Come A Closer Love

Come A Closer Love
100


__ADS_3

Menjelang pagi, Marwah terbangun dari tidurnya. Perlahan ia mencoba sadar dari kantuknya dengan melihat sekeliling ruangan yang ia kenal kamar utama milik Erwin.


Perlahan Marwah pun bangun dari tidurnya dengan terduduk di atas tempat tidur itu lalu melihat pada sisi sampingnya yang kosong. Lama ia terdiam memandang nanar pada sisi tempat tidurnya yang kosong.


Pikiran berkecambuk, hingga akhirnya ia turun dari tempat tidur itu dengan lemah. Ia meninggal kamar itu dengan berharap mungkin Erwin masih ada diluar kamar.


Pelan ia keluar dari kamar itu dengan hati yang harap-harap cemas. Ia berjalan pelan menuju ruang TV dengan melihat sekitar yang hening. Lalu ia melepaskan nafasnya yang berat seraya kedua matanya melihat sebuah amplop diatas meja depan Sofa kenangan mereka.


Melihat amplop tersebut Marwah berjalan cepat hingga duduk dengan segera dan meraih amplop itu dengan terburu. Ia memandang dengan ragu pada amplop coklat itu, namun dengan menghela nafas panjangnya ia pun membuka amplop tersebut dengan perasaan was-was.


Ia membuka amplop tersebut dengan mengeluarkan isinya dengan bingung melihat beberapa kertas yang ia letakkan begitu saja diatas meja lalu ada sebuah amplop kecil didalamnya.


Ia melihat dengan wajah datar pada amplop kecil berwarna purple itu. Jemarinya mulai menbuka amplop itu dengan menarik selembar kertas yang terlipat rapi dan membukanya seraya membaca pada tulisan yang terlihat rapi.


" kau memberikan cinta yang luar biasa, karena itu aku mengucapkan terima kasih," kak Mummy milik Marwah.


Tap..tap.., tanpa sadar air mata Marwah jatuh begitu saja. Dan berlahan ia memejamkan kedua matanya.


" kenapa?? kenapa berpamitan??," isak tangis Marwah yang memandang surat itu.


" kenapa berterima kasih??, padahal Marwah tak melakukan apa pun untuk mu mas," ucap Marwah dengan pilu.


Dan akhirnya ia menangis sendiri diruangan dengan hati yang pilu.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Hampir 2 minggu setelah ke pergian Erwin yang membawa semua kebahagian Marwah. Kini Marwah mencoba menata kembali hari-harinya untuk terbiasa tanpa bayang-bayang Erwin.


Hari-harinya di sibukkan dengan membuat roti dan cake premium pesanan pelanggan. Ia mencoba menyibukkan diri dengan resep-resep cake yang rumit. Bersenda gurau dan menghibur diri dengan mengobrol bersama karyawan toko juga pelanggan, seolah ia ingin menghilangkan kesepian.


Namun hal itu tak bertahan lama, karena disetiap malamnya Marwah akan kembali termenung hingga pada akhirnya ia tak bisa tidur malam yang mengakibatkan ia insomnia.


Hingga hal tak terduga terjadi pada siang itu, seluruh karyawan dikagetkan dengan Marwah yang jatuh pingsan di rumah atasnya.


Mendengarkan hal itu, kak Safa terserang panik hingga menelfon mama Wulan dan papa Evan yang telah kembali ke bandung.


Dan yang mengejutkan kak Safa adalah diagnosa dokter yang menangani Marwah yang mengalami dehidrasi dan kekurangan gizi hingga ia terlihat lebih kurus.


" apa adik dr. Safa tengah ada masalah???, " tanya dokter Sarah pada Safa.


" hhmm, dia sedang mengalami kesedihan dan kehilangan," jawab Safa dengan memandang wajah kembarannya yang terlihat kurus dan pucat.


dr. Sarah mengangguk paham.


" temani adik anda dokter, berbahaya jika ditinggal sendiri," saran dr.Sarah


" baik dokter terima kasih," balas Safa seraya duduk di sisi ranjang Marwah dan membelai wajah kembarannya.


Lama Safa memandang cemas wajah Marwah.


" kau benar-benar sok kuat," ucap kak Safa dengan menatap sedih wajah kembarannya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Malam harinya, terdengar derap langkah cepat menuju ruang kamar Marwah berada. Dan


Braaak.., terdengar daun pintu itu dibuka kasar oleh papa Evan yang terlihat panik.


