Come A Closer Love

Come A Closer Love
77


__ADS_3

Pagi itu Marwah memang bangun seperti biasa, namun ada sedikit yang berbeda yang membuatnya lebih bersemangat pagi ini. Ia tak henti-hentinya tersenyum melihat pada pada jemarinya yang kini tersemat cincin berlian yang indah.


Tetapi karena harus membuat roti, ia harus menanggalkan cincin itu sementara agar ia lebih leluasa ketika membuat bentuk-bentuk roti.


Sekitar pukul 8 pagi para karyawan toko satu bersatu berdatangan, dan rutinitas toko pun kembali hidup seperti seperti biasanya.


Marwah dengan santai mengobrol dengan Lily dan Salwa.


" tumben mbak, udah mau jam 9 tapi masih santai, gak kekantor Aritama mbak??," tanya Salwa.


Marwah tersenyum terkulum.


" mbak karyawan spesial, jadi yaa hari ini bisa datang sedikit telat, lagi pun nanti dijemput?" jelas Marwah santai seraya menyerut coklatnya.


" waah hebat banget mbak," sahut Lily kagum.


Marwah hanya membalas dengan senyum ucapan Lily, lalu melihat jam seraya menimbang-nimbang.


" hhmm, kayaknya mbak masih punya waktu, kita bisa buat 1 cookies Havana Nastum dan Belgian Cake," ajak Marwah pada Lily dan Marwah.


Salwa seakan bersemangat.


" asyik mbak, salwa siap !!,"


" oke, biar Lily yang ambil bahannya," sambung Lily.


" sip, mbak cuci tangan dulu," ujar Marwah dengan tersenyum mengingat ia akan membawa kedua cemilan itu untuk Erwin nanti.


Dan Marwah kembali terlihat fokus dalam membuat kue itu dengan bantuan Salwa dan Lily yang sudah sering membantu Marwah dalam membuat kue premium.


Butuh waktu 4 jam lebih hingga kedua kue itu jadi.


Belgian Cake




Marwah tersenyum ketika melihat cookies Havana Nestum itu tersusun rapi didalam toples mini yang ia susun rapi.


Hingga akhrinya ia di ingatkan oleh Salwa.


" mbak, udah jam 1 siang, apa gak kekantor?,"


" Hah??, udah jam satu??," sahut Marwah kaget lalu ia pun terlihat panik meraih handphone nya dan ternyata tak mendapat kan pesan atau telfon siapa pun disana. Dan ia sedikit heran.


" kok mas Erwin gak telfon yaa??," gumamnya merasa aneh, namun ia seketika membuka celemek dapur dr. Dessert.


" mbak mandi dulu yaa???" ujar Marwah cepat seraya meninggalkan Lily dan Salwa lalu berjalan cepat untuk naik kerumah atasnya dengan terburu-buru.


Dan tak berselang lama Marwah selesai mandi dan tengah bersiap-siap berpakaian seraya berdandan minimalis.


Namun tiba-tiba ia terkaget ketika mendengar suara telfon, dan segera ia meraih handphone nya dengan buru-buru dan terkaget karena yang menelfon adalah sekertaris Chandra.


" hallo?,"


" Marwah kamu dimana??, direktur dan rekanan Franks sudah menunggu kamu dari tadi," tanya sekertaris Chandra cepat.


Marwah terkaget.


" apa?? mas Erwin sudah disana???, kapan??," tanya Marwah heran.


" 2 jam yang lalu," jelas sekertaris Chandra.


" APA??," sambut Marwah yang kaget.


" cepat laah kemari, ke hotel Sunrise, sekarang, oke," ucap Sekertaris Chandra cepat seraya memutuskan kominikasinya dengan Marwah.


Marwah terdiam bingung. Namun tersadar dan dengan cepat ia pun bersiap seraya meraih tas nya dan turun ke bawah dengan buru-buru.


" mbak pergi dulu yaa, bye..," ujar Marwah buru-buru ketika berpas-pasan dengan Salwa dan Lily yang masih berada didapur roti.


" ah, ya mbak, hati-hati.," sahut Lily kaget melihat Marwah yang terburu-buru.


Namun ketika Marwah hampir sampai pada pedal pintu kaca tokonya, tiba-tiba ia teringat sesuatu dan kembali menuju dapur rotinya dengan berlari kecil. Lalu dengan cepat mengambil toples kecil dan satu box cake yang ia buat tadi dan kemudian ia kembali berlari kecil kedepan toko.


Lily dan Salwa melihat dengan bingung.


" kenapa mbak Marwah jadi seperti dikejar-kejar penjahat gitu?? katanya tadi karyawan spesial??," ujar Salwa.


" mungkin hak spesialnya dicabut karena terlalu terlambat," jawab Lily yang masih melihat kepergian Marwah.


Disisi lain, Marwah yang kini berada didalam taksi pun terlihat ngos-ngosan karena berlari kecil tadi.


Lalu ia mencoba melihat lagi pada handphone dan tidak ada telfon atau pesan dari Erwin.

__ADS_1


Dan 20 menit kemudian ia pun tiba di hotel Sunrise. Setiba disana Marwah mencoba mengirim pesan pada Erwin.


