Come A Closer Love

Come A Closer Love
56


__ADS_3

Pagi harinya, Marwah bangun dengan cepat seperti biasa. Persiapan untuk ke panti asuhan telah selesai hanya tinggal dimasukkan kedalam mobil operasional. Sembari menunggu Lily dan Salwa, Marwah merapikan cake ulang tahun pesan ibu Intan yang akan di antar sebentar lagi sekitar jam 8 lewat.


Tak berselang lama, Lily datang lebih cepat. Sehingga Marwah dan Lily dengan cepat membereskan roti-roti itu untuk dimasukkan kedalam mobil operasional.


" Kamu coba telfon Salwa ya, suruh cepat datang, " ujar Marwah pada Lily. Dan terlihat Marwah tengah bersiap-siap untuk membawa kotak cake itu kkeluar toko untuk dimasukkan kedalam mobil operasional dr. Dessert


Namun, tiba-tiba pintu toko terbuka. Reflek Marwah menoleh dan terkejut melihat sosok Erwin yang terlihat berbeda dengan stelan kasual berdiri melihat pada Marwah.


"Direktur??," ucap Marwah kaget.


" Syukurlah kalian belum pergi, " ujar Erwin dengan berjalan kearah Marwah yang berdiri di dekat meja kasir.


Marwah terlihat benar-benar kaget dengan kehadiran Erwin di tokonya.


" Direktur kemari ada apa?? kenapa enggak ke kantor?," tanya Marwah bertubi-tubi pada Erwin.


" Kenapa??, memangnya aku tak boleh kemari??," ujar Erwin yang tersenyum sekilas menyapa Lily.


" Ah, yaa enggak gitu, cuma.., " sela Marwah yang tak tau salahnya Erwin dimana.


" Aku sengaja bolos hari ini, untuk bisa ikut kamu ke panti asuhan," Erwin menjawab pertanyaan Marwah dengan senyum hangat.


" Hah??" .


" Aku juga telah sediakan keperluan panti dan semua ada diluar, " ujar Erwin lagi.


" Apa??," jawab Marwah tak percaya. Dan Erwin menarik jemari Marwah untuk melihat keluar tokonya.


Dan benar saja, terdapat 2 mobil box besar didepan jalan raya sedang terparkir sejajar. Marwah melihat dengan syok.


" Direktur, ini ??," ucap Marwah dengan menutup mulutnya dengan tangan dan melihat pada Erwin yang terlihat senang melihat Marwah syok.


" Kenapa?? apa ini kurang??".


" Ah..,bukan-bukan begitu, tapi ini..., bagaimana bisa Direktur melakukan ini??," tanya Marwah.


Dan dengan gemasnya Erwin mengusap kepala Marwah.


" Bukan kan kita harus berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan," jawab Erwin bijak.


Marwah pun kehilangan kata-kata mendengar ucapan Erwin yang tak terbantahkan.


" Terima kasih, Direktur, anak-anak panti pasti senang menerimanya," ucap Marwah tulus. Dan seketika ia melihat pada jam tangannya, lalu sedikit kaget ketika jam telah menunjukkan pukul 8 lewat. Lalu dengan buru-buru Marwah mengambil kotak cake ulang tahun.



" Kamu mau kemana??," tanya Erwin pada Marwah yang jadi ikut berbalik masuk kedalam toko.


" Marwah harus antar cake ini dulu untuk pelanggan," jawab Marwah sedikit cemas.


Erwin melihat dengan sedikit tak suka. Lalu ia meraih lengan Marwah, dan seketika Marwah berhenti dan menoleh pada Erwin.


"???" Marwah terlihat bingung.


Erwin meraih kotak yang berada dikedua tangan Marwah lalu meletakkannya kembali di meja kasir.


" Tidak semua harus kamu yang lakukan, " ujar Erwin serius. Lalu dengan santai Erwin melihat pada Lily.


" Kamu, siapa namanya???," tanua Erwin.


" Lily," jawab Lily cepat.


" Lily, bisakah kamu yang mengantarkan cake ini untuk pelanggan???, karena aku ingin bersama nona ini," ujar Erwin serius, sehingga lily refleks mengangguk mematuhi perintah pria tampan ini.


" Tapi Direktur..," ujar Marwah tak enak pada Lily yang mengambil kotak cake tersebut. Dan seketika Erwin memberi kode pada Marwah dengan memenyentuh jari telunjuknya di bibir seolah berkata untuk diam.


" Dan jika kamu telah selesai mengantar cake, kamu bisa terus sambung menuju panti asuhan, kan???," tanya Erwin pada Lily.


Dan lagi-lagi Lily mengangguk paham akan intruksi Erwin.


Marwah melihat dengan tak percaya pada sifat ngebos Erwin.


