Come A Closer Love

Come A Closer Love
50


__ADS_3

Mobil mewah Erwin pun masuk kedalam pelataran parkir sebuah Mall mewah ibu kota. Dan ketika telah terparkir sempurna , Erwin turun dengan santai setelah mengirim pesan pada Sekertaris Chandra untuk mengantikan dirinya pada rapat sore ini.


Tapi tidak dengan Marwah, ia sedikit risau. Bagaimana pun harusnya siang ini ia harus masuk kantor sebentar untuk mengambil soft copy data dari kamputernya, agar bisa mengerjakannya dirumah. Namun pada kenyataannya, ia malah berada di Mall mewah bersama si pemilik perusahaan yang terlihat dengan santai melenggang masuk kedalam Mall tersebut.


" Ya ampun, jadi curiga, gimana caranya dia bisa kaya, kalau seenaknya dengan urusan kantor ??" ujar Marwah berbisik dengan melihat punggung Erwin yang berjalan di depannya.


Erwin berhenti sesaat dan menoleh kebelakang dan menangkap basah tatapan mata Marwah pada dirinya, sontak Marwah kelabakan.


" kamu, apa ada yang ingin beli di Mall ini??" tanya Erwin.


" Hhmm, enggak, " jawab Marwah cepat.


" enggak??? kamu gak mau beli sesuatu atau apa pun itu??" tanya Erwin lagi mencoba meyakikan Marwah.


" ya, gak ada, " balas Marwah yakin.


" Waah, baru ini, biasanya wanita akan sangat suka berbelanja, benarkan??"


"Ah, iya, berbelanja memang hobi para wanita, tapi tidak semuanya kok, ada juga wanita yang bisa memilah milih kebutuhannya tanpa harus kalap," terang Marwah pada Erwin yang berjalan disampingnya.


Erwin tersenyum lucu, ia jadi ingat anak perempuan kecil yang dulu bermimpi ingin punya suami yang kaya raya agar bisa memenuhi semua keinginannya. Namun kenyataannya, anak perempuan itu kini menjelma menjadi wanita yang pintar dan berparas cantik.


Marwah melihat dengan bingung pada Erwin yang tersenyum lucu padanya.


" kenapa?? apa ada yang aneh???" tanya Marwah dengan berhenti dan mencoba membenarkan rambut dan bajunya.


" Ah, bukan apa-apa, " jawab Erwin dengan tersenyum simpul pada Marwah.


Dan ketika akan menaiki eskalator, Marwah yang naik duluan pun berdiri dengan memegang pada pinggiran tangga eskalator tersebut seraya melihat suasana Mall yang ramai. Namun tiba-tiba ada seorang pria gembul yang tak sabaran yang menerobos jalan dengan berjalan sembrono eskalator sehingga menyikut orang yang ia lewat, dan ketika melewati Marwah yang tak jauh dari anak tangga terakhir untuk turun, pria gembul itu menyenggol Marwah hingga tubuh Marwah limbung kebelakang yang akan jatuh menimpa Erwin


Marwah terpekik panik.


" aaa..," panik mencoba mengapai pegangan eskalator.


Namun Erwin meraih tubuh Marwah dengan sigap, hingga Marwah berpegang pada Erwin.


" kamu gak papa??" tanya Erwin serius dan dengan wajah kesalnya ia memanggil pria gembul itu yang terlihat melarikan diri.


Dan ketika sampai diatas, Marwah masih berpegang pada Erwin dengan terpaku dan jantungnya hampir copot karena bila tak ditahan oleh Erwin ,bisa saja mereka jatuh dengan fatal dari eskalator kebawah. Orang-orang yang melihat mereka pun ikut terlihat panik dan tegang. Tak ayal beberapa dari mereka pun marah untuk pria gembul yang tak tau etika, bukanya minta maaf ia malah melarikan diri.