" mas, dimana??".


Dan tak lama sebuah pesan masuk pada handphone Marwah.


" cepat sayang , sekarang diruang meeting hotel lantai 2," balas Erwin.


Marwah seakan lega mendapat balasan pesan dari Erwin, lalu ia pun bersegera naik pada tangga yang terlihat di sisi kiri gedung hotel.


Dan ia melihat-lihat pada dua ruang meeting tertutup, namun tiba-tiba pintu room dua terbuka yang ternyata sosok Erwin keluar dengan santai tengah menerima telfon.


Seketika Marwah tersenyum lega dan berlari kecil pada Erwin. Terlihat Erwin menyambut kehadiran Marwah dengan senang lalu meraih kepala Marwah dan menjatuhkan ciuman sayang seraya berbicara dengan telfonnya.


" hmm, oke.., buat kan janji segera karena dalam dua minggu ini aku akan benar-benar sibuk Jo," ucapnya dengan memberi kode pada Marwah untuk menyuruh wanita ini segera masuk.


Marwah mengangguk paham, dan ia pun menuju pintu room 2. Terlihat Marwah sedikit terkaget dengan kehadiran Danil dan Franks yang menyambutnya dengan baik.


" lama tidak bertemu nona Marwah," sambut Danil.


" ah, yaa apa kabar tuan Danil dan tuan Fanks??,"


" seperti yang nona lihat saya senang karena hotel ini akan segera beroperasi," sambung Danil.


" bagaimana dengan anda nona Marwah, sepertinya anda dan Erwin sedang berbahagia," ujar Franks yang suksessukses menebak.


Marwah terkaget, namun ia hanya membalas dengan senyum simpul.


" bagiamana kalau kita mulai rapatnya?," saran Marwah. Dan kedua pria bule itu pun mengangguk setuju.


Terlihat sekertaris Chandra dan Suci dengan wajah tak senang memandang pada Marwah yang benar-benar datang.


" maaf mas," ujar Marwah yang hendak duduk di kursi sebelah sekertaris Chandra.


" apa yang kamu lakukan?," ucap Suci cepat.


" kamu benar-benar tidak sopan, itu kursi mas Erwin," jelas Suci ketus.


Marwah kaget.


" ah, aku tidak tau, " jawab Marwah yang merasa bersalah sehingga hendak pindah, namun tangannya di tahan oleh Sekertaris Chandra.


" Duduk lah, biar mas yang pindah," ucap sekertaris Chandra yang bangun dengan merapikan notesnya lalu bersegera pindah ke sisi Suci.


Wajah Suci bingung.


" udah cuma kursi doang, lagian mas gak tahan dingin, disebelah sana AC sentralnya kerasa banget, bisa masuk angin nantik," jelasnya lagi.


" iiikh," decak kesal Suci.


Tak lama, Marwah pun memulai persentasinya dihadapan Danil dan Franks untuk pertama kalinya lengkap dengan bahan yang ia suguhkan.


Ketika persentasi berjalan Erwin pun masuk dengan pelan dan duduk disebelah kursi Marwah lalu ikut menyimak perkembangan laporan Marwah.


Sekitar dua jam lebih diskusi itu berlangsung, terlihat Danil dan Franks memuji perkembangan konsep Marwah. Jumat ini mereka pun ikut dalam interview calon karyawan baru hotel.


Suci tak dapat menahan wajah kesalnya, ia begitu heran ketika Marwah biasa dengan mudah berdiskusi dengan rekanan Erwin.


Erwin terlihat lebih banyak diam, ia merasa Marwah jauh lebih bisa diandalkan dalam bidang ini.


" dan pada saat promosi, kita akan mengundang para selebgram yang akan mempromosi hotel kita," jelas Marwah dengan memberikan lembaran biodata para selebgram yabg berjumlah 8 orang tersebut yang terlihat memiliki follower terbanyak.


" selebgram??" tanya Erwin yang tak paham.


" ah, istilah lainnya influencer, mereka biasanya memiliki kekuatan sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap orang banyak. Para influencer ini cukup beragam dan berasal dari berbagai bidang, seperti bidang teknologi, kecantikan, kesehatan, hingga pendidikan. Dan kali ini kita akan memakai jasa mereka di bidang perhotelan," jelas Marwah pada Erwin.


Erwin mengangguk paham seraya melihat pada lembaran kertas biodata para selebgram tersebut.


" apa mas Erwin gak ada aplikasi instagram??," tanya Suci sedikit lucu.


Erwin menoleh pada Suci.


" instagram?, apa??," tanya Erwin balik.


Seketika ruangan itu pun terdengar suara tawa kecil. Erwin dan Erwin terlihat bingung.


" kenapa??, " tanya Erwin pada sekertaris Chandra.


" Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri," jelas Marwah sembari sedikit menutup mulutnya dengan tangan dan berbisik kecil pada Erwin.


Dan lagi-lagi Erwin mengangguk paham.


" sama dengan facebook??,"


Marwah mengangguk cepat dengan tangannya membenarkan rambutnya pada sisi samping telinga.