Dan beselang beberapa menit, terlihat Salwa datang dimoment yang pas. Sehingga lily pergi dengan Salwa untuk mengantar cake tersebut.


" Kami pergi ya mbak, nanti ketemu disana," ujar Lily yang terlihat senang.


" Iyya," jawab Marwah yang tak percaya bahwa Lily bisa sepatuh itu dengan perintah Erwin.


Terlihat Erwin tengah memberi intruksi pada supir mobil box dengan memberikan alamat yang dituju. Lalu tak lama Erwin kembali pada Marwah yang berdiri didepan tokonya dengan telah siap untuk pergi.


" Ayo kita pergi," ajak Erwin dengan meraih jemari Marwah dan menariknya untuk berjalan menuju mobil mewah Erwin.


🍃🍃🍃


Selama perjalanan Erwin terlihat membalas beberapa pesan dari Sekertaris Chandra. Marwah sesekali melihat pada Erwin yang terlihat sedang berpikir serius.


Tampa sadar Marwah memperharikan wajah Erwin sekilas, dan tak sengaja sorot matanya jatuh pada bibir Erwin yang sedang membaca serius isi emailnya.


Dan entah bagaimana, tiba-tiba bayangan ciuman panas Erwin di bibirnya pun teringat kembali.


" Ah, kenapa jadi ingat hal itu lagi??" bisik Marwah dengan menundukkan wajahnya seolah malu.

__ADS_1


" kamu kenapa??," tanya Erwin yang mengangetkan Marwah.


" Bukan apa-apa??" jawab Marwah cepat dengan mengipas-ngipaskan tangannya pada wajahnya yang seolah bersemu merah karena mengingat ciuman itu.


" Apa kamu kepanasan??" tanya Erwin dengan melihat pada Marwah.


" Ah, enggak Direktur, ini cukup dingin," ujar Marwah kelabakan.


" Apa kamu membayangkan ciuman semalam??" tebak Erwin dengan tersenyum usil pada Marwah.


Sontak Marwah seakan terserang syok berat ketika mendengarkan tebakan Erwin yang tak salah.


" Ah enggak, enggak kok," jawab Marwah yang kelabakan.


Erwin tertawa melihat wajah Marwah yang seketika bersemu pink. Dan dengan sayangnya tangan Erwin mengusap kepala Marwah yang terlihat cemberut.


Hampir 40 menit mereka berjalan, hingga akhirnya sampai di tempat panti asuhan keluarga Marwah. Yang terlihat anak-anak panti seperti menyambut mereka dari masuk dalam perkarangan panti asuhan.


Terlihat Marwah antusias untuk turun, dan ia pun menyapa para pengurus panti asuhan yang terlihat akrab satu sama lain. Hingga Marwah pun menyapa seorang wanita paruh baya.


" Apa kabar ibu Nur?," sapa Marwah dengan lembit meluk ibu Nur yang terlihat bahagia dikunjungi Marwah.


Erwin terlihat mencoba berbaur dengan para pengurus panti, seraya berjabat tangan satu sama lain. Hingga ia pun bertemu dengan ibu Nur kepala pengurus panti asuhan.


Terlihat ibu Nur menyapa ramah pada Erwin.


" Marwah, ini siapa??," tanya ibu Nur pada Marwah yang berada disampingnya.


Marwah sedikit kaget, dan bingung menjelaskan siap pria yang berada dihadapan ibu Nur.


" Ah, ini..,Hhmm.. Direktur Erwin Aritama, dari Aritama group, " jawab Marwah ragu dengan melihat pada Erwin yang sedikit kecewa pada wajahnya.


" Ah, pak Direktur, terima kasih banyak pemberian nya, ini semua benar-benar besar artinya buat kami, anda benar-benar orang yang baik," ujar ibu Nur tulus.


Erwin hanya membalas dengan tersenyum simpul pada ibu Nur, tapi ia malah memandang kesal pada Marwah.


Dan Marwah sedikit terkaget.


" Direktur kenapa??" gumam batinnya yang merasa Erwin tak melihatnya berbeda.


🍃🍃🍃


Siang itu, dipanti asuhan setelah makan siang bersama. Anak-anak panti dengan semangat menurunkan hadiah pembarian Erwin yang benar-benar membuat mereka bahagia.


Erwin memberikan kasur spring bad baru, seprei, mukena dan sarung untuk anak-anak panti. Bahkan ia juga memberikan tas yang didalamnya telah terisi uang jajan dengan nilai yang lumayan.


Kegiatan tahunan ini pun ikut berubah, menjadi bersih-bersih tempat tinggal anak-anak panti. Mereka gontong royong mengeluarkan tempat tidur yang tak layak lagi dengan yang baru pemberian Erwin.


Mereka pun bersama-sama mencuci seprei baru yang kini tengah dijemur ditengah lapangan bola. Terlihat Marwah dan Erwin sibuk membantu kegiatan menjemur.


