
Rabu pagi itu, Marwah tiba di kantor seperti biasa. Dan ia dikejutkan dengan tersebarnya gosip yang santer terdengar secara bisik-bisik oleh para karyawan wanita dikantor.
Ketika berada didalam lift kantor, terlihat dua orang karyawan wanita tengah berdiskusi serius.
" jadi gak bener?? " tanya wanita pertama serius melihat pada temannya yang dengan santai menanggapi pertanyaan temannya ini yang masih tak percaya.
" jadi Direktur bukan Gay??" tanyanya wanita pertama untuk mencari kebenaran.
" Benar!!, Direktur bukan Gay, kabar itu aku dapat dari teman aku yang bekerja diperusahaan Zinus , Direktur Aritama dengan lantang menjawab tuduhan itu diruang rapat pemegang saham Zinus," jelas wanita kedua serius.
Marwah mendengar dengan kaget.
" Ternyata dia memang bukan seorang Gay!!," gumam batin Marwah yang ikut kaget.
" Syukurlah, aku benar-benar senang mendengar berita itu, " ujar wanita pertama seolah lega.
Marwah pun ikut tersenyum mendengarnya.
" Tapi, ada hal lain yang harus kamu tau," ujar wanita kedua dengan wajah serius.
" Apa??," tanya wanita pertama penasaran.
Dengan wajah serius wanita kedua mendekat pada wanita pertama seolah berbisik. Dan mencoba agar pembicaraan itu tak terdengar Marwah yang berada satu lift dengan mereka. Setelah mendengar bisikan temannya itu, wajah wanita pertama berubah syok.
" Benar kah??, jadi..,jadi.., Direktur sedang mencari calon?? istri??" ujar wanita pertama yang ucapannya tak sengaja terdengar Marwah.
Marwah yang mendengarnya ucapan wanita pertama itu pun mengalami syok, sehingga ia tak sengaja menjatuhkan tasnya.
Brakk.
Sehingga kedua karyawan wanita itu terkaget, dan menoleh pada Marwah yang jadi salah tingkah.
" Ah, maaf..," ujar Marwah canggung, dan reflek berjongkok mengambil tasnya.
" kamu sih, " ujar wanita kedua marah pada temannya, seolah info yang terakhir tadi seharusnya menjadi rahasia berdua mereka.
" maaf, habis aku terkejut," ujar wanita pertama yang benar-benar terkejut mendengar berita Direktur mencari calon istri.
" jika mau cinta mu terbalas, maka ini kesempatannya, " ujar wanita kedua serius.
" apa itu mungkin??," tanya wanita pertama ragu.
" ya mana gue tau, lo berjuang juga belom," jawab wanita kedua santai.
Dan Ting.., suara pintu lift itu sampai di lantai ruangan kantor kedua wanita itu, yang kemudian terlihat keduanya turun bersama meninggalkan Marwah.
" Bagaimana bisa gosip cepat tersebar?? mencari calon istri??," ujar Marwah dengan sedikit tak percaya.
Hingga tak berselang lama pintu lift itu terbuka dan Marwah turun dengan cepat, ia berjalan menuju meja kerjanya, yang terlihat Sekertaris Chandra tengah serius menerima telfon dan tak sengaja melihat pada Marwah yang baru datang dengan wajah tersenyum.
Marwah pun segera duduk dikursi kerjanya, lalu tak sengaja melihat pada ruangan Erwin, yang terlihat pria itu tengah serius melihat pada layar laptop nya.
Tanpa sadar Marwah tersenyum sendiri mengingat gosip kedua wanita tadi.
" mencari calon istri!!".
Tiba-tiba refleks Marwah memukul kepalanya, seolah menyadarkan dirinya.
" Fokuslah Marwah!!, " rutu batin Marwah pada dirinya sendiri. Namun tak sengaja sorot mata Marwah melihat pada Erwin yang ternyata melihat pada dirinya dengan tersenyum hangat. Marwah pun kaget, hingga ia reflek menyembunyikan wajahnya dibalik layar komputer.
