Come A Closer Love

Come A Closer Love
91


__ADS_3

Tepat di jam 8 pagi, Marwah tiba di Sunrise hotel dengan kembali terpaku melihat jendela besar hotel pecah akibat ulang orang tak dikenal. Ia menghela nafas panjangnya seraya menyapa beberapa karyawan hotel yang telah hadir disana.


Siang ini ia memiliki diskusi kecil dengan para selebgram yang ia undang sebagai tamu khusus untuk meliput kegiatan pembukaan hotel yang akan dibukan 3 hari lagi.


Waktu berjalan cepat dengan menyita banyak pikiran Marwah. Beberapa hal ia turun tangan sendiri untuk mengecek hal-hal penting dalam persiapan hotel.


Terlihat Marwah kini berada di dapur besar hotel dengan seorang kepala chef dan asistennya yang terdiri dari 3 orang.


Diskusi panjang Marwah cukup serius. Perhal pembuka hotel adalah moment yang ditunggu-tunggu sebagai sejarah baru hotel. Ia menginginkan semua yang dihidang adalah menu spesial.


Selesai diskusi panjang tersebut, Marwah berjalan keluar dari dapur besar hotel seraya melihat restouran hotel yang bergaya cafe moderen. Dengan nama " One Hundred" seolah itu solongan untuk nilai kepuasan pelanggan.


Marwah pun berjalan menuju Lobby hotel dengan sedikit melamun. Hingga langkahnya pun terhenti ketika seseorang memanggil namanya dengan lembut.


" Marwah," sapa seorang wanita paruh baya dengan senyum terkembang melihat pada dirinya yang terpaku.


Marwah terkaget, ketika melihat ibunda Erwin berada di tengah hotel. Dan dengan reflek cepat Marwah menyambut kehadiran Nyonya Aritama dengan ramah.


" tante ?," sapanya ragu.


Nyonya Aritama tersenyum senang menyambut Marwah yang terkejut.


" mama..,panggil mama saja," sahut Nyonya Aritama mengingatkan Marwah.


" ah, ya ma, bagaimana mama bisa kesini??," tanya Marwah.


" mama memang sengaja kemari, untuk melihat hotel sebelum dibuka," jelas Nyonya Aritama menatap wajah calon mantunya.


" ah, mau Marwah temani??," tawar Marwah.


" ya," sahut Nyonya Aritama senang.


Marwah pun ikut membalas senyum nyonya Aritama dengan mencoba meraih lengan calon mertuannya dan berjalan berdampingan bersama mengelilingi hotel mewah itu.


Walau pelan, namun Marwah mencoba membawa Nyonya Aritama berkeliling ketempat-tempat yang diminta oleh Nyonya Aritama.


Seakan melewati lorong waktu, Nyonya Aritama menikmati tour hotel itu dengan mengenang suaminya.


" apa pintu atas itu masih terbuka??," tanya nyonya Aritama pada Marwah.


" pintu atas???,"


" rooftop tempat favorit Erwin," jelas nyonya Aritama lagi seraya menatap wajah Marwah.


Marwah terperangah, mendengar pertanyaan nyonya Aritama yang tau tempat itu.


" ah, mah, pintunya masih terbuka," jelas Marwah.


" mama mau kesana," pinta nyonya Aritama pada Marwah.


" ya, " jawab Marwah dengan membawa jalan nyonya Aritama menuju lift.


🍃🍃🍃


Dan kini, terlihat nyonya Aritama yang berdiri di atas rooftop hotel dengan begitu takjub melihat pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Marwah tersenyum simpul melihat wajah nyonya Aritama yang terkagum dengan view indah tersebut.


Hening


Hening


Keduanya larut dalam pikiran masing-masing seraya bernelangsa jauh.


Hingga nyonya Aritama menitikkan air mata sedih.


" Erwin benar-benar menepati janjinya," ucap nyonya Aritama terharu.


Marwah bergeming melihat pada nyonya Aritama yang terlihat sedih.


" Erwin tumbuh dengan rasa sesal yang menghantuinya, dan ia memaksa dirinya untuk menebus semua kesalahan yang tak disengaja itu dengan mencapai kembali satu persatu impian ayahnya," kenang nyonya Aritama.


Marwah hanya mendengarkan cerita nyonya Aritama dengan seksama.


