Come A Closer Love

Come A Closer Love
94


__ADS_3

Malam harinya tepat dipukul 11 malam, Marwah tak pulang ke toko dr. Dessert. Ia memilih pulang kerumah keluarganya. Namun ia tak menyangk akan disambut oleh kehadiran kedua orang tuan nya yang terlihat mencemaskan dirinya.


" Marwah?" sambut mama Wulan dengan wajah cemas ketika membuka pintu rumahnya dan mendapatkan wajah Marwah yang sayu dengan sedih mematap dirinya.


" maah," lirihnya seraya berjalan pelan dan menjatuhkan tubuhnya di pelukan mama Wulan seraya menangis.


" Marwah telah jadi orang jahat mah??," ucapnya lirih menyesali perkataannya yang membuat dunianya hancur.


mama Wulan hanya diam terpaku mendengar isak tangis putrinya yang rapuh seraya memeluk tubuh putrinya dengan penuh sayang.


" mah," panggil Marwah menyayat hati dengan suara tangis putus asanya.


🍃🍃🍃


Hingga larut malam, mama Wulan dengan setia menemani Marwah dikamarnya. Keduanya duduk di ranjang tempat tidur dengan keheningan malam yang sepi.


Mama Wulan tak bisa percaya dengan apa yang ia dengar.


" itu hal terbaik yang bisa Marwah lakukan untuk melindungi mas Erwin," ucapnya sedih.


Mama Wulan terpaku, ia seolah terkenang akan kisah masa lalunya. Ia mengorbankan dirinya untuk menikah dengan dr. Evan demi untuk menyelamatkan pernikahan mantan kekasihnya mas Rendy dan dr. Luna. Hatinya bergetar menatap Marwah yang tertunduk lesu.


Pelan ia meraih jemari putri nya.


" mama ngerti, mama ngerti pengorbanan kamu, pasti menyakitkan," ucap mama Wulan dengan lembut.


Marwah menatap dengan terharu, dan dengan tanpa sadar air matanya jatuh kembali.


" Marwah mencintai mas Erwin mah, sangat suka, tapi...tapi Marwah gak bisa lihat kehancuran mas Erwin, dia segalanya mah," ucap Marwah penuh sesak dadanya dengan keputusan yang ia buat.


" Marwah memang bodoh mah?" serunya kembali dengan menjatuhkan diri di pangkuan mama Wulan yang ikut bersedih melihat putrinya.


mama Wulan membelai dengan penuh sayang pada Marwah.


" tak ada orang yang tau apa yang akan terjadi besok. tak ada satu hari pun yang bisa ditebak. Walau sampai saat ini masih banyak kesulitan dan kesedihan yang menghampiri, tapi tidak menuntup jalan kebahagian yang mungkin saja bisa terjadi kapan pun," nasehat mama Wulan menghibur.


Namun Marwah yang mendengarkan hanya bisa pasrah. Tak ada hal lain yang bisa ia lalukan untuk Erwin yang berprinsip. Hatinya terluka dengan ucapan Erwin tadi siang.


" jangan campuri urusan mas !!," kata-kata itu seolah terngiang jelas di kepala Marwah.


Dan ketika ia menutup matanya ia pun kembali mengingat ucapan bahagia Suci yang menyambut keputusan Marwah.


" kau tau apa yang seharusnya bisa menolong Erwin," ucap Suci menyambut keputusan Marwah.


Walau hatinya berat, tapi ia tak bisa merelakan kehancuran Erwin. Dan lagi-lagi wajah Erwin kekecewaan terbayang jelas dibenak Marwah.


" maaf," lirih batinnya dengan menutup mata di atas pangkuan mama Wulan yang mengusap punggung nya dengan sayang hingga ia tertidur.


🍃🍃🍃


Dan hari ini adalah hari pembuka Sunrise hotel yang secara resmi dibuka untuk publik. Terlihat Marwah sibuk dengan kegiatan pembukaan.


Marwah meyelenggarakan acara sesuai yang ua rencanakan, beberapa selebgram pun mulai melakulan aksi promo nya pada akun Instagram mereka.


Terlihat beberapa pejabat penting berdatangan. Bahkan nyonya Aritama pun terlihat disana.


