Come A Closer Love

Come A Closer Love
27


__ADS_3

Sepeninggalan Sekertaris Chandra, Marwah masih berdiri terpaku.


" Sepertinya, saya juga harus pamit, " ucap Marwah yang melihat kondisi Erwin baik-baik saja.


" Dan ini, akan saya taruh dimeja makan anda, " seraya mencoba berbalik badan dan melihat meja makan Erwin, dan berharap bisa pergi segera dari apartemen itu.


Erwin tak menjawab, ia hanya terus melihat kertas-kertas yang ditinggalkan Sekertaris Chandra diatas meja. Dan sesekali ia berdesir sakit, karena memakai tangan kirinya yang terluka. Marwah melihat sekilas dengan khawatir.


Dan berlahan ia berjalan ke hadapan Erwin dengan ragu.


" Apa, perbannya sudah diganti??, " tanya Marwah seraya melihat ke lengan kiri Erwin yang perbannya terlihat tak rapi.


Sesaat Erwin berhenti melakukan aktivitas melihat kertas laporannya, lalu menatap Marwah.


Marwah sedikit canggung ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Erwin.


" Maaf, " ucap Marwah sedikit menyesal. " Maaf karena menganggu waktu pagi anda, tapi saya hanya ingin memastikan bahwa luka anda baik-baik saja, " jelasnya yang benar-benar cemas jika luka itu tak benar-benar kering.


Erwin hanya menghela nafas panjangnya seraya memegang lengan kirinya yang masih sakit karena bekas jahitan kemarin.


" Kau bisa pergi, aku bisa mengurus diriku sendiri, " ujar Erwin nolak dan ia seolah bisa menahan sakit yang ditimbulkan oleh luka lengan kirinya.


Namun tatapan Marwah justru tambah bersalah.


" Gak bisa, !!" ujar Marwah memberanikan diri untuk menjawab Erwin.


" Walau..,walau kedengarannya tidak sopan, tapi.., saya akan membalas kebaikan anda dengan merawat luka anda sampai sembuh, " dan sorot mata Marwah terlihat gelisah.


Seketika raut wajah Erwin tersenyum licik, seolah ia mendapat moment yang akan menguntungkan dirinya.


" Jadi kamu, mau membalas kebaikanku??, " tanya Erwin kembali seraya membenarkan posisi duduknya dan tersenyum melihat Marwah.


Marwah mengangguk pelan, namun ia bingung melihat ekspresi Erwin yang berubah.


" Ya, saya akan membalas kebaikan anda, karena menolong hidup saya dari bahaya," ujar Marwah yakin.


" Tapi.., aku ingin meminta hal lain sebagai balasnya," tutur Erwin dengan menarik selembar kertas dan ia menulis dengan cepat pada kertas itu.


Marwah terpaku.


" Duuh, ini orang maunya apa sih??," rutu hati Marwah yang was-was melihat kearah kertas yang tengah ditulis oleh Erwin dengan serius.

__ADS_1


Dan tak berselang lama Erwin selesai menulis, lalu ia menyerahkan kertas itu pada Marwah. Marwah mencoba mengambil kertas itu dengan ragu, lalu berlahan ia membaca isi tulisan dikertas itu dengan serius. Dan, kedua mata Marwah melebar ia terlihat syok berat.


" Ini.., ini maksudnya apa??," ucap Marwah terpaku pada kertas yang berada ditangannya.


Erwin hanya tersenyum simpul. Ia yakin, dengan hal ini, pasti Marwah akan bisa masuk kembali ke tim perhotelan dan semua kendala terselesaikan.


" Seperti yang kamu baca, bekerjalah kembali di tim perhotelan sampai selesai".


" Tapi.., " sanggah Marwah yang masih tak percaya bahwa Erwin mengikatnya kembali untuk bekerja.


" Bukankah kamu ingin membalas budi baik ku??," tukas Erwin kembali pada Marwah yang mencoba menyela.


" Tapi, bukan kah anda memecat saya tempo hari??, bahkan anda juga kecewa dengan kinerja saya yang dibawah standar anda," ujar Marwah dengan raut wajah kecewa, seolah ingin membalas perkataan kasar Erwin tempo hari.


Erwin terdiam, ia tau bahwa Marwah terlihat masih sakit hati akan kejadian tempo hari. Dengan menghela nafas panjangnya, Erwin terlihat kesal dan mencampakkan pulpen ditangannya ke atas meja begitu saja. Lalu bangun untuk berjalan menuju kamarnya.