" semua yang ia raih dengan susah payah, bahkan ia mengorbankan segala untuk nama Aritama, itulah pencapaian Erwin yang sangat gemilang," ujar nyonya Aritama bangga pada putra sulungnya dengan wajah haru


Terdengar hela nafas sedih nyonya Aritama.


" Tapi, sebagai seorang ibu, rasanya sakit melihat keadaan Erwin saat ini, andai ada satu hal yang bisa mama berikan atau mungkin bertukar tempat maka mama berikan segalanya untuk Erwin," ucap nyonya Aritama ambigu.


Marwah terteguh, dengan pernyataan nyonya Aritama yang bersedih.


Nyonya Aritama melihat pada wajah Marwah yang melihat dirinya dengan wajah tak mengerti.


" kamu tau?? kamu yang paling bisa membahagiakan Erwin, Erwin begitu bahagia bersama kamu Marwah," ucap nyonya Aritama dengan meraih jemari Marwah penuh harap.


" jaga cinta kalian, " pesan nyonya Aritama penuh harap pada Marwah.


Marwah hanya bisa membalas mengenggam erat jemari wanita yang hangat pada dirinya. Entah mengapa ia merasa bersedih, rasa gundahnya pada Erwin kian menjadi seiring dengan pernyataan nyonya Aritama yang mendalam.


🍃🍃🍃


Setelah puas berada di rooftop hotel keduanya turun beriringan dengan berjalan bersama menuju lobby hotel. Sesaat nyonya melihat heran pada jendela hotel yang terlihat tak berkaca.


" Marwah??,"


" ya mah??," sahut Marwah dengan ikut berhenti dari langkahnya dan sedikit berbalik melihat pada nyonya Aritama yang terpaku.

__ADS_1


" itu, mengapa jendela sebesar itu tak memilik kaca?? apa kalian lupa memasangnya??," tanya nyonya Aritama dengan aneh.


Marwah sedikit kelabakan ketika mendengar pertanyaan nyonya Aritama.


" ah, itu.., kemarin kacanya pecah dengan tidak sengaja,"


" apa??? bagaimana bisa??," tanya nyonya Aritama yang terheran.


" Marwah juga gak tau Mah," sahut Marwah ragu .


" apa Erwin tak memilih kaca yang bagus untuk dipasang?," celetuk nyonya Aritama yang berpikir serius.


Marwah hanya tersenyum simpul pada nyonya Aritama.


Namun tiba-tiba terdengar seorang wanita menyapa nyonya Aritama dengan familiar.


" tante??," seru wanita itu dengan berjalan santia menuju nyonya Aritama dan Marwah.


Sehingga keduanya reflek menoleh pada arah suara itu. Seketika Marwah terpaku melihat sosok Suci yang kini berbeda dengan gaya pakaian Suci.


" Suci," lirihnya berbisik kecil.


Terlibat nyonya Aritama menyambut dengan senang dengan kehadiran Suci disana. Sehingga berjalan pelan mendekat pada Suci dengan menyambut pelukan hangat pertemuan keduannya.


Marwah hanya melihat dengan tak berekspresi.


" eh kamu Suci, kamu dari mana?," seru nyonya Aritama pada Suci.


" ah, Suci baru selesai urusan kantor papi,"


" oh begitu yaa, pasti kamu sibuk sekali yaa sekarang dengan tugas baru kamu sebagia pemilik dari perusahaan papi kamu," sahut nyonya Aritama.


Suci hanya tersenyum simpul pada nyonya Aritama.


" mungkin mas Erwin sibuk tante," ucapnya seraya menatap wajah Marwah.


Nyonya Aritama mengangguk, lalu ia menyadari dengan Marwah yang berdiri tak jauh dari mereka.


" ah, karena kamu sudah disini, ini mau tante kenalin calon istri mas Erwin, ayo sini Marwah," jelas Nyonya Aritama dengan melambaikan tangannya pada Marwah untuk datang mendekat pada Suci dan dirinya.


Jleb.., seolah hati Suci tersayat. Wajahnya terlihat getir melihat wajah Marwah yang membuatnya kesal.


" Marwah, perkenalkan ini adalah adik sepupu Erwin, dia ini hebat loh semuda ini menjadi Direksi diperusahaan ayahnya," jelas nyonya Aritama membanggakan Suci.