Terlihat Erwin melihat bingung. Dan dengan segera mengambil telfon diatas mejanya seraya menekan tombol telfon, tak lama terdengar suara telfon masuk pada meja kerja Marwah. Hingga Marwah terperanjat kaget, lalu reflek mengangkat telfon.
" Hallo..,".
" Kenapa menghindar melihat aku???" tanya Erwin, yang membuat Marwah terkaget, dan melihat pada gagang telfon itu yang ternyata dari Erwin.
" Ah, enggak kok, " jawab Marwah seolah menyesal dengan tingkah bodohnya tadi yang reflek bersembunyi dibalik layar komputer.
" Kalau begitu, kemarilah," ujar Erwin.
" Hah??" jawab Marwah kaget.
" Kenapa??," tanya Erwin heran dengan menatap serius pada Marwah.
" Ah, itu.., ini masih dikantor, " jawab Marwah gelisah.
" Terus?? kenapa??," tanya Erwin lagi.
Marwah seolah kehilangan kata-kata mendengar pertanyaan Erwin.
" Kenapa??, ini tuh dikantor??? masa mau pacaran dikantor??," rutu batin Marwah.
" Ah, itu..," jawan Marwah ragu.
" Apa yang kamu pikirkan???, aku memerlukan penjelasan kamu soal pihak ketiga yang akan berkerjasama, " jelas Erwin dengan nada berbeda.
" APA??," jawab Marwah dan seketika wajah sesal Marwah yang salah mengartikan panggilan Erwin pun terlihat disana, ekspresi benar-benar malu.
" Sial, apa yang kamu pikrian Marwah !!," pekik batin Marwah yang kepalang malu pada Erwin.
" Ayo kemari, sekalian dengan sekertaris Chandra," perintah Erwin.
" oh, Baik," jawab Marwah yang lemas. Dan Marwah pun memanggil Sekertaris Chandra.
" Mas Chandra," panggil Marwah.
" Ya" .
" Direktur panggil kita untuk kedalam," jelas Marwah lemas.
" Hah??," jawab Sekertaris Chandra heran. Heran kenapa Direktur tidak menelfon dirinya, tapi malah Marwah.
" Yuk, Mas, " ajak Marwah yang membawa buku notes ditangannya.
" Ah, iyya," sahut Sekertaris Chandra dengan segera meraih tab dan sebuah kertas.
Perlahan keduanya masuk kedalam ruangan Erwin. Dan terlihat Erwin memang sedang menunggu mereka berdua.
" Besok pagi aku ingin bertemu dengan pihak ketiga, " ujar Erwin pada keduanya.
" Dan segera buat kontrak kerjanya, " ujar Erwin lagi dengan memberikan selembar kertas pada Marwah yang menerima dengan kaku.
" Ini adalah, jadwal sementara pembukaan hotel, jadi aku ingin pastikan semua keperluan hotel telah rampung 2 minggu sebelum hotel dibuka, " jelas Erwin serius pada Marwah.
Terlihat Marwah membaca kertas itu dengan serius.
" Bagaimana? apa kamu bisa pastikan jadwal itu terlaksana??" tanya Erwin menatap Marwah.
" Ah itu, bisa.., jika seluruh penermiaan karyawan hotel bisa dilakukan dalam bulan ini, sehingga mereka bisa cepat bekerja," jelas Marwah sedikit ragu.
" Baik lah, berarti besok kepastian kontrak kerja dan buat segera jadwal interview dalam minggu depan, " sambut Erwin.
" Ah, tapi..," sela Marwah ragu.
" Kenapa??," tanya Erwin pada Marwah, dan sekertaris Chandra ikut melihat pada Marwah.
" Besok, sepertinya saya tidak bisa," jawab Marwah ragu.
Terlihat Erwin dan sekertaris Chandra menunggu penjelasan Marwah.
" Itu, besok saya harus mengurus suatu hal, " jawab Marwah tak spesifik, sehingga Erwin melihat dengan bingung.
