Come A Closer Love

Come A Closer Love
93


__ADS_3

Sepeninggalan Suci, Marwah termenung lama menatap pada lembaran kertas yang kini berada ditangannya dengan kosong.


Kenyataan pahit yang menyakitkan.


Lamunnya pun membawa ingatan samar-sama itu kembali.


🍃🍃🍃


Disebuah gang yang terlihat jarang dilewati orang terlihat 3 orang preman dan seorang anak laki-laki menghajar seorang anak laki-laki tanggung yang terlihat mulai kewalahan dalam bertarung.


" BANGUN !!," hardik Toni pada Erwin yang terlihat tersungkur dengar wajah babak belur.


" ukh.." desir Erwin yang kesakitan mencoba melawan ketika seorang preman menarik paksa tubuhnya yang terjatuh dengan kasar sehingga menimbulkan sakit ditempat yang sama.


" bagaimana??? apa masih sanggup???," tantang Toni dengan wajah kesenangan mendapatkan Erwin babak belur.


" kau pengecut!!," cecar Erwin marah.


Dan BUkk..., sebuah pukulan keras kembali Erwin terima di wajahnya ketika Toni melampiaskan amarahnya.


" masih berani berbicara??? kau tau untuk apa aku lakukan ini semua?? dendam ku tak akan hilang, jika tidak melihat mu mati," bentak frustasi Toni di hadapan Erwin yang kesakitan.


Lalu tiba-tiba salah seorang preman memberkan sebuah kayu balok pada tangan Toni. Toni pun menyambut dengan wajah senang, terlihat nafsu bengisnya untuk menghajar Erwin hingga tak bernyawa.


" mungkin dengan ini, akan setimpal," ucap Toni dengan tertawa gila.


Namun, belum sempat Toni bereaksi. Tiba-tiba seorang gadis kecil memekik kuat pada mereka.


" APA YANG KAKAK-KAKAK LAKUKAN?," seru Marwah berteriak lantang, sehingga Toni dan ketga preman bayaran nya terkaget, Erwin pun ikut terkaget melihat pada gadis kecil berambut panjang yang terlihat marah.


" waah, anak siapa ini??," celetuk Toni seraya berjalan mendekat pada Marwah yang terlihat tak takut.


" kenapa kakak jahat sekali??? kasian kakak itu!!," seru Marwah seraya menunjuk pada Erwin yang dipegangin oleh seorang preman kekar.


" heh !!, gak usah ikut campur!!," bentak Toni kesal.


Marwah yang tak takut ikut melotot pada Toni dengan berani.


" kata papa, sekali jahat maka akan selamanya jahat, dan jangan berharap bisa hidup dengan bahagia," ucapnya keras pada Toni.


Toni kekeh mendapat nasehat dari seorang anak kecil. Lalu ia tertawa licik.


" heh !!, gue jahat karena dia udah bunuh orang yang gue sayang, jadi yang jahat itu bukan gue tapi anak sialan itu !!," celetuk Toni kasar dengan menunjuk pada Marwah.


Namun dengan wajah tak percaya Marwah makin mendekat pada Erwin tanpa peduli dengan kemarahan Toni. Lalu ia memegang tangan Erwin yang terlihat terluka.


" kalau benar, biar Marwah yang bawa kakak ini kekantor polisi,"


Toni terpelongo, hal itu malah memancing emosi nya untuk memukul gadis kecil itu yang telah membuatnya jengkel. Hingga dengan cepat ia mengayunkan tanganya yang memegang kayu balok itu dan hendak memukul Marwah..


Melihat hal itu, Erwin dengan sigap mengeluarkan sisa tenaganya mendorong si preman lalu dengan cepat memeluk tubuh Marwah kecil lalu seketika.


BUuKK !!!.., pukulan kayu itu tepat mengenaik kepala Erwin hingga seketika ia pun jatuh tumbang.


Marwah yang melihat hal itu, seketika menjerit histeris meliha pada tubuh anak laki-laki tanggung yang kini terjatuh pingsan dihadapannya.


" Kyak.., PAPAAAAAAAAA," jeritnya histeris memanggil dr. Evan.


Toni yang terpaku melihat hal itu seketika panik mendengar teriakan histeris Marwah. Begitu pun dengan ke tiga wajah preman yang melihat hal tersebut.


Dan tak lama berselang.