Sehingga Marwah dan kak Safa terkaget, melihat pada papa Evan yang masuk dengan wajah panik.


" kamu?? kamu kenapa??, apa yang sakit?," tanya papa Evan bertubi-tubi dengan tanganya memegang wajah dan pundak putrinya yang terlihat syok.


" pah??..papa??," seru Marwah menyadarkan papa Evan yang panik.


" APA??," sahut papa Evan kencang hingga membuat Marwah dan kak Safa terkesiap.


Marwah menatap ragu wajah papa Evan. Dan ia sedikit melirik pada mama Wulan yang cemas.


" Marwah.., Marwah baik-baik aja kok pah," ucap ragu.


Sesaat ruangan itu hening seketika.


Dan terdengar hela nafas panjang papa Evan dengan berat.


" syukurlah," ucap papa Evan pelan lalu ia tersadar memegang pundak putrinya dengan kuat.


" ah, maafin papa," ucapnya dengan mundur perlahan.


Namun tangan Marwah menahan.


" maaf ya pah, Marwah buat papa dan mama cemas," ucapnya bersedih.


Mendengar hal itu, dengan insting nya papa Evan memeluk penuh sayang pada putrinya yang bersedih.


Kak Safa dan mama Wulan pun ikut terharu melihat keduanya.


Setelah hampir 3 jam menemani, akhirnya kak Safa dan mama Wulan pulang. Karena sudah terlalu malam dan Mecca sudah terlalu lama ditinggal dengan baby sister.


Sehingga papa Evan memilih untuk tetap tinggal dan menemani putrinya yang terlihat lebih baik setelah menghabiskan 1 botol infus.


Marwah yang tertidur di bad pasien memandang wajah papanya yang terlihat duduk santai di sofa dengan serius membaca buku biografi.


Entah mengapa melihat hal itu, Marwah perlahan turun dari tempat tidur pasien dan berjalan menuju sofa dan duduk disisi samping papa Evan yang terlihat sedikit terkejut.


" kenapa kemari?? ayo tidur sana?," ucap papa Evan dengan menutup buku bacaannya.


" gak ah, Marwah mau duduk disini sama papa," ucapnya dengan sedikit turun dan tiba-tiba memeluk tubuh papanya dengan manja, sehingga papa Evan sedikit tersenyum kecil melihat tingkah putrinya yang masih tak banyk berubah dengan manjanya.


" kamu ini yaa?? udah besar loh??," celetuk papa Evan dengan menepuk-nepuk pundak Marwah lalu kembali membaca buku biografi itu.


Marwah hanya tersenyum kecil namun ia tetap memeluk erat papa Evan.


" papa baca apa???," tanya Marwah dengan ikut melihat pada buku itu.


" hmm ini, biografi orang hebat," jawab papa Evan santai lalu kembali serius membaca.


" oh," jawabnya


Lalu suasana hening kembali. Dengan Marwah menantap nanar pada buku itu lalu ia menelan salivanya dengan berat.


" pah??,"


" hmm," gumam papa Evan dengan masih fokus pada bacaannya.


Dan Marwah tersenyum simpul, ia jadi mengingat bahwa Erwin juga akan menjawab dengan bergumam. Namun ia pun mencoba menghela nafas panjangnya.


" pah??," panggilnya pelan.


" Marwah boleh minta sesuatu gak??,"


" minta apa??? kamu kan udah besar??," jawab papa Evan santai.


Marwah kembali tersenyum kecil. Namun seketika ia terlihat sedih.


" hmm.., Marwah..,, Marwah mau pergi, " ucapnya ragu dengan suara sedikit parau.


Papa Evan terkejut.


" apa??," ucap papa Evan bingung.


" pergi? kemana? liburan??," tanya papa Evan


Marwah terdiam sesaat.


" enggak," jawab Marwah sedikit bergetar.


" Marwah mau ke Singapur dan tinggal disana,"


Papa Evan terkejut, dan ia merasakan jika putrinya akan menangis.


" apa maksud kamu?," tanya papa Evan yang mencoba melihat pada wajah Marwah yang tertunduk menghindar.


" Maaf pah, maaf.., " ucap Marwah bergetar


" Marwah udah berusaha untuk melupakan tapi, rasanya itu gak mungkin..,"


Isak tangis Marwah pun terdengar pilu di hati papa Evan.


