut Veronika dengan bibir nya tentu saja dengan paksaan dan Veronika yang kini memberontak lantaran merasa sakit akibat sikap kasar Kenzo pada nya.
“Di mana lagi?” tanya Kenzo setelah melepaskan tautan nya, pria itu bahkan mengigit bibir Veronika, terlihat dari darah yang keluar dari bibir wanita itu.
“Cukup!”
.
__ADS_1
.
.