Namun yang membuatnya gelisah adalah Erwin Aritama yang tak terlihat sedari tadi. Bahkan kata smabutan pun diwakilkan oleh adik Erwin yang baru pertama kali Marwah jumpai, ia pun sempat terkaget melihat paras Edwin yang sekilas mirip dengan Erwin.


Namun ia tersadar, ketika seorang wanita cantik memanggil nama pria itu yang sekilas mirip dengan Erwin.


" mas Edwin," sapa tari


" ayo kemari, kita liat disana," ucapnya dengan sedikit meminta perhatian. Sedangkan Edwin tengah berbicara dengan kolega sebagai penganti kakaknya Erwin yang tak hadir di acara tersebut.


Acara berjalan sukses, walau tak semeriah yang diharapkan karena isu perusahaan Aritama Group santer terdengar dari bibir para pengunjung.


Marwah hanya mendengar dengan sedih.


Menjelang sore harinya, Marwah yang terlihat lelah berjalan kembali menuju ruang kantor manajer hotel dengan hati berat. Dan tanpa disangka ia mendapat kejutan disana. Dua buah standing buket bunga untuk dirinya yang terlihat dari post card.




Marwah terpaku pada post card tersebut yang terlihat tulisan tangan Erwin disana.


" terima kasih, Marwah milik kak Mummy,"


Marwah menatap dalam pada kertas tersebut, namun jauh dilubuh hatinya ia bersedih. Bersedih dengan semua yang terjadi, karena dirinya kini Erwin mendapat kasulitan. Bahkan diacara Sunrise hotel yang menjadi impian pria itu pun ia tak bisa hadir.


" kenapa??," ucap Marwah berat.


Tap..Tap.., air mata jatuh menetes di atas kertas itu.


" kenapa berterima kasih??, padahal semua terjadi karena Marwah," gumam batinnya menahan sedih dengan menghapus air matanya seraya masuk kedalam ruangan tersebut.


Namun tak disangka ia dikejut oleh sekertaris Chandra yang duduk dengan melamun dimeja kerjanya.


" kenapa mas Chandra disini??," tanya Marwah


Sekertaris Chandra menghela nafas panjang.


" berakhir, Aritama Group tak tertolong lagi," ucapnya berat.


" apa??," sahut Marwah kaget.


" Aritama tak bisa tertolong lagi??," ucapnya dengan jantung yang berdegup kencang. Ia merasa dibohongi oleh Suci yang mengatakan akan menolong perusahaan Aritama.


Dan tanpa pikir panjang, Marwah yang terlihat kesal mengambil tasnya dengan terburu merogoh isi tas itu dan meraih handphone dan serayamenekan nomor telfon seseorang yang menjadi dalang ya.


" kau dimana?? APA YANG KAU LAKUKAN!!!," hardik Marwah pada Suci yang terlihat Marwah.


" kenapa kau marah??? perjanjian kita masih belum sepenuhnya aku beri tau , jadi malam ini kau akan ikut dengan aku" ucap Suci licik.


" apa??, perjanjian APA?? aku dan mas Erwin telah berakhir," ucap Marwah frustrasi.


" tidak, tidak aku tidak percaya akan ucapan mu itu, jadi nanti malam kau harus ikut aku?," ucap Suci lagi.


Marwah meradang.


" baiklah, nanti malam" sahut Marwah kesal.


" Toni akan menjemput di toko mu?" ucap Suci.


" apa kau gila??,"


Suci mendengus kecil.


" setidaknya aku harus memiliki seorang kepercayaan untuk membawa mu kehadapan ku,"


" dasar wanita licik," umpat Marwah dingin dan telfon itu pun terputus dengan hati Marwah yang tak karuan.


🍃🍃🍃


Disisi lain, terlihat Erwin dengan wajah seriusnya duduk dihadapan Johan. Pembahasan serius tengah rencana untuk memasukkan Toni kepenjara.


" jika tidak bisa, maka kita akan gunakan rencana B," ujar Erwin.


" hmmm, para intel pun telah siap," sahut Johan.


" bagus lah," balas Erwin dengan wajah seriusnya menatap Johan.