" MARWAH !!!," panggil dr. Evan panik melihat putrinya berada di tengah-tengah kawanan preman dengan terpaku melihat pada tubuh yang terkulai didepan nya.


dr. Evan berlari mendekat, sehingga Toni terserang panik ketika aksinya diketahui oleh orang lain.


" Hey kalian !!" hardik dr. Evan lantang.


" lari-lari..,!!" perintah Toni pada ketiga preman itu. Sehingga sontak para preman itu pun berlari tungang langgang meninggalkan tempat itu dengan mengikuti jejak Toni.


dr. Evan mendekat pada putrinya yang terpaku pada tubuh yang terkulai didepannya.


" Marwah?? Marwah??" seru dr. Evan panik melihat ekspresi Marwah yang terkejut.


" kamu baik-baik saja???," tanya dr. Evan dengan memeriksa kondisi Marwah yang baik-baik saja.


" kakak ini pah?? dia di pukul orang jatah itu," ucap Marwah dengan wajah tegang.


dr. Evan melihat pada anak laki-laki tanggung yang terlihat babak belur diwajahnya dan tak sadarkan diri.


" iyya, kita tolong dia, kamu panggil pak Didi, " ucap dr. Evan cepat.


Marwah kecil dengan mengumpulkan keberaniannya berlari kecil dan mencari sosok pak Didi.


dr. Evan mencoba memeriksa nadi anak laki-laki itu dan ternyata masih bernafas. Ia melihat dengan cemas ketika mendapatkan darah segar dikepalanya.


" semoga kamu bertahan sampai rumah sakit," ucap dr. Evan dengan wajah tegang.


🍃🍃🍃


Perlahan Marwah mendengar suara handphone nya berbunyi sehingga membuyarkan lamunnya. Dan Marwah bangun untuk berjalan menuju kamarnya seraya meraih handphone yang berada di meja riasnya.


Ia melihat nama yang tertera disana " Direktur Erwin no. 1" , dengan berat ia menghela nafas panjangnya dan mencoba mengontrol suaranya yang sedikit berat. Hingga telfon kedua berdering akhirnya Marwah mengangkat telfon dari Erwin dengan berpura-pura.


" hallo??," sapa Marwah dengan pelan.


" hay.., sayang, mas udah didepan toko kamu nie," ucap Erwin.


Marwah bangun dengan membuka tirai jendelanya sedikit dan terlihat Erwin bersandar di depan mobilnya dengan melihat sekitar halaman toko Marwah. Seketika Marwah bersedih, hatinya sakit mengingat ucapan Suci tentang pria yang kini menunggunya dibawah.


Dengan menahan sedihnya, ia mencoba untuk

__ADS_1


" ah, maaf mas.., Marwah udah jalan," ucapnya berbohong.


" hah?? kok kamu gitu?," sahut Erwin kecewa dengan mengubah posisinya yang berdiri


" maaf," sahut Marwah dengan suara parau.


Erwin yang mendengarkan cemas.


" kamu kenapa?? apa baik-baik saja??," tanya Erwin yang seketika cemas dengan mencoba mencari penjaga Marwah yang tak bisa ia temukan.


Marwah yang melihat hal itu sedikit panik.


" Marwah pergi dengan mobil dr. Dessert, ketempat kak Safa ada perlu," ucap Marwah cepat dengan menguatkan hatinya menatap Erwin yang berada dibawah sana dengan bingung.


Sehingga Erwin pun berdiri fokus mendengar penjelasan Marwah.


" huuuft, kamu buat mas cemas aja," sahut Erwin lega.


" iyya, maaf ya mas," ucap Marwah pelan dengan air mata jatuh perlahan dipipinya.


" hhmm, ya sudah, mas tunggu kamu dikantor yaa," ucap Erwin dengan berjalan menuju pintu mobil nya.


" ya mas," sahut Marwah pelan.


" love you sayang," ucap Erwin.


Deg.., jantung Marwah berdebar hangat namun ada rasa sakit yang ia rasa bersamaan.


" love you too mas," balas Marwah sedih. Dan komunikasi itu pun terputus dengan diiringi dengan tubuh Marwah terkulai lemas.


Dengan tatapan kosongnya ia mencoba menelfon seseorang yang ia anggap bisa menolong dirinya.


Terdengar nada sambung menunggu disana sehingga Marwah terlihat gelisah.


