
Malam harinya terlihat Erwin dengan telaten memberikan minuman pada mamanya yang terlihat baru selesai makan malam. Lalu Erwin memberikan obat ketangan mamanya dan disambut senyum bahagia nyonya Aritama.
" Makasih yaa nak, ".
Dan tiba-tiba terlihat Suci membereskan meja makan pasien dan mendorongnya sisi samping, agar Nyonya Aritama leluasa duduk. Erwin melihat kearah Suci sekilas.
" Suci, kamu pasti udah lelah, baiknya pulang saja" saran Erwin seraya berjalan menuju pintu kamar mandi dan mencuci tangannya sesaat disana, lalu meraih tisu dan kembali menutup pintu kamar mandi.
" Ah, gak papa kok mas" jawab Suci yakin.
" Bener kata Erwin, baiknya kamu pulang dulu, sudah dari tadi kamu jagain tante, lagian disini juga ada Erwin dan Edwin yang jagain tante" saran nyonya Aritama seraya melihat wajah Suci yang duduk di sisi tempat tidur tantenya.
" Besok kamu bisa kesini lagi kok".
" Baiklah, kalau tante udah ngomong gitu, " jawab Suci ragu namun berlahan meraih tasnya.
" ya udah, Suci balik pulang dulu ya tante, mas" tuturnya pamit.
" ya sayang hati-hati, besok kalau mau kesini minta pak Budi buat antar kamu ya" ucap nyonya Aritama pada keponakannya.
" iyya tante, Suci duluan ya mas" ujar seraya berjalan kearah pintu dan membukanya berlahan.
" Makasih ya Suci" ucap Erwin yang mengantar Suci sampai pintu depan kamar.
__ADS_1
Nyonya Aritama memperhatikan dengan senang kedekatan Erwin dan Suci yang terlihat serasi. Dan terlihat Erwin berjalan kembali masuk dan menjatuhkan diri ke sofa dengan nyaman.
Dan tak lama berselang dari kepergian Suci, nyonya Aritama mulai melancarkan misinya.
" Erwin " panggil nyonya Aritama pada putranya.
" ya mah " jawab Erwin singkat dengan tak menoleh tapi menatap kearah layar handphone miliknya dan membalas email-email yang masuk.
" Kamu suka gak sama Suci??" tanya nyonya Aritama hati-hati.
Erwin tak bergeming mendengar pertanyaan nyonya Aritama, ia lebih fokus pada layar handphonenya.
" Maksud mama apa??" jawabnya santai.
" Kamu mau gak jadiin Suci istri kamu??" .
" Yaa, Suci cantik, dia berpendidikan dan dia dari keluarga baik-baik, lagian kalau bukan kebaikan paman Yono, mungkin dulu kita..," ucapan nyonya Aritama terputus karena mendapat selaan dari Erwin .
" Mah !!" sela Erwin kesal.
" Cukup mah, Erwin gak mau bahas soal ini" sanggah Erwin yang kemudian memperbaiki posisi duduknya.
Hal itu membuat nyonya Aritama sedikit terkejut, padahal ini bukan kali pertama ia mendengar putra sulungnya marah soal perjodohan dengan Suci.
__ADS_1
" Atau kamu udah ada pacar?? " tanya nyonya Aritama serius.
" Mah..," ucap Erwin menurunkan intonasi bicaranya.
" Erwin, mama udah tua, mama gak tau sampai kapan nafas mama masih berhembus, keinginan mama hanya ingin melihat kalian bahagia dengan pendamping hidup kalian, sehingga ketika bertemu dengan papa mama bisa cerita kalau anak-anak telah berbahagia dengan keluarga masing-masing" jelas nyonya Aritama panjang lebar dengan nada sedih.
Erwin menghela nafas panjangnya, lalu bangun menghampiri tempat tidur mamanya, dan ia membantu membereskan bantal-bantal agar wanita yang terlihat menua ini bisa tertidur dengan nyaman.
" Mama jangan cemas, " jelasnya seraya menarik selimut ke tubuh mamanya dan menjatuhkan ciuman sayang dikening wanita yang dulu kuat dan tegar membesarkan anak-anak di kondisi terburuk.
" Iyya, tapi mama tetep ngarep mantu loh win" ucap mamanya cemberut.
" Iyya," jawab Erwin singkat.
" Tapi kamu gak GAY kan??" tanya nyonya Aritama spontan dan sontak Erwin terkejut.
" Ya enggak lah mah, " jawabnya spontan.
" Syukur deh, mama percaya kamu, soalnya gak enak loh win main pedang-pedangan" celetukan nyonya Aritama seraya tertawa kecil mengganggu putra sulungnya.
" Ya Tuhan, mamah!!" celetukan Erwin tak percaya mamanya masih saja suka berbicara asal dan menganggap dirinya masih ABG yang tak paham maksud dari pembicaraan dewasa itu.
Terdengar suara tawa kecil nyonya Aritama yang sukses mengganggu Erwin.
__ADS_1
Namun disisi lain, diluar pintu kamar super Vvip terlihat Suci berdiri tak bergeming. Ternyata ia tak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan anak ini, ia kembali karena akan mengambil kabel charger yang tertinggal, namun ia malah mendengar pembicaraan serius antara ibu dan anak ini.
" Aku pasti bisa dapetin hati kamu mas, pasti" gumam Suci lirih, lalu ia memilih untuk berjalan menuju lift rumah sakit untuk pulang.