
Suci menatap serius pada sekertaris Chandra yang sedang menatap layar komputer nya.
" jadi mas Chandra tetap gak mau kasih tau kalau mas Erwin kemana??" ujar Suci kesal.
Sekertaris Chandra menoleh dengan wajah lelahnya.
" Suci, memang nya tugas mas itu urusin kemana Direktur pergi?? ya gak laah, banyak kerjaain lain menunggu," jelas Sekertaris Chandra.
Wajah kesal suci kentara terlihat disana dan sekilas ia melirik meja kerja Marwah yang terlihat kosong.
" wanita licik, beraninya melanggar peringatan yang telah aku buat, tapi tak apa, kali ini aku akan bersabar mengikuti permainanmu, Marwah !!," rutu batin Suci dan terlihat Suci tersenyum sinis.
" oia Suci, kemarin apa kunci mobil milik Marwah sudah kamu berikan padanya?," tanya sekertaris Chandra dengan berhenti mengetik.
" Hm, enggak!!," jawab Suci santai.
" loh?? kenapa??," tanya sekertaris Chandra kaget.
" Hhmm, males aja," jawabnya seraya berlalu meninggalkan wajah bingung sekertaris Chandra.
" maksudnya apa coba??," gumam sekertaris Chandra dengan bingung.
🍃🍃🍃
Disisi lain disebuah restoran sederahan Marwah duduk dengan memandang luar jendela restoran yang terlihat Erwin tengah berbicara pada dua orang pemuda tanggung. Sesaat ia tersenyum simpul melihat Erwin seolah bertemu dengan hal yang menyenangkan.
Marwah pun reflek mengambil handphone nya dan diam-diam mengambil gambar Erwin yang terlihat berbeda. Sesekali ia tersenyum melihat hasil fotonya yang benar-benar bagus.
Dan tak berselang lama, Erwin pun kembali dengan wajah puasnya.
" kenapa mas? kok kayaknya senang banget??,"
" ah, apa itu terlihat jelas?," tanya Erwin dengan meletakka dompet juga handphone nya diatas meja dan meraih tisu lalu mengelap pada wajah dan lehernya yang sedikit berkeringat.
" Hhmm," Marwah reflek mengangguk.
Erwin hanya membalas dengan senyum seraya membuka kancing kemeja dan kancing lengannya seolah ia sedikit gerah.
" apa mas kepanasan??,"
" ah, ya sedikit, makanya tadi cepat masuk.., padahal masih ingin bertanya-tanya dengan mereka" jelas Erwin yang sedang mengulung lengan bajunya.
" apa ada hal menarik dengan kedua anak itu??" tanya Marwah.
" mereka mengingatkan mas, pada waktu itu, kurang lebih mas pernah seperti mereka," terang Erwin sehingga Marwah menatap dengan tak percaya.
" maksudnya?? mas pernah jadi penyanyi jalanan?," tanya Marwah tak pertanya.
Erwin mengangguk pelan.
" tapi tidak lama, karena setelah itu mas pernah jadi loper koran dijalan dan juga sempat menjadi pencuci piring diwartek-wartek..," jelas Erwin santai.
" Benarkan?," tanya Marwah dengan matanya ikut melebar.
Erwin jadi tertawa kecil melihat wajah syok Marwah.
" namanya juga hidup, siap tidak siap tetap harus dijalanin dengan berbagai kondisi?" ujar Erwin bijak.
" tapi, mas bilang dulu hotel Mentari milik orang tua mas, terus bagaimana bisa mas berubah jadi anak jalanan??," tanya Marwah mengingat.
" itu lah takdir, dari bergelimpangan harta kami sekeluarga harus tersadar ketika semua itu hilang dalam 1 malam , bahkan dongeng saja pasti butuh proses," ujar Erwin dengan tersenyum pahit.
" bagaimana bisa??,"
" Hhmm, entahlah.., dalam satu malam keluarga Aritama dinyatakan bangkrut bahkan kami sampai harus meninggalkan kota jakarta, dan hari itu terjadi dihari ulang tahun kamu," jelas Erwin mengenang.