" Hallo, putri ku Marwah," suara pria menyapa lembut padanya, seketika runtuh pertahanan Marwah, sehingga pelan terdengar desiran isak tangis Marwah bergetar.


" pah..," sahut Marwah parau.


" kamu kenapa??, apa ada sesuatu terjadi??," nada kecemasan papa Evan terdengar disana.


" bisakah papa menolong Marwah???," pintanya berat dengan terdesir suara paraunya.


" Marwah???," reaksi nada kecemasan terdengar disana, papa Evan dapat mendengar suara tangisan putirnya dengan menyayat hatinya.


🍃🍃🍃


Siang itu Erwin yang berada di ruangan Johan pun terlihat tengah serius berdiskusi.


Pandangan wajah serius Erwin melihat rekam cctv yang Johan tunjukkan lewat laptop milik pengacara itu.


" brengsek??," hardik Erwin tak percaya dengan apa yang ia lihat.


" tidak!!," sela Erwin cepat.


Johan bergeming.


" apa lagi yang kita butuhkan?? bukti-bukti sudah sangat lengkap lengkap" ketus Johan kesal.


Erwin menggelengkan kepalanya dengan menutup laptop tersebut seraya duduk nyaman di sofa itu.


" Suci !!,"


Johan terhenyak dan merasa tak percaya dengan ucapan sahabatnya ini.


" kenapa?? jelas-jelas dia yang menghancurkan perusahaan mu,"


" cari cara lain?," ucap Erwin dengan berpikir.


" maaf kawan, tak ada cara lain," sela Johan kesal.


" cari.., cari cara lain," seru Erwin dingin pada Johan seraya ia bangun dan meninggalkan ruangan kantor Johan yang tak sengaja ia berpas-pasan dengan Dinda yang terkaget.


Hingga Dinda reflek menyapa.


" selamat siang Direktur," ucapnya sopan. Namun Erwin melewati dirinya dengan wajah dingin.


Dinda terkaget hingga ia pun jadi salah tingkah.


" ck, sementang jasa telah selesai maka tak ingat lagi?" ucapnya kesal lalu ia pun mendapat kan wajah Johan tak kalah kesalnya dengan Erwin.


🍃🍃🍃


Disisi lain dikantor Aritama yang sedikit langgang terlihatSekertaris Chandra yang berada dimeja kerjanya tercengang tak percaya dengan penjelasan Marwah.


" walau tidak banyak, tapi 13 miliyar bisa membantu perusahaan," jelas Marwah.


" tidak, Erwin pasti akan menolak nya,"


" kenapa??, ini cara satu-satunya yang Marwah punya, Marwah akan beli saham Aritama," ucapnya pelan


" walau tak menutupi banyak," lanjutnya ragu.


Sekertaris Chandra terdiam berpikir dengan wajah seriusnya. Ia yakin 13 miliyar tidak lah sedikit, tapi nilai itu juga tidak ada gunanya jika membeli saham Aritama, karena nilai 60 miliyar adalah total dari nilai Admaja yang hilang dari Aritama.


" Erwin pasti tidak akan setuju," sahut Sekretaris Chandra.


" membeli saham Aritama sangat beresiko untuk saat ini," jelasnya lagi.


Dan hal itu membuat Marwah kecewa.


" Marwah akan coba," ucapnya yakin.

__ADS_1


Namun tak lama, Erwin datang mendengan dengan wajah bingung melihat ketegangan yang terlihat dari wajah sekertaris Chandra dan Marwah yang reflek menyambut kedatangan Erwin dengan wajah serius.


" wah?? ada apa ini?? kenapa wajah kalian seperti baru melihat hantu," celetuk Erwin dengan nada sedikit bercanda, namun keduanya masih terlihat serius menyambut Erwin.


Hingga Erwin menghela nafas panjangnya.


" apa terjadi sesuatu?", tebak Erwin dengan wajah yang siap dengan segala hal terburuk.


" Marwah akan beli saham Aritama," ucap Marwah serius.


Namun mendapat sambutan kaget dari wajah Erwin yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Sekertaris Chandra hanya diam mendengar ucapan Marwah.


" apa kamu bercanda?," ucap Erwin dengan wajah sedikit tertawa tak percaya.


" 13 miliyar, saham yang akan Marwah ambil," ucap Marwah kembali.


Namun seketika wajah Erwin terlihat berubah serius menatap Marwah.