Sesaat Marwah menenangkan dirinya sendiri dari paniknya tadi, terlihat Erwin dengan setia menenangkan Marwah yang terlihat lemas.


" kamu baik-baik saja??" tanya Erwin khawatir.


Marwah mengangguk pelan. Ketika hendak berjalan ke sisi dinding Mall untuk menepi, Marwah terlihat berjalan dengan janggal. Dan reflek Erwin melihat pada kaki Marwah, terlihat bahwa sepatu hak tinggi Marwah ternyata copot.


Marwah pun jadi terkaget ketika melihat kearah kakinya yang berdiri tak seimbang, ternyata tumit hak sepatunya copot.


Di detik itu Marwah seakan malu bukan kepalang. Terlihat ekspresi wajah malu Marwah disana. Namun Erwin malah tersenyum kecil melihat pada Marwah.


" sepertinya kamu perlu sepatu baru, " ujar Erwin.


" Ah, gak papa, " ujar Marwah dengan meraih sepatu yang sebelahnya, dan mencoba memarahkan tumit sepatunya agar seimbang dengan sepatu sebelahnya yang telah copot duluan.


Tetapi, tangan Erwin menghentikan tangan Marwah yang berusaha mencopot tumit sepatunya.


" sudah lah, ini hadiah dari ku untuk mu, " ujar Erwin dengan meraih sepatu dari tangan Marwah dan mencoba memegang jemari Marwah dan menuntut wanita itu untuk masuk kesalah satu counter sepatu branded.


Marwah masuk dengan ragu. Tapi pelayang counter tersebut menyambut dengan ramah pada kedua pelanggan yang masuk kedalam tokonya.


" siang tuan, ada yang bisa saya bantu??"tanya si pelayan wanita ramah.


" Hhmm, tolong cari sepasang sepatu yang cocok untuk nona ini, " ujar Erwin dengan menyuruh Marwah untuk duduk disofa yang terlihat nyaman.


" Baik, ditunggu, " ujar pelayan wanita itu sopan.


Dan ketika ia kembali dari dalam, ia menbawa 4 kotak sepatu dengan berbeda model dan desain. Marwah melihat dengan tak enak, namun berbeda dengan Erwin yang dengan serius memperhatikan nya.


" ayo, cobalah," ujar Erwin pada Marwah.


" gak usah, sepatu ini terlalu mewah," ujar Marwah sungkan.


" ayo pilih !!, atau mau aku belikan semua??" Erwin mengancam.


Marwah terserang syok tak percaya.


" jangan !!" sela Marwah panik.


" kenapa gini sih!!" ujar batin Marwah yang tak suka dipaksa begini.


Dan pada akhirnya Marwah memilih sepatu yang terlihat sederhana, lalu ia mencoba bangun untuk melihat kenyamanan dalam berjalan. Erwin terlihat menikmati ketika melihat Marwah yang cocok dengan sepatu hak tinggi itu.m seolah itu hanya dibuat untuk kakinya yang ramping.


" apa kamu suka yang itu??" tanya Erwin.


" Hhmm, ini saja, " ujar Marwah yang sebenarnya keberatan menerima hal seperti ini.

__ADS_1


" oke, " jawab Erwin dengan mengeluarkan dompetnya dari dalam jasnya. Dan ketika akan membayar, sorot mata Erwin melihat pada sebuah sepatu yang berada di etalase depan.


" apa sepatu itu masih ada ??"


Reflek sipelayan menoleh melihat pada arah telunjuk jari Erwin yang tertarik pada sepatu yang terlihat mewah disana.


" Ah, itu, ada tuan , sebentar saya ambilkan,"


Tak lama berselang, pelayan wanita itu pun kembali dengan kotak sepatu seperti yang Erwin maksud. Erwin reflek mengambil sepatu itu dari dalam kotaknya dan berjalan keara Marwah yang terlihat duduk dengan masih mencoba nyaman pada sepatu barunya. Namun Erwin dengan segera berlutut dihadapan Marwah. Hingga Marwah terperanjat kaget melihat akan tingkah Erwin..