🍃🍃🍃


Pada malam harinya, Marwah yang tengah mencicip masakan mama Wulan pun terlihat tak berselera. Ia duduk termenung memandang makanan dihadapannya itu dengan pikiran melayang entah kemana.


" Marwah, dimakan donk nak," tegur mama Wulan pelan namun tetap saja mengangetkan Marwah yang melamun.


" ah, iyya mah," sahutnya dengan meraih sendok di atas piring tersebut.


Namun tiba-tiba suara seorang karyawan toko memanggil dengan panik.


" ibu Wulan, mbak Marwah, cepat turun ada orang mau berkelahi," ucapnya panik.


Sontak hal itu membuat Marwah dan mama Wulan pun terkejut lalu mereka berdua pun turun bersamaan menuju toko dr. Dessert.


Dan betapa terkejutnya Marwah, ketika melihat pria berpakaian serba hitam itu dengan sigap menahan Toni dengan sekali tekukan lutut di punggung Toni dengan tangan kanan Toni sebagai kunci lemahnya.


Marwah dan mama Wulan terserang syok. Namun Marwah dengan cepat menghampiri pria penjaga itu.


" pak, lepaskan Toni," perintah Marwah.


Pria berpakaian hitam itu pun terkaget mendengar perintah Marwah.


" Tapi nona, pria ini berbahaya?"


" tidak," sela Marwah cepat.


Pria berpakaian hitam itu bingung.


" saya harus pergi dengan pak Toni, adahal yang harus saya urus dengan beliau ini," jelasnya mencoba menyakinkan lalu menatap sinis pada Toni dengan wajah liciknya.


Sekilas pria itu tanpak ragu.


" saya akan waspada, walau saya tak bisa bela diri, tapi saya bisa menggigit," jawabnya asal


Mendengar hal itu Toni pun reflek tertawa mendengar ucapan Marwah yang lucu.


Pria berpakaian hitam itu pun akhirnya menyerah. Perlahan ia melepaskan kukungannya dari Toni yang menyeringai menang.


Sebelum pergi Marwah berpamitan dengan mama Wulan yang terlihat syok.


" mah, doain Marwah," ucapnya lembut. Terlihat wajah kecemasan mama Wulan yang bingung.


Namun dengan hanya membawa tas kecil dan handphone ia pun pergi keluar bersama Toni.


Namun tak berselang lama, pria berpakaian hitam itu pun dengan cepat menelfon tuannya dengan wajah cemas.


" tuan, ini buruk, nona dibawa oleh Toni, " ucap pria berpakaian hitam itu dengan nada tegang.


🍃🍃🍃


Disisi lain, Erwin yang baru saja keluar dari apartemennya pun dibuat syok oleh telfon penjaga Marwah.


" APA??,"


" kapan??," tanya Erwin terkaget.


" Sial !!!," hardik Erwin kesal mendengar berita yang mengacaukan misinya dan komunikasi itu pun terputus begitu saja.


Dengan paniknya Erwin segera menelfon Johan dan terdengar suara nada sambung yang lama disana sehingga berkali-kali Erwin berdecak kesal. Hingga akhirnya suara pengacara Johan menyambut telfon itu.

__ADS_1


" Jo, BATALKAN SEMUA RENCANA !!," seru Erwin dengan berjalan cepat menuju lift apartemennya.


" APA??," sahut Johan terkaget dari sebrang telfon.


" Marwah!! Marwah bersama Toni !!," sahut Erwin dengan nada cemas.


Dan komunikasi itu pun terputus dengan Erwin naik kedalam lift itu.


Ketika Erwin berada di parkiran apartemennya ia pun melihat dengan jelas map posisi Marwah berkata handphone couple yang ia beli kan untuk Marwah.


Ia pun bernafas lega sesaat, lalu kembali mengambil handphone nya untuk mengutus penjaga Marwah segera menyusul. Ia pun mengabari sekertaris Chandra.


Lalu dengan segera ia pun membawa mobilnya keluar dari parkiran apartemen menuju dengan cepat ketempat Toni membawa Marwah.


🍃🍃🍃


Disisi lain, Marwah yang baru tiba disebuah club malam dengan perasaan was-was ia melihat kesekeliling ruangan yang gemerlap dengan musik diskotik yang memekakkan telingan terlihat orang-orang bercampur menikmati suasana itu dengan berjoget riang tanpa peduli sekitar.


