Come A Closer Love

Come A Closer Love
48


__ADS_3

Hari itu Marwah keluar dari kantor lebih awal, ia dijemput oleh Dinda untuk makan siang bersama karena berada diseputaran kawasan daerah Zzzz, yang tak jauh dari kantor Aritama.


Disebuah restoran nusantara terlihat dua orang gadis berbicara dengan begitu serunya.


" serius??" ucap Dinda tak percaya.


" dia datang ke toko roti lo??" tanya Dinda tak percaya.


" eehm, bukan itu aja, dia juga ngomong yang buat gue jadi darah rendah seketika, " ujar Marwah dengan memakan tempe mendoa yang terlihat lezat dengan saos kecap pedasnya.


Seketika Dinda tertawa lucu membayangkan ekspresi Marwah yang kewalahan mengontrol atasanya dihadapan mama Wulan dan papa Evan.


" Hhmm, tapi kalau dipikir-pikir aneh juga ," ujar Dinda menganalisa.


" aneh??".


" gak mungkin kan seorang big bos Aritama itu mau dengan khusus datang ke toko lo, kayaknya kalau cuma beli roti mah, ditoko-toko lain juga ada kan, bener gak??" tutur Dinda dengan menyerut teh botolnya.


Seketika Marwah berpikir dalam diamnya. Dan setelah di ingat-ingat juga memang agak aneh sih, secara kalau di ingat-ingat juga Erwin pasti menyuruh sekertaris nya ,mas Chandra untuk membeli sesuatu.


Lalu Marwah melirik handphone pemberian Erwin, dan menimbang-nimbang perkataan Dinda yang ada benarnya.


" tapi, bisa aja karena roti di toko gue enak, makannya dia mau beli khusus ke toko gue, " elak Marwah mencoba berpikir rasional.


Namun tiba-tiba Dinda memukul pundak Marwah dengan sengaja. Hingga Marwah menyeringai sakit menerima pukulan dari temannya ini.


"Aauuuu..!!" pekik Marwah pelan dengan menggosok tempat pukulan Dinda di bahunya.


" disini kita bahasa Bos elo ERWIN ARITAMA, bukan promo roti lo, Marwaaah, !!" geram Dinda dengan melihat serius pada Marwah yang kesakitan.


" Ah , " Marwah tersenyum bodoh.


Sesaat keduanya terdiam, dan larut dalam pikiran masing-masing. Tanpa sadar Marwah membayangkan kembali ciuman manis Erwin pagi itu, sehingga tanpa sadar Marwah menyentuh bibirnya.


" Hhmm, tapi.., dia orang yang hangat, " tutur Marwah tanpa sadar.


Dinda melihat dengan heran, seraya mengeyitkan keningnya, merasa tak paham ucapan Marwah.


" Ternyata dia seorang yang penyayang untuk kedua orang tuanya, " timpal Marwah bernelangsa jauh mengingat bayangan Erwin ketika menceritakan sejarah nama hotel tersebut.


" Daebakkk !!" ujar Dinda kagum melihat Marwah.


Sehingga menoleh pada Dinda dengan bingung.


"???" .


" lo , jangan-jangan ..., ??" tebak Dinda menerka-nerka. Marwah pun jadi ikut mencoba menebak-nebak mimik wajah Dinda seolah menemukan akar persoalannya, lalu ia tersadar dengan cepat.


" ikh, gak mungkin laah, dia Gay?? gak mungkin kan gue..., ke dia?? " sanggah Marwah yang ragu dengan ucapannya sendiri.


" ya siapa tau !!" celetuk Dinda.


" Ah, gak mungkin, gak mungkin, " ujar Marwah dengan mengidikkan tubuhnya seolah ngeri membayangkan prilaku seksual Erwin yang bisa dengan laki-laki dan wanita.


" kenapa?? toh banyak sekarang yang seperti itu, kayak omnifora , bisa pemakan daging dan makan sayur sekaligus, " kiasan Dinda yang absurd tentang Erwin.


Marwah terhenyak melihat perumpamaan Dinda yang tak masuk akal dengan kelainan Erwin. Dan reflek Marwah menutup kupingnya seolah tak sanggup mendengar ucapan Dinda yang terlalu absurd dan vulgar.


" udah ah, dengerin nya aja udah buat gue mual, " ujar Marwah seolah hendak mentah.


Dinda malah tertawa terlepas melihat ekspresi temannya yang geli.


" lama- lama lo udah kayak pengacara Johan, bisa-bisanya lo punya pemikiran gitu, " celetuk Marwah kesal.


