
Kini Marwah berada di lobby apartemen Luxury , dan ia terlihat bingung hendak menuju lantai berapa apartemen Erwin??.
Ia mencoba menelfon ke nomor handphone yang ada pada Erwin tapi, tak kunjung mendapat jawab dari sana.
" Apa dia udah ke kantor yaa? , " gumam Marwah yang coba menebak seraya meletakkan kotak bekal yang ia buat tadi dirumah untuk dibawa pada Erwin.
" Mana nomor telfon mas Chandra gak ada lagi, " tuturnya lesu.
Karena lebih 20 menit berdiri di depan lift yang silih berganti, namun Marwah tak kunjung masuk, hingga seorang security menghampiri Marwah.
" Pagi mbak, ada yang bisa saya bantu ??" tanya security ramah.
" Ah, iyya, saya mau ke apartemen teman, tapi saya tidak tau lantai berapa??" jawab Marwah.
" Oh begitu, sudah coba ditelpon mbak temannya??" tanya Security kembali.
" Sudah, tapi dia tak menjawabnya, " jawab Marwah kembali.
" Boleh saya tau nama teman mbak siapa??, mungkin saya bisa bantu, ".
" Pak Erwin.., Erwin Aritama, " jawab Marwah.
" Ah, kalo begitu mari ikut saya mbak ke meja resepsionis, karena data berada disana , " ucap Security sopan.
Marwah hanya mengangguk paham, dan berlahan mengikuti langkah security tersebut yang berjalan menuju meja resepsionis. Namun terdengar seseorang memanggil nama Marwah.
" Marwah??".
Marwah menoleh dengan spontan, dan terkejut melihat mas Chandra berjalan kearah dirinya.
" Mas Chandra ??"
" Kamu kenapa bisa ada disini??" tanya mas Chandra.
Marwah ragu untuk menjawab.
" Hhmm..,itu.."
Belum sempat Marwah menjawab, tiba-tiba telfon mas Chandra berdering. Sehingga perhatian mereka teralihkan pada suara deringan itu.
Mas Chandra meraih handphone dari sakunya dan terlihat ia sedikit kaget. Dan terlihat mas Chandra menjawab dengan serius.
" Baik, saya segera naik keatas," jawab mas Chandra cepat dan komunikasi itu terputus. Lalu ia menatap Marwah sesaat ketika akan memasukkan kembali handphone ke dalam saku.
" Ya udah, kalo gitu mas duluan ya, " ucap mas Chandra cepat.
" Eh, mas tunggu, " ucap Marwah seraya merentangkan tangannya menghalangi jalan mas Chandra. Sehingga mas Chandra pun terhenti untuk berjalan dan menoleh pada Marwah dengan bingung.
__ADS_1
" Apa mas mau ketempat pak Erwin, ??" tanya Marwah ragu.
Mas Chandra mengangguk cepat, bahwa ia memang hendak ke apartemen bosnya itu.
" Marwah ikut, ".
" Hah, ?? ".
" Pokoknya Marwah ikut dulu, nanti Marwah jelasin, " ujarnya cepat. Dan kemudian ia menoleh pada bapak security yang menunggu dirinya.
" Pak, makasih yaa, tapi saya udah ketemu temen temenya saya, jadi saya naik dulu, " ucapnya cepat. Lalu menyuruh mas Chandra segera jalan menuju lift, dan Marwah pun mengikuti jalan mas Chandra dari belakang.
🍃🍃🍃
Wajah mas Chandra terlihat syok setelah mendapat cerita singkat Marwah selama didalam lift.
" Jadi karena itu mas, Marwah kesini, mau liat pak Erwin, " jelasnya dengan berjalan mengikuti mas Chandra menuju lorong apartemen pak Erwin.
Mas Chandra tak berkomentar, ia hanya menghela nafas panjangnya. Ia trus berpikir ini benar-benar suatu kebetulan yang seperti direncanakan. Padahal hari itu, bosnya tengah pusing menghadapi desakan investor yang menunggu jadwal pembukaan hotel yang tak kunjung selesai. Dan dihari yang sama pesaing bisnis menjatuhkan harga saham group Aritama yang membuat beberapa investor luar mulai ragu akan investasi mereka di group Aritama.
Dan akhirnya langkah mereka pun terhenti di pintu apartemen no 909. Lalu mas Chandra menekan tombol password apartemen itu dengan cepat, terdengar suara pintu terbuka.
Klik.
" Yuk, masuk, " kata mas Chandra pada Marwah yang sedikit was-was.
Mas Chandra berjalan menuju pintu kamar utama, dan mengetuknya berlahan.
Tok.., tok.
Namun tak mendapat jawaban dari dalam sana, hingga berlahan mas Chandra membuka pedal pintu kamar itu, lalu masuk kedalam secara berlahan.
