Come A Closer Love

Come A Closer Love
86


__ADS_3

Hingga nyaris di hati ke empat, Marwah masih tak mendapatkan kabar tentang Erwin. Bahkan kini sekertaris Chandra pun ikut menghilang dengan sempurna. Hingga Marwah kelimpungan.


Belakangan Marwah pun jadi ikut terus memantau bursa saham milik Aritama group, perlahan ia pun akhirnya menjadi sedikit paham akan arus bursa saham.


Hingga siang harinya, Marwah pun mencoba mencari info dengan kembali datang pada kantor Aritama group yang hampir 1 bulan ini ia tinggal karena telah berkantor di Sunrise hotel.


Ketika akan menaiki lift, terdengar bisik-bisik beberapa karyawan yang bergosip dengan antusias.


" mungkin nasib kita tidak akan baik, aku melihat nilai saham Aritama kian menurun," ucapnya cemas.


" apa Direkrur akan mem PHK kan kita? atau memperkecil staff," sahut karyawan satu lagi dengan sama lemahnya.


" kita berdoa saja, Direktur bisa mendapat kan solusi," jawab salah seorang dari mereka untuk menyemangati sahabatnya.


Marwah diam terpaku memdengar ucapan para karyawan Aritama yang kini dibayang-bayangi oleh pemecatan.


Dan ketika Marwah tiba di lantai yang ia tuju, tak sengaja ia berpas-pasan dengan seorang staff yang biasa membantunya di bidang personalia.


" mbak Marwah ??," sapa staff wanita itu pad Marwah yang sedikit termenung.


" ah, ya Susan," jawab Marwah membalas.


" apa kabar mbak?? hampir sebulan kita gak ketemu, gimana hotel??,"


" iyya, hhmm hotel berjalan baik, sekarang tengah persiapan pembukaan 1 minggu lagi," jawab Marwah mencoba santai.


" wah benarkah, itu kabar ya bagus," sahut Susan semangat.


Namun tidak dengan wajah Marwah yang masih terlihat gundah. Hingga ia memberanikan diri bertanya.


" apa perusahaan tengah ada masalah??," tanya Marwah ragu.


Susan bergeming kaget namun seketika ia membalas dengan mengangguk pelan.


" ya, perusahaan sedang berada di posisi yang sulit," jawab susan pelan seraya ikut berjalan bersama Marwah.


" posisi sulit??,"


" beberapa saham besar menarik diri dari saham Aritama, dan kini pemilik baru dari saham tersebut meninggalkan perusahaan kita dengan tidak memberi waktu atau pilihan" jelas Susan dengan berhenti berjalan.


" pemilik baru itu siapa?," ..


" hhmm entah lah, kabar yang beredar dia seorang wanita dan pernah bekerja di sini," ucap Susan yang juga sedikit tak pasti.


Marwah tak sengaja menghela nafas beratnya. Sehingga Susan pun melihat pada Marwah dengan bingung.


" mbak Marwah kenapa?? kayak susah banget??,"


" ah, saya jadi ikut mikir perusahaan Aritama, dan tadi sempat mendengar gosip para karyawan yang gelisah dengan kepastian perusahaan," jelasnya.


Susan pun paham.


" kita memang sedang di posisi sulit, banyak karyawan yang mulai cemas dengan nasib mereka, jika perusahaaan tak bisa bertahan mungkin akan banyak yang akan kehilangan pekerjaan," ucap susan bernelangsa.


Marwah menatap serius pada Susan.


" tapi Mbak Marwah bersyukur, karena mbak gak akan mendapat imbas dari masalah ini, karena Sunrise hotel full milik keluarga Aritama, segala masalah perusahaan Aritama tak terkait dengan Sunrise hotel, karena ia berdiri sendiri dari nama lain Aritama," jelas Susan yang membuat Marwah bingung.


" maksudnya?,"..


" hotel tersebut milik keluarga Direktur dan di atas namakan dengan ibunda Direktur, sehingga Sunrise hotel tak memiliki sangkut paut dengan perusahaan Aritama bahkan investornya juga dari kalangan berbeda dari perusahaan Aritama Group ," jelasnya.


" oh, begitu yaa," jawab Marwah sedikit agak paham.


" oia, Mbak Marwah ada apa ke kantor??"


" ah, hanya mau ambil berkas, dan mau ketemu sama Direktur juga sekertaris Chandra,"


Susan menghela nafas panjangnya.


" Sudah 4 hari Direktur gak masuk, selang sehari Sekertaris Chandra juga mengikuti jejak Direktur," ucap Susan dengan melihat pada meja kerja sekertaris Chandra yang kini terdapat tumpukan map disana.


