
Lily menyambut kepulangan Marwah dengan wajah terkejut.
" Mbak?, tumben cepet pulang?," tanya Lily yang berjalan mengikuti Marwah yang meletakkan tasnya di meja kasir.
" Kenapa?, kamu gak seneng liat Mbak cepat pulang??, " jawab Marwah dengan wajah bete.
" Eh, gak kok Mbak, hehehehe..," ujar Lily kelabakan dan ia pun kembali menuju toko roti untuk menyambut beberapa pelanggan yang datang.
Marwah terduduk dengan lemas, omongan kasar Pak Erwin tadi telah membuatnya sakit hati. Berlahan ia mengambil handphone, lalu mengetik nama kak Safa.
" Hallo?? kak??,"
" Ya Marwah, ada apa??, kamu baik-baik aja kan??," jawab kak Safa dari sebrang telfon.
" Makan bareng yuk ??, " ajak Marwah.
" Hah??, makan??," ujar Safa terdengar kaget.
" Iya, traktir dong adiknya ini, " pinta Marwah manja.
" Ikh, kamu ini !!!, bilangnya baru sekarang, kakak gak bisa. Sejam lagi ada operasi anak," jelas kak Safa.
" Yaaa, masa gitu sih sama adik sendiri, " jawab Marwah kecewa.
" Ya maaf, atau malem aja deh, yaa ??" tawar kak Safa.
" Gak ah, orang lapernya sekarang, ya udah deh, bye !!, " ucap Marwah kecewa dan memutuskan komunikasinya begitu saja tanpa menunggu jawaban kak Safa.
" Huuuffft..," hela nafas kesal Marwah, lalu ia pun kembali menelfon nomor lain. Dan nama Dinda Gadis pun jadi sasaran berikutnya.
" Hallo, Din ??"
" Ya, Marwah, apa kabar??, " jawab Dinda yang terdengar happy.
" Kok kayaknya kamu lagi seneng yaa??, " ucap Marwah menebak.
" Ah gak, eh, ada apa??, " elak Dinda mengelak.
" Makan bareng yuk?, " ajak Marwah yang kembali ke topik awal menelfon.
__ADS_1
" Sekarang??, "
" Iya, sekarang !!, bisa kan?, " tanya Marwah kembali.
" Maaf, Marwah, kalo sekarang gue gak bisa, lo kan tau gue lagi urus cowok aneh itu, lagi jadi supir nie , " jelas Dinda sedikit menyesal.
" Yaaaah, ya udah deh, "jawab Marwah yang kembali kecewa.
" Eh, tapi tunggu dulu, atau lo ketempat gue aja, bisa gak??, ke hotel Zzzz."
" Lah, jadi ini lo sekarang dimana sih??, " tanya Marwah bingung.
" Gue masih dikantor pengacara Johan, 5 menit lagi jalan dan tujuannya itu ke hotel Zzzz, gimana??, " tanya Dinda kembali.
" Yaa oke deh, " jawab Marwah pelan.
" Oke !!, eh, udah dulu yaa, majikan gue udah mau naik mobil, bye," ucap Dinda dan komunikasi itu terputus begitu saja.
Marwah hanya menghela nafas panjang. Sebenarnya ia malas kalo harus makan di hotel, tapi tak apalah, ia memang sedang butuh teman ngobrol. Dan Marwah pun bangun dari duduk sofanya lalu menuju etalase cake dingin dan mengambil slide cake mocca dan redvelvet kesukaan Dinda .
" Lily, Mbak jalan dulu ya, titip toko," ujar Marwah yang seraya mengambil kantong plastik berlogo dr. Dessert dan memasukkan kotak cake kedalamnya.
" Iya, hehehe.., maaf ya, tapi kali ini gak lama kok, cuma makan aja sama temen," jelas Marwah seraya berjalan meninggalkan Lily yang heran melihat bosnya.
🍃🍃🍃
Dan ketika Marwah sampai di hotel Zzzz, ia turun dari mobil sedannya seraya membawa kotak cake yang ia siapan untuk Dinda. Dengan berjalan berlahan ia masuk kedalam lobby hotel seraya mencoba menelpon Dinda. Namun tak kunjung dijawab oleh Dinda, hingga telfon yang ke tiga kalinya pun tak dapat jawaban.