Dan hal itu membuat Marwah terlihat terkejut, bagaimana bisa mas Chandra masuk dengan leluasa dirumah bosnya. Bahkan sampai masuk kedalam kamar pribadi. Marwah mulai menerka, seraya berdiri di depan ruang tv yang terlihat luas dan terdapat jendela besar dengan tirai tipis disana hingga sinar matahari pagi masuk dengan leluasa menyinari ruangan itu.
Namun sayup-sayup terdengar suara yang berbeda dari dalam kamar, dan secara tak sadar bulu roma Marwah pun merinding, ia menutup mulutnya seolah terkaget dengan suara yang ia dengar.
" APA?, jangan-jangan gosip itu benar?, bahwa pak Erwin seorang Gay, dan teman kencannya adalah mas Chandra??" rutu batin Marwah yang terkejut.
" Tapi, masa??, mas Chandra??" , gumamnya tak percaya dan terus menebak-nebak apa yang dilakukan kedua pria dewasa dalam 1 kamar.
Namun, pada kenyataannya.
Didalam sana, mas Chandra tengah membantu Erwin untuk bisa duduk, karena sekujur badan Erwin sakit. Mungkin waktu berkelahi semalam ia terlalu memposir tenaganya dan dibeberapa bagian tubuhnya terdapat memar bekas pukulan yang mengenai dirinya pada saat berkelahi.
Sehingga, tanpa sadar suara desiran sakit keluar dari mulut Erwin yang menahan sakit badannya.
" Carikan seorang terapis, " pinta Erwin yang mulai imbang untuk duduk.
__ADS_1
Sekertaris Chandra hanya mengangguk paham.
" Bagaimana hari ini ?, " tanya Erwin.
" Sejauh ini, mereka telah memberi kelonggaran waktu hingga 3 bulan, " jelas Sekertaris Chandra.
Erwin sedikit lega mendengarkan hasil rapat terkahir yang tak bisa ia ikuti.
" Sudah cari, perusahaan pengacau itu??" tanya Erwin yang mencoba menurunkan kakinya yang lalu karena keram.
" Ya, seperti dugaan anda, bahwa itu dari perusahaan paman anda, yang kini dikelola oleh Toni, " jawab sekertaris Chandra singkat. Karena Erwin jauh lebih tau profil sebenarnya dari perusahaan yang telah membuat sahamnya turun secara tiba-tiba, tak lain adalah ulah pamannya sendiri. Dan ia hanya mengeram seraya menghela nafas panjang.
Lalu Sekertaris Chandra kembali memberikan informasi yang membuat Erwin kaget.
" Pak, diluar Marwah menunggu anda ".
Erwin melihat kearah Sekertaris Chandra.
" Marwah??," ujarnya yang terkejut, mengapa gadis itu berada di apartemennya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum senang. Lalu bangun dengan seolah-olah melupakan kalau seluruh tubuhnya sakit akibat perkelahian semalam.
Sehingga Sekertaris Chandra melihat dengan kaget, dan ia bingung melihat atasannya kembali bugar dalam hanya beberapa menit, bahkan bisa berjalan dengan santai untuk keluar kamarnya.
Dan ketika pintu kamar utama terbuka, sosok Erwin keluar dengan wajah datarnya.
" Kau??" ujar Erwin dingin, seolah tak tau bahwa Marwah berada disana.
Marwah terkaget, kedua matanya melebar dan tubuhnya mematung ketika melihat mantan bosnya keluar dari kamar dengan bertelanjang dada. Sontak Marwah reflek membalikkan badannya. Dan ia jadi menyesal untuk datang ke apartemen Erwin yang terlihat pria itu baik-baik saja.
Namun Erwin terlihat santai, ia seolah cuek dan berjalan menuju dapur dan meraih gelas lalu berjalan menuju dispenser untuk mengambil air mineral.
Dengan ragu Marwah akhirnya buka suara.
" Ba, bagaimana .., luka dilengan anda??," tanya Marwah ragu.
Erwin reflek melihat kearah lengan kirinya yang terlihat perban disana yang terdapat noda darah.
" Baik, " jawab Erwin santai seraya berjalan menuju sofa TV nya yang terlihat Sekertaris Chandra berjalan memberikan baju kemeja untuk dikenakan Erwin.
Sekilas Sekertaris Chandra menoleh pada Marwah yang berbicara membelakangi bosnya, hal yang wajar memang seorang wanita pasti tidak nyaman melihat pria bertelanjang dada.
" Saya kemari, hanya ingin memastikan keadaan anda, dan...," ujar Marwah ragu, ketika melihat pada tangannya yang masih membawa bekal untuk Erwin.
" Saya bawakan anda makanan, agar anda bisa minum obat, " jelas Marwah.
" Hhmm, " gumam Erwin singkat.
Namun disela itu, Sekertaris Chandra mengeluarkan isi tas dan meletakkan diatas meja sofa Erwin.
__ADS_1
" Pak, kalo begitu saya balik kantor, " pamit Sekertaris Chandra yang mendapat reaksi kaget Marwah yang tak rela jika harus tinggal.