
Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Marwah dengan serius membawa mobilnya dengan kecepatan rata-rata dalam kota. Erwin duduk disebelah seraya sibuk dengan jemari-jemarinya bermain di layar handphone nya.
Dan seketika Erwin berhenti melihat handphone nya lalu beralih melihat jalan depan yang sedikit macet. Lalu tak sengaja ia melihat gantungan foto yang tergantung di kaca spion mobil tengah, dan terlihat foto wanita tengah dipeluk seorang pria dengan senang. Lalu ia pun refleks melihat kearah wanita yang tengah mengendarai mobil dengan wajah serius.
Namun Erwin kembali dikejutkan dengan notif pesan masuk. Dan kembali fokus pada layar handphone nya, sampai mobil Marwah pun tiba di rumah sakit Petramedika. Dan ketika sampai ditempat parkiran Erwin turun dengan terburu-buru tanpa menghiraukan Marwah.
" Ckckckck..," decak heran Marwah pada Erwin yang telah hilang masuk kedalam gedung rumah sakit. Namun tak sengaja ia melihat kearah kursi belakang dan terlihat kotak bekal yang ia buat untuk Erwin.
" Huuuffft, jadinya harus turun juga kan !!" celetuk Marwah melihat ke arah kotak bekal. Dan dengan berat Marwah pun turun dari mobilnya seraya membawa kotak bekal dan kotak cake yang ia bawa dari toko dr. Dessert.
🍃🍃🍃
Disisi lain Erwin berlari kecil mencari kamar super Vvip. Dan ia menemukan nya karena terlihat Edwin adiknya berdiri diluar pintu tengah menerima telfon.
" Win, gimana mama??" panggil nya cepat.
" Ah, mas??, mama udah di gips kaki ya, ini sedang ngobrol dengan Suci didalam" jelasnya sekilas, lalu memberi kode bahwa ia ingin menjawab telfon penting. Dan Erwin paham dan ia mengangguk seraya meraih pedal pintu kamar super Vvip itu, lalu masuk berlahan hingga mengejutkan wanita paruh baya yang tengah rebahan dibad pasien dengan kaki kanannya terlihat gips dibagian tumit.
Dan wajah wanita paruh baya itu pun terharu akan kehadiran putra sulungnya yang hampir dua bulan lebih tak pulang kerumah.
" Mah??" sapa Erwin pada wanita yang seakan rindu dipeluk oleh putranya, dan terlihat matanya berkaca-kaca.
" Bagaimana mama bisa seperti ini??, mama gak hati-hati yaa??" ujarnya cemas seraya mendekat pada bad pasien dan meraih tangan Nyonya
" Akhirnya kamu liat mama juga, !!" ujar Nyonya Aritama, dan berlahan Erwin memeluk tubuh wanita yang sangat ia cintai sedari kecil.
" Huuuffft.., mah, maafin Erwin" ujarnya lembut dengan mencium kening mamanya dengan penuh sayang.
" Mama terus berpikir kamu masih marah sama mama !!" ujar Nyonya Aritama manja pada anaknya.
" Yaa, yaa gak mungkin Erwin marah sama mama lama-lama".
" Terus kenapa kamu gak pernah telfon mama?? apa kamu gak sayang lagi sama mama??" tutur nyonya Aritama dengan menitikkan air mata sehingga membuat Erwin merasa bersalah.
" Enggak mah, bukan Erwin gak telfon mama, hanya..," ujar Erwin ragu.
" Ini, ini kelemahan Erwin..," gumam batin Nyonya Aritama senang karena mendapatkan kembali simpati anaknya yang benar-benar patuh kepada dirinya, dan Erwin tipikal anak yang akan melunak ketika melihat air mata mamanya jatuh.
Namun tiba-tiba pintu toilet terbuka, dan terlihat seorang wanita muda keluar dari sana dengan wajah terkejut.
" Mas Erwin??" sapa wanita muda itu me dekat pada bad pasien.
" kapan datangnya mas??".
__ADS_1
"Barusan, kamu kok bisa disini??" tanya Erwin yang mengingat bahwa Suci sepupunya ini kuliah S2 di Jogja.
" Tadi pagi mas, niat mau kejutin tante Intan, eh, gak taunya Suci yang terkejut denger tante jatuh dari kamar mandi sama mas Edwin, jadinya ikut deh kerumah sakit" jelasnya santai dan kini duduk diranjang pasien.
" Ooh..," gumam Erwin datar.
" Jadi ini mama berapa hari lama harus di gips kakinya??" tanya Erwin serius seraya melihat gips di kaki mamanya.
" Hhmm, kata dokter 3 bulan, tulang tumit mama retak" jelas nyonya Aritama sekilas.
" 3 bulan??" ujar Erwin kaget dan meneliti kaki mamanya.
" Iyya 3 bulan, yaa mungkin karena mama udah tua jadi kesembuhannya gak secepat anak muda " tutur nyonya Aritama berbesar hati.
Dan terlihat wajah cemas Erwin disana.
" Gak papa mas, tante Intan pasti cepat sembuh, lagian kan gak lama lagi mau acara pesta mas Edwin pasti tante semangat buat cepat sembuh dan sambut menantu baru," tutur Suci riang.
" Kamu bisa aja," ujar Erwin yang menganggap itu suatu kelegaan.
Dan tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan dari pintu kamar itu.
Tok..,tok.
" Masuk suster " sapa 0Suci ramah.
