Come A Closer Love

Come A Closer Love
42


__ADS_3

Pagi itu, Marwah terjaga di jam 5 pagi, berlahan ia mencoba mengumpulkan kesadarannya dari rasa ngantuk. Marwah berusaha untuk benar-benar membuka matanya, dan samar-samar ia melihat dihadapannya wajah seorang pria yang tertidur lelap. Marwah sedikit terkaget, dan berusaha yakin bahwa ia tak salah melihat, dan tersadar seketika dan menyadari ternyata tubuhnya berada dalam dekapan pria yang tak lain adalah Direktur Erwin Aritama.


Seketika Marwah menutup mulutnya untuk tak mengeluarkan suara karena panik berada dalan pelukan seorang pria yang menghangatkan tubuhnya.


" ya Tuhan, apa yang aku lakukan?? bagaimana bisa begini ??" gumam hati Marwah yang mengingat bahwa ia hanya tidur berpelukan pada tubuh Erwin dengan Erwin terduduk menyangga tubuhnya. Namun sekarang, ia malah rebahan disisi Erwin, dan tangan kanan Erwin merangkul pundaknya sehingga posisi berhadapan dekat.


Dalam heningnya, Marwah memperhatikan wajah tenang Erwin yang tertidur dengan tenang. Ia bahkan jadi iseng menyentuh rambut Erwin yang terlihat tak rapi seperti biasanya ia lihat, ia menyisir rambut Erwin hingga menutupi keningnya.


" padahal cuma diubah begini, tapi Direktur terlihat lebih hangat !!" gumam hatinya yang tersenyum kecil melihat model rambut Erwin yang berbeda dari biasa.


Lalu, Marwah kembali mengubah style rambut Erwin seperti biasa, dengan menyisir rambut Erwin kebelakang dan memperlihatkan kening pria ini yang selalu berkenyit, jika semua persoalan tak sesuai harapannya.


" Ah, jika dibuat begini pun, anda tetap terlihat tampan Direktur" gumam Marwah yang kemudian menyadari bahwa ia seperti kebelet pipis. Panggilan alam yang tak bisa ia dipungkiri karena terasa kantung keningnya seperti kembung. Dan berlahan Marwah mencoba bangun dan melepaskan diri dari rangkulan tangan Erwin.


Karena hal itu, berlahan Erwin pun terbangun dengan menyeringai pelan.


" Kenapa bangun??? tidurlah, ini masih terlalu pagi!!" ucap Erwin dengan masih berat dan hendak terlelap kembali dalam tidurnya.


Marwah hanya tersenyum melihat tingkah Erwin, hal itu sama persis dengan adiknya Brian. Namun, Marwah lebih memilih bangun berlahan dan mencoba mengunakan sepatunya. Lalu bangun berlahan dari sofa tersebut.


Dan akhirnya, hal tersebut kembali membuat Erwin terbangun, dan ia langsung duduk dengan wajah menguap dan merasa tubuhnya terasa pegal-pegal.


" Kamu mau kemana??" tanya Erwin pada Marwah yang melihat pada wanita ini seolah melihat sekeliling gedung.


" Saya, mau ke kamar mandi !!" ujar Marwah yang tak sanggup menahannya lagi.


Erwin melihat dengan bingung.


" Mau ke toilet, toilet ada disebelah mana??" tanya Marwah kembali dengan wajah menahan pipis.


" Ah, itu.., itu disana di sebelah kanan dekat restoran ada toilet, dan sudah berfungsi" ujarnya cepat dengan merenggangkan lengannya.


Dan dengan cepat Marwah paham dan berjalan kesana, namun tiba-tiba langkahnya berhenti, dan berbalik kembali kearah Erwin. Erwin pun melihat dengan aneh.


" Kenapa??"


Marwah melihat dengan ragu.


" Maaf, bisa temenin gak??" tanya Marwah dengan wajah ragu namun memelas. Ia takut untuk pergi sendiri, karena belum ada lampu, sedang kan fajar masih belum benar-benar naik.


Dengan berat Erwin menghela nafas panjangnya, lalu bangun dan berjalan melewati Marwah.