Marwah pun jadi ikut reflek melihat kearah pandang Susan. Dan ia pun melihat hal yang sama.


" mungkin kedua orang itu tengah berusaha keras mencari bantuan" ucap Susan pelan.

__ADS_1


Marwah termenung.


" mbak Marwah saya kesana dulu yaa, " ujar Susan pamit.


" ah, yaa terima kasih Susan," ucap Marwah ramah.


Setelah peninggalan Susan, Marwah melangkah pelan menuju meja Sekertaris Chandra yang masih terdapat meja kerjanya dulu. Sesaat Marwah tersenyum kecil mengingat beberapa waktu yang lalu banyak kenangan yang ia lakukan di meja kerja ini. Lalu ia pun dengan sengaja melihat pada ruang Erwin yang kini kosong.


Pelan langkahnya pun berjalan untuk masuk pada ruangan Erwin yang masih meninggalakan aroma pria tampan itu. Ruangan itu pun masih terlihat sama, hanha saja kini map-map besar terlihat berjejer di meja kerja Erwin.


Sesaat Marwah menghela nafas panjang nya, seolah ada beban berat yang menganjal dihatinya. Tanpa sadar ia pun menyentuh salah satu map diatas meja kerja Erwin. Dan sekilas membaca lembaran kertas tersebut seolah mencari tau.


Terlihat kedua bola mata terhenti seolah mendapat kan hal yang ia cari. Johan B. Bastian, nama yang membuat Marwah seketika mengingat mungkin pria ini bisa membantunya untuk mendapatkan info tentang Erwin.


Marwah dengan cepat meraih handphone nya dan mencari nama Dinda sahabatnya. Seraya berjalan keluar nada sambung tersebut tersambung dengan Dinda dengan cepat.


" lo dimana?," tanya Marwah memotong sapaan hallo Dinda dengan nada cemas.


" gue.., gue di daerah Xxx," jawab Dinda dengan cepat.


" bagus, gue bakal kesana sekarang," ..


" gak bisa?? gue lagi bawa pengacara itu, nanti gue kabarin lagi untuk kita ketemuaan," jelas Dinda sedikit panik.


" bagus," jawab Marwah mantap.


" gue bukan mau ketemu sama lo Din, tapi gue ada perlu dengan pengacara itu," ..


" maksud nya??,"


" nanti gue jelasin, sekarang gak ada waktu, gue susul lo sekarang," ucap Marwah antusias seraya memutuskan komunikasi dengan Dinda.


🍃🍃🍃


Dan Marwah harus bersabar ekstra untuk bisa bertemu dengan pengacara kondang tersebut. Ia mengorbankan hampir 3 jam menunggu Johan dengan di temanni Dinda.


" berapa lama lagi??,"


" entah laah, " jawab Dinda santai.


" ralat, udah terjadwal, bisa dibilang seminggu 3 kali sekarang jadwal gue," jawab Dinda santai.


" ya apa pun itu, waktu lo terbuang sia-sia," sambung Marwah terlihat kesal tak sabar.


" yaa mau gimana lagi?? dari pada gue dipenjara??," sahut Dinda kembali.


Namun tak berselang lama, sosok yang Marwah tunggu pun terlihat tengah berjalan santai keluar daru sebuah ruangan dengan memandang serius pada layar handphone nya.


Marwah pun dengan tanpa sabar menghampiri Johan dengan segera, sehingga Johan terkaget.


" kamu,"


" yaa, saya Marwah, anda pasti ingat jika saya bersama teman anda mas Erwin " .


" lalu??," tanya Johan cepat.


" Saya ingin mengetahui info mas Erwin," ucap Marwah serius.


" aku tidak tau," sahut Johan cepat.


" apa??,"


" maaf, tapi aku harus pergi sekarang," ucap Johan seraya meninggalkan Marwah.


Marwah berdiri memantung, sepeninggalan Johan yang berlalu pergi dengan Dinda yang tak bisa banyak membantu.


" teman macam apa ini??," rutunya kesal.


🍃🍃🍃


Tepat dipukul 8 malam, Marwah mencoba mencari Erwin di apartemennya. Namun hasilnya nihil, bahkan tak terlihat tanda-tanda Erwin pernah pulang.


Hingga ia memutuskan untuk pulang dijam 10 malam. Dengan rasa lelah dan gundah yang menyelimuti hatinya.


" apa semua pria begini?? setiap ada masalah akan menghilang," gumamnya sendiri dengan turun dari mobil taksi yang mengantarkanya di depan halaman toko dr. Dessert.

__ADS_1


Namun seketika Marwah terpaku, ketika melihat pada sebuah motor gede yang terparkir di hadapan toko dr. Dessert. Marwah melihat dengan bingung dan bertanya-tanya motor milik siapa yang berada di depan tokonya ini.


