Come A Closer Love

Come A Closer Love
66


__ADS_3

Pagi itu setelah semalaman bergadang, Marwah pun membereskan dapur rotinya yang tampa ia sadar ternyata Lily dan beberapa pegawai wanita telah berada disana. Lily melihat dengan aneh pada wajah Marwah.


" Mbak??, ini semua mbak buat??".


" Hhmm," gumam Marwah tersenyum.


" ya ampun, sebanyak ini buatnya sendiri, mbak??," tanya Lily bengong memihat estalase cake premium kembali terisi sebagain.


Marwah meraih kain lap kotor itu dan meletakkannya dikeranjang kotor. Lalu berjalan menuju wastafel seraya mencuci tangan.


" iyya, kebetulan mbak gak bisa tidur, " jawab Marwah santai. Kemudian ia meraih gelas air putih dengan perlahan ia meneguknya dengan habis.


" Waah, kalau begini tiap hari stok cake premium gak akan pernah kosong lagi," celetuk Lily senang.


Marwah hanya tersenyum simpul, lalu berjalan meraih bahu Lily.


" iyya cake Premium nya ready, tapi mbak jadi lupa untuk buat roti pagi ini, tolong yaa dilanjutin..," ucap Marwah dengan tertawa kecil melihat ekspresi bengong Lily, lalu berjalan meninggalkan Lily dan menuju rumah atasnya dengan lelah.


" Ya Ampun, Mbaaaaak," sahut Lily dengan wajah ingin menangis.


Dikamar atasnya sesaat Marwah merebahkan tubuhnya diatas kasur seraya menghela mafas panjang. Lalu ia meraih handphone dan pesan dari Erwin. Sesaat ia tersenyum kecil melihat picture kiriman dari Erwin.



Marwah pun membalas pesan Erwin tersebut.


" kapan pulang??" Marwah. Seketika pesan itu oun terkirim pada Erwin.


Dan tak lama terdengar suara notif pesan masuk pada handphone Marwah, lalu Marwah pun membuka layar pesannya. Lagi, Marwah dibuat tersenyum melihat pictures lucu kiriman Erwin yang imut.



Erwin hanya membalas dengan picture tampa ada pesan lainnya. Sesaat Marwah pun menghela nafas panjangnya, dunia para pria memang susah ditebak, adakalanya terbuka tampa diminta namun adakalanya misterius penuh rahasia.


Sesaat Marwah melihat jam dilayar handphone nya dan terlihat waktu menujukkan jam 7 pagi.


" oke, harus kekantor Aritama," ujar Marwah yang bangun seketika, namun ia merasa sedikit pusing dan reflek memejamkan matanya sesaat.


" ck, bisa-bisa tumbang kalau begini," gumamnya dengan bangun perlahan dan meraih sangkutan handuk lalu berjalan menuju kamat mandi.


Sejam kemudian Marwah pun selesai mandi dan berdandan.


Marwah pun turun dengan perlahan, dan ia melewati kembali dapur roti yang terlihat Lily dan Salwa juga dua pegawai wanita membantu membuat roti yang dalam proses bentuk.


" eh, mbak Marwah??," sapa salah seorang pegawai wanita yang sadar akan kehadiran Marwah.


Marwah pun reflek menoleh pada yang menyapa, lalu tersenyum simpul.


" mau jalan mbak??" .


" Hhmm, iyya.., " jawab Marwah singkat dengan mengepaskan tali selempang tasnya.


" Mbak??, wajah mbak kok pucat, apa mbak sakit?," tanya Salwa yang memperhatikan wajah sayu Marwah.


Marwah pun reflek menyentuh wajahnya.

__ADS_1


" mungkin karena kurang tidur, nanti mbak minum obat penambah darah deh, ya udah mbak jalan dulu yaa," pamit Marwah dengan meninggalkan para pekerja toko dan berjalan keluar toko menuju mobilnya.


🍃🍃🍃


Selama perjalanan menuju kantor Aritama group, terlihat Marwah seperti kehilangan semangatnya dengan raut wajah yang sendu.


Setiba di area parkiran kantor, Marwah turun dengan berat. Ia berjalan dengan perlahan gedung dalam kantor Aritama group. Dan beberapa kali berpas-pasan dengan karyawan lain yang belakangan sering bertemu dengan beberapa keperluan.


Setiba dimeja kerjanya, Marwah dihampiri oleh Suci dengan beberapa lembar kertas kerjaan. Suci dengan nada bicara judes menjelaskan progress kerjanya. Marwah mendengar dengan datar dan mengangguk paham.


" hanya itu, lainnya sudah aku email pada mas Erwin langsung," ujar Suci dengan meletakkan pulpen dihadapan Marwah agar segera menandatangai lembaran kerjanya tadi sebagai persetujuan.


" Terima kasih, Suci," ujar Marwah dengan segera menandatangai lembaran kerja Suci.


Suci terbengong, ia merasa Marwah tidak seperti biasa. Karena biasanya Marwah akan mengkoreksi semua tugasnya dengan tegas dan detail, bahkan menambah pekerjaan baru pada dirinya. Seketika ia tersenyum bangga pada dirinya sendiri.


" Lihat, aku juga bisa mengerjakan pekerjaan seberat ini, kamu mah enak tinggal nyuruh dan tanda tangan aja," celetuk Suci sengaja menyindir Marwah.


Marwah tak menanggapinya. Ia membiarkan nyinyiran Suci begitu saja, karena sekarang ia benar-bener terlalu lelah.


Menjelang siang Marwah disibukkan dengan rapat-rapat kecil, sekertaris Chandra pun mendampingin Marwah sebagai penasehat agar keputusan yang diambil pun tepat.