__ADS_1
" Apa lebih penting dari keperluan kantor ini??," tanya Erwin lagi.
" Hhmm ya, saya harus mengurus panti asuhan keluarga, jadi besok saya izin tidak masuk," jawab Marwah ragu.
Terlihat ekspresi datar Erwin disana seolah berpikir dengan permintaan izin Marwah besok, sehingga Marwah gelisah.
" Oke," jawab Erwin, yang diluar ekspektasi Marwah yang ia pikir akan ditolak.
" kalau begitu, tapi siapkan semua keperluan rapat dihari ini, dan rapat besok di kita buat hari jumat," jelas Erwin pada Marwah.
" Jadi besok boleh izin??," tanya Marwah memastikan.
Erwin mengangguk pasti. Dan hal itu disambut senang wajah Marwah
" Terima kasih, Direktur," ucap Marwah senang.
Dan terlihat Sekertaris Chandra tak percaya dengan atasannya yang lebih melunak dengan permintaan izin Marwah besok, yang jarang terjadi.
" Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya mau kembali bekerja..," ujar Marwah ragu.
Dan Erwin mengangguk pelan memberikan izin pada Marwah untuk kembali bekerja. Marwah pun berjalan keluar ruangan Erwin yang meninggalkan sekertaris Chandra disana.
" Sekertaris Cha, besok apa saja jadwal ku??," tanya Erwin pada Sekertaris nya.
Dengan sigap Sekertaris Chandra membuka layar tab nya, dan membaca jadwal Erwin besok, yang ternyata terdapat rapat kecil siang hari dan sore hari bersama investor Franks dan kawan-kawan.
" Hanya ada dua rapat kecil, siang hari dan sore bersama investor Franks," jelas Sekertaris Chandra pada Erwin.
" Batalkan," ujar Erwin cepat.
" Hah??, dibatalkan???," ucap Sekertaris Chandra ragu.
" Kosongkan semua jadwal ku besok, dan jadwalkan dilain hari," perintah Erwin dengan meraih handphone nya yang terlihat berbunyi panggilan masuk.
Dan dengan segera Erwin mengangkat telfon tersebut, lalu memberi kode pada Sekertaris Chandra untuk keluar dari ruangannya.
Lalu dengan penuh pertanyaan sekertaris Chandra meninggalkan ruangan atasannya, seraya melihat pada meja kerja Marwah yang kini terlihat sosok Suci sedang menerima intruksi Marwah.
" Pasti ada sesuatu??," pikrian Sekertaris Chandra yang penasaran dengan perubahan mood kerja atasannya pada wanita yang berada disamping meja kerjanya ini.
🍃🍃🍃
Menjelang siang, terlihat Suci dengan serius mendengar kembali perbaikan pada kerjaannya dihadapan Marwah.
" Untuk sekarang hanya itu aja, Hhmm, pastikan ini selesai hari ini," ujar Marwah pada Suci.
Suci seperti kewalahan menerima perkerjaan dari Marwah.
Dan tiba-tiba terlihat Sekertaris menyapa keduanya.
" Kalian gak makan siang??," tanya Sekertaris Chandra yang mengagetkan keduanya.
Dan reflek kedua wanita itu melihat jam tangan masing-masing.
" Ah, benar, sudah siang yaa," ujar Suci.
" Ayo makan siang dulu, nanti sambung lagi," ujar Sekertaris Chandra mengingatkan.
" iyya mas," jawab Marwah ragu dan melihat pada Suci.
" Ya udah kamu istirahat siang aja dulu, nanti lanjut lagi," ucap Marwah.
" Ya udah bareng yuk," sambung Suci mengajak Marwah.
" Ayuk makam siang bareng, di cafe bawah," ujar Suci lagi.
" Ikut yaa, " sambung sekertaris Chandra.
Akhirnya Marwah mengalah dengan ajakan Suci, dan ia pun mengikuti Suci dan Sekertaris Chandra untuk turun makan.
