
Esok paginya, Marwah terbangun dengan mendapatkan dirinya berada dalam pelukan Erwin yang tertidur lelap disisinya. Sekilas ia tersenyum kecil ketika melihat pada rambut Erwin yang menutup kening pria tampan itu. Ia masih saja terus terkagum dengan wajah tenang Erwin.
Namun perlahan ia pun sedikit tersadar bahwa semalam mereka benar-benar tertidur lelap di ranjang Marwah yang sempit. Pelan ia pun mencoba untuk melepaskan diri dari tangan Erwin yang memeluk pinggangnya.
Pelan-pelan ia mencoba turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar dengan mengendap-ngendap.
Setelah pintu kamar sedikit tertutup, Marwah yang hendak melangkah untuk turun pun seketika berhenti ketika mendengar suara getaran dari sisi lengan sofa yang terdapat jas Erwin disana.
Awalnya ia ingin mengabaikan, namun sepertinya tidak bisa ia tinggalkan. Karena Marwah berpikir pasti itu hal penting untuk Erwin dari perusahaan. Lalu ia mencoba mengambil handphone milik Erwin ya berada di dalam saku jas. Ia melihat ternyata ada beberapa email masuk dan sebuah pesan layana WA terbuka dengan tak sengaja. Dan isi pesan tersebut membuat Marwah terpaku.
" Dua perusahaan kecil akan tutup, " Sekertaris Chandra .
Marwah terdiam memandang layar handphone tersebut. Ia hanya bisa menutup kembali laman pesan tersebut dan meletakkan nya ditempat semula.
Dengan rasa hati tak menentu ia turun kebawah untuk memulai harinya seperti biasa dengan hati yang berat dan pikiran tak menentu untuk Erwin.
🍃🍃🍃
Tepat di jam 7, Erwin yang tengah menerima telfon penting pun terlihat diam tak bisa banyak menjawab.
Marwah yang tengah menata sarapan pagi di atas meja makan pun ikut mencuri-curi dengar pembicaraan Erwin yang berat di pagi hari.
Selang beberapa saat, komunikasi telfon tersebut pun terputus. Erwin menghela nafas panjangnya yang berat.
" mas, sarapan dulu," seru Marwah yanf sedikit mengangetkan Erwin.
" ah, ya..," ucapnya seraya menyimpan handphone miliknya lalu berjalan pelan mendekat pada Marwah yang telah duduk di meja makan.
" Waah, kamu masak ini semua??,"
" hmm," gumam Marwah pelan diiringi senyum hangat mengembang.
" siapa yang mau habisin??,"
" ya mas donk," jawab Marwah santai seraya memberikan sendok dan garpu pada Erwin yang terlihat menyambut nya dengan senang.
Erwin tertawa kecil.
" kamu mau buat mas gendut yaa?," celetuknya dengan meraih 1 piring yang berada dekat di hadapannya.
__ADS_1
" hmm, biar mas kuat, karena berpikir pasti butuh energi, dan energi itu datangnya dari perut," ucap Marwah memandang wajah Erwin.
Erwin mencoba menyantapnya makanan itu dengan senang. Dan ia merasa makanan ini begitu enak.
" gimana?? apa rasanya enak??,"
Erwin tak menjawab, tapi ia membalasnya dengan memberikan tanda jempol pada Marwah yang disambut senyum bahagia Marwah.
Namun tak lama Marwah kembali mengingat isi pesan dari Sekertaris Chandra . Ia terpaku menatap dalam wajah Erwin.
" kamu mau kekantor sekarang???," tanya Erwin.
" ya," jawab Marwah cepat.
" tapi naik motor gak papa?,"
Marwah tersenyum kecil.
" ya Marwah bisa sesuaikan kostumnya," jawabnya santai.
" beri Marwah waktu, Marwah siap-siap dulu ya," ucapnya seraya bangun dan berjalan meninggalkan Erwin yang masih menikmati sarapannya.