Marwah terlihat tak nyaman, namun ia tersadar ketika tangan Toni memegang lengannya dengan cepat.


" Kesana !!," tunjuk Toni dengan suara keras yang bersaing dengan suara musik yang bising.


Marwah pun reflek menoleh dengan wajah bingung, dan ia pun melepaskan tangannya dari tangan Toni dengan tidak nyaman, sehingga Toni melihat dengan tersenyum licik.


" kau jangan berpura-pura tak pernah disentuh !!," ucap Toni mesum pada Marwah yang melihat dengan wajah masamnya.


" aku masih bisa jalan sendiri !!," balas Marwah ketus dengan melewati Toni dan ia pun berpas-pasan dengan beberapa orang yang berjalan linglung, hingga Toni reflek menarik tubuh Marwah pada dirinya untuk melindunginya wanita ini dari orang-orang mabuk itu.


Marwah bergeming waspada dan dengan cepat menolak Toni agar menjauh. Hingga Toni tercengang dengan penolakan Marwah.


" aku ini orang baik, kau bisa tertabrak para pemabuk itu," jelasnya dengan tersenyum tak percaya pada Marwah yang masih waspada.


Wajah Marwah tetap tak berekspresi, lalu keduanya berjalan menuju ruang dalam dan terlihat pada sisi unjung lorong itu terdapat tangga untuk naik keatas.


" naik lah," seru Toni pada Marwah.


Marwah melihat dengan kecurigaan pada dirinya.


" jika kau tak yakin, silahkan pulang, dan asal kau tau, bahwa Erwin adalah biang dari semua kekacauan ini, " ucap Toni tajam.


Marwah tak menjawab, tapi sorot matanya tajam menatap Toni.


" sungguh lucu, kemalangan seseorang bisa menjadi keberuntungan untuk orang sepertimu !!, " ucap Marwah menyindir.


" aku yakin, hidup mu penuh dengan kekosongan walau kau bisa membalaskan dendam mu !!," ucap Marwah tajam pada Toni yang bereaksi kesal.


" kau tau apa?? !!," sela Toni jenggah.


" diatas !! , karena rival mu lebih mengerikan dari pada aku," ucap Toni dengan tersenyum mengejek Marwah dengan wajah soknya dan berlalu meninggalkan Marwah sendiri yang terpaku.


Sepeninggalan Toni, Marwah merasa ragu. Ia menatap kelantai atas itu dengan perasaan campur aduk. Namun dengan menghela nafas panjangnya akhirnya ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga itu.


Setibanya dilantai atas Marwah dihadapkan dengan 3 pintu room yang terlihat VIP. Tapi ada satu pintu yang dijaga oleh seorang pria dengan seragam safari.


Tak disangka pria berseragam safari itu melihat pada Marwah dan mendekat dengan pasti pada Marwah yang bingung.


" maaf nona, apa ada yang bernama Marwah Sandres???,"


Marwah sedikit mengidik takut.


" ya," sahut Marwah cepat.


" Nona Suci telah menunggu anda didalam sana," tunjuk pria itu dengan menunjukkan room nomor 3 pada Marwah.


Marwah pun paham, dan ia berjalan pelan pada arah pintu nomor 3 tersebut.


Krek..bunyi pintu ruangan 3 tersebut terlihat sosok Suci dengan wajah serius tengah berdiskusi dengan dua orang pria berjas rapi.


Dan fokus ketiganya pun tertuju pada Marwah yang terpaku.


" kau datang," sambut Suci dengan senyum dinginya.


Marwah masuk dengan ragu.


Dan terlihat Suci memberi isyarat kode pada kedua pria itu yang disambut dengan krasak krusuk keduanya yang bangun dari sofa dan berjalan melewati Marwah..


" duduk lah," ucap Suci dengan santai.


" apa yang kau ingin kan??," sela Marwah menolak ajakan Suci.


mendengarkan hal itu Suci tersenyum kecil.


" kau terlalu tak sabaran !!," ketusnya dengan melemahkan otot leher seolah lelahnya yang begitu menyiksa.