" Kak Marwah, kami ambil lagi yaa yang lain untuk dijemur," ucap seorang anak perempuan tanggung bersama temannya untuk mengambil cucian seprei lagi disumur belakang.


Erwin yang sedari tadi ikut membantu proses jemuran pun ditinggal oleh anak laki-laki yang kembali mengambil cucian di sumur belakang.


Hingga tanpa sengaja, mata Erwin menangkap wajah Marwah yang terlihat kepanasan seraya menjemur seprei yang berat karena tak habis di peras airnya.


" Ah, panasnya," ujar Marwah yang seraya sedikit menegadah keatas seolah melihat cuaca yang terlalu cerah.


Sesaat Erwin terpesona dengan paras cantik Marwah. Dan ia terus memperhatikan wajah Marwah dibalik lembaran kain yang terbentang diantara mereka. Dan reflek Erwin mengeluarkan handphone, lalu mengambil gambar Marwah secara diam-diam.


Dan terdengar suara panggilan seorang wanita.


" Kak Marwah, dipanggil ibu Nur."


" Oh iyya, sebentar," ucapnya Marwah dengan perlahan meninggalkan tempat jemuran itu.


Marwah mencari ibu Nur di ruangan tengah lebih tepatnya ruang makan yang disulap bak warung agar anak-anak bisa duduk dengan tertip ketika makan dengan duduk di kursi dan meja makan.


" Nak Marwah sini, " sapa ibu Nur ramah.


" ibu , ada apa cari Marwah,"


" Ibu mau bilang, terima kasih banyak yaa, kamu dan pak Direktur sudah sangat baik memberikan semua ini pada kami".


" Ah ibu, itu udah tugas kita saling membantu, maaf yaa ibu jika banyak kurang," tutur Marwah merendah.


" Oh enggak , ini benar-benar berlebihan, alhamdulillah," ujar ibu Nur bersyukur.


" Hhmm, tapi bagaimana kamu bisa kenal sama Direktur Erwin??".


" nah, itu.., itu agak panjang ceritanya, " jawab Marwah dengan tersenyum simpul.


" Ganteng yaa, cocok sama kamu Marwah, " ujar ibu Nur tersenyum pada Marwah.


Marwah pun hanya bisa membalas simpul senyum penuh arti ibu Nur.


Setelah berbicara dengan ibu Nur, Marwah jadi kepikiran Erwin yang sedari tadi tak tampa dimatannya.


" Direktur, kemana yaa??," gumam Marwah sendiri seraya berputar-putar lokasi panti.


Tak sengaja ia berpas-pasan dengan dua orang bocah tanggung dan mencoba menanyakan keberadaan Erwin, dan akhirnya ia mendapat kan info bahwa Erwin tengah berada di taman belakang dekat jemuran.

__ADS_1


Dengan senang Marwah pun berjalan menuju taman belakang. Matanya pun mencoba mencari-cari sosok Erwin diantara puluhan jemuran seprei disana .


" Dimana yaa??" gumam Marwah yang tak melihat sosok Erwin. Namun langkahnya pun terhenti ketika mendapat kan Erwin duduk dengan tangan kanannya menopang kepala dan tangan kirinya memegang handphone.


" Bisa-bisanya tertidur disini, " ujar Marwah yang kemudian mendekat pada Erwin yàng terlihat tertidur nyenyak.


Sesaat Marwah tersenyum lucu melihat wajah tenang Erwin yang tertidur. Dan tangan Marwah pun reflek mencoba mengambil handphone Erwin dari jemarinya yang seolah tak terpegang kuat. Namun seketika ekspresi wajah Marwah pun berubah terteguh. Ia terpanah melihat layar handphone Erwin yang ternyata tengah melihat foto dirinya yang tadi sedang menjemur kain seprei.


Hati Marwah tersentuh, dan perlahan ia berlutut dihadapan Erwin dengan wajah sendu. Tanpa sadar tangannya seolah ingin menyentuh wajah Erwin yang rupawan. Namun ia urungkan.


" Terima kasih Direktur, " ucap Marwah setengah berbisik dan perlahan tangannya menyentuh jemari Erwin yang terlihat khas tangan pria.


" Terima kasih karena selalu memeluk Marwah dengan hangat, " ucap Marwah pelan.


Namun tiba-tiba kedua mata Erwin terbuka, dan seketika kemudian jemarinya dengan cepat mengenggam jemari Marwah.


" Jatuh cintalah padaku, maka aku akan berkali-kali jatuh cinta padamu, Marwah," ucap Erwin seraya menatap tajam wajah Marwah yang terkejut.