Selang beberapa menit, terlihat Marwah keluar dari kamarnya dengan dandanan casual dan cantik. Erwin yang memandang Marwah pun ikut tersenyum bangga. Bangga karena Marwah benar-benar wanita yang cantik kapan pun walau dengan pakaian sederhana.
Erwin menggeleng pelan.
" cantik," puji Erwin seraya berjalan mendekat pada Marwah dan meraih kepala wanita itu untuk dia cium dengan penuh sayang.
Marwah sedikit terkaget. Namun ia pun membalas dengan senyum simpul seraya menatap wajah Erwin.
" kita jalan???," tanya Erwin seraya mengulurkan tangannya dihadapan Marwah
" ya," sahut Marwah cepat seraya menyambut jemari Erwin. Lalu kedunya pun berjalan keluar dari rumah atas Marwah yang ternyata disambut wajah kaget para karyawan toko.
Lily dan Salwa pun tak kalah kagetnya melihat kedua sejoli ini lewat dengan bergandengan tangan.
" waaaah, mau satu yang begitu," ucap Lily baper.
Salwa tertawa kecil, lalu merangkul bahu sahabatnya ini dengan sayang.
" banyak-banyak berdoa, karena yang tipe begitu udah pada ada yang punya," celetuk Salwa dengan tertawa lepas. Dan terlihat Lily sedikit kesal diremehkan oleh Salwa.
__ADS_1
" awas aja, kalau gue dapet satu yang begitu, lo jangan tanya-tanya tipsnya sama gue yaa," ucap lily yakin.
" memang ada tipsnya??," tanya Salwa balik pada Lily.
" ya ada,"
" apa??,"
" ya tanya mbak Marwah donk," sahut Lily polos, sehingga dengan terpelongonya Salwa tepok jidat mendengar jawaban Lily yang gak banget.
Disisi lain, ketika Erwin hendak menghidupkan motornya. Seorang pria berpakaian hitam datang mendekat pada Erwin.
Terlihat ia menyerahkan sebuah amplop pada Erwin, lalu tanpa berbicara pria aneh itu pun pergi meninggal Erwin begitu saja. Marwah terlihat bingung.
" siapa?," tanya Marwah penasaran.
" hmm, hanya penjaga," ucap Erwin santai seraya menghidupkan motornya sehingga seketika suara mengelegar terdengar keras.
Marwah terlihat sedikit kaget.
" kamu yakin??," tanya Erwin lagi seraya memegang helm miliknya yang terlihat sedikit berat.
Marwah mengangguk yakin. Namun Erwin terlihat sedikit tak yakin. Tapi tangan Marwah memegang lengan Erwin seolah menyadarkan pria ini, sehingga Erwin pun dengan sedikit ragu memakaikan helm milik ya pada Marwah.
" loh??," ucap Marwah kaget dengan merasakan tangan Erwin dengan cepat mengumpulkan pengait helm agar terlihat kuat melindungi kepala Marwah.
" mas gak pakai helm??," tanya Marwah.
" kamu jauh lebih penting," ujar Erwin yang dengan santai menaiki motor gedenya tersebut.
" ayo," ucap Erwin seraya menopang kuat badan motor tersebut agar seimbang.
Dengan tanpa ragu Marwah pun naik motor itu dengan jantung berdebar. Ini kali pertama ia naik motor gede yang terlihat memiliki kemampuan untuk melaju kencang.
Setelah merasa pas ditempat dudukannya, Marwah terlihat sedikit kesusahan untuk berpegang.
" peluk mas," ucap Erwin.
" hah??,"
" kalau kamu gak meluk, nanti kamu bisa terjatuh," jelasnya dengan meraih tangan Marwah dan membawa untuk melingkar pinggangnya.
__ADS_1
" peluk yang erat," serunya lagi pada Marwah yang sedikit canggung karena ini benar-benar sedikit susah.
Namun tak berselang lama, Erwin mulai melajukan motornya yang membuat Marwah sedikit tersentak hingga membuatnya memeluk tubuh Erwin kuat. Erwin yang merasa dibekap kuat pun sedikit tersenyum senang. Lalu akhirnya ia pun mulai fokus membelah jalanan yang mulai padat.