Marwah mendengar dengan kaget penjelasan nyonya Aritama. Ia hampir tak bisa percaya jika ternyata Suci adalah pemilik baru dari perusahaan Atmadja, dan dia Direksi baru yang membuat kebijakan baru dengan menarik seluruh sahamnya di Aritama.


Bibir Marwah seketika keluh, dan ia menatap tajam pada Suci yang seolah polos di hadapan nyonya Aritama yang membanggakan dirinya.


" bagaimana kalau kita minum teh di restauran??," saran nyonya Aritama yang membuat suarana menjadi tak enak.


" baik tante?" sahut Suci dengan mengandengan lengan nyonya Aritama dan berjalan menuju restauran.


" ayo Marwah," panggil nyonya Aritama dengan kembali menarik tangan Marwah untuk berjalan bersama.


Dan akhirnya ketiganya duduk di meja yang berada di sisi jendela besar restoran yang memperlihatkan sebuah kolam taman yang indah.


" tante, gimana mas Erwin?," tanya Suci oada nyonya Aritama.


" ah, dia masih seperti biasa," sahut nyonya Aritama dengan mengaduk teh miliknya yang kini terhidang.


" terima kasih, karena kamu sudah menolong Erwin," ucap nyonya Aritama dengan wajah sedih.


Marwah yang diam seribu bahasa dibuat bertanya-tanya dengan pembicaraan keduanya yang ia tak tau.


" yang sabar ya tante," ucap Suci memberi semangat.


" terima kasih yaa Suci, oia, kamu nanti datang kan di pembukaan Sunrise hotel???," tanya nyonya Aritama.


Suci mengangguk mengiyakan.


" Marwah, Suci tidak perlu undangan kan??," tanya nyonya Aritama dengan mengangetkan Marwah.


" ah, ya mah gak perlu undangan," sahut Marwah sedikti terburu sehingga menimbulkan curiga dari nyonya Aritama.


" kamu kenapa??," ...


" hmm enggak mah, gak papa," jawab Marwah dengan mencoba meneguk teh hangatnya.


Namun tak lama, terdengar suara handphone nyonya Aritama berdering nyaring sehingga membuat perhatian nyonya Aritama teralihkan dan mencoba meraih handphone nya yang berada didalam tasnya.


Terlihat obrolan serius disana dan tak lama komunikasi itu terputus dengan wajah cemas nyonya Aritama.


" kenapa tan??," tanya Suci perhatian.


" teman tante masuk rumah sakit," ucap nyonya Aritama cemas dengan hendak bangun dari kurisnya.


" mama mau kemana??," tanya Marwah ikut cemas.


" seperti nya mama harus pergi menjengguk teman mama," sahut nyonya Aritama.


Terlihat Suci dan Marwah menemani nyonya Aritama hingga menuju pintu depan hotel.


" mama pergi dulu yaa, terima kasi Marwah," ucap nyonya Aritama pamit.


" Suci, tante pergi dulu ya" ucapnya seraya berlalu pergi meninggalkan keduannya yang seketika canggung.

__ADS_1


Keduanya menatap kepergian wanita paruh baya itu. Suasana canggung terasa disana.


" Suci," panggil Marwah


Suci tak menjawab ia diam menatap depan luar hotel.


" kenapa kamu bisa bertingkah sesantai itu, setelah menghancurkan perusahaan Aritama," tanya Marwah dingin menatap Suci.


Sesaat terlihat senyum kecil diwajah Suci mendengar pertanyaan Marwah.


" kenapa?? apa kau takut Erwin jatuh miskin??," balas Suci menguji Marwah.


Marwah terhenyak mendengar ucapan Suci.


" apa karena kau marah dengan hubungan aku dan mas Erwin," tanya Marwah kembali dengan wajah cemasnya.


" kau pikir???," balas Suci dingin menatap Marwah.


" lalu jika tidak?? mengapa kamu tega menjatuhkan Aritama???," tanya Marwah tak habis pikir dengan Suci yang bertingkah santai seolah tak ada masalah karena perbuatan dirinya.


Suci tertawa kecil.


" kau khawatir???," tanya Suci kembali pada Marwah dengan mendekat dengan Marwah.