" Kemana sih dia??, " ujar Marwah dengan melihat sekeliling. Dan tiba-tiba ia mendapat kejutan hebat dari belakang punggungnya.
" Oi!!, " suara perempuan yang mengagetkan Marwah, yang sontak membuat Marwah terkesiap dan refleks menoleh kebelakang.
" Ikh lo yaa Din, bikin jantung copot aja !!, " celetuk Marwah kesal karena dikagetkan, tapi Dinda malah tertawa terbahak-bahak karena sukses membuat temannya ini terkejut.
" Iya, maaf, yuk kesebelah sana, " ajak Dinda seraya meraih lengan Marwah dan mereka pun berjalan bersama menuju restoran hotel tersebut.
Dan keduanya pun duduk di meja yang terlihat berada di dekat jendela besar yang menampilkan view jakarta siang itu. Dengan memesan makanan terbaik, mereka pun mulai mengobrol ringan bahkan terdengar canda tawa yang sedikit mengusik beberapa tamu disana.
" Jadi lo dipecat??, " tanya Dinda kaget.
__ADS_1
Marwah mengangguk pelan seraya mengambil cemilan kentang goreng dari piringnya.
" Ckckckck , gue pikir cuma si pengacara aneh itu yang paling kejam, ternyata ada juga yang sejenis dengan dia yaa, " celetuk Dinda seraya meraih tisu dan membersihkan tangannya yang terkena minyak dari kentang goreng..
" Lo cuma baru tau itu, ada yang lebih gawat lagi tentang bos Aritama ini, " ujar Marwah seraya mengecilkan suaranya dan mendekat pada Dinda.
" Apa, ??" tanya Dinda penasaran.
Lalu bertahan Marwah berbisik di sisi telinga Dinda.
" Doi Gay, !!" bisik Marwah yang sontak mendapat respon terkaget dari sahabatnya itu.
" Serius !!," tanya Dinda dengan mata melebar.
Marwah pun mengangguk pelan seraya menyerut pure jus guavanya.
" Tapi gue bersyukur sih, yaaa kan jadinya gue gak perlu kerja lagi, cukup buka toko dan buat roti, dan kehidupan gue kembali normal seperti sedia kala, aman damai dan tentram, " tutur Marwah sedikit lega.
Dinda yang mendengar hal itu sedikit menarik nafas panjang dan menghelanya seolah berat.
" Kenapa?, " tanya Marwah pada Dinda yang seketika jadi sedih.
" Lo mah enak udah bebas, nah gue, masih ada 1 bulan setengah lagi sisa perjanjian sama orang aneh itu, " ujarnya sedih.
" Siapa yang orang aneh??, " tanya seorang pria yang suaranya mengagetkan Dinda dan Marwah. Dinda sontak refleks bangun dan berpaling kebelakang dan ia pun menjadi panas dingin melihat sosok Johan berada tepat dibelakang kursinya.
" Ah.., itu te.., " Dinda tergagap, karena tertangkap basah telah menghina pengacara sombong ini.
Marwah pun jadi ikutan takut ketika melihat sosok Johan yang menatap Dinda dengan tajam, ia mengidik ngeri.
" Sudahlah, jika urusan mu telah selesai maka cepat kembali ke mobil, aku tunggu disana, " ujar Johan pelan dengan mengatur nada bicaranya lalu menoleh pada Marwah sekilas yang berada disamping Dinda, lalu ia pun pergi meninggalkan keduanya yang masih mematung.
" Huuuffft.., " hela Dinda pelan.
Tiba-tiba Marwah memeluk Dinda dari belakang.
" Lo hati-hati yaa, jaga diri, " ucapnya pada Dinda yang seolah akan pergi perang.
" Iya, sorry yaa gue balik duluan, kapan-kapan ketemu lagi bebku, " ucapnya seraya memeluk Marwah dan saling memberi dukungan lalu mereka pun berpisah. Dinda tak lupa membawa cake pemberian Marwah dan kembali berlari kecil menuju luar restoran hotel tersebut.
__ADS_1
Marwah kembali duduk di kursinya, dan sembari melihat luar jendela hotel itu. Pikiran terbang entah kemana.