__ADS_1
Seketika Marwah terpaku dan mengingat, dihari ulang tahunnya waktu itu ia menunggu seharian kak Mummy nya yang pada akhrinya tak kunjung datang.
" jadi, karena itu..," ujar Marwah pelan.
Erwin tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
" iyya, karena hal besar itu lah kak Mummy gak bisa menepati janji pada Marwah kecil," sambung Erwin.
Marwah terpaku.
" semua berubah, bahkan tak lama berselang ayah meninggal sehingga semua tanggung jawab jatuh pada mas yang masih berusia tanggung," kenang Erwin.
Marwah terdiam seribu bahasa, ia benar-benar tak menyangka bahwa kehidupan Erwin jalani dimasa lalu begitu berat.
" manusia tak akan tau kekuatan maksimalnya sampai ia berada dalam kondisi dimana ia dipaksa kuat untuk bertahan, lalu sedikit demi sedikit kehidupan kami pun berubah berkat bantuan paman sehingga mas bisa seperti sekarang," jelasnya.
" maaf..," ujar Marwah dengan nada pelan.
Erwin memandang wajah penyesalan Marwah dengan bingung.
" Marwah sempat berpikir buruk pada kak Mummy, ah.., enggak Marwah kesal dan benci banget sama kak Mummy waktu itu, bagaimana bisa yang membuat janji, tapi malah gak tepati janjinya," ujar Marwah dengan wajah kesalnya namun perlahan wajah Marwah terlihat bersimpati.
Erwin hanya mendengar dan memandang wajah Marwah
" tapi.., setelah tau ceritanya begini, Marwah gak bisa bayangin gimana kak Mummy jalanin semua kesulitan waktu itu.., maaf karena pernah berpikir buruk untuk kak Mummy" ujar Marwah menyesal.
Erwin tersenyum penuh arti.
" Cantik..," ucap Erwin terkesima memandang wajah Marwah.
Marwah terpaku mendengar ucapan Erwin.
" jika harus mengulangnya lagi, mungkin mas tidak akan keberatan, jika pada akhirnya mas bisa bertemu lagi dengan kamu ," ucap Erwin menatap dalan wajah Marwah.
Setelah makan siang yang singkat, keduanya terlihat berjalan bersama menuju parkiran mobil dengan melewati pepohonan yang rindang. Marwah melihat pada Erwin yang seperti memikirkan sesuatu.
" mas sedang mikiran apa??,"
Erwin tersadar pada pertanyaan Marwah yang seolah dapat membaca pikirannya.
" Hmm, hanya mengingat masa lalu," jawab Erwin.
" masa lalu??,"
" masa lalu yang akhirnya bisa kembali bertemu dengan kamu,"
" masa lalu yang belum selesai akan selalu datang mencari jalan kembali, entah itu cinta atau benci," sambung Marwah bernelangasa jauh
Erwin terhenti berjalan seraya melihat Marwah.
" maafkan mas untuk segalanya, untuk segalanya dimasa lalu, untuk hal yang baru-baru ini, sekarang dan masa depan. Mas akan terus meminta maaf, mas akan membuat mu khawatir, mas akan membuat mu kesal, dan mas akan membuatmu terus memikirkan mas, maaf karena mas menyukai dirimu," .
Marwah terteguh dengan pengakuan Erwin yang tulus. Lalu ia pun meraih jemari Erwin dengan memandang jemari pria yang telah banyak melewati banyak luka, dan Marwah mengenggam nya erat.
" terima kasih, karena datang dan kembali untuk Marwah, " ujarnya haru.
" boleh kah mas minta sesuatu?," pinta Erwin berat.
Marwah mengangguk pelan
" permintaan??? baiklah apa?,"
" diwaktu nanti, entah apa pun yang terjadi, bisakah kamu tetap disini?," tanya Erwin seraya meraih jemari Marwah dan meletakkannya didada.
" bisa kah kamu percaya??," tanya Erwin lagi.
__ADS_1
Marwah tersenyum simpul lalu menarik jemari Erwin dan mencium punggung tangan pria itu dengan lembut.