" mengapa kau mengulur waktu untuk menyuntikkan dana segar pada perusahaan Aritama Group??," tanya Marwah kembali.


" itu tak mudah !!," sahut Suci menatap Marwah.


" ini bisnis, dan semua perlu prosedur, ada hitam di atas putih," jelas Suci ketus.


Marwah mendengar hal itu dengan kesal, dan langkahnya mendekat.


" lalu?? tak bisa kah kau mengunakan hal lain agar dana itu segera masuk??," ucapnya cemas seolah memohon.


" ada," sahut Suci cepat.


" tapi itu pun harus butuh proses 1-2 hari," jawabnya dengan meraih sebuah gelas kristal yang berisi minuman berwarna coklat pekat dan meminum dengan wajah sedikit menahan rasa keras dari air itu.


Suci terhenti ketika akan meminum gelas itu untuk kedua kalinya. Namun ia pun meminum kembali air yang terasa keras indra perasanya.


" perjanjian,"


" perjanjian apa?," sahut Marwah.


" bahwa kau akan pergi," jawab Suci dengan meletakkan gelas itu diatas meja.


" apa??," sabut Marwah terhenyak.


" apa maksud mu? pergi??,"


" aku tidak percaya pada mu, kau mungkin berakhir pada mas Erwin, tapi aku tau sifat mas Erwin," jelasnya dengan bernelangsa.


" jadi, aku hanya menjaga mas Erwin dari hal itu, aku tak ingin dia bertemu dengan mu lagi, kapan dan dimana pun,"


Jleb.. seolah ucapan Suci begitu menyayat hati Marwah yang terluka. Bibirnya bergetar menahan kesakitan perasaannya. Dan ia berusahan menahan gemuruh hatinya.


" kau sungguh menyedihkan," ucap Marwah pelan.


Suci bergeming dan menatap tajam pada Marwah


" cinta yang bertepuk sebelah tangan tidak hanya menyiksa orang yang melakukannya, tapi menyakitkan bagi orang yang menerimanya," sambung Marwah dengan berjalan mendekat pada Suci.


Suci menatap Marwah dengan wajah kesal.


" menginginkan seseorang yang tak mencintaimu itu adalah sebuah keserakahan ," ucap Marwah.


Suci terlihat kesal lalu dengan cepat ia bangun dan menampar wajah Marwah.


PLAK.., terlihat emosi Suci memunca dan nafasnya memburu karena marah pada ucapan Marwah.


" ahh..," pekik Marwah dengan menahan sakit pada wajahnya.


" jangan karena kau bisa memiliki hati mas Erwin kau berusaha menasehati aku," ucap Suci emosi.


" jika aku wanita serakah maka kau adalah wanita egois," balasnya tajam.


" karena mencintai seorang pria, kita berubah menjadi wanita tak memiliki akal sehat sehingga mengorbankan apa pun untuk dirinya," ketus Suci tajam.


Marwah terdiam mematap Suci.


" jika kau masih ingin berpuitis lebih baik batalkan saja," segah Suci dengan kembali duduk dengan kesal


" Tidak !!," seru Marwah cepat.


Dan Suci mengacuhkannya.


" jangan batal kan," ucap Marwah


Suci meliha dengan sudut matanya dan tersenyum licik.


" lihat !!, pada akhirnya kau juga yang akan memgemis pada ku," ucapnya seraya mengeluarkan sebuah kertas disana lalu memberikannya pada tangan Marwah.


" baca dan tanda tangani, lalu selamanya tinggalkan Erwin Aritama," ucapnya dingin seraya bangun dan meninggalkan Marwah yang terpaku pada kertas putih yang terlihat berisi perjanjian disana.


🍃🍃🍃


Disisi lain Erwin yang baru tiba di club malam itu, masuk dengan wajah kecemasannya. Ia berusaha mencari sosok Marwah diantara para pengunjung dengan pencahayan yang remang-remang dan musik yang memekakkan telinga.


Erwin berkeliling mencari sosok Marwah yang tak terlihat oleh indra pengelihatannya. Ia terus mencari dengan gelisah. Hingga tak sengaja ia melihat sosok yang membuat nya meradang.