" apa yang harus Marwah lakukan pah?? jika menutup mata saja wajah mas Erwin terus terlihat nyata bagi Marwah," ucapnya pilu.


Papa Evan pun memeluk tubuh putrinya dengan sedih.

__ADS_1


" bagaimana pah??," ucap Marwah menangis.


" bagaimana Marwah jalanin hari-hari Marwah pah??" tangis Marwah pecah dipelukan papa Evan.


Papa Evan diam seribu kata, ia hanya mendengar tangis putrinya yang pilu.


"putriku sayang, Marwah.."gumam batin papa Evan.


Dan malam itu menjadi mengharukan, papa Evan pun melihat kenyataan cinta putrinya yang menyedihkan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Dua minggu pun berlalu, Marwah yang telah pulih terlihat tengah merapikan lemarinya. Namun tangannya terhenti ketika melihat beberapa stelan pakaian yang dibelikan Erwin beberapa waktu yang lalu.


Ia sedikit tersenyum mengenang wajah marah Erwin pada SPG yang meremehakan dirinya. Ia pun kembali tersenyum kecil ketika mengingat kata-kata Erwin yang tengah marah-marah pada SPG itu.


" bungkus semua pakaian wanita ukuran istri saya tadi!!!," ucap Erwin


Namun seketika senyum itu hilang dengan wajah tegar nya ia mengeluarkan baju-baju itu lalu ia masukkan kedalam kotak besar.


Setelah selesai membereskan lemarinya, ia pun beralih melihat pada rak sepatunya. Dan lagi-lagi ia terpaku lama memandang dua sepatu pemberian Erwin, ia pun jadi mengenang kembali kejadian waktu itu bahkan ucapan Erwin yang mendebarkan hatinya pun ikut kembali terbayang.


" kamu tau?? kamu harus memakai hal yang bagus, agar bisa berjalan ketempat yang membuatmu bahagia," ucap Erwin tersenyum pada Marwah.


Marwah meraih sepasang sepatu yang cantik dan memandang sedih pada sepatu itu. Lalu perlahan ia memeluknya dengan wajah sedih.


" aku akan membawamu, agar kamu bisa membawa aku ketempat yang membuat aku bahagia," ucapnya sedih.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Siang harinya ia kedatangan tamu, Dinda datang dengan mengejutkan.


" Dinda?,"


" lo benar-benar susah dihubungi yaa!!," ucap Dinda kesal.


" kalau bukan karena kak Safa yang kasih tau, mungkin gue gak bisa ketemu lo lagi,"


Marwah tersadar, bahwa ia sedikit lupa dengan handphone nya.


" ah, maaf yaa..," ucap Marwah simpul.


Melihat wajah Marwah yang sendu membuat ia merasa bersalah.


" ayo sini, gue traktir coklat hangat dan dessert sebagai gantinya," ucap Marwah berusaha tenang.


" makasih," sahut Dinda yang kemudian ikut berjalan menuju mini cafe dr. Dessert.


Setelah duduk dan tak lama seorang pelayan datang dengan pesana secangkir coklat hangat dan tiramisu cakenya dihadapan Dinda.


Dinda hanya memandang wajah Marwah yang terlihat sedikit sembab, ia jadi mengingat cerita Johan, bahwa Direktur Aritama itu kini telah pergi meninggalkan Indonesia.


" Marwah??,"


" kamu baik-baik saja?," tanya Dinda memandang khawatir pada Marwah.


Dengan ragu Marwah mencoba sedikit tersenyum.


" aku baik-baik aja kok, jangan cemas," ucap Marwah pelan.


Dinda tersenyum simpul.


" maaf, sepertinya gue langsung pulang aja," ucap Dinda yang bangun dengan menarik sesuatu dari bangkunya.


Marwah terkejut.


" kenapa pulang?," ucap Marwah menahan sehingga menjatuh sesuatu dari tangan Dinda.


Sehingga Marwah terkaget. Sehingga ia reflek bangun dan membantu Dinda untuk mengakat sebuah box yang terlihat seperti koper mini.


" gak papa Marwah" ujar Dinda dengan sedikit turun dan mengambìl koper mini tersebut. Perlahan ia menaruh koper mini itu di atas meja dan terlihat Marwah bingung.


" ini apa??" tanya Marwah penasaran.


