Come A Closer Love

Come A Closer Love
52


__ADS_3

Dan kini Marwah duduk termenung di atas tempat tidurnya. Ia masih merasa kejadian tadi bagai mimpi.


" Jadilah milik ku, Marwah," Erwin.


Kata-kata Erwin itu terus terngiang di kepala Marwah.


" Apa yang aku lakukan??, " ujar Marwah berbicara sendiri. Lalu ketika hendak bangun dari duduknya, tiba-tiba ia berhenti ketika merasakan jas Erwin jatuh dari pundaknya. Dan dengan perlahan ia meraih jas milik Erwin yang memiliki harum tubuh Erwin yang maskulin.


Marwah memandang jas tersebut, dan lagi-lagi bayangan pelukan hangat Erwin di tubuhnya pun kembali muncul. Hingga akhirnya ia menghela nafas.


" Sepertinya aku akan gila??, ah, benar aku gila, hingga aku menerima pengakuan Direktur ?? " ujarnya seraya meraih handuk untuk mandi agar tubuhnya segar dan kepalanya dingin.


Butuh 20 menit, Marwah menenangkan diri dikamar mandi dengan hangatnya air shower yang membasahi tubuhnya. Dibawah sir shower itu, pikirannya terbang entah kemana. Dan wajah serius Erwin pun benar-benar terus mengusik pikiran Marwah. Ia pun jadi meragukan dirinya sendiri.


Hingga ketika akan tidur, Marwah tak benar-benar bisa memejam kan matanya. Berkalia-kali ia membolak balikkan badannya namun tak kunjung mengantuk.


Ucapan Erwin terus terngiang di kepala Marwah.


" Mata, aku mohon tertidur lah, agar besok pikiran ini kembali normal, " gumamnya pada diri sendiri, dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.


🍃🍃🍃


Di sisi lain, Erwin yang baru selesai mandi pun terus terlihat tersenyum. Ia masih merasakan kebahagiaan yang akhirnya ia dapatkan. Pengakuannya tadi benar-benar yang ia harapkan selama ini. Wajah Marwah terus terbayang di kepalanya, bahkan tubuh ramping Marwah pun seolah masih bisa ia rasakan.


Dan dan entah kali keberapa Erwin tersenyum sendiri, mengingat ekspresi wajah Marwah yang terkejut atas pengakuan cintanya pada wanita yang selama ini ia cari.


" Akhirnya, aku mendapat kan nya, " ucap Erwin bangga. Lalu ia pun berjalan keluar kamar menuju dapur nya, dan membuka pintu kulkas seraya mengambil air mineral lalu menegguk nya perlahan. Dan tak sengaja ia melihat kotak bekal Marwah yang masih belum ia kembalikan. Kotak bekal yang terakhir kali, saat mama Erwin masuk rumah sakit.


Ia meraih kotak tersebut, dan mengingat kotak bekal dulu yang pernah seorang gadis kecil berambut panjang memberikan, yang kotak itu berisi cookies coklat.


" Benar-benar spesial, " ujar Erwin tersenyum. Lalu ia menghela nafas panjangnya seraya kembali berjalan menuju kamarnya.


Erwin pun merebahkan diri dikasur king size nya, seraya ia meraih handphone nya yang tergeletak di samping meja tempat tidurnya yang sedang di charger. Ia membuka layar handphone tersebut dengan sedikit terkejut ketika melihat 30 panggilan telfon dari Suci, 5 dari Sekertaris Chandra dan beberapa dari temannya Johan dan Mama.


" Waah !!" ujarnya spontan yang kaget melihat jumlah kontak yang masuk namun tak satu pun ia mengangkatnya. Karena ia sedari tadi benar-benar fokus pada Marwah hingga meninggalkan semuanya .


Lalu ia merasa lucu sendiri, semenjak bertemu dengan Marwah dan mengetahui identitas masa lalu Marwah yang merupakan anak perempuan yang ia cari selama ini. Ia menjadi tak begitu fokus pada pekerjaan.