Namun yang dibicarakan masih saja tertawa.


" lo, hari ini kosong??" tanya Marwah kepada Dinda yang masih menertawakan nya.


" Hhmm, " gumam Dinda cepat dengan menyeka airmata karena tawanya tadi.


" Ah, !!" gumam Dinda yang tiba-tiba mengingat sesuatu. Sehingga Marwah pun ikut penasaran ketika Dinda meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


" lo bisa gak jadi model gue??"


" model??".


" Hhmm, " gumam Dinda dengan menyerahkan brosur dan buku sketsa Dinda lalu memperlihatkan disain gaun pengantin yang sepertinya terlihat glamour.


" 3 minggu lagi kompetisi ini, gue mau ikut, dan setelah gue mikir-mikir yang cocok jadi model ini cuma elo deh, " ucap Dinda dengan mencoba melihat wajah Marwah dalam frem kedua tangannya yang iya buat seolah meng candit wajah cantik Marwah yang sedang membaca brosur kompetisi yang diberikan Dinda tadi.


" Hhmm,, coba lo berdiri, gue mau liat semampainya tubuh lo, " pinta Dinda pada Marwah, yang jadi manut saja permintaan sahabatnya ini. Marwah keluar dari meja dengan mencoba berdiri tegak didepan meja mereka. Dan terlihat Dinda melihat fisik Marwah dengan teliti, dan ia terlihat tak salah pilih. Marwah memang pas mengenakkan gaun yang akan didesain.


Dan tiba-tiba suara seorang pria menyapa Marwah.


" Marwah !!" sapa pria itu yang kini berada dihadapan mereka berdua.


Seketika Marwah terlihat syok.

__ADS_1


" Direktur??" ucapnya berbisik dengan menutup mulut karena terkaget.


" ba..,bagaimana anda ??" Marwah benar-benar terkaget melihat Erwin berada di restoran ini.


Dinda melihat dengan tak berkedip pada sosok Erwin yang terlihat pas sebagai model pria untuk kompetisi fashion nya nanti.


" Selamat siang, anda pak Erwin??? benar?? " sapa Dinda yang nekat untuk bisa kenal dengan Erwin.


Erwin melihat dengan bingung. Dan tak kalah bingungnya dengan wajah Marwah yang kaget melihat keberanian Dinda yang menyapa bosnya.


Dinda mengulurkan tangan dihadapan Erwin dengan tersenyum.


" Saya Dinda, Dinda Gandis, teman dari Marwah," Dinda memperkenalkan diri pada Erwin.


Erwin hanya tersenyum ramah, dan menyambut jabatan tangan Dinda dengan wajar.


" Ah, sebelumnya saya minta maaf karena mengajak karyawan anda keluar di jam kerja, " ujar Dinda basa basi.


Marwah melebarkan kedua matanya melihat pada Dinda yang membuat basa basi yang basi.


" gak papa, ini memang masih jam makan siang, " jawab Erwin santai.


Marwah pun jadi tersenyum kaku pada Erwin dan Dinda yang membuatnya tak nyaman.


" tapi, mengapa Direktur ada disini??" tanya Marwah sekedar.


" Ah, memesan makanan untuk ibu saya, " ucap Erwin.


Dinda dengan spontan celengak celenguk melihat sekitaran restoran mencari seorang wanita tua yang dimaksud Erwin ibunya.


" Jadi ibu anda ada disini??" tanya Dinda lagi, yang membuat Marwah terserang syok.


" sejak kapan lo jadi terkepo diiiiin??" rutu batin Marwah yang jadi tak enak pada bosnya ini.


" tidak, ibu saya dirumah, beliau sedang sakit dan ingin makan makanan khas betawi, " yang akhirnya Erwin menjelaskan pada keduanya.


" Ah, begitu rupanya, semoga ibu anda cepat sembuh, " ujar Dinda tulus.


Marwah pun tersenyum canggung karena ulah Dinda.


" kalau begitu, saya duluan," pamit Erwin dengan melihat pada Marwah yang kaku.


" tun.., tunggu., sebentar pak Erwin..," ucap Dinda terburu-buru, sehingga Marwah kaget pada Dinda. Dan Erwin pun refleks berhenti.


" sebelumnya saya minta maaf jika tidak sopan, " Dinda berbicara dengan ragu, namun nekat. Hingga Marwah bingung mengatasi temannya ini.


Hingga kedua mata Marwah melebar melihat pada Dinda.


