Come A Closer Love

Come A Closer Love
85


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, Marwah yang kini berkantor di Sunrise hotel pun kini memiliki waktu longgar untuk datang mengurus perhotelan tersebut yang akan dibuka dua minggu lagi. Seluruh persiapan dan kebutuhan standar hotel pun telah rampung. Para karyawan baru hotel pun telah mengikutin beberapa kegiatan tambahan guna meng upgread ilmu tentang perhotelan.


Sesekali terlihat Erwin juga berkantor di Sunrise hotel bersama sekertaris Chandra.


Hingga siang itu, terlihat Erwin dan sekertaris Chandra sedang berdiskusi serius di ruang manajer Sunraise Hotel.


" bukan kah ini terlalu aneh?," ucap Sekertaris Chandra pada Erwin dengan serius.


Erwin pun terlihat memandang layar tab milik sekertaris Chandra dengan dahi terkedut.


" aku akan coba berbicara dengan paman, pasti ada alasan mengapa meraka menarik semua saham secara tiba-tiba," ucap Erwin berat seraya ia meletakkan tab milik lalu bersegera bangun dari kursinya dan memilih keluar dari ruangan manajer tersebut dengan segera, sehingga ia tak sadar melewatkan Marwah yang hampir berpas-pasan dengan dirinya.


" Ma..sss," sapa Marwah yang ujungnya jadi sedikit berbisik karena merasa aneh dengan kepergian Erwin yang begitu saja tanpa menyadari kehadirannya.


Namun, Marwah tak ambil pikir, ia pun masuk kedalam ruang manajer Sunraise Hotel itu dengan mendapatkan wajah serius sekertaris Chandra disana.


" mas Chandra??," sapa Marwah yang mengangetkan sekertaris Chandra.


" ah.., ya Marwah ada apa??," sahut sekertaris Chandra terkaget lalu menaruh tab miliknya itu dengan segera.


" wow, segitu kagetnya mas???,"


" ah, ya maaf.., karena lagi fokus sama ini," jelas sekertaris Chandra.


" oia ada apa??," tanya sekertaris Chandra kembali pada Marwah.


" oh, ini berita yang udah Marwah susun, selebihnya ada sama Rina, dia udah buat softcopynya, jadi mas bisa baca dulu, jika fix baru Marwah kirim pada media," ucap Marwah.


Sekertaris Chandra pun paham dan ia reflek menyambut selembar kertas dari tangan Marwah.


" oke, terima kasih," ucap Sekertaris Chandra setengah hati.


Marwah melihat sekertaris Chandra yang sedikit gusar sehingga membuat ia penasaran.


" mas Chandra kenapa??, kok kayaknya susah banget ??," tanya Marwah ragu.


" ah, karena kamu udah tanya, jadi sepetinya kamu juga harus tau," ucap Sekertaris Chandra pada Marwah seraya mengambil kembali tab miliknya lalu memilih laman berita yang akan ia perlihatkan oada Marwah.


" coba kamu baca ini," ucapnya seraya memberi oada tangan Marwah, Marwah pun reflek menyambut tab tersebut.


Marwah membaca dengan santai namun seketika raut wajah Marwah berubah.


" ini maksudnya apa?? perusahaan Atmadja??" tanya Marwah tak paham.


" perusahaaan Atmadja adalah pemilik saham terbesar dalam perusahaan Aritama, dan tampa pemberitahuan mereka menganti pemilik tunggal sebelumnya tanpa melibatkan perusahaan Aritama" jelasnya singkat.


Mendengarkan hal itu, Marwah masih belum benar-benar paham.


" lalu??,"


" hari ini mereka menarik semua saham milik Atmadja dari Aritama, sehingga setengah saham Aritama jatuh,"


" Apa??," ucap Marwah syok.


" Erwin harus cepat, karena ini benar-benar fatal, " sambung sekertaris Chandra dengan nada serius.

__ADS_1


Marwah terdiam terpaku, ia tak benar-benar paham akan permainan bidang bisnis apalagi tentang saham yang menurutnya rumit, tapi mendengar dari penjelasan singkat sekertaris Chandra rasanya cukup mengambarkan secara garis besar kondisi perusahaan Aritama.


" lalu, apa yang akan direktur lakukan??," tanya Marwah ragu.


" dia harus bertemu dengan paman Atmadja, ayah dari Suci," ucap sekertaris Chandra berat.


" ayah dari Suci?," ucap Marwah.


" Hmm, paman Atmadja adalah ayah dari Suci Atmadja, beliau yang membesarkan Erwin hingga menjadi sukses," jelas sekertaris Chandra pada Marwah yang terlihat diam membisu.


🍃🍃🍃


Hingga sore harinya, Marwah terduduk dimeja kasir tokony dengan terus kepikiran akan perusahaan Aritama. Ia membolak balik handphone nya memandang-mandang nama Erwin pada layar handphone nya dengan bimbang.


Suasana hatinya ikut buruk setelah mendengar ucapan sekertaris Chandra tadi siang.


" kenapa mbak?," sapa Lily yang sedari tadi melihat pada Marwah yang gelisah tak menentu.


" ah, gak.., enggak ada," jawab Marwah terpaksa seraya bangun dari kursinya lalu berjalan meninggalakan Lily dengan heran.


Marwah mencoba melupakan masalah perusahaan Aritama dengan kembali fokus pada tokonya yang terlihat beberapa pelanggan tengah memilih-milih rotinya.