" bukan kah aku sudah memperingatkan kamu?? menjauhlah dari Erwin, tapi apa?? kau malah menganggap remeh ucapan ku yang kau anggap tak memiliki kekuasaan," balas Suci ketus.


" Suci??, jika kamu marah, maka marah lah pada aku,,"


" aku tak habis pikir bagaimana kamu bisa bermain-main dengan perusahaan Aritama yang memilik ratusan karyawan yang bergantung hidupnya disana," jelas Marwah dengan kekhawatiran yang tergambar jelas disana.


Suci hanya menatap wajah Marwah dengan santai. Lalu dengan lagak tak pedulinya, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan mengambil sebuah kunci yang membuat Marwah terkaget.


" kau ingat ini??? ini adalah kunci mobil milik mu, " ucap Suci seraya memberikannya pada tangan Marwah dengan kasar.


Marwah terpaku melihat kunci mobil miliknya yang hampir 2 bulan ditangan Suci.


" seperti itu, " ucap Suci dengan ketus.


" kau harus mengembalikan milik orang lain, karena itu bukan milik mu," sambung Suci menarap tajam Marwah.


Marwah terhenyak mendengarkan ucapan Suci. Itu artinya ia ingin Erwin.


" jika kau tak mengembalikannya, maka seperti inilah cara aku mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milik ku," ucap Suci tajam


Marwah benar-benar habis kata-kata mendengar ucapan gila Suci. Ia benar-benar sudah tak waras lagi.


" kau gila??," ucap Marwah tajam.


" terserah," sahut Suci tak peduli.


Namun ditengah ketengangan keduanya, terdengar seseorang memanggil nama Suci dengan lantang.


" SUCI !!," seru Erwin dengak marah lalu databg mendekat pada kedua wantia yang terlihat bersitegang.


Sontak keduanya pun melihat kehadiran Erwin.


Suci menatap tajam pada Erwin yang terlihat tidak suka akan kehadirannya disana.


Marwah hanya menatap cemas pada pria yang terlihat tak sehat itu.


" untuk apa kau datang kemari??," tanya Erwin dingin pada Suci. Dan terlihat jelas wajah amarah Erwin melihat kehadiran Suci.


" apa mas baik-baik saja??," sambut Suci dengan pertanyaan khawatir melihat Erwin yang tak begitu fit.


Marwah melihat keduanya dengan gusar.


Namun tanpa disangka tiba-tiba Erwin merasakan kesakitan dikepalanya kembali dengan sedikit tubuhnya terhuyung hingga Suci yang berada disana dengan cepat meraih lengan Erwin.


Marwah pun sontak ikut meraih lengan sebelah Erwin dengan cemas agar pria ini tak terjatuh.


" mas??," seru Marwah khawatir.


" apa sakit kepala itu lagi??, apa mas sudah memeriksa kembali ??," tanya Suci dengan tersirat kekhawatiran pada Erwin.


Marwah terheran mendengar pertanyaan Suci yang bertubi-tubi seolah ia jauh lebih tau.


Namun Erwin dengan menahan sakit kepalannya, menghempaskan tangan Suci dari lengannya dengan kasar.


" itu bukan urusanmu" ucap Erwin tajam dan lebih memilih bertumpu pada Marwah yang bertahan dengan seluruh kekuatan tubuhnya.


Suci terhenyak, ia merasakan kebencian dari ucapan Erwin pada dirinya.


" apa mas benci??," tanya Suci dengan menahan gemuruh hatinya yang terluka.


Erwin tak peduli dengan pertanyaan Suci, ia memilih berjalan bersama Marwah untuk masuk kedalam hotel..


" bencilah.., BENCILAH sesuka mu mas, tapi hanya ini cara yang aku punya untuk memiliki mu kembali," ucap Suci lantang dengan frustasinya.


Sehingga Marwah bergeming melihat sekilas wajah tangis Suci yang terlihat menyedihkan.


Erwin terhenti dengan wajah menahan sakit kepalanya.


" jika bukan karena paman, mungkin kau akan masuk dalam daftar hitam ku seperti Toni," ucap Erwin tajam.


" pergi dan enyahlah dari hadapan ku, karena kau bukan Suci adik sepupu ku yang aku kenal," ucap Erwin tajam dengan kembali berjalan bersama Marwah meninggalkan Suci yang kini terlihat menitikan airmatanya.

__ADS_1


__ADS_2