" Direktur?? apa yang anda lakukan??" ujar Marwah panik, yang seketika hendak bangun. Namun sebelum benar-benar bangun, tangan Erwin dengan cepat meraih kaki Marwah dan membjka sepatu itu dan menyempatkan sepatu mewa itu ke kaki ramping Marwah. Dan sesaat Erwin pun tersenyum puas dengan bayangannya bahwa kaki Marwah cocok dengan sepatu pilihannya.


" cocok !!" ujar Erwin terpaku.


" Ah, Direktur, ini..,ini terlalu berlebihan, saya tidak bisa menerimanya, " ujar Marwah dengan mencoba hendak mencopot sepatu tersebut, namun tangan Erwin menahannya.


" kamu tau?? kamu harus memakai hal yang bagus agar bisa berjalan ketempat yang membuatmu bahagia, " ujar Erwin tersenyum pada Marwah yang tak mengerti maksud dari ucapan Erwin.


" tapi, saya gak bisa Direktur, ini tuh gak murah, " ujar Marwah panik yang sekilas melihat harga pada lebelnya.


" tugasmu hanya pakai, sisanya biar aku yang urus" ujar Erwin yang kemudian bangun dan dengan segera menyerahkan kartu platinumnya pada pelayan wanita itu dan memberi tau bahwa ia membeli dua sepatu wanita itu.


Marwah dibuat berat menerima pemberian Erwin ini. Ia merasa terbebani dan menilai ini terlalu berlebihan.


( jiwa missquiin ku meronta , 😅😅😅).


Setelah transaksi selesai, Erwin menghampiri Marwah.


" ayo, sekarang aku ingin makan, " ajak Erwin pada Marwah.


Marwah menghela nafas panjangnya.


Ketika, berjalan keluar dari counter sepatu tersebut. Erwin dan Marwah berjalan berdampingan, Erwin tak bosan-bisa melihat pada Marwah yang dirundung malu karena memakai sepatu mewah disiang bolong begini.


" kenapa melihat terus?? apa aneh??" ujar Marwah gelisah.


Erwin menggelengkan kepala dengan pelan.


" cantik !!" ujarnya spontan.


Marwah mendengar dengan syok.


" cantik??" gumam batin Marwah yang masih tak percaya ucapan Erwin. " apa aku salah dengar !!" ucap Marwah yang melirik pada Erwin yang berjalan dengan tak melihat depan.


Hingga tanpa sengaja, seseorang menabrak bahunya, hingga tas Marwah di pundak pun jatuh.


" Maaf.., maaf kan saya, saya..," ucap wanita itu terhenti ketika melihat pada wajah Marwah yang membuatnya mematung.


" Sisil !!" ucap Marwah dengan berbisik.


" lama tidak bertemu, mbak sisil, " sambut Erwin dengan menyadari situasi keduanya.


" Ah, ya.," jawab Sisil dengan kaku, dan kedua matanya cemas melihat pada Marwah yang melihat tajam pada dirinya.


Marwah benar-benar terkejut melihat Sisil yang berubah banyak, kini terlihat perut buncit nya disana.


" Waktu yang pas, bagaimana jika kita makan siang bersama, apa mbak sisil ada waktu?? " ucap Erwin mencoba masuk suasana tegang keduanya.


" Ah, maaf tapi, su..," ujar Sisil tertahan dan dengan menelan salivanya, " Suami saya, sebentar lagi datang menjemput..," ucapnya ragu berusaha menolak halus.


" Kalau begitu, sembari menunggu suami mbak Sisil bagaimana kalau kita makan sushi bersama??" ujar Erwin membujuk.


" Tapi, Marwah tak bisa makan seafood, dia memiliki alergi parah makanan laut, " ujar Sisil spontan, dan ia melihat reaksi Marwah yang dingin.