Dan dengan lelah, ia meletakkan begitu saja handphone tersebut tanpa berminat untuk mencari info lagi. Namun tiba-tiba, ia meraih kembali handphone nya, lalu menbuka aplikasi pesan dan mencari kontak Marwah. Lalu Erwin dengan cepat mengetik pesan untuk Marwah dengan tersenyum melihat layar handphone nya.


" Semoga, mimpi indah, Marwah, " Erwin.


Dan tanpa sadar Erwin menertawakan dirinya sendiri, hal yang tak pernah terbayang oleh nya akan begitu memuja pujaan hatinya ini. Perlahan Erwin mencoba untuk tidur cepat, agar esok pagi ia bisa bertemu dengan wanita yang ia cintai.


🍃🍃🍃


Esok paginya, Marwah yang tak bisa tidur semalaman pun sukses bangun lebih cepat dari pada ayam. Ia turun kebawah untuk membuat sejumlah roti. Hari ini ia pun membuat roti dengan 2 varian rasa yang spesial.


Marwah mencoba menenggelamkan pikirannya dengan fokus membuat roti yang berbeda dari biasa. Marwah memulai dari pukul setengah 4 dini hari, hingga tanpa terasa waktu kini berjalan menuju jam setengah 7 pagi.


Terlihat Lily yang datang tepat jam 7 pun, dibuat heran dengan varian roti yang berbeda dari biasanya.


" Serius, ini mbak buatnya sendiri??" .

__ADS_1


Marwah hanya mengangguk pelan seraya meneguk segelas air mineral hangat.


" Tolong kamu masukan roti itu kedalam plastik nya ya, mbak mau siap-siap dulu, " ujar Marwah seraya melepas celemek dapurnya dan berjalan menuju rumah atasnya untuk bersegera mandi.


Setelah mandi dan berdandan minimalis, Marwah pun terlihat siap untuk turun kebawah. Namun ia berhenti ketika berada di depan rak sepatunya ketika melihat sepatu hak tinggi baru, yang dibelikan oleh Erwin. Dan sekilas ia seperti mengingat perkataan Erwin.


" Sepatu ini akan membawa mu ketempat yang bahagia, " Erwin.


Dan dengan ragu, ia pun mengambil sepatu tersebut. Lalu turun menuju toko bawahnya, yang ternyata terlihat beberapa karyawan wanita tengah berbisik-bisik dibawah dengan saling tertawa kecil. Sehingga Marwah melihat dengan bingung.


" Kalian kenapa??" tanya Marwah bingung.


Lily tersenyum malu-malu ketika akan menjawab Marwah.


" Kamu kenapa lily?" tanya Marwah dengan heran.


" Itu mbak, didepan ada cowok cakep, " jelas salah seorang karyawan wanita pada Marwah yang terlihat sama kesem-sem dengan Lily.


" Cowok cakep??, siapa??" tanya Marwah bingung.


" Ikh, kayaknya temen mbak deh, masa mbak gak tau??," ujar Lily tersenyum malu-malu.


" Teman??, " ujar Marwah bingung, namun seketika ia terkaget dan mengingat bisa jadi itu Erwin.


" Direktur??" ujar Marwah panik, lalu berjalan meninggalkan ketiga wanita dapur itu yang terlihat bingung dengan Marwah yang berjalan buru-buru keluar dari toko.


Dan benar saja dugaan Marwah, kini Erwin berdiri didepan tokonya sehingga menjadi pusat perhatian para wanita yang berjalan kaki didepan tokonya yang memandang kagum pada paras Erwin.


Seketika Marwah merasa panik, dan berjalan menghadap pada Erwin yang terlihat tengah sibuk membalas pesan dilayar handphone nya.


" kok hari ini Direktur beda??" gumam batin Marwah yang terkesima.


" Marwah?" panggil Erwin yang melihat pada Marwah yang mematung.


" Ah ya, " jawab Marwah kaget.


