Come A Closer Love

Come A Closer Love
46


__ADS_3

Dan akhirnya Erwin dan Marwah berjalan menuju rumah atas Marwah, dan terdengar obrolan ringan disana. Erwin sempat masuk dengan ragu untuk membuka pintu rumah tersebut. Namun tiba-tiba pintu rumah itu terbuka dengan lebar, karena mama Wulan membukanya untuk Erwin yang terlihat tersenyum hangat pada dirinya.


" masuk nak Erwin, " sambut mama Wulan.


Dan Erwin pun masuk dengan berlahan kerumah yang terlihat mungil namun memiliki desain moderen untuk ruangan minimalis itu. Terlihat meja makan terhidang dengan lezat makanan yang tersusun rapi disana.


Terlihat kembaran Marwah tengah menimang-nimang bayinya yang terlihat hampir tertidur. Suasana canggung terlihat di sana ketika sorot mata mas Daniel masih mengintimidasi Erwin.


" Ayo Daniel, kamu juga duduk bareng nak Erwin disini, " ujar mama Wulan.


" Loh mah, gak tunggu papa??" tanya Marwah.


" Papa pasti sebentar lagi sampai, jadi sebelum makan makanan inti kan bisa cobain puding pelangi dulu, ya kan nak Erwin, ayo dicoba, " ujar mama Wulan dengan menyuguhkan puding pelangi di cup kecil lalu memberi kan satu cup lagi pada mas Daniel yang setia menanti giliran.


Namun, tak berselang lama pintu rumah atas pun terbuka, dan terlihat sosok papa Evan yang mengejutkan Erwin.


" Papa, " ucap Marwah yang berbarengan dengan Safa.


Dan seketika wajah Erwin terserang syok berat, ketika melihat sosok pria paruh baya yang masih menyisakan ketampananya dimasa lalu, hingga Erwin tak salah ingat bahwa pria ini pernah menyelamatkan dirinya dulu. Erwin terpaku ketika papa Evan masuk kedalam rumah dengan disambut oleh istri dan kedua putrinya.


" Papa dari mana?? lama banget sih??" ujar mama Wulan dengan membantu melepaskan baju hangat suaminya. Seraya berjalan menuju meja makan yang terlihat wajah baru dimeja makan yang membuat papa Evan melihat pada pria yang berada disamping menantunya Daniel.


Dan dengan canggung Erwin bangun memperkenalkan dirinya dengan sangat kaku pada papa Evan.


" Sa..,saya Erwin pak dokter, Erwin Aritama, senang bertemu dengan anda lagi dr. Evan, " ucap Erwin terbatah-batah karena terlalu syok melihat pria penyelamat dirinya dulu kini bertemu di kondisi berbeda.


Dan seisi ruangan itu terkaget mendengar ucapan Erwin yang mengenal papa Evan.


" Kamu kenal saya??" tanya papa Evan yang merasa tak kenal Erwin.


" ya, " jawab Erwin yakin, bahwa beliau adalah dr. Evan Sanders pemilik rumah sakit Petramedika, yang dulu dengan baik hati menolongnya ketika ia sedang bakbak belur dihajar oleh para preman musuhnya.


Marwah merasa papanya tak mengenal Erwin, tapi wajar saja jika semua orang kenal papa Evan, karena profesi dokternya dulu telah banyak membantu orang.


" Hhmm, pah.., ini adalah atasan Marwah pah, " jelas Marwah ragu.


" Oh, Senang bertemu dengan anda, " ucap papa Evan ramah dan menyambut jabatan tangan hangat Erwin yang sedari tadi menunggu sambutan dr. Evan.


" ayo silahkan duduk, suatukebetulan anda bisa ke toko kecil kami, " ujar dr. Evan merendah.


" Ah, terima kasih pak, " jawab Erwin kaku, dan ia dipersilahkan duduk kembali oleh papa Evan yang ikut duduk dimeja makan mini itu yang terlihat sempit.


Dan suasana menjadi hangat kembali ketika obrolan kecil disela-sela makan malam. Safa yang duduk di sofa bersebelahan dengan Marwah pun akhirnya berbisik dengan adiknya dengan penasaran.


" kenapa atasan Erwin kemari??"


" gak tau!! " jawab Marwah dengan menaikan bahunya.


Lalu Safa menyikut adiknya lagi.