" ya udah, ikut aku.., kita ke kantor hotel disana ada lampu emergency mungkin!!" jelasnya dengan berjalan menuju lorong yang agak jauh. Dan selang beberapa jauh, terdapat pintu masuk yang tak terkunci.


Tercium aroma funitur yang masih baru disana, dan Erwin mencoba menghidupkan lampu toilet yang dimaksudnya tadi.


Klak, bunyi penghidup lampu berbunyi.


Dan benar, lampu itu emergency itu ternyata telah terpasang. Dan dengan senang Marwah masuk kedalam toilet tersebut, sedangkan Erwin duduk dikursi yang terdapat meja kerja disana, ia mencoba mengerakkan otot-otot lengan kanannya yang terasa pegal. Dan sekilas ia mengingat bahwa semalam, ia mengubah posisi duduk mereka menjadi rebahan di sofa dan mereka saling berpelukan agar terasa hangat satu sama lain.


Dan sesaat Erwin tersenyum simpul, bagaimana ia bisa dengan tenang tidur dengan seseorang gadis, bahkan memeluknya dalam pelukkannya.


Lalu selang beberapa menit akhirnya Marwah keluar dengan terlihat wajah segar Marwah yang telah membasuh wajahnya hingga kini terlihat wajah natural Marwah tanpa make up dengan rambut telah ia gulung keatas membuat tampilannya benar-benar segar dimata Erwin.


" Airnya benar-benar segar !!" ucap Marwah.


Erwin hanya tersenyum simpul, lalu ia pun berjalan menuju toilet tersebut. Marwah hanya terdiam dan kembali mencoba melihat ruangan itu dengan pencahayaan yang mulai sedikit terang.


Dan tak berselang lama, Erwin pun keluar dengan wajah segar seperti wajah Marwah yang telah dibasuh air.

__ADS_1


" kira-kira jam berapa orang kerja akan datang dan membuka pintu??" tanya Marwah pada Erwin.


Dan seketika Erwin refleks menoleh pada jam tangannya.


" Hhmm, mungkin jam 7 mereka sudah datang, " ujar Erwin yakin.


" Hhmm..," gumam Marwah yang lesu.


Dan keduanya pun keluar dari ruangan tersebut dengan lega. Namun Erwin tak berjalan kearah lobby depan, ia malah berjalan kearah yang berlawanan dengan Marwah.


" Direktur.., anda mau kemana??" tanya Marwah bingung.


" ikut aku, akan aku tunjukan sesuatu yang bagus," ujarnya dengan tersenyum.


Dengan bingung dan tanpa banyak bertanya Marwah mengikuti langkah Erwin yang berjalan sampai pada satu tangga yang berada diujung lorong tersebut dan terdapat pintu keluar besar nomor dua gedung.


" Ayo, kita naik..," ajak Erwin pada Marwah.


Marwah melihat dengan terpaku.


" naik??" tanya Marwah lagi.


Erwin dengan santai naik hingga kini sidah di anak tangga ke 5, lalu menoleh pada Marwah yang masih terpaku melihat anak tangga.


" cepat naik, nanti ada hal bagus yang kamu pasti akan suka" ujarnya lagi menyakinkan Marwah.


Dengan mencoba tersenyum simpul, Marwah pun berlahan naik dengan mengunakan sepatu heelsnya.


Erwin terus menaiki anak tangga itu dengan langkah cepat, berbeda dengan Marwah yang naik dengan berlahan.


" Apa masih jauh??" tanya Marwah yang mulai terasa kakinya sakit.


Marwah terhenti, ia terkaget mendengar jawaban Erwin.


" Apa?? 6 lantai lagi??" ujar Marwah yang terlihat mulai ngos-ngosan.


" Ini baru lantai 4, kita masih punya 6 lantai lagi untuk bisa melihat hal yang indah," ujar Erwin yang jadi ikut terhenti ketika melihat Marwah tak melanjutkan langkahnya.


" Gak- enggak Direktur, ampun deh.., Marwah, Marwah disini, bener ampun, gak sanggup kalau harus naik 6 lantai lagi " ujar Marwah dengan melambai kan tangannnya tanda menyerah.