" jangan takut, Marwah akan bersama mas setiap hari sampai nanti," ucap Marwah.
🍃🍃🍃
Mobil mewah Erwin pun tiba diparkiran depan kantor Aritama group. Ketika akan turun, Marwah terlihat ragu.
" kenapa??"
" Hm, harusnya tadi Marwah turun didepan kantor," jawabnya ragu.
Erwin tersenyum dikulum melihat wajah ragu Marwah.
" sama aja kali, mau didepan atau disini mata para karyawan pasti juga liat kan," jawab Erwin santai seraya turun dari pintu mobilnya.
Marwah yang awalnya ragu akhirnya pun turun dengan cepat dari mobil Erwin. Pelan Erwin pun berjalan pada sisi Marwah sehingga keduanya pun berjalan bersama.
" tadi, di tempat butik, kenapa kamu cepat sekali??," tanya Erwin.
" oh, itu karena Dinda buru-buru pergi setelah dapat panggilan pengacara Johan," jawab Marwah yang mulai merasakan tatapan para karyawan pada dirinya yang berjalan bersama dengan pemilik perusahaan Aritama.
Erwin terkaget.
" siapa?? kamu bilang Johan memanggil Dinda?? teman kamu itu??," tanya Erwin tak percaya dan merasa aneh, karena setau dirinya Johan adalah pengacara tersibuk tak mungkin ia punya waktu dengan bermain-main dengan teman Marwah.
Marwah hanya mengangguk menjawab pertanyaan Erwin yang kini keduanya berada di depan lift.
" Hhmm, makà dari itu Marwah tau tentang pengajara Johan" sambungnya kemudian. Dan beberapa karyawan dengan segan menyapa Erwin.
" Oh, begitu," jawab Erwin seraya mengangguk membalas sapaan para karyawan yang sepertinya menunggu lift yang sama dengan mereka. Dan tak lama pintu lift yang ditunggu pun terbuka hingga mereka pun reflek bersamaan masuk kedalam lift.
" terus kapan kita pemotretan baju pengantin itu??," tanya Erwin santai seraya melihat pada Marwah.
Marwah terkaget dan beberapa karyawan disana pun reflek sedikit bergeming mendengar pertanyaan Erwin yang ditujukan pada Marwah.
Marwah seketika panik lalu reflek menaik ujung jas Erwin. Dan ekspresi wajahnya seolah berbisik pada Erwin.
" kecilkan suara, mereka yang dengar jadi salah sangka!!," ucap Marwah pelan dengan memberikan kode pada Erwin.
Erwin hanya tersenyum simpul. Lalu tak lama lift pun berhenti dan tiga karyawan tadi pun turu dengan canggung meninggalkan Erwin dan Marwah yang masih harus naik 3 lantai lagi.
Setelah pintu lift tertutup, Marwah reflek melepaskan nafas panjangnya yang seolah tertahan tadi seraya memukul sisi lengan Erwin dengan sengaja.
Plak..,
" mas tau gak? pertanyaan mas tadi itu bisa bikin ketiga karyawan tadi salah sangka loh?" celetuk Marwah kesal.
" loh kok jadi mas yang salah?? mas kan cuma tanya," balas Erwin.
" iyya tapi pertanyaannya itu loh, bisa jadi gosip sekantor Aritama ini," jelas Marwah gundah.
Erwin bingung.
" masa sih? cuma tanya begitu bisa jadi gosip" tanya Erwin bingung.
Marwah hanya bisa melihat dengan wajah cemberut.
" huuuftt, susahnya kasih penjelasan sama cowok," gumam Marwah dalam hati.
Dan tak lama pintu lift itu pun berhenti dilantai tujuan Erwin dan Marwah. Erwin reflek turun, namun tersadar Marwah diam dan tinggal didalam lift.
Erwin melihat bingung pada Marwah yang tak turun, dan tak lama pintu lift tertutup.
" dasar cewek, ribet banget sih pikirannya," ujar Erwin yang kemudian berbalik berjalan menuju ruangannya yang disambut dengan sapaan beberapa karyawan yang melihat kedatangannya.
__ADS_1