" Lo pacaran sama dia??" tanya Safa serius melihat pada wajah adiknya.


" apa aku gila!!" jawab Marwah dengan berbisik.

__ADS_1


Dan wajah panik Marwah itu membuat Safa tertawa kecil tertahan. Lalu ia memberi kode pada Marwah dengan menunjuk pada kursi Erwin dan memberi tanda jempol pada Marwah, seolah ia setuju jika Marwah dengan Erwin.


Dan seketika Marwah terserang panik ketika melihat kode dari kakaknya Safa. Terlihat mama Wulan memberi kode pada kedua putrinya yang berbisik-bisik untuk lebih tenang.


Lalu mereka melanjutkan makan dessert buah buatan mama Wulan yang lezat. Dan terdengar obrolan ringan papa Evan yang mulai bertanya pada Erwin.


" Jadi, pekerjaan apa yang anda lakukan ??" tanya papa Evan seraya mengambil lauk lain dari piring berbeda.


Erwin pun jadi terhenti untuk menyulangkan sendok makanan kedalam mulutnya dan mencoba menjawab pertanyaan dr. Evan.


" Ah, pekerjaan saya.., menjadi orang kaya pak, " jawab Erwin spontan dan santai. Hingga papa Evan mendengar dengan kaget dan tak sengaja menjatuhkan sendoknya.


Mama Wulan dan Safa pun terlihat kaget mendengar jawaban Erwin yang absurd.


" menjadi orang kaya apa disebut juga pekerjaan??" bisik mas Daniel yang mencoba berpikir keras.


Marwah pun tepuk jidat mendengar jawaban absurd Erwin yang terdengar sombong.


" Ah, pah, itu diperusahaan Direktur ada banyak sup perusahaan, salah satunya Hotel yang akan dibuka, jadi yaa gitu pah, hahaha " jawab Marwah dengan tertawa bodoh seolah menutupi jawaban absurd Erwin, dan seketika suasana kembali normal setelah terkejut.


Papa Erwin pun mencoba mengerti.


" begitu ternyata, pasti berat mengelola perusahaan yang banyak sup kegiatannya," tutur papa Evan yang ikut paham karena beliau juga adalah pengelola rumah sakit yang pasti memiliki kerumitan yang sama.


" Lalu, bagaimana anda mengenal anak saya Marwah??" tanya lebih lanjut papa Evan dengan melanjutkan makan.


" Ah, saya mencari info dari beberapa rekanan dan mengatakan bahwa putri anda terbaik no. 2 dalam penataan manjemen perhotelan, dan itu dilihat dari info ter up date dari komunikasi perhotelan." jawab Erwin bijak, sehingga Marwah pun sedikit lega.


" hanya..," lanjut Erwin,


" hanya, saya sempat kesusahan mencari Marwah, sehingga hotel saya tertunda cukup lama dalam pembukaannya, " ujar Erwin yang seketika suasana berbalik seolah menyalahkan Marwah, terlihat papa Evan melihat pada Marwah, mama Wulan pun melihat pada Marwah seolah berbuat salah.


" Ah, itu.., bisa Marwah jelaskan" ujarnya cepat.


" Sial !! kenapa jadi balik nyalahin gue sih ?" rutu batin Marwah yabg merasa terpojok.


" Tapi, sekarang saya merasa aman, karena Marwah mulai bekerja dengan sangat baik, " ujar Erwin seolah membela Marwah.


" Ya, sebenarnya ini hal yang agak sedikit rumit, karena Marwah juga harus mengelola toko roti ini, " ujar papa Evan yang menengahi.


" eehm, yaa saya mengerti, dan dalam kontrak juga tertulis bahwa Marwah memiliki jam dan hari yang dibuat untuk bisa menyeimbangkan kegiatan kantor dan toko rotinya," terang Erwin menyelesaikan.


Seketika Marwah menghela nafas panjangnya.


" Dasar, direktur!!" rutu nya Marwah.


Dan makan malam itu pun menjadi santai kembali dengan obrolan ringan seputar dunia pria.


Hingga acara makan malam sederhana itu pun selesai, dan terlihat para pria turun kebawah menuju cafe mini dan melanjutkan obrolan mereka dengan menikmati coffee latte.