Erwin menghela nafas panjangnya, dan berlahan turun beberapa anak tangga hingga kini ia berdiri disatu anak tangga yang sama dengan Marwah.


" Kamu pasti menyesal kalo tidak melihat hal bagus ini, ayo lah, waktunya hampir tiba " ujar Erwin yang kemudian turun dan meraih sepatu heels Marwah untuk dilepas, sontak hal itu membuat Marwah kaget.


" Direktur!!" ujar Marwah kaget. Ketika melihat kakinya kini keduanya terlepas dari sepatu tingginya.


Dan dengan sigap Erwin bangun dan kini berdiri dihadapan Marwah seraya memberikan uluran tangannya pada Marwah.


" Aku tak pernah mengajak sesiapa pun untuk melihatnya, baru kali ini dan hanya padamu aku memperlihatkannya" ujar Erwin serius seraya melihat wajah Marwah.


Marwah jadi terteguh mendengar ucapan Erwin, dan dengan berat ia meraih jemari Erwin lalu berlahan mereka pun menaiki anak tangga bersama.


Hingga tidak terasa, keduanya pun sampai pada tingkat paling atas hotel dengan nafas sedikit memburu. Berlahan Erwin membuka pintu yang berada di depan tangga tersebut, dan terlihat suasana pagi yang segar.


Marwah mengikuti langkah Erwin dan berhenti ketika melihat pemandangan yang menakjubkan matanya. Suasana pagi yang benar-benar indah, sejuk dengan hembusan angin yang dingin menerpa wajahnya. Berlahan langkah Marwah mencoba berada di tengah-tengah gedung dan melihat dengan jelas view indah jakarta pagi hari yang masih terlihat sepi.


" Kemari lah, dan lihat kesana!!" ujar Erwin yang kemudian Marwah mengikut instruksi Erwin. Dan betapa terpanahnya Marwah ketika melihat cahaya matahari pagi yang berlahan mulai menyinari dengan dengan indah dibalik awan-awan yang seolah-olah ia ingin menembus awan itu.


" Indahnya sinar matahari pagi !!" ujar Marwah terpesona.

__ADS_1


Erwin tersenyum puas akan kata-kata kagum Marwah.


" Dulu hotel ini diberi nama " Mentari" oleh ayah ku, " jelas Erwin mengenang. Marwah mendengar dengan terteguh.


" Dan aku berpikir aneh, karena masih tak faham arti filosofis hingga menganggapnya lucu, dan berpikir mengapa tidak memberi nama yang lebih keren dari Mentari, bukankah Venus atau Mars adalah planet keren. Namun ayahku hanya tersenyum simpul dan ia hanya mengusap kepala ku," ujar Erwin yang seperti bernelangsa jauh.


" Namun, akhir aku tau arti " Mentari" yang ayahku maksud," ujar Erwin mengenang.


" Selalu ada Mentari baru setiap pagi, dan selalu ada kesempatan baru setiap hari," ucap Erwin seolah jeda mengenang perkataan ayahnya yang mendalam ketika dimoment yang tak akan pernah ia lupakan selamanya.


" Ternyata itu bukanlah hanya sekedar nama, namun semua itu memiliki arti dan harapan yang mendalam, " Erwin berbicara dengan menghela nafas beratnya seolah mengenang kesedihan yang ia kenang.


Marwah terteguh melihat kearah wajah Erwin yang terlihat hangat dan sedih. Wajah yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


" Namun kini aku hanya mengubah sedikit namanya, namun tetap dengan arti yang sama " Sunrise", May every sunrise hold more promise and hope, " tutur Erwin tersenyum bernelangsa jauh.


Marwah tersenyum simpul, ia jadi ikut merasakan arti Sunrise yang Erwin maksud, harapan baru untuk menjadi lebih baik.


" Ayah anda pasti bangga akan diri anda saat ini Direktur, karena beliau sukses mendidik anda dengan sangat baik, " ujar Marwah dengan tersenyum hangat pada Erwin.


" Ternyata saya baru tau, seorang Erwin Aritama bisa memiliki sisi hangat dan selembut ini," ujar Marwah yang kini tersenyum dan membelakangi sunrise yang terlihat mulai muncul sempurna dengan cahaya orange dan kuning terang, sehingga memancarkan aura cantik Marwah yang terlihat tulus memuji Erwin.


