
Setelah beberapa jam berkonsentrasi didepan komputernya, Marwah tak menyadari bawah sudah jam makan siang.
"Kamu gak makan siang??" tanya Sekertaris Chandra dengan membereskan beberapa kertas diatas mejanya
"Ah, iyya Mas, sebentar lagi!!" jawab Marwah seraya melihat kearah jam tangannya. Dan ia merasa tak lapar untuk sekarang, karena beberapa hal tugasnya masih tak banyak mendapatkan hasil yang ia harapkan.
"Kalo gitu mas duluan ya" ucap Sekertaris Chandra seraya bangun dari kursinya.
Marwah hanya melihat sekilas lalu meraih tasnya dan mengambil roti yang sempat ia masukkan kedalam tasnya. Lalu memakan berlahan sebagai penganjal sementara.
Dan berlahan ia larut dalam kamputernya. Ia terus mengutak ngatik artikel-artikel penting untuk ia jadikan referensi. Sebenarnya membuat manjemen itu sangat laah mudah, hanya berupa struktural orang-orang yang kompeten dibidangnya dan bisa langsung bekerja minggu ini juga.
Namun dari ilmunya ketika Marwah kuliah dulu, hal itu tak sesederhana itu. Ada banyak bagian yang mendukung struktur itu. Belum lagi bagian pelayanan.
Marwah melirik sekilas handphonenya terlihat beberapa pesan masuk bersamaan. Lalu ia meraih dan membuka aplikasi pesan itu. Betapa ia terkejut dengan isi pesan group dari sekolahnya dulu yang tengah heboh membahas tentang pernikahan Sisil yang terjadi tanpa ada yang di undang.
Bahkan beberapa nomor masuk bersamaan dengan pesan digroup yang menanyakan Marwah tentang kebenaran pernikahan Sisil yang diam-diam. Bagaimana tidak, teman-teman merasa penasaran karena berita pernikahan Sisil tidak pernah terdengar sebelumnya. Bahkan Marwah menjadi tempat bombardir berbagai pertanyaan mereka karena persahabatan Marwah dan Sisil terkenal sejak dulu.
__ADS_1
Marwah hanya bisa menghela nafas panjangnya. Lalu ia membiarkan begitu saja pesan masuk bertubi-tubi tanpa ada yang ia balas satu pun.
"Kalian saja tidak tau??? apa lagi aku !! " ucapnya pelan. Lalu tak sengaja Marwah melihat keruangan kosong bos Aritama.
Seketika ia mengingat perkataan Sari bahwa Bos Aritama seorang Gay. Marwah mengidik tubuhnya seolah geli mengingat bagaimana bisa ia mencium pria ini pada malam itu.
"Aku benar-benar gila" celetukanya sendiri, seraya membereskan meja kerjanya. Karena tepat jam 3 sore ia akan pulang lebih awal dari pada karyawan lainnya.
🍃🍃🍃
Disisi lain Erwin tengah berdiri diatas sebuah gedung. Ia pun menghisap rokok dengan rasa nikmat, lalu menyemburkan asapnya begitu saja diudara bebas.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, sehingga membuatnya reflek menoleh ke dalam saku jaket kulitnya.
"Pak, beberapa dokumen perijinan telah diselesaikan oleh pengacara Johan dan dari info asistenya pak Dodi, Akte kepemilikan Hotel ini telah selesai atas nama anda" jelas seorang pria dari balik telfonnya.
"Baiklah, terima kasih infonya" ucap Erwin singkat, dan komunikasi itu terputus.
__ADS_1
Sesaat ia tersenyum puas, bahwa hasil kerjanya selama ini benar-benar telah berhasil untuk mendapatkan kembali apa yang merupakan milik keluarga Aritama. Dan mungkin dalam beberapa bulan kedepan akan menjadi hal yang sibuk, karena Hotel ini akan dibuka segera.
Lalu tak berselang lama handphonenya masuk sebuah notifikasi pesan. Lalu Erwin membukanya kembali laman aplikasi pesan itu dengan segera. Dan ternyata dari Sekertaris Chandra.
"Pak, funiture apartemen anda telah terpasang semua, malam ini anda sudah bisa tidur di apartemen" isi pesan dari Sekertaris Chandra.
Lalu Erwin bernafas lega, akhirnya setelah hampri 1 bulan lebih ia tinggal di hotel, malam ini ia akan tidur diapartemennya sendiri yang jarak tempuh antara apartemennya dengan kantor agak sedikit jauh, namun ia menyukai view dari apartemennya itu yang terdapat dua kamar tidur.
Namun sesaat ia mengingat akan ibunya, yang hampir 1 bulan tak pernah mengirimkan pesan pada dirinya. Sesaat ia mengambil waktu untuk mengetik pesan pada Edwin adiknya yang seorang Dosen.
"Bagaimana kabar mama??" tulinya singkat, lalu mengirimkan pesan itu ke adiknya Edwin yang pasti tengah mengajar disalah satu Universitas ternama di Ibu Kota.
Tapi diluar dugaan, pesan itu langsung mendapat balasan dari Edwin, yang membuat Erwin sedikit terkejut.
"Kenapa tak telfon langsung Mama?? pulanglah, !! ia merindukanmu, tapi gengsi karena kau marah padanya. " Edwin
Sesaat Erwin tersenyum, ia benar-benar tau bahwa Mama akan sangat menjaga imagenya. Sama seperti dirinya.
__ADS_1
Namun Erwin tak membalas lagi pesan itu, dan ia memasukkan kembali handphonenya kedalam saku jaketnya. Dan kembali memandang jauh view rooftop Hotelnya tersebut.