Mendengar pertanyaan Marwah, Dinda sedikit merasa bersalah.


" maaf yaa, gak seharusnya gue bawa kemari, ini adalah album lo dan Direktur, " jelas Dinda sedih.


Perlahan ia membuka koper mini itu yang berdesain elegan. Ia mengambil album yang tertulis namanya dan Erwin dengan title " Propose ". Marwah membawa album itu dan duduk kembali dikursinya. Jemarinya pun mulai membuka lembaran album itu dengan hati bergetar.


Dan kembali satu persatu moment itu tercetak indah di lembaran foto bagai cerita cinderella.




Dinda melihat wajah kesedihan Marwah menatap lembaran foto itu.


" Waktu itu Direktur datang pada ku, dan merencanakan hal ini dengan mendadak," kenang Dinda.


Wajah Marwah tersenyum melihat lembaran foto itu.




Jemari Marwah mengusap foto Erwin dengan senyum sedihnya dan terhenti pada sebuah kalimat dibawah foto itu.


" wanita yang memberikan cinta yang aku inginkan adalah kamu, wanita yang selalu aku rindukan adalah dirimu. Bukan karena kamu yang membutuhkan aku, tapi.., karena rasa cinta ku padamu, sehingga aku yang membutuhkan dirimu," Erwin untuk Marwah.


Seketika wajah haru Marwah terlihat disana dan ia pun memutup lembaran album itu dengan dengan tersenyum bahagia pada Dinda.


" Terima kasih, karena mewujudkan keinginan mas Erwin," ucap Marwah bergetar pada Dinda dengan diiringi air mata yang jatuh.


Dinda terpaku, dan dengan segera memeluk tubuh Marwah.


Dan tanpa sadar Dinda pun ikut menangis bersama Marwah yang berusaha memenangkan dirinya.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Sore harinya, untuk pertama kalinya Marwah kembali di Sunrise hotel, setelah kepergian Erwin. Hotel itu kini menjadi populer berkat para selebgram yang masih memperomosikan Sunrise hotel.


Ia berjalan pelan menuju pintu utama hotel yang disambut ramah oleh pelayan hotel yang menyapa.


" sore mbak Marwah, lama gak keliatan,"


" sore, ah yaa.., selamat bekerja," balas Marwah seraya berjalan kedalam hotel dan tak jauh langkahnya pun terhenti di tengah ruangan hotel yang mulai menghidupkan lampu ruangan.


Terdengar beberapa pelayan hotel nyapa Marwah dengan wajah bahagia dan mendekat sehingga mereka terlibat obrolan kecil. Namun tak lama kedua pelayan hotel pun kembali bertugas dengan meninggalkan Marwah yang berjalan menuju resepsionis hotel.


Dan lagi-lagi ia disambut ramah oleh pegawai hotel.


" sore mbak Marwah, apa kabar?? kami semua pada rindu sama mbak Marwah," ucap seorang wanita resepsionis.


Marwah hanya tersenyum simpul.


" saya juga rindu sama kalian, gimana selama ini hotel??," tanya Marwah.


" sejuah ini luar biasa mbak, tamu-tamu puas dan mereka bahkan telah menjadi member VIP hotel," jelas wanita resepsionis itu semangat.


" waah, syukurlah, senang rasanya," ucap Marwah pelan.


Namun tiba-tiba seorang teman resepsionis mendekat sehingga mengagetkan keduanya.


" Mbak Marwah, kenapa baru kemari?? kita sedih loh mbak gak di hotel lagi," ucapnya dengan nada sedih.


Marwah hanya bisa tersenyum simpul.


" oia mbak, ada sesuatu untuk mbak," ucapnya dengan menyikut temannya.


" apa?," tanya Marwah


" sebentar mbak, ayo lo ikut gue bentar," ucapnya seraya menarik temannya itu untuk ikut dengannya.


Marwah hanya tertawa kecil melihat tingkah keduanya.


Selang beberapa saat kepergian kedua resepsionis itu. Tiba-tiba suara telfon berdering di meja resepsipnis itu. Marwah yang mendengar pun sedikit bingung, ia melihat pada dua pegawai resepsionis lain yang tengah menerima tamu.


Sehingga dengan berat ia pun mengangkat telfon tersebut.


" hallo, Sunrise Hotel, ada yang bisa saya bantu?," ucap Marwah sopan.