" Kenapa??" tanya Erwin pada Marwah.


" Ah, enggak, gak papa.., ah bukan, maksudnya Direktur kenapa kemari?? sepagi ini??" tanya Marwah yang tak bisa mengontrol diri.


Erwin tersenyum melihat pada Marwah yang kelabakan. Lalu reflek membenarkan helayan rambut Marwah yang tergerai mengenai wajah wanita cantik ini.


" Apa kamu masih sekaget itu??, setelah kejadian semalam??" ujar Erwin santai dan tersenyum pada Marwah.


Seketika Marwah merasa malu, lebih tepatnya ia masih syok atas pengakuan Erwin semalam.


" Aku kemari karena sudah seharusnya aku menjemput mu, ayo kita ke kantor sama-sama," ujar Erwin senang dengan meraih jemari Marwah.


Marwah terpaku dengan genggaman jemari Erwin yang bertaut pada jemarinya, dan perlahan Erwin menuntun Marwah untuk naik kedalam mobilnya.


Entah mengapa Marwah tak menolak, ia terlanjur pasrah mengikuti keinging Erwin.


Selama perjalanan ke kantor Marwah diam seribu bahasa, ia jadi merasa gelisah yang tak menentu. Hingga akhirnya roda mobil Erwin pun tiba pada gedung Aritama.

__ADS_1


Dan Marwah pun terlihat akan turun dari mobil Erwin. Namun tangan Erwin kembali meraih tangan Marwah, sehingga Marwah pun terhenti dan melihat pada Erwin dengan bingung.


" Bisakah kamu memeluk ku??, aku butuh kekuatan pagi ini ," pinta Erwin dengan menatap lekat-lekat wajah Marwah.


Marwah terlihat bingung dengan permintaan Erwin, namun pada akhirnya dengan ragu ia pun mencoba memeluk Erwin dengan terbatas dihalangi pembatas mobil. Tapi tidak dengan Erwin, ia memeluk dengan dalam tubuh Marwah, seolah menyerap seluruh harum tubuh wanita yang ia cintai ini.


Sesaat moment itu benar-benar Erwin nikmati, hingga perlahan ia mererai pelukan itu.


" Terima kasih, " ujar Erwin dengan menatap wajah Marwah yang perlahan ikut tersenyum hangat pada Erwin.


Lalu, Marwah pun turun dari mobil Erwin. Dan tak berselang lama, mobil itu pun berjalan keluar dari perkarangan kantor Aritama group. Marwah pun seolah menenangkan jantungnya yang sebenarnya sedari tadi terus berdebar. Tanpa sadar Marwah memegang dadanya sendiri.


" Jadi sekarang, aku adalah kekasih dari seorang Erwin Aritama??," gumamnya sendiri seolah tak percaya . Lalu tanpa sadar ia menghelan nafas panjang dan kemudian masuk kedalam kantor tersebut.


🍃🍃🍃


Siang itu, terjadi pembahasan sengit di meja rapat Direksi. Para pemengang saham 70% sedang bertaruh untuk jadi wakil Presdir baru mereka yang akan di voting beberapa saat jam lagi.


Terlihat Erwin dengan timnya berdiskusi serius. Karena kali ini rival keluarganya Toni muncul dengan tak terduga pada rapat direksi Zinus. Erwin melihat kesal pada Toni yang merupakan sepupunya sendiri, namun karena masalalu keluarga yang pahit, hingga kini mereka lebih terlihat seperti musuh dari pada keluarga.


" Aku tidak menyangka Toni dari Forten akan ikut, bukankah dia masih dibawah Baron??" ujar Erwin yang merasa kecolongan.


" Sepertinya mereka bergabung dengan suntikan dana fiktif, " jelas seorang pria serius pada Erwin.


" Apa??? fiktif?" Erwi terlihat kesal.