Ia berjalan dengan cepat pada kumpulan pria yang tengah bercumbu dengan para wanita malam yang bergelut manja.


Dengan sigap Erwin menarik keras Toni yang tak siap menerima penarikan paksa itu dan,


Buk.., ia meninju wajah Toni dengan sekali pukulan. Hingga Toni tersungkur jatuh.


Seketika ruangan itu riuh dengan jeritan para wanita malam yang kaget dengan insiden pemukulan Toni.


" kyaaakk..,"


" kyaaakk," jerit wanita-wanita itu menambah bisingnya ruangan.


Erwin mendekat dan menarik kembali Toni, namun dengan sigap Toni menendang dada Erwin hingga Erwin terjatuh mengenaik meja bar itu sampai menjatuhkan gelas-gelas bir disana.


Dan kekacauan pun terjadi.


" Pengawal !!" pekik Toni memanggil pengamanan club miliknya seraya ia bersiap untuk melanjutkan duel dengan rivalnya yang sangat ia benci.


Erwin pun bangun dengan menahan sakit karena lengannya tak sengaja mengenai pecahan kaca saat terjatuh.


" kau datang??," ucap Toni.


" DIMANA DIA?," tanya Erwin marah.


" DIA?? SIAPA??," sahut Toni dengan nada mengejek lalu ia pun mulai bertaruh dengan Erwin.


Ia memberikan beberapa kali tinju yang ia arahkan pada wajah Erwin, namun Erwin berkali-kali berhasil menangis pukulan itu dengan susah payah.


Toni tak menyerah, ia tau sela Erwin yang terluka.


" Dimana dia?," seru Erwin dengan memberikan tendangan yang mengenaik paha Toni hingga Toni meringis kesakitan.

__ADS_1


Buk..


Namun dengan tertawa kecil, Toni bersiap kembali untuk memukul Erwin yang kali ini mengenaik lengan Erwin yang terluka.


" ah," decak Erwin terkesiap dengan sakit yang ia terima.


" kau mencari Suci??," tanya Toni


" jangan berpura-pura??," jawab Erwin kesal dan kembali bertaruh dengan Toni.


Hingga tak lama datang beberapa pengawal Toni dan bergabung melawan Erwin yang tak siap.


Hingga akhirnya dengan nafas memburu Erwin akhirnya tertahan dengan dua orang pengawal yang mengalahkan dirinya. Terlihat Erwin berusaha memberontak namun Toni datanf dengan cepat memberikan hujaman pukulan di perut Erwin hingga ia terkesiap dan tertinduk menahan.


" mungkin hari ini adalah hari terakhirmu," ucap Toni sombong.


" kau tak tau betapa aku begitu rindukan hal ini, kekalahan mu didepan mataku," ucap Toni dengan kembali memukul perut Erwin.


Buk..Buk..,


Erwin yang kesakitan pun hanya bisa mwlihat dengan marah pada Toni.


" apa sakit??," tanya Toni.


" ah, itu belum seberapa, dengan kesakitan ku yang aku terima selama ini," ucapnya dengan mengelap wajahnya yang berdarah bekas pukulan Erwin tadi.


" Jika saja kau dihukum setimpal maka aku tak akan menghantui mu selama ini," ucapnya lagi.


" kau yang membunuh," sahut Erwin dengan mengeretakkan rahannya.


Toni bergeming kesal, lalu ia pun memberikan pukulan pada wajah Erwin lagi.


Buk..


" DIAM !!," hardik Toni marah mendengar kata-kata membunuh keluar dari mulut Erwin.


Erwin tersenyum kecil melihat Toni tersulut emosi.


" jika buka karena kelicikan mu memotong rem motor, maka nyawa tante Sari tak akan melayang," ucap Erwin.


" DIAM !!," hardik Toni dengan mencengram leher Erwin yang menatap tajam pada dirinya.


" kau yang sengaja membunuh mama ku, kau yang bodoh tak bisa mengelak, kau yang tak bisa mengontrol laju motor," hardik Toni kesal.


" dan kau biang dari keteledoranmu sendiri," sambut Erwin tertawa licik.