Marwah melihat gerak gerik Erwin, dan matanya tertuju pada perban dilengan Erwin yang sepertinya harus diganti.


Dan mulailah perang batin Marwah bergejolak.


" Apa yang kau pikirkan Marwah??, apa kau ingin menjadi orang tak tau balas budi??," rutu batinnya.


" Apa salahnya bekerja??, " perang batinnya lagi.


Marwah terlihat bimbang, namun dengan terpaksa ia berjalan menuju Erwin dan meraih lengan pria itu agar terhenti.


Langkah Erwin terhenti, dan ia terpaku akan sorot mata tak ikhlas Marwah melihat kepada dirinya.


" Tu.., tunggu, sebaiknya saya bantu anda menganti perbannya," ujar Marwah pada Erwin.


Erwin menarik lengannya agar terlepas dari jemari Marwah dengan dingin.


" Kau, keluar!!," ujar Erwin ketus seraya berbalik badan untuk menuju kamarnya.


Namun berselang dua langkah Erwin melangkah, ia dikejutkan dengan ucapan Marwah.


" Baiklah, !!" ucap Marwah dengan terpaksa.


" Saya akan bekerja kembali, " kali ini Marwah akan menyesali nya nanti.


Wajah Erwin tersenyum sekilas, dan tangan kanannya seolah mengepal menang. " Missions Compliant, !!" gumam batin senang. Dan ia kembali berbalik badan untuk melihat wajah menyesal Marwah dengan wajah datar.

__ADS_1


" Tapi.., " ucap Marwah kembali.


" Tapi apa??" tanya Erwin tegas.


" Beri kelonggaran pada jam kerja saya, saya punya toko roti dan sudah pasti saya tak bisa datang di jam 7 pagi dan saya harus pulang di jam 3 sore, " jelas Marwah dengan berat.


" Apa??, jam 3 sore?," ulang Erwin.


" Jika anda tak setuju, maka saya tak bisa memaksa, walau anda menganggap saya tak balas budi, " balas Marwah.


Erwin menghela nafas panjangnya.


" Baiklah, deal !!" tukas Erwin setuju seraya mengulurkan tangannya pada Marwah yang terpelongo akan kesepakatan ini.


Dan Marwah dengan ragu, meraih jabatan tangan Erwin seraya menggerutu dalam hatinya.


" Semoga ini segera berlalu, " lirih batin Marwah yang enggan.


🍃🍃🍃


Setelah perdebatan yang akhirnya akhirnya menguntungkan Erwin. Kini terlihat Erwin duduk disofa bersebelahan dengan Marwah yang tengah membuka kain perban lengan kirinya secara berlahan.


Tangan Marwah terampil memberikan salab obat pada luka lengan Erwin yang terlihat masih merah. Sesekali terdengar desiran dari mulut Erwin yang menahan perih akan reaksi obat salab yang Marwah berikan dilukanya.


Sesaat Erwin memperhatikan wajah tenang Marwah yang dengan berlahan memasang kembali kain kasa baru pada lengannya. Dan tanpa sadar ia tersenyum hangat seraya melihat keseriusan Marwah.


Marwah pun tak sengaja menoleh pada Erwin dan kembali keduanya beradu pandang yang membuat mereka seketuka canggung.


" Hhmm.," gumam Erwin yang seraya mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


" Ini sudah selesai, " ujar Marwah canggung. Lalu berlahan menjauh dari Erwin yang seketika kembali menoleh pada lengannya.


" Terima kasih, " ucap Erwin.


" Seharusnya saya yang berterima kasih, kalo bukan karena anda, mungkin hal buruk akan terjadi pada diri saya, " gumam Marwah tulus, lalu ia bangun dan hal itu mengagetkan Erwin.


" Kalau begitu, saya balik dulu, " ujar Marwah, seraya merapikan kotak alat obat milik Erwin diatas meja.


" Dan anda jangan lupa untuk meminum obatnya, " Marwah kembali mengingatkan Erwin.


Erwin tak menjawab.

__ADS_1


" Jika anda butuh sesuatu, tolong kabari saya, saya akan datang," ucap Marwah seraya pamit dan ia pun berjalan menuju pintu keluar apartemen Erwin.


__ADS_2