Erwin berpikir keras, terlihat ia memanggil Sekertaris Chandra untuk mengeluarkan laporan-laporan penyelidikan. Dan sekertaris Chandra terlihat memberikan beberapa laporan yang dianggap sebagai kunci untuk menjatuhkan lawan.


" Bagaimana bisa Zinus meloloskan perusahaan cacat seperti itu, " ujar Erwin tak habis pikir.


Dan akhirnya tiba waktu rapat itu, terlihat seorang pria paruh baya yang terlihat arogan dan tangguh. Ari Sastrama, pemilik Zinus Group. Ia seorang miliader kaya yang menjadikan perusahaan nya mega company karena memiliki anak perusahaan yang ia kuncurkan dana sebagai kaki tangannya didunia bisnis. Erwin yang menjadi salah satu perusahaan dengan saham 70% pada Zinus, cukup mempunyai power disisi Ari Sastrama.


Terlihat rapat tersebut berjalan dengan sengit. Ketika Toni masuk memaparkan persentasenya, ia terlihat cukup disambut hangat oleh Ari Sastrama .


Namun ketika Erwin maju dengan persentasi singkatnya, terlihat Ari Sastrama puas dengan penjelasan Erwin. Dan yang membuat seluruh ruangan tercengang adalah beberapa laporan rahasia yang Erwin bongkar dalam rapat, terdapat beberapa perusahaan yang mencuci uang kotornya pada dana Zinus. Hingga Ari Sastrama murka mendengarkan laporan Erwin.


Hingga tiba-tiba perdebatan sengit pun terjadi disana. Sampai menyinggung ranah pribadi Erwin. Terlihat Toni mengambil alih ruangan dengan berita besarnya tentang Erwin.


" Mungkin disini banyak yang tidak tau, bahwa seorang Erwin Aritama adalah penyuka sesama jenis, " ujar Toni lugas.


Seketika ruangan rapat ramai berbisik-bisik, mendengar berita yang sebagian dari mereka sudah tau bahwa Erwin adalah penyuka sesama jenis.


" Jadi jika kalian berpikir untuk memilih Erwin Aritama, maka coba dipikir kan kembali , bagaimana jika berita ini terekspos pada media masa jika seorang wakil presdir Zinus adalah penyuka sesama jenis, " Toni mengiring opini rapat untuk menolak Erwin dengan gosip menahannya.


Erwin tertawa lucu pada Toni yang menyerang ranah pribadinya. Dan ia terlihat marah.


" Bukan kah terlalu tidak sopan jika kau menggunakan ranah pribadi seseorang untuk menjatuhkan lawan??, " tukas Erwin tajam.


Lalu dengan santai Erwin bangun yang di ikuti sekertaris Chandra. Namun seketika ia berhenti tepat ditengah ruangan rapat.


" Sepertinya saya tidak akan mengikuti rapat lagi jika, seorang yang cacat hukum pun berada di sini, itu sungguh mencoreng nama baik perusahaan saya yang bersaing dengan bukan levelnya, " ujar Erwin dengan percaya diri dihadapan Ari Sastrama.


" Dan, saya tegaskan bahwa saya sangat-sangat menyukai wanita, saya jadi penasaran bagaimana pemilik Forten bisa berpikir gosip murahan seperti itu untuk menjatuhkan lawannya, jadi saya berpikir sungguh saya sedang membuang-buang waktu dengan bertemu dengan orang yang berpikiran sempit seperti anda Toni, " tukas Erwin tajam seraya meninggal ruangan rapat itu dengan wajah santai.

__ADS_1


Setelah meninggalkan ruang rapat itu, terlihat wajah santia Erwin disana. Ia berjalan cepat untuk meninggalkan gedung Zinus dengan mencoba melonggarkan dasinya.


Terlihat Sekertaris Chandra berusaha berhati-hati pada Erwin, ia harus waspada. Biasanya semakin santai sikap Erwin semakain fatal jika salah langkah. Karena Erwin tengah mengendalikan emosinya setiap kali melihat Toni rivalnya sedari dulu.


__ADS_2