" jika kau punya jiwa pertarung maka kau tak akan dengan sengaja memotong tali rem motor itu, maka mama mu tak akan mati melainkan aku yang akan tewas seketika," sambung Erwin yang mengenang kejadian masa lalu.


" Sebaikanya kau mati !!!," ucap Toni seolah terasuki setan pembunuh dengan mencekik leher Erwin yang tangannya ditahan oleh dua pengawal club.


Erwin merontak dengan menendang Toni hingga pria itu limbung.


" masih mau melawan?," ucap Toni kesal dengan mengambil botol minuman kaca yang akan ia arahkan pada kepala Erwin.


Namun tiba-tiba suara seorang wanita mengangetkan keduanya.


" TONI !!," pekik Suci histeris lalu dengan cepat memukul Toni.


" apa yang kau lakukan pada mas Erwin !!, lepaskan dia??,"


" oh..hohoho.., kau datang diwaktu yang tepat Suci," ujar Toni menyambut.


" lepas kan mas Erwin," perintah Suci pada dua pengawal itu. Namun keduanya tak bergeming.


" sudah kau bereskan wantia itu??," celetuk Toni memgingatkan Suci.


Suci bereaksi mendengarkan ucapan Toni.


" ah, kau harus tau Erwin, Suci bukan wanita biasa !!,"


" tutup mulut mu Toni!!," sela Suci marah dengan mencoba membantu tangan Erwin untuk dilepas dari dua pengawal itu.


" cepat lepaskan tangan nya," pekik Suci marah pada kedua pria kekar itu.


" kau harusnya lebih peka terhadap perasaan wanita yang berada disampingmu itu Erwin, dia nyaris frustasi," jelas Toni.


Erwin menatap dingin pada Toni. Namun Suci mulai menangis mendengar ucapan Toni yang membongkar perasaannya.


" tapi aku bersyukur, karena kau dibuat menderita oleh orang-orang yang menyanyangimu," ucapnya seraya menarik kasar tubuh Suci yang mencoba menolong Erwin, dan Suci merontak dengan menampik tangan Toni.


PLAK..,


Sebuah tamparan keras Suci berikan di wajah Toni sehingga Toni meringis kesakitan menerima tamparan itu tepat diluka bekas pukulan Erwin.


" kau harusnya menepati janjimu untuk tak menyentuh mas Erwin, " ucapnya dingin.


" Lepaskan dia !!," hardik Suci pada Toni. Dan Toni bereaksi keras.


" TIDAK !!, dia adalah bagian ku, " ucap Toni berang mendengar ucapan perintah Suci.


" Kau adalah umpan yang sempurna," ucap Toni mengejek Suci dengan meraih sebuah botol kaca dan hendak memukul Erwin.


Suci yang melihat langsung memeluk tubuh Toni untuk menahan aksinya.


" JANGAN!!," pekik Suci histeris dengan menahan tubuh Toni agar tertahan.


" lepaskan Suci, biar kan aku membalas dendam orang tua ku !!," seru Toni frustasi dan dengan paksa ia melepaskan tangan Suci lalu mendorong wanita itu hingga limbung menabrak meja yang penuh botol kaca.


**Braaakkkk.., Bruuuk..,


" aaaahh**," jerit kesakitan Suci yang berakhir jatuh pingsan dilantai.


" SUCIIIII!!," pekik Erwin histeris melihat tubuh Suci kini terkulai dilantai dengan darah segar.


" Dasar brengsek !!," hardik Erwin dengan sekuat tenganga melawan kedua pengawal itu dan berhasil lepas dan melampiaskan kelesalannya pada Toni yang bersiap dengan reaksi Erwin.


Dengan saling serang Erwin yang terlihat kalap hendak memecahkan kepala Toni dengan botol kaca yang sempat ia raih.


Namun..


" Berhenti !!," suara pria berat seorang polisi dengan mengacungkan pistol dan diikuti riuh bersamaan para pengunjung lain yang lari kocar kacir melihat kerberadaan aparat keamanan.


" Erwin !!," ucap Johan yang terperangah melihat wajah bringas Erwin yang akan memukul kepala Toni.


" berhenti Erwin, club sudah di kepung," ucap Johan dengan segera mendekat pada Erwin.


Erwin dengan nafas menderunya melihat pada Johan. Dan melepaskan Toni.