Deg..,deg, jantung Erwin berdebar melihat pada parah Marwah yang tersenyum hangat pada dirinya.


Dan entah apa yang terlintas di pikiran Erwin, hingga ia berjalan dengan serius ke hadapan Marwah yang masih melihat sekeliling dengan kagum dan sedikit merapikan rambutnya ke sisi samping kupingnya. Hingga langkah Erwin pun berhenti dihadapan Marwah, sehingga membuat Marwah terkaget dan bingung.


" Kenapa??" tanya Marwah bingung dengan melihat pada wajah Erwin. Namun tanpa memberi penjelasan, Erwin dengan sigap menarik tubuh Marwah mendekat pada dirinya, dan dengan segera menjatuhkan ciuman hangat dibibir ranum Marwah.


Dan kedua mata Marwah melebar, ketika menerima ciuman bibir dari Erwin, yang membuatnya terkaget. Kedua tangan Marwah lemas seketika menerima pangutan hangat ciuman tersebut, hingga ia tak bisa menolak Erwin. Namun tak lama ciuman bibir itu pun terrerai, dengan nafas keduanya sedikit menderu, berlahan wajah Erwin menjauh yang hanya beberapa inci dari wajah Marwah dan berbisik lirih.


" Aku, hanya mengambil sisa ciuman yang kau curi pada malam itu, " ujar Erwin pada Marwah yang terlihat masih terkaget, dan berlahan melepaskan lengannya dari pelukan dipinggang ramping Marwah.


Lalu ia mundur seraya berbalik badan meninggalkan Marwah yang masih terpaku.


" Ayo kita turun, sebentar lagi pekerja akan datang, dan kita bisa keluar dari sini, " ujar Erwin yang membuat Marwah terkaget.


Marwah tak menjawab, tapi ia malah refleks menyentuh bibirnya sendiri seraya berpikir kesal.


" apa ini?? Direktur tadi balas mencuri ciumanku !!" pikirnya yang kemudian ikut berjalan menuju pintu yang tadi ia lewati.


Dan terteguh ketika berada di hadapannya adalah anak tangga turun. Dan terlihat Erwin tak menunggui dirinya yang telah turun kebawah dengan cepat.


" Ck, habis manis sepah dibuang, dasar laki-laki semua sama saja !!" gerutu Marwah, lalu ia turun dengan masih bertelanjang kaki, hingga kini semua cahaya memerangì tiap anak tangga, lalu ia sampai pada anak tangga yang terlihat sepatu heelsnya tadi ditinggal disana.


Hingga ia sampai pada lantai bawah, dan berjalan dengan pelan menuju lobby yang kini terlihat terang benderang. Dan terlihat Erwin tengah menyidak security yang pulang tanpa mengecek orang didalam.


Namun, Erwin berhenti marah, ketika ia menerima alasan yang masuk akal dari penanggung jawab kunci.


" Ibu saya tiba-tiba jatuh pingsan, jadi ketika ditelpon saya panik dan tak pikir panjang pak, saya benar-benar minta maaf pak..," ujarnya memelas.


Erwin akhirnnya menghela nafas panjangnya.


" Ya sudah, " ucap Erwin tak bisa marah bila alasan orangtua dan keluarga yang di berikan. Marwah hanya melihat dari belakang punggung Erwin. Lalu pria itu pun berbalik kehadapan Marwah sehingga membuat wanita itu terkaget.


" Aku memberikan kamu kelonggaran waktu,masuk kantor jam 10, jangan telat !!" ucap Erwin pada Marwah, lalu berbalik badan dan berjalan menuju parkiran mobilnya yang berada disebelah mobil Marwah.


Dan Marwah hanya melihat dengan menghela nafas panjangnya. Lalu terlihat dua security itu terbengong melihat kearah Marwah yang ternyata wanita yang sore itu datang juga ikut terkunci bersama Direktur didalam.


" Permisi pak, " ujar Marwah yang kini mengikuti jejak Erwin menuju mobilnya dan bersegera pulang.

__ADS_1


__ADS_2