" ooh Tuhan !!" pekik batin Marwah. Dan dengan cepat ia menepuk punggung Dinda, dan melirik dengan marah.


" apa kau gila???" ucap Marwah marah pada Dinda yang sepertinya tidak peduli dengan kepanikan Marwah.


Erwin melihat dengan kaget atas permintaan teman Marwah.


" model??" ujarnya mengulang.


" ya, ah, saya adalah seorang Desainer, dan 3 minggu lagi ada kompetisi bergengsi, dan saya berharap anda bisa membantu dengan kemurahan hati anda untuk menjadi model saya," jelas Dinda semangat seraya memberikan brosur pada Erwin. Marwah terlihat panik ketika brosur itu diraih Erwin.


" maaf, Direktur, teman saya sudah..," ucap Marwah seolah ingin mengalihkan pembicaraan yang tak masuk akal ini.


" model wanitanya??, " tanya Erwin pada Dinda dengan tak menghiraukan ucapan Marwah.


Dinda dengan cepat meraih tubuh Marwah dan tersenyum lebar.


" Marwah, Marwah yang akan menjadi model wanitanya, gimana?? apa anda tertarik membantu saya??" tanya Dinda dengan tersenyum harap.


Erwin hanya mengangguk pelan.


" oke, " jawab Erwin singkat.


Marwah tercengang dengan tak percaya akan jawaban Erwin yang menerima permintaan Dinda.


" Ah, tapi, Direktur.., ini, " Marwah kelabakan dan bersusah payah berpikir agar Erwin menolak saja.


" kalau begitu, jadwal kamu yang atur!!" ujar Erwin santai dengan tersenyum melihat pada Marwah yang panik.


Dinda melompat dengan kegirangan dan memeluk tubuh Marwah dengan senang. Berbeda dengan Marwah yang seolah kehilangan rohnya karena terlalu syok.


" Terima kasih banyak, terima kasih banyak pak Erwin, anda benar-benar baik, seperti yang di cerita..," ucap Dinda ceplos, dan sektika mendapat sikutan dari Marwah yang menyuruh Dinda tutup mulut.


Erwin melihat dengan bingung dengan kedua wanita yang terlihat jadi bungkam seketika.


Dan tiba-tiba, terdengar suara telfon dari tab Dinda yang berbunyi sehingga mengalihkan perhatian ketiganya. Sontak Dinda terserang panik yang hapal betul suara telfon darurat dari Johan. Dan ia mengangkat seketika.


" hallo.., " Dinda seketika menegang.


" hah??sekarang??, ah, yaa aku segera kesana, " ujar Dinda dengan menutup telfon itu segera setelah mendapat perintah dari si penelfon. Dan dengan sigap, Dinda berkemas dan meraih tasnya.

__ADS_1


" Marwah, maaf yaa beb, gue duluan, panggilan darurat.," ucapnya dengan memeluk tubuh Marwah terburu-buru sehingga Marwah terkaget.


" lo mau kemana??" tanya Marwah gusar.


" Ke KPK ," jawab Dinda cepat, lalu menghadap Erwin yang bingung melihat teman Marwah yabg terburu-buru.


" saya permisi pak Erwin, terima kasih atas kemurahan hati anda, dan senang bertemu dengan anda, Marwah gue jalan yaa, " ucap Dinda tanpa jeda dan berlalu dengan terburu-buru, sehingga meninggalkan Marwah yang bengong dengan kepergian Dinda.


" hah, dasar !!" celetuk Marwah yang jadi kesal dengan Dinda, saraya menghela nafas panjang.


Terlihat Erwin memperhatikan Marwah dengan tersenyum kecil.


" Ternyata kamu punya teman yang unik, " tutur Erwin.


" Ah, maaf Direktur, jika soal tadi, tidak seharusnya anda mengiyakan permintaan Dinda, sungguh saya maaf..," ucap Marwah yang menjadi tak enak hati.


" Sudah laah, lagi pun aku memang tertarik dengan hal baru, " ujar Erwin santai.


Marwah pun mengambil tasnya.


" kalau begitu saya permisi Direktur, saya mau kembali kekantor, " ucap Marwah kaku.


Erwin pun hanya mengangguk, dan membiarkan Marwah pergi, dan terlihat Marwah berjalan menuju kasir untuk membayar pesanannya tadi.


Dan Erwin pun dihampiri oleh seorang pelayan yang mengantarkan pesanan yang telah dibungkus.


" ini pak, pesanan anda.," ujar di pelayan pria dengan memberikan dua bungkusan ketangan Erwin. Dan Erwin menyambutnya, lalu segera keluar dari restauran tersebut dan menuju parkiran mobilnya.