Dan ketiganya turun kebawah, dan terlihat Sekertaris Chandra disapa ramah oleh beberapa karyawan wanita yang terlihat kagum pada Sekertaris tampan ini.
" Waah, jadi gak selow kalau makam bareng dengan mas Chandra," celetuk Suci ketika berada dimeja cafe, lalu terlihat seorang pelayan menghampiri mereka bertiga.
" Saya mau dimsum udang 2 dan pure jus guava, " pinta Suci pada pelayan.
" Mie seafood dan air mineral," pesan Sekertaris Chandra.
Dan terlihat wajah bingung Marwah melihat menu pada cafe itu yang terlihat banyak menu seafood yang tak bisa ia makan karena alerginya.
" Kamu pesan apa Marwah??," tanya Suci.
" Hhmm kayak salad buah aja, itu aman, " ujar Marwah.
" saya Salad buah dan air mineral," pesan Marwah dengan memberikan buku menu pada si pelayan.
Dan terlihat pelayan itu pun pergi berlalu.
" Kamu rugi deh, gak coba makanan disini," ujar Sekertaris Chandra dengan melonggarkan dasinya.
" Ah, iyya mas, Hhmm," jawab Marwah ragu.
" Kenapa??" tanya Suci.
" Aku gak bisa makan Seafood, karena ada riwayat alergi parah," jawab Marwah meluruskan penasaran Suci.
" Ooh pantes, disini juara makanan seafood, " jelas Suci.
" Kamu punya panti asuhan keluarga Marwah," tanya Sekertaris Chandra tiba-tiba, sehingga Marwah kaget.
" Iyya mas, dulu dikelola papa, sekarang jadi tanggung jawab Marwah," jawab Marwah seadanya.
Suci terkaget.
" Keluarga Marwah punya panti Asuhan??," gumam batinnya.
" Jadi setiap 6 bulan sekali kontrol panti asuhan dan kebetulan besok acara tahunan dipanti," jelas Marwah lagi.
" Ooh begitu rupannya, " sahut Sekertaris Chandra.
Suci hànya mendengar dengan bingung obrolan keduanya. Tiba-tiba handphone Suci berdering, dan reflek Suci meraih handphone nya dan ia tersenyum ketika membaca nama si menelfon, ternyata dari tante Intan, mama mas Erwin.
" Hallo tante," jawab Suci.
" hallo Suci, tante ganggu yaa?? maaf yaa," ujar Nyonya Aritama basa basi.
" Ah enggak tante, ini lagi jam makan siang kok, ada apa tante??," tanya Suci serius.
" Besok siang kamu kemarin yaa??, Ega udah pulang sama istrinya dan besok mau ngerayain ulang tahun anaknya Qiara, cuma kita-kita aja yang ramein" ujar Nyonya Aritama.
" Waah ega udah pulang?, oke tante besok pasti Suci kerumah, mau ketemu juga sama anak Ega," ujarnya senang bukan kepalang.
" Oke kalau begitu, ketemu besok yaa Suci," ujar Nyonya Aritama mengakhiri telponnya bersama Suci.
Terlihat Suci senyum sendiri, ia membayangkan besok pasti mas Erwin juga akan makan siang dirumah. Membayangkannya saja sudah membuat Suci bahagia.
" Kenapa???," tanya Marwah yang bingung melihat tingkah Suci.
" Ah enggak, oia besok kita kosong yaa??," tanya Suci kembali pada Marwah.
" Iyya," jawab Marwah pasti.
__ADS_1
" Aah, syukurlaaah, " jawab Suci benar-benar lega dan tak sabar untuk menunggu besok hari yang pasti bisa bersama mas Erwin terus.
Namun tiba-tiba terlihat notif pesan masuk dari handphone Marwah, dan Marwah pun segera meraih handphone nya. Seketika Marwah kaget ketika mendapat pesan dari Erwin.
" Kamu dimana?" Erwin.
Marwah terlihat kelabakan mendapat pesan Erwin, dan membalasnya segera.