__ADS_1


Namun di sisi lain Suci terpaku melihat pada jemari Marwah yang tersemant cincin dan menarik perhatiannya.


Danil dan Franks terus berdiskusi dengan berbisik-bisik.


" Bagaimana?? apa kalian setuju dengan ide Marwah," tanya Erwin pada kedua rekan bisnisnya.


" kami menyukainya, itu lebih cepat diterima, apa lagi info promosi sekarang lebih cepat menyebar lewat instagram tersebut," jelas Danil puas.


" baik lah kalau begitu, fix setelah interview selesai, kita akan berkantor di hotel ini langsung," ujar Erwin.


Sekretaris Chandra dengan cepat mencatat semua keputusan dalam rapat itu. Marwah pun ikut merasa lega karena hasil kerjanya diterima dengan baik.


Dan tak lama rapat itu pun selesai.


Terlihat Danil dan Franks sedang berbicara serius dengan Marwah dan juga Erwin. Sedang kan Suci terus memperhatikan Marwah dengan serius, sehingga tak sadar sekertaris Chandra mendekat pada dirinya.


" Suci, ini rangkuman yang udah mas bikin, jadwal baru Marwah dan Direktur juga sudah tercatat," jelas sekertaris Chandra pada Suci dengan memberikan dua lembar kertas dihadapan Suci.


Suci melihat dengan dingin pada sekertaris Chandra.


" kenapa harus Suci??," tanya Suci sinis.


" loh?? bukan kah itu tugas kamu??," jelas Sekertaris Chandra heran dengan pertanyaan Suci.


" mas kerjain aja sendiri," jawabnya ketus seraya berjalan meninggalkan sekertaris Chandra dan dengan langkah tegas ia menghampri Erwin dan Marwah.


" kamu ikut aku Marwah," ujar Suci serius mendekat pada sisi Marwah.


Marwah terkaget dan begitu juga Erwin yang ikut melihat pada Suci.


" ada apa??," tanya Marwah bingung.


Suci menatap serius pada Marwah, dan seolah Marwah pun mengalah dengan mengikuti keinginan Suci seraya meminta ijin pada Erwin dan dua rekan bisnisnya yang tengah berbicara serius.


Suci berjalan cepat pada sisi lorong tengah yang sepeti menuju taman lantai atas.


Dan langkahnya terhenti dengan tegas seraya berbalik dengan cepat menghadap Marwah.


" kamu gak liat sikon ya Suci," ujar Marwah kesal dengan menyibakkan rambutnya dengan jemari tangan kanan.


Suci menatap tepat pada jari tangan Marwah dan dengan cepat meraihnya dengan kasar. Sehingga Marwah terkaget.


" ini apa??," tanya Suci tajam.


Marwah tersenyum sinis.


" masa kamu gak tau ini apa?? gimana bagus gak??," balas Marwah pamer yang akhirnya tau tujuan Suci, lalu menarik tangannya dengan cepat dari tangan Suci.


Suci balas menatap tajam pada Marwah.


" ada apa dengan wajah mu??, apa sebegitu penasarannya?," tanya Marwah dengan membaca mimik wajah kesal Suci.


" katakan yang sebenarnya, jangan bertele-tele," ucap Suci kesal.


" Hhmm, bagaimana cara menjelaskannya??," celetuk Marwah sengaja berbicara seperti itu.


Suci seperti hilang sabarnya pada Marwah yang sengaja mempermainkan pertanyaannya. Lalu ia menarik tangan Marwah dengan cepat.


" aku tanya ini APA??," tanya Suci dengan suara marahnya.


" cincin lamaran, dari sepupu kamu Erwin, apa kamu puas??," jawab Marwah.


Suci terpaku, seolah ia terserang syok berat mendengar jawaban Marwah dan tangannya seolah lemas seketika.


" gak mungkin," tuturnya lirih tak percaya.


Marwah menghela nafas panjangnya mendengar ucapan Suci.


" bukan salahku, jika kamu gak bisa memenangkan hatinya, dan hentikan kecemburuan mu yang tak masuk akal ini, bukan kah kalian sepupu?," ujar Marwah.


" SEPUPU??, " ucap Suci tak percaya dengan tertawa tak percaya,


" aku hampir gila karena status sepupu??, aku bukan sepupu Erwin, kami bahkan tidak ada ikatan darah sedikit pun," jelas Suci dengan dingin menatap wajah Marwah.


" apa maksud kamu?," Marwah terhenyak dengan ucapan Suci yang tajam.


" siapa yang mengatakan pada kamu jika aku dan mas Erwin sepupu?? apa sekertaris Cha??," tanya Suci menebak.


" dia tau apa??, dia hanya bawahan Erwin, sedangkan aku?? aku adalah pewaris.."


" SUCI..," suara panggilan Erwin terdengar marah dari belakang dirinya dengan menatap cemas pada Marwah.


" apa yang kalian lakukan disini??," tanya Erwin seraya berjalan mendekat pada keduanya.


Suci tak bergeming.

__ADS_1


" mas Erwin," bisik Marwah yang ikut terkaget melihat pada Erwin yang datang dengan wajah gusar.


__ADS_2