__ADS_1


Namun tak jauh dari ia berdiri terlihat sepasang kekasih berjalan dengan bercanda, lalu terdengar debat kecil disana.


Sehingga si wanita terlihat kesal dan reflek tangannya mencubi pinggang si pria. Dan si pria pun bereaksi.


" aaah.., sakit sayaaang," ucap pria itu manja pada wanita yang didepannya dengan bersama melewati Marwah yang terpaku melihat keduanya.


Marwah seolah mengingat tiap cubitannya pada pinggang Erwin. Sehingga Marwah mengantung telfon itu dengan tanpa ia sadar air matanya jatuh seketika.


Tak lama kedua resepsionis itu kembali dengan memanggil Marwah yang diam terpaku.


" mbak Marwah???,"


" mbak Marwah?," panggil wanita resepsionis itu dengan sedikit mengangetkan lamuna Marwah.


Dan keduanya terkaget ketika melihat air mata di wajah Marwah.


" mbak Marwah menangis?, kenapa?? apa sesuatu terjadi??" ucap teman resepsionis itu dengan terpaku dan mencoba mengambil telfon dari tangan Marwah.


Marwah tersadar, dan seketika menyeka air matanya dengan canggung.


" ah, maaf, saya kedalam dulu yaa," ucapnya meninggalkan kedua resepsionis itu yang tersadar lupa memberi surat yang ditujukan untuk Marwah.


Setelah meninggalkan resepsionis, kini Marwah masuk kedalam ruang manajer hotel. Ia masuk dengan sedikit mengetuk dan seketika disambut oleh rekan-rekan kerjanya disana.


Senyum Marwah kembali terkembang, obrolan serta cerita seputar Sunrise hotel cukup menghibur Marwah. Dan ia puas, hasil kerjanya membuahkan hasil hingga akhirnya ia berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya.


Ketika langkahnya keluar dari ruangan itu, ia berpikir sejenak. Namun pada akhirnya ia tak bisa membohongi hatinya, sehingga langkah kakinya berjalan menuju rooftop hotel, tempat favorit Erwin.


Dan ketika ia berada di rooftop hotel, Marwah di sambut dengan angin malam yang sejuk. Ia melangkah pelan untuk berada di tengah tempat itu. Sesaat ia menikmati view malam hari ibu kota yang indah dengan lampu malam.


Hela nafasnya pun terhembus seolah membuang gundahnya. Ia sedikit bernelangsa jauh mengingat moment bersama Erwin di rooftop hotel.


Dari ciuman di pagi hari hingga, pernyataan cinta Erwin yang membuatnya tak berkutik dengan ucapan Erwin yang masih terngiang jelas dibenaknya.


"aku jatuh cinta pada mu, jadilah milik ku, Marwah," ucap Erwin.


Dan Marwah tersenyum simpul mengenang ucapan Erwin.


" maaf," ucap Marwah pelan dengan mencoba menahan air matanya lagi.


" untuk hatiku yang tiba-tiba rindu," ucapnya terhenti.


" karena terbiasa tanpa mu itu butuh waktu," gumam hatinya.


Dengan menghirup udara malam, Marwah menutup matanya membayangkan Erwin. Dan perlahan matanya terbuka dan ia melihat sosok Erwin berdiri di hadapannya dengan tersenyum hangat.


Marwah tersenyum melihat pada Erwin yang tak berubah.


" apa mas sehat???,"


" hmmm," gumam Erwin.


Marwah tersenyum pilu dan ia mengangguk pelan seolah tak ada kata yang bisa ia ucapkan.


" selamat tinggal, Erwin Arimata, " ucap Marwah tegar menatap wajah Erwin.


"selamat tinggal, Marwah," ucap Erwin dengan perlahan menghilang dari hadapan Marwah.


πŸƒπŸƒπŸƒ


Keesokan paginya, Marwah yang kini berada dibandara dengan di antar oleh kak Safa, mama Wulan dan papa Evan. Bergantian berpelukan perpisahan.


" jaga kesehatan," ucap kak Safa dengan berat melepaskan kembarannya.


" hmmm," gumam Marwah seraya mencium keponakannya.


Lalu ia memeluk mama Wulan.


" mama pasti kangen sama kamu," ucap mama wulan dengan menitikkan airmata perpisahan.