Namun, seketika seorang pria dengan senyum lebarnya mendekat pada Marwah dengan yakin.


" apa anda yang bernama Marwah??," tanya pria tersebut dengan percaya diri.


Marwah terkaget hingga ia reflek menoleh apa suara pria yang sedikit berat.


" ya.., saya Marwah," jawab Marwah ragu.


Mendengar tebakkannya benar, senyum hangat pun terlihat diwajah pria tinggi tersebut untuk Marwah.


" perkenalkan saya Toni.., Toni Prasetya," ucap pria tersebut dengan bangga seraya terulur sebuah tangan dihadapan Marwah.


Dan terlihat Marwah dengan ragu mencoba untuk membalas jabat tangan dari Toni, yang langsung mendapat respon Toni.


" lama tidak bertemu nona, anda benar-benar tumbuh dengan cantik," ucap Toni dengan memandang wajah Marwah.


Marwah terkaget, hingga ia dengan cepat menarik tangannya dari tangan Toni. Marwah merasa curiga dan waspada pada pria asing yang baru ia lihat ini.


" saya bukan orang jahat," ucap Toni dengan melihat kesekeliling toko dengan antusias.


" saya sudah beberapa hari datang ketoko anda, tapi baru kali ini saya bisa bertemu dengan anda," jelas Toni dengan memandang kembali pada Marwah yang masih terdiam dengan wajah curiga.


" maaf, ada keperluan apa anda mencari saya??," tanya Marwah memberanikan diri.


Terlihat senyum Toni terkembang diwajahnya yang sekilas terlihat mirip dengan Erwin.


" kerja sama, saya dengar anda terbaik nomor dua dalam manajemen hotel," jelasnya pada Marwah.


Marwah masih terlihat ragu.


" sepertinya anda benar-benar orang yang waspada, tapi saya datang karena Erwin yang merekomendasikan anda nona Marwah ,"


Mendengarkan nama Erwin, Marwah sedikit bergeming.

__ADS_1


" anda kenal dengan mas Erwin??," tanya Marwah kembali.


Toni reflek menangguk pelan dengan senyum terkembang.


" kami adalah sepupu, " jawab Toni santai.


Dan seketika Marwah terkaget hingga reflek tangannya menutup mulutnya karena terkagetannya.


" maaf, saya.., saya tidak tau jika anda sepupunya mas Erwin, maaf," ucap Marwah yang seketika sedikit melunak.


🍃🍃🍃


Kini terlihat Toni di jamu oleh Marwah di mini cafenya dengan secangkir americano hangat dan sebuah cake rusian honey.


" aku tidak menyangka, jika Erwin bisa menemukan kamu dengan mudah," ucap Toni dengan mengaduk americanonya dengan santai.


Marwah tersenyum canggung.


" saya bertemu dengan mas Erwin tidak sengaja," jawab Marwah pelan.


Toni mengangguk pelan, seraya menyerut americanonya dengan perlahan.


" tapi, anda tadi bilang ingin bekerja sama?? maksudnya kerja sama apa??," tanya Marwah untuk kembali fokus.


" ah, saya punya sebuah hotel, yaa memang sekarang masih belum punya saya, tapi sepertinya tidak lama lagi hotel itu akan jatuh ketangan saya," jelas Toni sedikit serius.


" hotel? dimana??"


" nanti, jika hotel itu benar-benar beralih hak milik, maka akan saya beritu anda," ucap Toni santai.


Marwah terlihat bingung dengan penjelasan Toni.


" lalu, kenapa anda mencari saya sekarang??," tanya Marwah bingung.


Toni lagi-lagi tersenyum melihat wajah Marwah yang bisa membuatnya betah memandang wanita cantik ini.


" karena saya harus memastikan bahwa hotel tersebut akan di urus oleh orang yang kompeten seperti anda nona Marwah," jawab Toni.


🍃🍃🍃


Sepeninggalan Toni, Marwah terus berpikir keras. Hatinya masih berpikir soal Erwin yang sampai tengah malam ini belum juga memberik kabar pada dirinya.


Marwah termenung didepan bahan olahan cakenya yang masih belum ia sentuh untuk mengerjakannya.


Dan entah kali keberapa ia melihat pada layar handphone nya, namun notif yang ia harapkan tak kunjung masuk. Hingga ia menghela nafas berat.


" coba telfon saja, mungkin mas Erwin udah di apartemennya," gumamnya dalam hati seolah meyakinkan keputusan untuk menelfon no handphone Erwin.


Lalu ketika nada sambung itu terdengar, Marwah terlihat antusias menunggu jawaban dari Erwin. Namun hingga nada sambung berakhir, telfon itu tak juga mendapat jawaban dari Erwin.


Namun tak putus asa Marwah mencoba menelfon kembali nomor handphone Erwin, dan lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Erwin.


Marwah tak menyerah, ia berusaha untuk kembali menelfon nomor telfon Erwin untuk ketiga kalinya, namun kembali Marwah menelan kecewa karena Erwin tak menjawab telfonnya.


Sesaat Marwah menghela nafas panjang lalu meletakkan handphone nya dengan berat dan kembali memandang bahan cake yang telah siap untuk diolah.

__ADS_1


" ya, mungkin mas Erwin lelah, besok, besok bisa ketemuan dikantor," ucapnya optimis seraya mulai menimbamg bahan cake dengan antusias seolah menghilangkan gundahnya.


__ADS_2