Lalu ia menyadari bahwa toko nya belum tertutup, dan itu membuatnya bersegera masuk kedalam toko dr. Dessert yang ternyata Lily dan Salwa belum pulang.


" kenapa kalian masih disini???, udah jam 10 loh??," .


Lily dan Salwa saling memandang satu sama lain dengan ragu.


" ada apa?,"


" itu mbak, Direktur Aritama sedari tungguin mbak dirumah atas,"


Marwah terkaget.


" Apa?? mas Erwin?," tanya Marwah tak percaya.


" ya, sedari tadi sore Direktur Aritama menunggui mbak, kami udah coba nelfon mbak, tapi handphone mbak gak aktif,"


Marwah terperangah.


" dari sore?? ya Tuhan, maaf yaa, mungkin handphone mbak habis battrei," ucapnua cepat seraya hendak berjalan menuju rumah atas namun tiba-tiba langkahnya terhenti.


" makasih yaa, kalian udah bisa pulang," ucap Marwah tulus.


" iyya mbak sama-sama, sampai ketemu besok lagi," ucap Salwa.


" yan terima kasih, tolong tutup toko yaa," ujar Marwah seraya berlalu meninggalka wajah terkaget Salwa dan Lily.


" jadi Direktur itu akan nginap disini??," tanya Lily pada Salwa.


" huuusss, itu buka urusan kita, ayo pulang, aku udah ngantuk," ucap Salwa pada Lily yang masih penasaran.


🍃🍃🍃


Langkah Marwah sedikit terburu-buru ketika naik keatas tangga rumah atasnya, namun ia berhenti ketika di anak tangga terakhir dengan menelan salivanya. Pelan ia membuka pintu rumahnya yang tak tertutup rapat.


Perlahan terlihat sosok pria yang belakangan ini begitu banyak menyita kecemasan dan gundahnya. Dan pria ini kini malah terlihat tertidur pulas disofa rumahnya dengan kedua tangan nya saling menyila di dadanya.


Dengan segala resahnya, langkah Marwah pun tertuju pasti pada Erwin yang tetidur lelap. Terlihat Marwah tak bisa memendam rasa kesalnya akan pria satu ini. Hingga ia dengan sengaja memukul keras di sisi bahu Erwin.


PLAK.. pukulan keras itu cukup mengangetkan Erwin yang terkejut hingga membuatnya terbangun. Dan ia terkaget ketika mendapatkan wajah marah Marwah menatapnha tajam.


" apa mas bodoh!!,"


" mengapa suka menghilang?? mas buat Marwah gila, Marwah KESAL?," ucapnya penuh marah dan ia pun duduk dengan cepat lalu kembali memukul bertubi-tubi pada sisi bahu pria yang terlihat malah tersenyum lucu pada dirinya.


plak..plak..plak.. terdengar pukulan manja Marwah disisi bahu Erwin.


" jangan tersenyum?? Marwah benar-benar marah sama mas," ucapnya dengan kembali memukul bahu Erwin dengan bertubi-tubi seolah meluapkan kesalnya.


Erwin hanya tersenyum, namun akhirnya tangan pun menangkap lengan Marwah dengan cepat.


" mas rindu kamu, maka dari itu mas langsung kemari untuk bisa bertemu dengan kamu, dan...," ucap Erwin terputus seraya menarik Marwah kedalam pelukkannya.


" dan mas butuh pelukan kamu" ucap Erwin dengan nada berat.


Marwah terpaku, rasa kesalnya luluh dengan ucapan Erwin yang terlihat berat.


" apa mas baik-baik saja?," tanya Marwah pelan.


" hmm," gumam Erwin dengan mempererat pelukkannya ditubuh Marwah.


Marwah merasa tubuh kembali hangat dengan pelukan Erwin, ia pun mencium dalam aroma maskulin Erwin dengan dalam. Ia benar-benar mencemaskan pria ini.


Pelukan hangat itu terjadi beberapa saat, hingga akhirnya Erwin mererai dengan pelan pelukkannya dari Marwah.


Dan pria itu pun tersenyum pada Marwah.


" apa ada sesuatu yang bisa dimakan? mas lapar," ucapnya dengan membenarkan rambut Marwah.


" hah??,"


" belakangan mas gak nafsu makan," jawabnya pelan.


" baiklah, mas tunggu disini, Marwah akan buatkan makanan untuk mas,"

__ADS_1


Erwin tersenyum simpul pada Marwah yang perlahan beranjangk bangun dari duduknya dan berjalan menuju dapur mininya.


__ADS_2