" Iyya mbak, ini saya mau suntik obat anti nyerinya dulu yaa" ujarnya seraya menyiapkan peralatan suntik dan tengah mengancang-ancang akan menyuntik di selang infus. Dan tak berselang beberapa menit obat itu pun telah selesai disuntikkan kedala selang infus, diikuti perawat itu membereskan alat mendiasnya.
" Kalo begitu saya permisi yaa, eh tapi maaf.., sepertinya tadi ada seorang wanita meninggalkan kotak bekal di depan" jelas perawat itu yang hampir lupa memberitau.
" kotak bekal??" ujar Nyonya Aritama bingung. Diikuti wajah Suci yang ikut bingung.
Erwin terteguh, dan kemudian ia reflek berjalan keluar dan melihat di sisi samping pintu terdapat kursi yang diatasnya telah berada kotak cake dan tas bekal. Erwin melihat ada sepucuk kertas diatasnya.
" Maaf, saya tidak bermaksud kelewatan batas, hanya terlalu sayang jika makanan ini tidak anda makan, semoga mama anda cepat sembuh" Marwah.
Erwin tersenyum simpul, ia tak menyangka bahwa wanita ini benar-benar gigih membalas budi. Dan berlahan ia meraih kotak bekal dan kotak cake lalu membawanya masuk kedalam kamar super Vvip tersebut.
Dan hal itu membuat nyonya Aritama dan Suci penasaran.
" Waah, kotak makan?? dari siapa mas??" ujar Suci penasaran dan reflek bangun dan tak sengaja menepuk lengan kiri Erwin dan reflek Erwin meringis kesakitan.
" Aaa.., sssstt" desir mulut Erwin menahan sakit lengan kirinya yang sontak membuat nyonya Aritama dan Suci terkejut kaget.
__ADS_1
" Kenapa mas??" tanya Suci khawatir.
" Kamu kenapa Erwin??" tanya nyonya Aritama ikut khawatir.
" Ah, gak papa mah, " ujarnya buru-buru menyembunyikan rasa sakit lengan kirinya.
" Gak papa gimana?? tadi mas kesakitan banget loh, coba sini Suci liat" ucap Suci curiga pada Erwin dan mencoba meraih coat Erwin untuk membukanya, namun Erwin mengelak.
" Udah, gak papa, kemarin malam gak sengaja berkelahi" jelas Erwin seraya meraih tangan Suci yang akan membuka coatnya secara paksa.
" Hah?" Suci kaget.
" kamu berantem?? sapa siapa?? para pekerja??" tanya nyonya Aritama yang terlihat kaget dan cemas.
" Bukan mah , tapi sama preman mabuk " jelas Erwin cepat.
" APA?? pr.., preman mabuk?? gimana bisa??" tanya nyonya Aritama yang auto panik dan berusaha meraih tubuh anaknya.
" Udah deh mah, gak papa, udah diobati tinggal tunggu sembuh aja jahitannya selama 1 minggu" jelas Erwin santai seraya meraih kotak cake dan membukanya.
" Ya Tuhan!!" gumam Nyonya Aritama syok. Namun disisi lain Suci melihat Erwin dengan tatapan kagum. Entah sejak kapan Suci begitu mengidolakan kakak sepupunya ini.
Terlihat Erwin meraih 1 cup cake flower dan memakannya berlahan. Dan ia terteguh akan rasanya yang benar-benar ia inginkan selama ini.
" Coba rasa deh mah," seraya Erwin menyuapi mamanya dengan cup cake lain ke mulut mamanya dan reaksi yang sama pun terpancar dari raut wajah nyonya Aritama yang merasakan bahwa cup cake ini benar-benar enak.
" Waah, ini enak bener cake nya, udah lama gak rasa cake seenak ini" tutur nyonya Aritama.
" Jadi penasaran, mau donk rasa" ucap Suci seraya mencomot cup cake bekas Erwin makan dan memakannya dari jemari Erwin langsung. Hingga Erwin terkejut dengan perlakuan Suci yang berani dihadapan mamanya.
" Hhmm, bener ini enak mas" ujarnya seraya tersenyum manja pada Erwin.
Nyonya Aritama tersenyum melihat tingkah Suci yang manja pada putranya.
" Yaa, kalau memang Suci yang menjadi menantuku, itu tidak masalah, karena sedari dulu Suci memang menyukai Erwin" gumam batin Nyonya Aritama.
" Memang ini dari siapa sih mas??" tanya Suci penasaran.
" Hhmm, rahasia " tutur Erwin seraya membuka kotak bekal dan terlihat sarapan enak disana yang mengoda untuk dimakan. Dan Erwin pun menghela nafas panjangnya, ia sedikit bersalah tak mengucapkan terima kasih pada wanita keras kepala itu. Namun ia menutup kembali kotak bekal itu.
" Loh kok ditutup mas?? Gak mau? yaa udah sini buat Suci aja" ucapnya seraya hendak meraih kotak bekal itu, namun tangan Erwin dengan cepat mengelak dan menyimpan kembali kotak bekal itu kedalam tasnya.
" Ini untuk mas, kalau kamu laper biar mas pesen makanan lain, kamu mau makan apa??" tawar Erwin pada Suci yang sedikit cemberut karena tak bisa mencicipi makanan di kotak bekal itu.
__ADS_1
Dan tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka, terlihat Edwin masuk bersama seorang wanita yang tak lain adalah calon istrinya yang datang untuk menjenguk nyonya Aritama. Terlihat obrolan hangat dan riuh dalam kamar itu sehingga membuat nyonya Aritama merasa senang berkat jatuhnya anak-anak berkumpul, kecuali Eza yang masih diluar negeri dan akan pulang bulan depan.