Dan ketika ia keluar dari parkiran, terlihat oleh sorot mata Erwin, Marwah tengah menyetop sebuah taksi untuk ia tumpangi. Lalu tanpa pikir panjang Erwin seketika turun dari mobilnya dan menghadang taksi yang ditumpangi Marwah.


" kenapa pak??" tanya Marwah bingung, ketika mobil taksi rem mendadak.


" ini, mbak ada cowok ngehadang jalan," ujar supir taksi, dan reflek Marwah melihat dengan kaget pada sosok pria yang menghadang jalan taksi yang ia tumpangi.


" Direktur??" gumam Marwah kaget, dan terlihat Erwin berjalan ke sisi pintu mobil taksi tempat Marwah duduk, dan dengan segera membuka pintu mobil tersebut.


" ayo keluar," pinta Erwin pada Marwah yang bingung.


" Direktur?? anda??" Marwah masih terkaget.


" Maaf pak, wanita ini gak jadi naik taksinya, " ujar Erwin dengan segera mengambil dompet dari balik jasnya dan mengeluarkan dua lembar uang merah dan memberikan pad pak supir yang menolak.


" ayo., " ucap Erwin dengan menarik jemari Marwah, sehingga Marwah pun jadi turun dari taksi tersebut dengan panik.


Dan dengan tak banyak bicara, Erwin menuntun jalan Marwah menuju mobilnya yang masih menyala dan menghalangi jalan mobil lain yang akan keluar dari perkarangan restauran tersebut.


Marwah naik dengan terpaksa, dan ia dibuat bingung dengan tingkah Erwin. Dan tak berselang lama, mobil Erwin pun berjalan meninggalkan tempat itu. Dengan Marwah yang terdiam.


Namun tak berselang lama mobil berjalan, terdengar bunyi pengingat dari mobil Erwin yang memberi peringatan dan hal itu cukup menganggu pendengaran. Marwah pun reflek mengingat bahwa ia tak memakainya sabuk pengaman, hingga ia reflek menarik tali savety belt, hingga Erwin pun reflek membantu jemari Marwah menarik tali sabuk tersebut yang terlihat susah ditarik. Erwin dengan berlahan menarik tali tersebut hingga tertuju pada pengait savety belt hingga terdengar suara terkait.


Klik.., seketika Erwin melihat pada wajah Marwah yang terlihat juga menoleh pada pengait tersebut sehingga jarak pandang mereka pun bertemu dengan terpaku.


Marwah seketika terpaku ketika di tatap Erwin dengan jarak dekat.


" lain kali, pasangkan dulu tali sabuknya., " ujar Erwin pelan, dan membuat Marwah kaget dan mereka jadi canggung seketika.


" Terima kasih, " ucap Marwah kaku.


Dan tak berselang lama mobil Erwin pun berjalan kembali menuju jalan kantor Aritama group.


Beberapa saat, Erwin melihat pada jam tangannya, yang terlihat telah jam sentengah 3 sore. Dan berpikir akan jadwal pulang Marwah.


" sudah jam setengah 3, berarti kamu langsung pulang??" tanya Erwin.


" Ah, ya.," jawab Marwah pelan.


Erwin hanya tersenyum kecil. Dan ketika sampai persimpangan, Erwin malah berputar arah menuju jalan yang berlawanan dari arah kantor Aritama group. Seketika Marwah terkaget, dan bingung.


" Direktur??, mengapa tak lurus??" ujar Marwah yang bingung.


" biar aku langsung mengantarmu pulang, "


" hah???, tapi..,mo.,"


" besok pagi, aku akan menjemputku..," ujar Erwin santai.


Dan Marwah pun terkaget dengan ucapan Erwin.


" Ah, tapi.., itu..," ucap Marwah yang jadi kelabakan.


" kenapa??" .


" tapi saya jadi tidak enak, bukan kah itu akan menjadikan anda terlambat ke kantor, " ucap Marwah panik.


" Ah, bukan kantor itu milik ku, jadi aku bisa datang dijam yang aku mau?? kamu saja bisa datang terlambat, jadi bukankah itu hal yang biasa..," ujar Erwin dengan santai membawa laju mobil menuju alamat toko dr. Dessert.


Marwah kehabisan kata-kata mendengarkan ucapan Erwin yang susah ditebak pikirannya, dan akhirnya ia pasrah ketuka laju mobil itu terus berjalan menuju arah tokonya.

__ADS_1


__ADS_2