" Marwah juga, pasti akan selalu kangen mama, Marwah usahakan untuk kasih kabar sama mama, love you mah, i love you so much," ucap Marwah dengan menyeka air mata mama Wulan.


Lalu ia pun beralih memeluk papa Evan.


" pah??,"


" maafkan Marwah ya, teima kasih untuk segalannya," ucap Marwah berat dengan mengangis.


" ya, jaga diri, inget pesan mama dan papa, dan titip salam untuk mami Eva dan Zerin," ucap papa Evan dengan memberikan ciuman dikening putrinya.


Dan berlahan akhir Marwah berjalan masuk kedalam ruangan keberangkatan.


πŸƒπŸƒπŸƒ


4 bulan berlalu...,


Disinar pagi yang cerah, terlihat seorang pria berdiri dengan memandang indahnya pemandangan pagi yang terlihat matahari baru menyinari bumi dengan warna yang indah.


Erwin berdiri dengan tak sadar pria itu berdiri disamping dirinya dengan senyum hangat terkembang.


" mentari yang indah," ucap pria itu.


" ya ayah, mentari yang indah, udah lama Erwin gak lihat mentari secantik ini,"


Hening sesaat diantaran keduanya dengan menikmati suasana pagi.


" ayah,"


" maafkan Erwin," ucap Erwin melihat pada sosok ayahnya yang ia rindukan.


Ayahnya dengan bangga menepuk pundak Erwin.


" kamu sudah lalukan yang terbaik, ayah bangga sama kamu," ucap ayah dengan wajah bahagia.


" bisa kah Erwin ikut ayah???," pinta Erwin berharap.


Ayah melihat dengan wajah tak berekspresi.


" Erwin lelah ayah," ucap Erwin dengan sedikit tertunduk.


Dengan tak terduga ayah memberikan tangan pada Erwin. Dan Erwin terpaku.


" mungkin sudah waktunya kamu untuk ikut ayah," ucap Ayah dengan senyum hangatnya.


Erwin pun tanpa ragu hendak meraih jemari ayahnya. Namun tiba-tiba tangan nya di tarik oleh seorang gadis kecil berambut panjang.


" kak Mummy, JAHAT!!," rengek gadis kecil itu dengan menangis dan menarik tangan Erwin.


Erwin terkaget.


" kak Mummy JAHAT!!, kak Mummy gak tepati janji sama Marwah??, " ucap gadis kecil itu tersedu-sedu, sehingga Erwin turun menekuk lututnya dihadapan gadis kecil itu.


" kak Mummy udah janji untuk rayain ulang tahun Marwah, tapi kenapa kak Mummy gak datang???," ucapnya dengan menangis hebat.


Erwin terhenyak dan ada rasa sakit dihatinya melihat gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya. Sehingga ia reflek memeluk dengan sayang pada gadis kecil itu.


" maaf, maafkan kak Mummy, Marwah," ucap Erwin dengan membelai kepala gadis kecil itu dengan berpikir keras cara untuk menenangkan gadis kecil itu.


" kak Mummy yang salah, maafkan kak Mummy yang gak menepati janji," ucapnya menyesal.


Lalu ia mererai pelukannya pada gadis kecil itu dengan melihat wajah ayahnya yang tersenyum bahagia dibelakang gadis kecil.


" kembalilah, tepati janjimu pada gadis kecil itu," ucap ayah dengan senyum hangatnya.


Erwin bangun dengan wajah terkejut mendengar ucapan ayahnya.


" ayah !!,"


" ayah bangga pada mu, dan bahagiakan mama, dia mencemaskan kamu," ucap ayah.


" kak Mummy janji??," ucap gadis kecil itu dengan memberikan jari kelingkingnya dihadapan Erwin yang bingung antara ayahnya atau gadis kecil berambut panjang ini.


Namun ayahnya memberi anggukan pada Erwin untuk tak ragu.


Dan dengan kembali turun berlutut dihadapan gadis kecil itu, Erwin pun memberikan jari kelingkingnya pada Marwah yang seketika tersenyum.


" Kak Mummy janji," ucapnya pelan.


" Marwah," ucap Erwin dengan perlahan membuka matanya.


" Marwah," ulangnya berbisik dengan mata kosong menatap langit-langit putih.

__ADS_1


Seketika ruangan itu riuh dengan suara panik dua orang yang berbicara dengan bahasa asing.


__ADS_2