" TIDAK," seru Erwin menolak dan berjalan meninggalkan Marwah yang terpaku menerima penolakan Erwin dan pria itu memilih masuk kedalam ruangannya.


Dan sekertaris Chandra pun berdesir setuju dengan keputusan Erwin.


Marwah terhenyak lalu ia pun berbalik badan seraya masuk kedalam ruangan Erwin yang terlihat tengah membuka jasnya dengan wajah serius.


" kenapa menolak?? perusahaan membutuhkan dana segar," ucap Marwah.


Erwin terhenti memperhatikan wajah keseriusan Marwah.


" uang dari mana??," tanya Erwin


" papa akan membantu,"


Erwin terhenyak.


" kamu ingin membuat mas malu???," sahut Erwin dengan nada berat.


" mas," ucap Marwah menatap lembut


" jangan campuri urusan mas, kau tetap di posisi mu, dan selesaikan urusan hotel, itu sudah cukup," sela Erwin dengan ketus.


Marwah mendengar dengan tak percaya penolakan Erwin.


" jangan campuri??," balas Marwah tajam dengan menatap kecewa wajah Erwin.


" lalu?? bagaimana tentang sakit kepala mas??," tanya Marwah kembali.


Erwin bergeming terpaku.


" bagaimana mas bisa menyembunyikan sakit kepala mas yang tak BIASA !!," pekik Marwah frustasi dengan wajah kecewanya pada Erwin yang menatap terpaku.


Sehingga sekertaris Chandra dan beberapa karyawan yang berada diluar ruangan Erwin pun terkaget mendengar amarah Marwah.


Sesaat ngemuruh hati Marwah tumpah, dengan air matanya berlinang.


" ka.., kamu tau?," ucap Erwin terkaget tak percaya.


Marwah menghirup udara dengan berat seolah ia tak ingin membahas dari siapa ia mengetahui semua hal ini. Dan dengan berpikir pintas ia pun memutuskan hal yang bisa menyelamatkan Erwin.


" hal yang paling Marwah benci adalah ke egoisan, jika mas bersikeras dengan ego dan pendirian mas, maka maaf, mungkin Marwah bukan wanita yang sanggup melihat kehancuran mas, " ucapnya sedih seraya menarik cincin lamaran Erwin untuk dirinya.


Erwin menatap terpaku dengan ucapan Marwah. Dan kedua matanya terpaku ketika Marwah menarik tangannya dan mengembalikan cincin lamarannya.


" kita putus," ucap Marwah tegas dengan derai air mata.


" apa??," ucap Erwin tak percaya dengan bibir Marwah yang mengucapkan kata-kata yang membuat dunianya terhenti.


" kita putus," ucapnya seraya akan pergi. Namun dengan cepat tangan Erwin meraih lengan Marwah dengan kasar.


" MARWAH??," bentak Erwin emosi, luapan kemarahannya terpancar disana.


Sehingga Marwah terkesiap menerima kemarahan Erwin yang tak pernah ia sangka-sangka. Namun ia tak bergeming dengan tatapan tajam Erwin pada dirinya.


" apa begitu berat bagi mu, jika hanya disisi mas saat ini???," tanya Erwin suara berat dengan menatap tajam dua bola mata Marwah.


Marwah menatap Erwin dengan hati sakit.


" ya, " jawabnya berat.


Erwin terhenyak.


" kau !!,"


Namun seketika sekertaris Chandra masuk dengan wajah paniknya.


" Ehem.. maaf , Erwin sekarang para pekerja tengah menghelar aksi demo di bawah gedung," ucap sekertaris Chandra sungkan namun panik dengan melihat suasana besitegang antara Marwah dan Erwin yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Erwim dan Marwah reflek menoleh dengan wajah khawatir.


" apa??," sahut Erwin kaget.


" mereka demo dengan beberapa karyawan yang telah dirumahkan," jelas sekertaris Chandra.


Erwin bergeming dengan wajah seriusnya lalu melihat pada Marwah.


" urusan kita belum selesai !!n" ucap Erwin tajam memperingatkan Marwah lalu kemudian ia berlalu meninggalkan Marwah keluar dari ruangan itu dengan cepat menuju lift bersama sekertaris Chandra yang setia mendampingi.


Marwah hanya bisa menatap kepergian Erwin dengan hati berat.


" hanya ini cara yang aku punya mas," ucapnya sedih.

__ADS_1


__ADS_2