Hingga tepat jam 2 siang rapat itu pun selesai, Marwah pun membereskan kan beberapa file penting dan ia menyerahkan pada Sekertaria Chandra.


" ini mas, tambahan untuk dilihat Direktur,".


Namun terlihat handphone sekertaris Chandra berdering sehingga ia mengangkat telfonnya dengan cepat lalu memberi kode pada Marwah untuk tolong meletakkan file Marwah kedalam ruangan Erwin.


Marwah pun mengangguk paham, dan perlahan ia berjalan masuk kedalam ruangan Erwin yang terlihat kosong lalu menaruh file itu diatas meja kerja Erwin. Sesaat Marwah termenung, dan mendapatkan toples coklat yang ia berikan ternyata sudah kosong.


Namun seketika ia meraih punggung tangannya dan ternyata bekas memar karena terkena percikan minyak pun sedikit memudar. Seolah sadar ia pun keluar dari ruangan itu dan kembali menuju meja kerjanya.


" mas Chandra, Marwah pulang duluan yaa," ujar Marwah dengan merapikan meja kerjanya seraya mengambil tasnya dan terlihat tengah mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan pada sekertaris Chandra.


" mau ini gak mas Chandra??," tanya Marwah.


Sekertaris Chandra melihat dengan bingung, namun seketika ia meraihnya dengan senang.


" waaah, keliatannya enak".


Marwah tersenyum.


" itu cake red velvet oreo, " jelas Marwah pada sekertaris Chandra yang terlihat membuka kotak cake tersebut dengan takjub.


" Selamat makan mas, Marwah pulang dulu ," ujarnya dengan meraih tas dan berjalan meninggalkan sekertaris Chandra yang tengah menikmati cake pemberian Marwah.


Namun selisih dari kepergian Marwah, tak sengaja Sekertaris Chandra yang hendak mengeprint melihat kunci mobil diatas keyboard komputer Marwah.


" ya ampun anak itu, kunci mobil aja bisa tinggal..," celetuk sekertaris Chandra, dan seketika terkaget melihat Suci yang kini berdiri dimeja Marwah.


Dan terlihat Suci bingung melihat sekertaris Chandra yang kaget.


" kenapa kaget gitu mas??, " seraya menaruh map biru diatas meja kerja Marwah.


" ah enggak, kamu mau kemana?," tanya Sekertaris Chandra heran melihat Suci dengan tas di pundaknya.

__ADS_1


" ya pulang lah mas, Marwah aja pulang cepat masa Suci enggak, duluan yaa..," ujarnya dengan cepat dan hendak melangkah.


" oh, pas banget, titip ini, kunci mobil Marwah ketinggalan, "


Suci kaget.


" oh, sorry mas, Suci gak sempat, mau cuss kerumah besan," ujarnya menolak.


" tolong donk, kasian dia pasti kecariian dan mungkin sekarang Marwah masih diarea gedung, tolong ya Suci yang baik hati," rayu sekertaris Chandra.


Suci seolah enggan.


" Hhmm, ck.., repotin aja sih si Marwah itu," kesalnya dengan mengambil kunci mobil tersebut.


" makasih ya Suci".


Dan dengan segera Suci pun pergi meninggalkan sekertaris Chandra dengan wajah kesal.


Tiba-tiba terdengar suara handphone sekertaris Chandra berbunyi, reflek ia mengangkatnya karena itu telfon dari Direktur Erwin.


" Hallo Direktur??,"


" yaa, dia sudah pulang, baru saja turun," jelas Sekertaris Chandra cepat, dan seketika komunikasi itu terputus dengan meninggalkan wajah bingung sekertaris Chandra.


🍃🍃🍃


Dilain sisi Marwah yang baru turun dari lift dengan pelan melangkah berjalan menuju area parkiran kantor. Langkahnya pun terus berjalan menuju parkiran mobilnya.


Dan ketika berhenti di hadapan mobilnya, Marwah reflek meraih tasnya dan merogoh isi tas untuk mencari kunci mobil. Dengan serius ia meraba isi tasnya, tiba-tiba terlihat seorang pria dengan pakaian kasualnya berdiri beberapa langkah dari Marwah.


" Bagaimana bisa??? kamu selalu melanggar jam pulang perusahaan Aritama ??," ujar seorang pria yang membuat Marwah terpaku.


Dan pria itu tersenyum hangat pada Marwah, namun seketika ia terkaget dengan melihat sorot mata Marwah yang melihat dengan terpaku dan kedua bola matanya berkaca-kaca.


" ada apa dengan wajah mu??" tanya Erwin.


Dengan menahan gemuruh hatinya, Marwah berjalan beberapa langkah dan seketika menjatuhkan diri dalam pelukan Erwin.


Erwin terkaget ketika menerima pelukan Marwah yang tak pernah wanita ini laku sebelumnya.


Terlihat Marwah memeluk tubuh Erwin dengan erat dan ia pun menghirup aroma pria ini berulang kali.


" Kenapa??," tanya Erwin bingung dengan merangkul tubuh Marwah.


Marwah tak menjawab, tapi isakan kecil terdengar dari bibir Marwah yang mencium dada Erwin.


" apa ada sesuatu yang terjadi??," tanya Erwin lagi.


Marwah menggelengkan kepalanya.


" lalu?? kenapa kamu menangis??,"


" rindu..,rindu..," jawab Marwah pelan.


Erwin terkaget mendengar pengakuan Marwah. Lalu ia tersenyum senang dan membelai punggung Marwah lalu menjatuhkan ciuman sayang dikepala Marwah.

__ADS_1


" maaf yaa, mas terlalu lama meninggalkan kamu sendiri..," jawab Erwin.


__ADS_2