" Waah, ternyata mbak mengenal Marwah dengan sangat baik, " sambung Erwin.


" kalau begitu kita makan, makanan nusantara saja, " ujarnya seraya meraih lengan Marwah yang terdiam sedari tadi.


🍃🍃🍃


Didalam sebuah restoran betawi, Marwah duduk dengan diamnya. Dengan pikiran berkecamuk ia terus melihat pada perut Sisil yang terlihat jelas, kehamilannya sudah besar.


" Sekarang mbak Sisil kerja dimana setelah keluar dari perusahaan Sss??" tanya Erwin.


" Hanya bekerja di konsultan skala kecil milik kakak saya," jawab Sisil.


" Benarkah??? bukankah kau dikeluarkan dari keluarga mu !!" sahut Marwah dingin, karena ia tau permasalahan keluarga Sisil.


Sisil terkaget mendengar ucapan tajam Marwah yang terlihat tengah mengontrol emosinya dengan meneguk air mineral.


Erwin melihat dengan berbeda pada Marwah yang berubah kejam.


" Saya tidak tau, bahwa anda telah menikah mbak Sisil?? dan sepertinya akan segera lahir buah hati anda" ujar Erwin basa basi.


" Mungkin sedikit terlambat, tapi saya mengucapkan selamat pada mbak dan suami semoga langgeng," .

__ADS_1


" Pasti langgeng, " sambung Marwah dengan tersenyum sinis pada Sisil.


" Bukan kah jodoh itu adalah cerminan dari pasangannya?? dan kalian benar-benar cocok satu sama lain, bisa dengan bahagia diatas perkhianatan," tutur Marwah dingin menatap Sisil.


Sisil benar-benar terintimidasi dengan tatapan dan ucapan Marwah yang pedas. Ia merasa risih dengan ucapan Marwah yang terang-terangan dihadapan Direktur Aritama group.


Erwin tersenyum kecil, ketika melihat sosok Marwah yang berbeda. Namun tak lama terdengar suara handphone miliknya berdering. Dan dengan segera Erwin menjawab telfon tersebut yang ternyata dari Sekertaris Chandra, lalu dengan berlahan menarik diri untuk menjauh mmeninggalkan Marwah dan Sisil.


Setelah beberapa saat Erwin pergi, Sisil terlihat gelisah.


" Maaf, Marwah..," lirih suara Sisil menyesal.


" maaf karena..," terhenti.


" MAAF??? apa dengan maaf bisa menyelesaikan semua???" ujar Marwah berat menahan amarahnya pada Sisil.


" Aku bisa menjelaskannya Marwah..,"


" Tidak !!" jawab Marwah tegas. " Aku terlalu muak untuk mendengar alasan kalian, !!" ujar Marwah yang tersakiti.


" Kau benar-benar jahat Sisil !!" sela Marwah dengan menatap tajam pada Sisil yang menahan air mata penyesalannya.


" Sekarang?? apa kau puas?? apa ini yang kau cari??? dengan menghianati persahabatan kita ??" ujar Marwah marah.


" Maaf Marwah," ujar Sisil kembali dengan tangisnya.


" Cukup!!" ujar Marwah yang menyadari sekeliling restoran melihat pada Sisil yang menangis seolah ia yang tersakiti.


" Aku tak bisa berlama-lama dengan orang yang penuh kebohongan seperti mu, " ujar Marwah dengan meraih tas nya seraya bangun.


" dilain waktu, berpura-pura lah tak mengenal satu sama lain, dan aku berharap ini kali terakhir kita bertemu, " ucap Marwah dingin dan berusaha keluar dari restauran itu dengan menahan gemuruh hatinya.


Namun disaat yang sama, ia malah berpas-pasan dengan Dimas, yang terlihat jauh lebih terkaget melihat mantan kekasihnya berada di hadapannya dengan tatapan berkaca-kaca.