Marwah dan mama Wulan membereskan piring dimeja makan dengan cepat. Dan kak Safa tengah mengendong Mecca yang terbangun dari tidurnya untuk minum susu. Setelah dirasa selesai, ketiga wanita itu turun dengan obrolan ringan menghampiri para pria yang tengah asyik berbincang.


Namun kak Safa memanggil suaminya.

__ADS_1


" Mas Daniel, yuk balik !!" ujarnya dengan membawa tas bayi Mecca.


" Ah, ya.., kami duluan yaa pah, mas Erwin.., " ucap mas Daniel dengan bangun menghampiri istrinha dan membantu menbawa tas bayi yabg terlihat berat.


Mama Wulan pun tersenyum pada suami dan Erwin.


" Ah, saya juga harus kembali.., terima kasih makan malamnya, " ujar Erwin yang kemudian bangun dan berdiri seolah berpamitan pada dr. Evan dan istrinya yang terlihat tersenyum hangat.


" yuk, pah.., kita juga ikut pulang sama Safa.," ucap mama Wulan mengajak suaminya.


Erwin terlihat bingung. Dan melihat Marwah.


" kamu tinggal sendiri??"


Marwah mengangguk dengan pelan seraya melihat pada Erwin.


" kenapa??" tanya Marwah yang kemudian mendekat pada Safa untuk mencium keponakannya yang terlihat tertidur kembali digendong mamanya.


" kalau begitu kami duluan yaa, mah pah, mas Erwin" ucap Safa seraya berjalan menuju pintu keluar toko bersama suaminya Daniel.


Mama Wulan hanya mengangguk dan kemudian mengikuti dari belakang bersamaan dengan papa Evan juga Erwin dan Marwah yang sama-sama keluar dari dari toko.


" Sayang mama balik dulu yaa., yuk nak Erwin, saya duluan " pamit mama Wulan lalu mengikuti suaminya masuk kedalam mobil sedan mewah dan kemudian mobil itu melaju meninggalkan Erwin dan Marwah disana.


Dan seketika terdengar suara nafas panjang Marwah seolah lega.


" kenapa??" tanya Erwin dengan mengeyitkan dahinya.


" apanya yang kenapa?? Direktur tau gak sih tadi!! bikin mama papa syok tau gak??" jelas Marwah yang kesal.


" Ah, masa sih??, ortu kamu keliatan well banget malah, dan aku juga senang karena bisa bertemu dengan papa kamu " ujar Erwin pede.


Marwah hanya menggelengkan kepalanya dan mencoba tak berdebat lagi dengan Erwin, karena ia lelah.


" Kalau begitu, saya masuk dulu Direktur.., selamat malam !!" ujar Marwah yang kemudian berjalan, namun langkahnya terhenti ketika lengannya ditahan oleh Erwin. Dan Marwah pun bingung.


" ada apa??" tanya Marwah bingung.


" mulai besok pagi, bawakan selalu ròti atau apa pun makanan yang kamu buat untuk sarapan pagi ku!!" pinta Erwin dengan santai tersenyum pada Marwah.


" tiap pagi?? " tanya Marwah terkejut.


" eehm, " jawab Erwin singkat dan kemudian ia mengusap kepala Marwah dengan sayang.


" Ternyata kamu benar-benar tumbuh dengan sangat cantik, " ujar Erwin tersenyum seolah mengingat wajah anak kecil dengan rambut panjangnya, kini bertemu kembali dengan sangat berbeda.


" ???" Marwah tak mengerti ucapan Erwin.


" Masuk lah, dan pastikan kunci semua pintu toko sebelum kamu tidur, " ujar Erwin dengan menyuruh Marwah berjalan kembali kedalam tokonya, dan Erwin hanya memperhatikan Marwah yang berjalan kembali masuk kedalam toko rotinya sampai pintu besi itu terdengar tertutup.


Dan setelah diliat senua tertutup, barulah Erwin naik kedalam mobilnya dan berlahan memlajukan mobil itu keluar dari perkarangan toko dr. Dessert.


Disisi lain, Marwah terbengong di balik pintu kamarnya dan reflek memegang kepalanya seolah masih merasakan usapan tangan Erwin disana.

__ADS_1


" Kenapa Direktur berbicara begitu?? issh, bikin bingung aja, " gumamnya sendiri dengan merebahkan tubuhnya dikasur yang meninggalkan wangi bayi Mecca disana.


__ADS_2