" urus dia !!, pastikan ia membusuk di penjara," ucap Erwin marah.


Toni tertawa lepas.


" wanita mu pun pasti akan ikut terseret, karena dia telah menanda tangani surat perjanjian yang telah Suci buat,"


" Apa??," ucap Erwin bereaksi kaget. Dan dengan segera berlari mencari Marwah.


🍃🍃🍃


Disisi lain Marwah yang lama berpikir terpaku dengan isi perjanjian dibuat lemas. Jari jemari nya begitu gemetar ketika akan menandatangai surat perjanjian yang akan membuatnya masuk kedalam penjara.


Ia menatap kosong kertas itu dengan air mata jatuh.


" 5 tahun !!," ucapnya lirih, dan dengan menarik nafas panjang Marwah pun seolah memantapkan hatinya untuk menandatangi surat perjanjian itu.


Namun tiba-tiba ia mendengarkan suara riuh diluar dengan samar. Dan tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan paksa.


" MARWAH !!!" seru Erwin dengan masuk kedalam ruangan yang membuat Marwah terkaget bukan kepalang melihat Erwin yang datang dengan keadaan lusuh.


" mas," lirih Marwah yang perlahan bangun dengan terpaku.


Erwin yang berhenti dihadapan Marwah pun menarik paksa tangan Marwah seraya menarik pulpen yang berada ditangan wanita ini.


Marwah bereaksi kaget dengan memegang pulpen itu dengan erat.


" LEPAS !!," ucap Marwah


" ENGGAK !!," sahut Erwin dengan memaksa karas jemari Marwah terbuka dan meraih pulpen itu dan melemparkanya dengan kasar kesembarang ruangan.


Marwah terpaku melihat kekasaran Erwin yang emosi.


" MARWAH !!, apa karena hal ini kau menolak bersama ku ??," hardik Erwin marah.


" bukan kah kau berjanji akan selalu bersama ku??," seru Erwin dengan nada dingin.


" Marwah bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan mas dan perusahaan" ucapnya datar.


Erwin terhenyak.


" BAGAIMANA AKU BISA HIDUP TANPA MU!!," pekik Erwin frustasi, sehingga suaranya mengelegar dalam ruangan


" LANTAS BAGAIMANA MARWAH BISA MELIHAT ITU SEMUA HANCUR ???," sahut Marwah dengan suara tingginya dihadapan Erwin.


Erwin terpaku menatap Marwah yang frustasi dan emosi.


" lalu.., bagaimana setelah kamu pergi??," ucap Erwin merendah kan nada suaranya pada Marwah yang terlihat goyang.


" apa semua akan normal kembali???," tanya Erwin dengan ekspresi wajah sedih menatap Marwah yang menangis.


" mas," lirih Marwah menatap kekasih hatinya dengan sedih.


" jangan pergi," ucap Erwin dengan tiba-tiba merasakan sakit kepala nya yang menyakitkan.


" aaah..," desir kesakitan Erwin yang mulai tak tahan dengan sakit kepalanya.


" mas???," seru Marwah khawatir melihat Erwin kesakitan hingga ia reflek menyentuh lengan Erwin.


Namun seketika Erwin limbung dan tubuhnya jatuh, dengan cepat Marwah menahan tubuh Erwin dan ia pun ikut roboh.


Bruk..,


Marwah yang terpaku mendapatkan tubuh Erwin terkulai dengan tangannya merasakan lengan Erwin yang basah, dan ternyata darah segar yang terus keluar dari sisi lengan Erwin.


Marwah terkejut melihat kenyataan itu, seolah mimpinya saat itu jadi kenyataan.


" gak..mas!!, mas ???," seru Marwah mencoba membangunkan Erwin yang kian pucat.


" Marwah mohon.., bangun mas !!," ucapnya dengan tangis yang terisah.


Dan tiba-tiba terdengar suara derap langkah yang kian mendekat kedalam ruangan, yang ternyata sekertaris Chandra dan beberapa anggota polisi.


" Erwin !!," seru sekertaris Chandra panik dengan berlari mendekat pada Marwah yang memeluk tubuh Erwin.

__ADS_1


__ADS_2