" Sedang dibawah, makan siang di cafe sama sekertaris Chandra dan Suci," balas Marwah pada Erwin.
Dan terlihat perlayan tadi tiba di hadapan mereka dengan nampan besarnya membawa menu pesanan ketiganya yang terlihat antusias menunggu pembagian.
Terlihat sesekali Marwah melihat pada handphone nya mengecek pesan masuk, dan ternyata tak mendapat balasan dari Erwin. Lalu Marwah pun menghela nafas panjangnya seolah kecewa dan segera melahap salad buahnya.
Namun selang beberapa lama, ditengah asyik ketiga nya melahap makan siang, tiba-tiba ruangan cafe itu dibuat riuh berbisik-bisik ketika melihat sosok Direktur mereka, kini berada ditengah-tengah mereka yang berjalan menuju meja Marwah.
" Apa aku bisa duduk disini?," tanya Erwin yang mengangetkan Marwah.
Suci terlihat senang dengan kehadiran Erwin.
" Duduk aja mas, " sambut Suci yang senang karena Erwin bisa duduk di hadapannya yang bersebelahan dengan Marwah yang terpaku.
" Mau pesan apa mas??," tanya Suci antusias.
" Hhmm," terlihat Erwin bingung melihat pada poster-poster menu makaman yang terpajang di dinding cafe.
" Pesan kepiting lunak lada hitam aja mas, enak loh," tawar Suci yang tau betul makanan kesukaan pujaan hatinya ini.
" Ooh, boleh," jawab Erwin mengikuti saran Suci lalu ia melihat pada sisi sampingnya yang terlihat Marwah tengah melahap Salad buahnya.
Setelah memesan menu tambahan, terlihat meja makan itu hening seketika.
" Mas, tadi tante telfon, katanya Ega udah pulang dari Jepang yaa??" tanya Suci pada Erwin. Dan terlihat Marwah memperharikan obrolan tersebut dengan diam. Erwin melihat ekspresi diam Marwah.
" Iyya, dua hari yang lalu Ega pulang bersama istri dan anaknya, kenapa ??" tanya Erwin yang tiba-tiba mengambil handphone nya dan menariknya kebawah meja lalu memasukkan kedalam saku celananya.
" Ah enggak, tante tadi bilang, besok diajak rayain ultah anak Ega pas makan siang," jelas Suci senang seraya menatap wajah Erwin.
Dan Erwin berekspresi datar pada Suci, namua dibawah meja, tangannya malah meraih jemari Marwah yang berada diatas pangkuannya. Sontak hal itu membuat Marwah bereaksi terkejut dan menoleh pada Erwin. Namun Erwin tak peduli, ia dengan santai menggenggam jemari Marwah dibawah meja.
" Jadi karena itu Direktur membatalkan jadwal rapatnya besok??," gumam batin Sekertaris Chandra, yang telah menghabiskan mie seafoodnya.
🍃🍃🍃
Setelah makan siang, terlihat Erwin pergi meninggalkan ketiga nya yang kembali menuju lift kantor untuk balik ke lantai atas.
Marwah terlihat diam sedari tadi.
" Kamu kenapa??," tanya Suci.
" Ah enggak, ada," jawab Marwah cepat.
Dan beberapa jam kemudian Marwah terlihat menyibukkan diri dengan masalah kantor, hal-hal penting untuk rapat hari jumat pun ia selesaikan dengan cepat berkat bantuan Suci.
Hingga tanpa terasa jam telah menunjukkan pukul 6 sore. Marwah pun membereskan semua kertas-kertas dimeja kerjanya. Dan ia pun bersegera pulang ke toko nya.
Kepulangannya disambut senang oleh Lily .
" Mbak, segala bahan untuk membuat roti telah lengkap," lapor Lily
" oh, okeh, mbak mandi dulu yaa," ujar Marwah sedikit tak bersemangat.
Dan ketika ia berada dikamarnya dengan menganti baju kerjanya, tiba-tiba ia terpaku melihat pada tangannya yang digenggam Erwin tadi.