" Marwah " sapanya ragu, seraya mencoba melangkah mendekat ke hadapan Marwah yang berdiri terpaku.


" Berhenti !!" Marwah mencoba menahan emosinya.


" kamu..," ujar Dimas yang terlihat cemas pada Marwah yang seolah akan jatuh karena syok.


" Berhenti.," ujar Marwah dengan mundur selangkah.


" Tak ada hal yang pantas untuk dibahas lagi, jadi aku harap kalian tak pernah muncul lagi dihadapan ku," ucap Marwah dingin pada Dimas yang kehilang kata-kata melihat Marwah yang benar-benar berbeda, dan dingin.


Entah apa yang ada dipikirkan Marwah ketika melihat kearah luar restauran yang terlihat sosok Erwin tengah menerima telfon. Dengan menahan gemuruh hatinya ia berjalan melewati Dimas, dan berlari kecil menuju Erwin yang terlihat menyadari kehadiran Marwah.


Dan beberapa detik kemudian, Marwah memeluk tubuh Erwin dengan gemetar. Erwin menyambut dengan bingung dan melihat pada pria yang ia ingat wajah itu adalah kekasih Marwah, Dimas melihat keduanya dengan wajah kecewa.


" Aku mohon, bawa aku pergi..," bisik Marwah parau yang seakan akan menangis.


Erwin reflek menutup telfon, dan memeluk tubuh Marwah dengan sayang. Dan mendengar hal itu, ia pun menjatuhkan ciuman diatas kepala Marwah dengan tersenyum licik pada Dimas yang melihat dengan wajah syok pada dirinya yang memeluk tubuh Marwah.


" benar, aku yang akan membawa mu pergi, dan tak akan pernah aku lepas , " ujar Erwin dengan penuh percaya diri.


Marwah hanya bisa pasrah dan memejamkan matanya, seolah tak ada hal lain yang bisa ia pikirkan saat ini selain Erwin.


🍃🍃🍃


Ketika berada di parkiran, Marwah terlihat melamun dengan tak bersemangat. Pikirannya kosong. Erwin menuntun Marwah untuk naik kedalam mobil, dan tak sengaja melihat raut wajah Marwah yang mulai menjatuhkan air matanya.


Seketika Marwah tak bisa mengontrol air matanya yang turun tanpa terkendali.


" Maaf, Direktur..," ujarnya dengan suara berat.


" maaf, air mata ini tak bisa ter kontrol, " ucapnya serak, sedetik kemudian tangannnya menutup wajahnya yang mulai menangis.


Erwin hanya tersenyum simpul, lalu ia meraih tubuh Marwah dan memeluknya dengan sayang.


" Menangis laah, agar hati mu puas,," bisik Erwin pelan, dan berlahan Erwin menepuk-nepuk punggung Marwah seolah menenangkan wanita yang ia sayangi.


" Aku berharap, ini kali terakhir kau menangis, " gumam batin Erwin yang sedih mendengar tangisan Marwah yang terisak.


💞💞💞


hay, semua..


Apa kabar???... semoga kalian dalam keadaan baik kapan dan dimana pun yaa.


Terima kasih untuk perhatian dan cinta kalian ditiap part nya, kalian luar biasa.. luv deh 💗💗💗


Eh, ngomong-ngomong, kalian masih bersabar kan dengan kisah cinta Marwah dan Erwin??, maaf yaa kalau upnya telat mulu.. Ini jelas bukan karena si corona, tapi lebih tepatnya ketenangan buat nulis cuma didapat dimalam hari. 😅😅😅.


Jadi sabar-sabar aja yaa.


Dan jangan lupa untuk tinggalkan kasih sayang kalian baik like dan komentar nya, terlebih lagi jika berbaik hati memberi koin cinta anggar rangkingnya naik teratur 😅😅😘.

__ADS_1


Love dari mbak Marwah dan Erwin. Sampai ketemu di part berikutnya.



__ADS_2