" Direktur, maaf membuat Di..," ucapan Marwah terputus, karena sedetik kemudian Erwin menarik tubuh Marwah yang reflek terbangun dan menariknya untuk jatuh diatas pangkuan Erwin. Dan Erwin dengan keluasan memeluk tubuh Marwah dari belakang.


" Direktur !!," ucap Marwah kaget.


" Aku ini kekasihmu, bukan atasanmu, tidak bisakah kamu memanggil nama ku dengan panggilan yang lebih mesra??," pinta Erwin dengan melingkarkan tangannya dipinggang Marwah.


Marwah terlihat canggung.


" panggilan mesra??," tanya Marwah seraya berpikir.


" Hhmm, panggilan mesra," ucapnya dengan mencium harum tubuh Marwah.


" Pak Erwin??," panggil Marwah dengna sengaja.


" atau tuan Erwin??," panggil Marwah yang mencoba membuat jahil pada Erwin.


" ish, kamu ini yaa, kan aku minta yang mesra," ujar Erwin kesal dan melepaskan pelukannya seketika.


Dan Marwah sukses bangun seketika dari pangkuan Erwin.


" Atau abang?? Abaaang Erwin," goda Marwah dengan sengaja, sehingga memancing Erwin untuk bangun dan mencoba meraih tangan Marwah yang ternyata membawa handphone nya.


" Hey, kembaliin Marwah," ucap Erwin setengah tersenyum.


" Gak mau aah, Aabaaang!!," goda Marwah dengan sengaja dan ia pun mengulurkan lidah pada Erwin yang masih tak bisa menangkapnya.


" Marwah, sini, " panggil Erwin dengan mencoba menggapai Marwah yang pintar menghindar dari tangkapan Erwin yang berlari kecil.


" eh, Ibu Nur!!," ujar Erwin dengan berhenti tiba-tiba dan reflek Marwah pun berhenti berlari kecil dan menoleh kebelakang tempat yang ia kira ada ibu Nur, namun ternyata itu hanya bohongan Erwin semata. Dan dengan cepat Erwin mengambil moment itu dengan memeluk tubuh Marwah yang kemudia terkaget.


" akhirnya, dapat kamu !!" ujar Erwin sedikit geram pada Marwah yang sedari menjahilinya.


Terlihat Marwah terperanjak mendapatkan dirinya terkunci dipelukan Erwin.


" Direktur, nantik diliat anak-anak!!," ucap Marwah yang salah tingkah.


" BIARIN !!," ucap Erwin tegas dengan mengencangkan pelukannya dipinggang Marwah.


" Panggil dengan panggilan mesra!!," pinta Erwin dengan mencoba mendekatkan wajahnya pada wajah Marwah.


Deg.., jantung Marwah berdebar kencang, ketika merasakan hembusan nafas Erwin begitu dekat dengan wajahnya.


Dan Marwah punreflek menutup mulut nya dengan tangan kanan, ia takut jika Erwin akan menciumnya seperti malam itu.


Terlihat Erwin tersenyum melihat tingkah waspada Marwah.


" Kenapa??, apa kamu takut tak bisa mengontrol hasratmu jika berciuman seperti malam itu??" tebak Erwin yang tak salah lagi.


Marwah terlihat berusaha lepas dari pekukan Erwin.


" Panggil yang mesra, setelah itu akan aku lepas," tawar Erwin.


Erwin menatap dalam kedua bola mata Marwah.


" Ma..mas Erwin, " ucap Marwah dibalik jemari tangannya yang menutupi bibirnya.


" Lagi" .


" Mas.. Erwin," ucap Marwah, dan ia merasakan kedua lengan Erwin melanggar, dan perlahan Marwah menjauh dari Erwin yang tersenyum pada dirinya.


Namun dengan instingnya, Erwin dengan lembut meraih kepala Marwah dan menjatuhkan ciuman manis dikening Marwah dengan sayang.


Dan tiba-tiba segerombolan anak-anak berlari dan menyiramkan air dari selang pada Erwin dan Marwah. Sontak keduanya pun kelimpungan dengan serangan tiba-tiba anak-anak panti yang menyiram mereka dengan air sehingga mereka pun basah.


🍃🍃🍃


Disisi lain, terlihat ibu Nur tengah mengirim pesan bergambar pada mama Wulan orang tua dari Marwah.


" Siang ibu Wulan, terima kasih bingkisannya, saya suka sekali.., oia ibu Wulan selamat yaa, sepertinya akan mendapat menantu baru," Ibu Nur.


Dan terlihat pesan itu terkirim dengan gambar foto Marwah dan Erwin yang tertidur ditaman belakang tadi.


Dan senyum ibu Nur berkembang tulus mendoakan Marwah dan Erwin yang terlihat serasi dan kini keduanya terlihat lupa umur ketika bermain dengan anak-anak panti yang terlihat sama-sama bermandi lumpur.

__ADS_1


__ADS_2