" Hhmm, kenapa jadi keinget tadi yaa??" gumam Marwah, dan dengan menghela nafas panjangnya ia pun mengalihkan pikirannya dengan meraih handuk untuk segera mandi.
Selang beberapa saat setelah mandi, Marwah pun berpakaian santai lalu turun kebawah dapur rotinya.
Terlihat Lily dan seorang yang ia kenalan tengah menunggu disana, Salwa anak tante Nita.
" Salwa???," sapa Marwah senang.
" ya Mbak Marwah," sahut Salwa.
" Yuk siapin bahan rotinya biar cepat selesai dan kalian bisa cepat pulang," ajak Marwah pada keduanya.
Dan dengan keahlian mereka bertiga, bahan-bahan roti itu pun terlah dengan cepat. Kali ini roti dibuat untuk dibawa besok kepanti asuhan. Dan selang 3 jam akhrinya roti-roti itu jadi dengan sempurna.
Tepat jam 9 malam, Lily dan Salwa pun pulang dari toko Marwah. Besok toko tutup sehari, karena mereka akan membawa roti-roti itu ke panti asuhan.
Setelah mengantar Lily dan Salwa pulang didepan toko, Marwah kembali masuk kedalam toko dan berniat melihat handphone nya yang sedari tadi tak ia sentuh selama membuat roti.
Dan betapa terkejutnya ketika mendapt 13 telfon dari Erwin bahkan beberapa pesan yang tak sempat buka. Tiba-tiba handphone Marwah pun kembali berdering, dan terlihat nama Erwin di layar handphone nya.Marwah pun reflek mengangkat.
" hallo?"
" Mengapa baru sekarang menjawab telfon dari ku?" tanya Erwin dengan nada kesal.
Marwah terkaget.
" Ah, maaf, sedari tadi Marwah sedang membuat roti, jadi tak melihat handphone yang tersilent," jawab Marwah ragu.
" Jadi kamu di toko??"
" Ya".
" Tunggu aku," ujar Erwin dan kemudian komunikasi itu terputus begitu saja, sehingga Marwah pun bingung.
Marwah hanya menghela nafas panjangnya. Dan berjalan menuju dapur rotinya, dan melihat bahan untuk membuat cake ulang tahun orderan ibu Intan.
Selang beberapa saat, ketika Marwah tengah fokus menimbang bahan cake. Tiba-tiba terdengar suara getar handphone kembali, dan reflek Marwah menggankat handphonenya.
" Aku didepan, " ujar Erwin.
Marwah terkaget, dan segera membuka pintu tokonya yang telah terkunci. Ketika ia membuka pintu besi itu, terlihat Erwin berada didepan pintu tokonya dengan wajah cemas.
" Direktur??".
Namun tiba-tiba perlahan Erwin mendekat pada Marwah dan memeluk dengan dalam.
Marwah terkaget.
" Kenapa kamu susah sekali dihubungi??," tanya Erwin dengan nada berat seolah lepas sudah cemasnya.
" Maaf," jawab Marwah dengan perlahan tangannya membalas pelukan Erwin. Dan seketika ia merasa gundah hatinya tadi terobati.
" Maaf," ujar Erwin seraya melepaskan pelukannya pada Marwah.
Marwah melihat dengan bingung pada ekspresi Erwin yang menatapnya dalam.
" Kamu pasti tidak nyaman ketika aku berbicara pada Suci tadi," ujar Erwin dengan membelai kepala Marwah.
Deg.., jantung Marwah berdebar.
" Direktur ??," ucap Marwah tak percaya, ternyata Erwin menyadari bahwa hatinya tak nyaman.
Erwin pun menghelan nafas panjangnya, dan memeluk tubuh Marwah dengan dalam.
" Apa kamu percaya padaku??" tanya Erwin, yang sepertinya sadar bahwa Marwah krisis kepercayaan.
Marwah hanya diam, ia memilih untuk menghirup aroma tubuh Erwin yang menangkan perasaannya yang ia sendiri tak bisa atasi.
__ADS_1